Tag: BPBD sumsel

  • BPBD Catat 284 Kejadian Bencana Alam di Sumsel Sepanjang 2025

    BPBD Catat 284 Kejadian Bencana Alam di Sumsel Sepanjang 2025

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatra Selatan mencatat sebanyak 284 kejadian bencana alam melanda wilayah tersebut sepanjang tahun 2025 dengan dominasi peristiwa banjir.

    Berdasarkan data resmi, bencana banjir menjadi yang paling sering terjadi yakni sebanyak 107 kali, disusul angin kencang 76 kali, dan kebakaran 66 kali.

    Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman merincikan bahwa selain tiga bencana utama tersebut, terdapat pula tanah longsor sebanyak 27 kali, puting beliung 7 kali, dan satu peristiwa banjir bandang.

    “Total bencana sepanjang 2025 sebanyak 284 kejadian, di mana banjir paling banyak terjadi yakni ada 107 kali,” ujar Sudirman saat dikonfirmasi, Rabu (7/1/2026).

    Wilayah Musi Banyuasin (Muba) tercatat sebagai daerah dengan frekuensi banjir tertinggi sebanyak 17 kali, sementara kasus kebakaran paling banyak melanda Kota Palembang dengan 33 kejadian.

    Bencana angin kencang dilaporkan paling sering terjadi di Ogan Ilir sebanyak 34 kali, sedangkan tanah longsor mendominasi wilayah Ogan Ilir dan Musi Banyuasin.

    Ia menyebut bahwa satu kejadian banjir bandang di OKU Selatan menjadi peristiwa paling mematikan karena merenggut tiga korban jiwa.

    “Bencana yang terjadi mengakibatkan 38.747 KK terdampak, 289 KK mengungsi, sembilan jiwa luka-luka, dan lima jiwa meninggal dunia,” imbuhnya.

    Dampak kerusakan infrastruktur akibat rentetan bencana ini juga tergolong masif, dengan total 63.422 rumah warga dilaporkan sempat terendam air.

    Selain merusak hunian, bencana sepanjang tahun lalu juga melumpuhkan 16 jembatan serta merusak puluhan fasilitas pendidikan, rumah ibadah, dan layanan kesehatan.

    Sektor pertanian tidak luput dari dampak buruk setelah 1.746 hektare sawah dan 200 hektare perkebunan dilaporkan mengalami kerusakan.

    Pihak BPBD mengimbau masyarakat untuk tetap meningkatkan kewaspadaan mengingat cuaca ekstrem masih berpotensi memicu bencana serupa di masa mendatang.

    “Kami mencatat ada 194 rumah rusak berat dan ribuan hektare lahan terdampak yang kini menjadi perhatian dalam penanganan darurat,” pungkasnya.

  • Tiga Daerah Naikkan Status Siaga, Sumsel Siapkan Langkah Antisipasi Hadapi Puncak Musim Hujan

    Tiga Daerah Naikkan Status Siaga, Sumsel Siapkan Langkah Antisipasi Hadapi Puncak Musim Hujan

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG Tiga kabupaten/kota di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menetapkan status siaga darurat bencana hidrometeorologi menyusul potensi peningkatan curah hujan pada Desember 2025 hingga awal 2026.

    Pemerintah Provinsi Sumsel menyampaikan tengah menyiapkan kebijakan serupa guna memperkuat kesiapsiagaan menghadapi potensi banjir, tanah longsor, dan angin kencang.

    Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel M Iqbal Alisyahbana menyampaikan bahwa penetapan status siaga oleh sejumlah daerah menjadi langkah awal dalam meningkatkan koordinasi penanggulangan bencana di wilayah Sumsel.

    “OKU sudah lebih dulu menetapkan status siaga, dan saat ini Pagar Alam serta Prabumulih turut menyusul,” ujar Iqbal, Rabu (3/12/2025).

    Sebagai tindak lanjut, Pemprov Sumsel akan menggelar rapat koordinasi persiapan penetapan status siaga tingkat provinsi pada Kamis 4 Desember 2025.

    Seluruh pemangku kepentingan, termasuk unsur TNI dan Polri, dijadwalkan hadir dalam pertemuan tersebut.

    Ia menjelaskan bahwa status siaga bertujuan memastikan seluruh unsur pemerintah daerah dan masyarakat berada dalam kondisi siap menghadapi potensi bencana hidrometeorologi yang diprediksi meningkat pada puncak musim hujan.

    Oleh sebab itu, diharapkan langkah antisipatif ini dapat memperkuat koordinasi lintas sektor sehingga respons kebencanaan di Sumsel dapat berjalan lebih cepat dan efektif.

    “Melalui penetapan status siaga, personel maupun peralatan bisa dipersiapkan lebih optimal. Bantuan logistik juga telah kami distribusikan ke sejumlah wilayah prioritas dan rawan bencana untuk mempercepat penanganan ketika kejadian berlangsung,” ucap dia.

  • BPBD Sumsel Tetapkan 11 Daerah Berstatus Siaga Bencana Hidrometeorologi

    BPBD Sumsel Tetapkan 11 Daerah Berstatus Siaga Bencana Hidrometeorologi

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan (Sumsel) menetapkan 11 kabupaten dan kota di wilayah itu berstatus siaga bencana hidrometeorologi menyusul meningkatnya curah hujan dalam beberapa pekan terakhir.

    Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman menyampaikan penetapan status siaga tersebut didasarkan pada kondisi geografis dan riwayat kejadian bencana di sejumlah daerah.

    “Sebanyak 11 wilayah menjadi perhatian karena memiliki potensi banjir, longsor, dan angin kencang yang meningkat saat musim hujan,” ujar Sudirman, Kamis (6/11/2025).

    Adapun daerah yang dimaksud meliputi Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), OKU Selatan, Empat Lawang, Muara Enim, Lahat, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir (OKI), Musi Rawas Utara (Muratara), Musi Banyuasin (Muba), serta Kota Prabumulih dan Banyuasin.

    Ia menjelaskan wilayah yang berada pada bantaran sungai besar lebih rentan terdampak banjir, sedangkan daerah dengan kontur berbukit memiliki risiko longsor terutama ketika intensitas hujan meningkat.

    “Setiap musim hujan, wilayah-wilayah ini selalu mendapatkan atensi khusus karena catatan kejadian bencananya cukup tinggi,” jelasnya.

    BPBD telah mengintensifkan program mitigasi, termasuk edukasi kesiapsiagaan masyarakat melalui pelatihan, simulasi evakuasi, serta pemantauan curah hujan berbasis aplikasi.

    Selain itu, koordinasi antarinstansi dilakukan untuk memastikan sistem peringatan dini dan infrastruktur pengendali banjir tetap berfungsi.

    BPBD juga mendorong pemerintah daerah untuk menetapkan status siaga bencana hidrometeorologi agar langkah penanganan dapat berlangsung cepat dan terkoordinasi apabila terjadi insiden.

    “Masyarakat diimbau tetap waspada. Pola hujan saat ini tidak selalu dapat diprediksi dan intensitasnya bisa meninikat sewaktu-waktu,” pungkasnya.

  • BPBD Kebut Pemadaman Karhutla di Sumsel, 4 Helikopter Water Bombing Dikerahkan

    BPBD Kebut Pemadaman Karhutla di Sumsel, 4 Helikopter Water Bombing Dikerahkan

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG — Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan terus dikebut melalui operasi udara.

    Sebanyak empat helikopter dikerahkan untuk melakukan water bombing di sejumlah wilayah terdampak, dengan total 129 kali pengeboman air yang menjatuhkan lebih dari 516 ribu liter air ke lokasi kebakaran.

    Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, operasi pemadaman dari udara dilakukan di wilayah-wilayah yang mengalami karhutla sejak akhir pekan lalu, yaitu di Kabupaten Ogan Ilir, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Muara Enim, dan Ogan Komering Ulu (OKU) Timur.

    “Dari hasil pantauan udara pada Minggu (7/9), terdeteksi 11 titik api yang tersebar di empat kabupaten dengan total luas lahan terbakar mencapai 13 hektare,” jelas Sudirman, Senin (8/9/2025).

    Ia mengatakab di Kabupaten Ogan Ilir, water bombing difokuskan ke dua wilayah yakni Muara Kuang dan Rambang Kuang.

    “Sebanyak 62 kali pengeboman dilakukan di Muara Kuang, sementara 4 kali di Rambang Kuang,” katanya.

    Beberapa lahan berhasil dipadamkan, namun masih ditemukan kepulan asap di sejumlah titik. Pemadaman di kawasan ini juga melibatkan satuan tugas darat.

    Sementara itu, di Kabupaten PALI, helikopter melakukan 42 kali water bombing di wilayah Penukal dan Penukal Utara. Titik api berhasil dipadamkan sepenuhnya.

    Di Muara Enim, karhutla terpantau di Kecamatan Lubai. Pemadaman dilakukan melalui 15 kali pengeboman air, meski hasil akhir masih menyisakan asap tipis.

    Sedangkan di OKU Timur, titik api di wilayah Semendawai berhasil dipadamkan usai dilakukan enam kali water bombing.

    Meskipun sebagian besar titik api berhasil dipadamkan, tim gabungan tetap bersiaga karena potensi kebakaran susulan masih tinggi akibat cuaca panas dan angin kencang.

    “Pemantauan udara terus kami lakukan. Jika masih terdeteksi asap atau titik panas, pemadaman lanjutan akan kembali dilakukan dengan helikopter,” ungkap dia.

  • Sumsel Catat 1.416,9 Hektare Karhutla Terjadi hingga Agustus 2025, Ogan Ilir Terluas

    Sumsel Catat 1.416,9 Hektare Karhutla Terjadi hingga Agustus 2025, Ogan Ilir Terluas

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Sepanjang Januari hingga 10 Agustus 2025 kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Sumatera Selatan tercatat seluas 1.416,9 hektare, Kabupaten Ogan Ilir penyumbang terbesar.

    Mayoritas kebakaran terjadi di lahan mineral dengan luas 1.381,9 hektare, sementara lahan gambut yang terdampak mencapai 35 hektare.

    Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Ferdian Kristanto menyampaikan data tersebut merupakan hasil analisis citra satelit yang dilakukan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta kementeriannya.

    “Lima wilayah di Sumatera Selatan mencatatkan luasan karhutla tertinggi, yakni Ogan Ilir, Musi Banyuasin, OKU, Musi Rawas, dan Muara Enim,” ujar Ferdian pada, Rabu (20/8/2025).

    Ogan Ilir lokasi kebakaran terluas, yakni tercatat seluas 317 hektare, seluruhnya terjadi di lahan mineral. Disusul Musi Banyuasin dengan 314,2 hektare yang terdiri dari 305,2 hektare lahan mineral dan 8,9 hektare lahan gambut. Di OKU, tercatat 190,4 hektare terbakar, seluruhnya di lahan mineral.

    Sementara itu, karhutla di Musi Rawas mencapai 151,7 hektare dan di Muara Enim 101,8 hektare—dengan rincian 90,9 hektare lahan mineral dan 11 hektare gambut.

    Wilayah lain dengan tingkat kebakaran di bawah 100 hektare antara lain Empat Lawang (89,3 ha), OKI (65,5 ha), PALI (63 ha), Musi Rawas Utara (50,2 ha), Lahat (36,6 ha), OKU Timur (15,8 ha), Banyuasin (13,2 ha), Lubuklinggau (5,9 ha), dan Pagar Alam (2,1 ha).

    Ia mengatakan, sejumlah wilayah tidak terdeteksi adanya karhutla seperti di wilayah Prabumulih, OKU Selatan, dan Palembang berdasarkan pengamatan citra satelit.

    Jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya, luas karhutla pada 2025 menunjukkan penurunan signifikan.

    Pada 2021 tercatat 2.003,2 hektare, lalu meningkat pada 2022 menjadi 2.769,5 hektare. Angka tertinggi terjadi pada 2023 dengan luas kebakaran mencapai 4.162,3 hektare, kemudian menurun menjadi 3.160,3 hektare di tahun 2024.

    “Penurunan ini menunjukkan adanya dampak dari upaya mitigasi dan pengendalian yang terus dilakukan secara kolaboratif,” pungkasnya.

  • BPBD Sumsel Catat Ada 42 Hotspot Selama Agustus 2025

    BPBD Sumsel Catat Ada 42 Hotspot Selama Agustus 2025

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel) mencatat ada sebanyak 42 hotspot (titik panas) selama bulan Agustus 2025.

    “Pada tanggal 4 Agustus, titik hotspot di wilayah Sumsel sempat terpantau nihil. Kemudian hotspot muncul kembali dan mengalami kenaikan dalam beberapa hari terakhir ini,” ujar Kepala Bidang Penanganam Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, Sabtu (9/8/2025).

    Sudirman menjelaskan sejak awal Agustus, selama sepekan hotspot terbanyak berada di Kabupaten Musi Banyuasin yakni mencapai 11 titik.

    “Sepanjang 1 sampai 7 Agustus hotspot terbanyak berada di Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), yakni mencapai 11 titik. Kemudian berada di OKU Timur 8 titik dan Kabupaten Banyuasin 7 titik. Meningkatnya hotspot ini disebabkan menurunnya potensi hujan di Sumsel,” jelasnya.

    Ia mengatakan untuk hotspot harian pada Agustus ini yang tertinggi terdeteksi pada Kamis kemarin, yakni dengan jumlah 13 titik.

    Sedangkan dari tanggal 1 jumlahnya 8 titik, kemudian hari berikutnya 5 titik, tanggal 3 Agustus 2 titik, tanggal 4 Agustus 0 titik, dan di tanggal 6 dan 7 Agustus sama-sama 7 titik.

    “Hotspot mulai naik kemarin dengan sebaran di Muba 8 titik, Banyuasin dan Lahat 2 titik, serta di Muara Enim 1 titik,” katanya.

    Sememtara itu, selama 1 Januari hingga 7 Agustus 2025 tercatat hotspot telah mencapai sebanyak 2.889 titik.

    “Hotspot terbanyak terjadi pada Juli lalu yang mencapai 1.321 titik. Kita masih mewaspadai kenaikan hotspot yang terjadi pada musim kemarau ini. Untuk itu, satgas karhutla di daerah juga terus memantau wilayahnya masing-masing,” ucap dia. (Tia)

  • BPBD Kirim Tiga Helikopter Waterbombing untuk Padamkan Karutla di Banyuasin dan PALI

    BPBD Kirim Tiga Helikopter Waterbombing untuk Padamkan Karutla di Banyuasin dan PALI

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mengirim sebanyak tiga unit helikopter water bombing untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah melanda Kabupaten Banyuasin dan Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) sejak beberapa hari terakhir.

    Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman menyampaikan operasi udara telah dilakukan secara intensif sampai hari ini dan 89 kali water bombing telah dilakukan dalam operasi ini.

    Untuk wilayah yang terdampak Kebakaran di Banyuasin terpantau di Desa Tanjung Menang, Kecamatan Rantau Bayur, pada lahan yang diduga akan dimanfaatkan untuk pertanian. Sementara di PALI, api melanda kawasan hutan di Kecamatan Talang Ubi.

    “Di Banyuasin sudah dilakukan 67 kali pengeboman air dengan total volume 268 ribu liter. Sementara di PALI, sebanyak 22 kali atau sekitar 88 ribu liter,” ujar Sudirman, Sabtu (9/8/2025).

    Sudirman mengatakan jika pemadaman dari udara dinilai lebih efektif karena lokasi titik api cukup jauh dan sulit dijangkau tim darat.

    “Ini kan wilayahnya sulit dijangkau, jadi memang lebih efektif memadamkan api dengan cara ini,” katanya.

    Ia menjelaskan luas lahan terbakar di Rantau Bayur diperkirakan lebih dari lima hektare, sedangkan di Talang Ubi masih dalam pendataan.

    “Operasi pemadaman akan berlanjut hari ini dengan koordinasi antara satgas udara dan satgas darat, menunggu hasil pemantauan helikopter patroli,” jelas dia.

  • 54 Kejadian Karhutla Terjadi di Sumsel, Luas Lahan Terbakar Lebih Dari 43 Hektare

    54 Kejadian Karhutla Terjadi di Sumsel, Luas Lahan Terbakar Lebih Dari 43 Hektare

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mencatat sebanyak 54 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi sepanjang tahun 2025.

    “Sudah ada 54 kali kejadian karhutla sepanjang tahun ini. Luasan yang terbakar lebih dari 43 hektare. Namun, data final masih menunggu konfirmasi dari Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Kementerian Kehutanan,” ujar Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman, Jum’at (25/7/2025).

    Diketahui, Kabupaten Ogan Ilir menjadi wilayah dengan jumlah karhutla terbanyak, yakni 41 kejadian. Kecamatan Indralaya Utara tercatat sebagai kawasan paling terdampak dengan 19 kejadian, disusul Kecamatan Pemulutan (6 kejadian), Pemulutan Barat (5), Payaraman (4), Tanjung Batu (3), Indralaya (2), serta Rambang Kuang dan Muara Kuang masing-masing satu kejadian.

    Selain Ogan Ilir, karhutla juga terjadi di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) sebanyak 5 kejadian, tersebar di Kecamatan Tulung Selapan dan Jungkal masing-masing dua kejadian, serta Pampangan satu kejadian.

    Kabupaten Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) mencatat 3 kejadian di Kecamatan Abab (2 kejadian) dan Penukal Utara (1 kejadian).

    Sementara di Musi Banyuasin (Muba) terjadi 2 kejadian, masing-masing di Sungai Keruh dan Bayung Lencir. Karhutla juga dilaporkan masing-masing satu kejadian di Kabupaten Lahat, Muara Enim, dan Kota Prabumulih.

    “Sudah ada tujuh daerah di Sumsel yang mengalami karhutla. Kita berharap jumlah kejadian tidak terus bertambah,” ungkapnya.

    BPBD Sumsel juga mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara dibakar, terlebih di musim kemarau yang rentan memicu kebakaran hutan dan lahan.

    “Jika pun terjadi, diharapkan penanganannya bisa dilakukan secara cepat agar tidak meluas,” ucap dia.

  • BNPB Beri Lima Helikopter Water Bombing ke Sumsel untuk Penanganan Karhutla

    BNPB Beri Lima Helikopter Water Bombing ke Sumsel untuk Penanganan Karhutla

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memberi bantuan lima helikopter water bombing ke Provinsi Suamtera Selatan (Sumsel) untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    “Jadi, kelima helikopter itu akan tiba bertahap dalam bulan ini, dan nanti akan dipakai patroli dan water bombing,” ujar Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman pada, Senin (21/7/2025).

    Sudirman mengatakan menyebut bantuan tersebut akan dibagi peruntukkannya, yakni dua helikopter akan dipakai untuk patroli dan tiga helikopter untuk water bombing.

    “Helikopter water bombing akan diturunkan ketika mendapat laporan terjadi karhutla,” katanya.

    Ia menyebut dari lima unit helikopter itu, dua unit telah tiba di Palembang. Helikopter itu distandby-kan di Lanud Sri Mulyono Herlambang (SMH).

    “Satu unit helikopter patroli telah tiba dan sudah dilakukan verifikasi dari BNPB. Sedangkan satu unit helikopter water bombing yang telah tiba di Lanud SMH, sebelumnya juga sudah dilakukan verifikasi uji bucket pada pada hari ini juga,” imbuhnya.

    Ia mengungkapkan jumlah unit helikopter yang diperbantukan di Sumsel akan menyesuaikan dengan kejadian karhutla.

    “Kami juga akan mengusulkan penambahan jika kejadian karhutla tahun ini lebih tinggi dari tahun lalu,” ungkapnya.

    Namun, pihaknya berharap kejadian pada tahun ini tak meningkat meski prediksi kemarau tahun 2025 akan lebih tinggi dan panjang dibandingkan 2024.

    Saat ini, sudah 10 pemerintah daerah di Sumsel yang menetapkan status siaga karhutla termasuk status siaga di tngkat provinsi.

    “Ke-9 pemda lainnya adalah Musi Rawas, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, Musi Banyuasin (Muba), PALI, Lahat, Prabumulih, dan Muara Enim,” ucap dia.

  • BPBD Sumsel Minta Perpanjang Pelaksanaan OMC ke BNPB

    BPBD Sumsel Minta Perpanjang Pelaksanaan OMC ke BNPB

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Selatan meminta perpanjangan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

    “Sebelumnya, OMC ini mulai dari 13-17 Juli 2025, tapi kami meminta perpanjangan ke BNPB selama 5-10 hari. Jika memungkinkan akan diperpanjang, kami menunggu,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Sumsel M Iqbal Alisyabana, Jum’at (18/7/2025).

    Iqbal mengatakan perpanjangan OMC akan dilakukan dengan melihat kondisi cuaca saat ini dan adanya bibit awan hujan.

    “Perpanjangan itu nantinya akan melihat kondisi cuaca dan perkiraan BMKG terlebih dahulu untuk memastikan kemungkinan bisa atau tidak diperpanjang,” katanya.

    Diketahui, OMC merupakan upaya membasahi lahan gambut yang ada di beberapa wilayah seperti OKI, Banyuasin, dan lainnya.

    “Kami ingin lahan-lahan itu tetap basah dan tidak mudah terbakar,” tuturnya.

    Ia menyampaikan, untuk apel kesiapsiagaan Sumsel, pihaknya merencanakan dilakukan di Griya Agung Palembang 29 Juli 2025 yang akan dihadiri oleh Menko Polkam Budi Gunawan.

    “Apel siaga nanti akan dilakukan 29 Juli nanti, kanu masih menunggu jadwal Menko Polkam terkaot waktunya,” ucap dia.

  • BPBD Sumsel Catat 33 Kejadian Karhutla Terjadi Hingga 14 Juli 2025

    BPBD Sumsel Catat 33 Kejadian Karhutla Terjadi Hingga 14 Juli 2025

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mencatat sebanyak 33 kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi hingga 14 Juli 2025.

    “Angka itu naik dibanding sebelumnya yakni per 3 Juli 2025 yang hanya 24 kejadian,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Sumsel, M Iqbal Alisyahbana, Rabu (16/7/2025).

    Iqbal menjelaskan dari 34 kejadian itu terindikasi luas lahan yang terbakar mencapai 43,08 hektare. Dari total kejadian itu, Ogan Ilir paling banyak terjadi karhutla. Terdata sudah 26 kali kejadian di wilayah itu.

    Kecamatan Indralaya Utara menjadi wilayah paling sering karhutla dengan 11 kejadian. Lalu Pemulutan Barat dan Pemulutan masing-masing 4 kejadian, Indralaya dan Payaraman 2 kejadian. Sisanya 1 kejadian di Rambang Kuang, Muara Kuang, dan Tanjung Batu.

    “Kejadian karhutla juga sudah terjadi di Muba dan PALI masing-masing 2 kejadian. Dan di Lahat, OKI, dan Prabumulih 1 kejadian,” jelasnya.

    Ia mengatakan mitigasi dan antisipasi terus dilakukan agar kejadian karhutla bisa diminimalisir.

    “Tentunya pemantauan terhadap wilayah-wilayah rawan juga dilakukan monitoring secara harian oleh BPBD di daerah,” katanya.

    Lebih lanjut, kata dia, antisipasi karhutla melalui pembasahan lahan di beberapa wilayah gambut dengan operasi modifikasi cuaca (OMC) juga sudah dilakukan dalam beberapa hari terakhir.

    “BPBD Sumsel juga tengah mengusulkan perpanjangan waktu OMC setelah pelaksanaan 5 hari saat ini,” imbuhnya.

    Selain itu, pelaksanaan apel kesiapsiagaan penanganan karhutla juga akan dilakukan pada akhir Juli mendatang.

    “Instansi dari lintas sektoral termasuk dari perusahaan swasta pengelola kawasan hutan juga akan menyertakan personel dan kesiapsiagaan peralatan dan perlengkapannya. Apel siaga akan dilakukan sekitar 28 atau 29 Juli nanti. Menko Polkam rencananya akan hadir dalam apel nanti,” ungkap dia.

  • BPBD Sumsel Gelar Operasi Modifikasi Cuaca di OKI Guna Cegah Karhutla

    BPBD Sumsel Gelar Operasi Modifikasi Cuaca di OKI Guna Cegah Karhutla

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) selama lima hari guna mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

    “Ini merupakan bantuan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dimulai sejak hari Minggu 13 Juli hingga Kamis 17 Juli 2025,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Sumsel, Iqbal Alisyahbana, Selasa (15/7/2025).

    Iqbal menjelaskan operasi OMC difokuskan di daerah gambut yang memiliki potensi besar menimbulkan kabut asap jika terbakar, terutama di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI)a.

    “Kemarin saya minta titik penyemaian di kawasan gambut. Berdasarkan data bibit awan, potensi hujan memang lebih besar di OKI. Apalagi jika terbakar, asapnya bisa sampai ke Palembang,” jelasnya.

    Selain OKI, ia mengatakan wilayah lain seperti Musi Banyuasin (Muba), Banyuasin, PALI, dan Muara Enim juga menjadi sasaran apabila kondisi awan mendukung.

    “Selama lima hari operasi, tim OMC sudah melakukan empat sorti penerbangan. Tiga sorti dilakukan di wilayah OKI dan satu sorti di Banyuasin,” katanya.

    Lebih lanjut, setiap sorti membawa sekitar 800 kilogram garam untuk disemai ke awan sebagai pemicu hujan buatan.

    “Pada tanggal 13 Juli, satu sorti dilakukan, sementara pada 14 Juli, total 3.200 kilogram garam telah disemai,” imbuhnya.

    Ia mengungkapkan jika pihaknya telah mengajukan permintaan ke BNPB agar operasi ini diperpanjang jika bibit awan masih memungkinkan.

    “Tujuannya agar pembasahan lahan gambut tetap berlangsung hingga puncak musim kemarau di Agustus dan September. Kami juga akan tetap siaga hingga akhir November, menyesuaikan dengan kondisi iklim dan potensi kebakaran di lapangan,” ungkap dia.

  • BPBD Catat Karhutla di Sumsel Capai 24 Kasus Hingga Juli 2025

    BPBD Catat Karhutla di Sumsel Capai 24 Kasus Hingga Juli 2025

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mencatat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah itu mencapai 24 kasus dari Januari hingga Juli 2025.

    “Hingga 3 Juli 2025 itu terdapat 24 kejadian karhutla dengan luasan terbakar mencapai 43,08 hektare,” ujar Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman, Senin (7/7/2025).

    Lima daerah yang menjadi langganan karhutla, yaitu Kabupaten Ogan Ilir (OI), Lahat, Prabumulih, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI) dan Musi Banyuasin (Muba).

    Ia mengungkapkan di Kabupaten Ogan Ilir paling banyak terjadi karhutla yakni 18 kejadian, yakni di Kecamatan Indralaya Utara dengan 10 kejadian, Pemulutan 3 kejadian, dan Pemulutan Barat 2 kejadian, Muara Kuang, Rambang Kuang, dan Indralaya masing-masing 1 kejadian.

    Kemudian, Kabupaten PALI terdata 2 kejadian, yaitu di Kecamatan Abab dan Penukal Utara, kabupaten Muba 2 kejadian yang terjadi di Kecamatan Sungai Keruh dan Bayung Lencir), Prabumulih 1 kejadian di Kecamatan Cambai, dan Lahat 1 kejadian di Kecamatan Kikim Timur.

    “Pemkab Ogan Ilir hingga saat ini belum menetapkan status siaga darurat bencana asap akibat karhutla, informasinya sudah di meja bupati cuma belum ditandatangani saja. Sehinga, kami terus dorong status di Ogan Ilir ini,” jelasnya.

    Diketahui, hingga saat ini sebanyak tujuh daerah di Sumsel yang telah menetapkan status siaga karhutla, yaitu Kabupaten Lahat, Muba, Banyuasin, Ogan Komering Ilir (OKI), PALI, Muara Enim, dan Prabumulih.

    “Untuk tingkat provinsi juga sudah menaikkan status siaga untuk karhutla tahun 2025. Beberapa daerah rawan karhutla lainnya di Sumsel juga terus didorong untuk meningkatkan statusnya, yaitu Kabupaten OKU, OKU Timur, OKU Selatan, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, dan Ogan Ilir,” ucap dia.

  • Pemprov Sumsel Tetapkan Status Siaga Darurat Asap Hingga November 2025

    Pemprov Sumsel Tetapkan Status Siaga Darurat Asap Hingga November 2025

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan (Sumsel) menetapkan status siaga darurat bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) hingga 30 November 2025.

    “Penetapan berlaku sejak 17 Juni hingga 30 November 2025 dan dapat diperpanjang apabila kondisi karhutla masih terjadi,” ujar Kepala BPBD Sumsel M Iqbal Alisyahbana di Palembang, Rabu (25/6/2025).

    Status siaga itu diputuskan Gubernur Sumsel Herman Deru melalui SK Nomor: 366/KPTS/BPBD-SS/2025 tentang Penetapan Status Keadaan Siaga Darurat Bencana Asap Akibat Karhutla.

    Ia mengatakan penetapan status itu sesuai dengan prediksi BMKG terkait musim kemarau yang terjadi lebih awal atau sejak pertengahan Mei-pertengahan Juni.

    “Nanti kami akan menggelar apel kesiapsiagaan bersama seluruh pihak terkait, serta akan bersurat ke pusat untuk permintaan bantuan penanganan karhutla sebanyak 4 unit helikopter untuk water bombing dan patroli, termasuk juga untuk operasi modifikasi cuaca,” katanya.

    Ia menyebut jika hingga saat ini ada enam daerah di Sumsel yang menaikkan status siaga karhutla, yaitu Kabupaten Banyuasin, Musi Banyuasin, Ogan Komering Ilir (OKI), Pemetang Abab Lematang Ilir (PALI), Muara Enim, dan Kota Prabumulih.

    “Untuk daerah yang belum menaikkan status siaga karhulta, yaitu Ogan Komering Ulu (OKU), OKU Timur, OKU Selatan, Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Lahat, dan Ogan Ilir,” ucap dia.

  • Banyuasin Telah Tetapkan Status Siaga Karhutla

    Banyuasin Telah Tetapkan Status Siaga Karhutla

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menyebut saat ini sudah ada lima wilayah yang telah menetapkan status siaga kebakaran hutan dan lahan (karhutla), salah satunya adalah Kabupaten Banyuasin.

    “Sekarang Kabupaten Banyuasin telah menetapkan status siaga darurat karhutla. Jadi, saat ini sudah lima daerah di Sumsel telah menetapkan status tersebut,” kata Kepala BPBD Sumsel, M Iqbal Alisyabana pada, Jum’at (13/6/2025).

    Sebelumnya, empat daerah yang lebih lebih dahulu menetapkan status siaga karhutla yaitu, Kabupaten Musi Banyuasin (Muba), Ogan Komering Ilir (OKI), Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), dan Kota Prabumulih.

    oleh sebab itu, dengan ditetapkannya status siaga darurat karhutla di empat kabupaten tersebut Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan langsung menaikkan status siaga darurat karhutla.

    Ia mengatakan jika pihaknya akan menargetkan kenaikan status itu pada bulan ini juga, mengingat sejumlah parameter indikasi terjadinya karhutla sudah ada.

    “Tentunya, keputusan tergantung dari tanda tangan Gubernur Sumsel,” katanya.

    Kemudian, jika keputusan tersebut telah ditetapkan oleh oleh gubernur, pihaknya akan mengajukan bantuan penanganan karhutla ke pemerintah pusat.

    “Setelahnya, kami akan mengajukan bantuan ke pusat berupa tiga helikopter pembom air dan satu helikopter patroli dan operasi modifikasi cuaca (OMC). Kami juga akan apel siaga yang dilakukan akhir Juni nanti,” tegasnya.

    Ia mengungkapkan pihaknya mengajukan satu helikopter patroli dan tiga helikopter untuk operasi water bombing untuk penanganan karhutla selama musim kemarau Tahun 2025.

    “Dalam rapat bersama Menkopolhukam diputuskan untuk sementara kami mengajukan satu helikopter patroli dan tiga helikopter water bombing. Nantinya, keberadaan helikopter ini akan disesuaikan dengan kondisi lapangan di Sumatera Selatan,” ungkap dia.

  • Pemprov Sumsel Bakal Naikkan Status Siaga Karhutla

    Pemprov Sumsel Bakal Naikkan Status Siaga Karhutla

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Selatan bakal menaikkan status siaga kekabakaran hutan dan lahan (karhutla) pasca penetapan status darurat bencana asap di empat daerah di Sumsel.

    “Dalam waktu dekat Provinsi Sumsel akan ditetapkan status siaga, karena saat ini sudah satu kota dan tiga kabupaten yang status siaga. Parameter lainnya adalah hotspot yang mulai meningkat, masuknya musim kemarau, dan sudah ada karhuta di Ogan Ilir dan Prabumulih,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Sumsel M Iqbal Alisyahbana menyampaikan, selasa (3/6/2025).

    Iqbal mengatakan kenaikan status itu pada bulan ini (Juni), mengingat sejumlah parameter indikasi terjadinya karhutla sudah ada.

    “Tapi keputusan tergantung dari tanda tangan Gubernur Herman Deru. Kita harapkan secepatnya, kita akan sampaikan hasil rakor ini kepada Pak Gubernur. Dalam rapat tadi juga ada biro hukum, sehingga untuk pengajuan SK-nya bisa lebih cepat,” katanya.

    Ia mengungkapkan titik panas pada Mei lalu melonjak dua kali lipat dibandingkan bulan sebelumnya. Yang mana, hal itu dikarenakan kemarau terjadi bertahap dimulai akhir Mei hingga Juni di beberapa wilayah.

    “Mei kemarin jumlah titik panas mencapai 523 hotspot, melonjak dua kali lipat dibandingkan April yang sekitar 216 hotspot,” ungkapnya.

    Ia menyebut pasca penetapan status oleh gubernur, pihaknya akan mengajukan bantuan penanganan karhutla ke pemerintah.

    “Setelahnya kita akan mengajukan bantuan ke pusat berupa tiga helikopter water bombing dan satu helikopter patroli dan operasi madifikasi cuaca (OMC). Kita juga alan apel siaga yang akan dilakukan akhir Juni nanti,” imbuhnya.

    Diberitakan sebelumnya, empat kabupaten di Sumsel telah menetapkan status siaga darurat bencana asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

    “Sudah empat daerah yang menetapkan status siaga karhutla per hari ini, Muba, OKI (Ogan Komering Ilir), PALI (Penukal Abab Lematang Ilir), dan Kota Prabumulih,” kata Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman, Senin (2/6/2025).

    Sudirman menuturkan, antisipasi dini karhutla harus dilakukan untuk mencegah lahan di Sumsel terbakar.

    “Pasca empat daerah ini menetapkan status siaga, kenaikan status di tingkat provinsi juga akan dilakukan. Syarat provinsi menaikkan status siaga sudah bisa dilakukan, karena hanya butuh 2 daerah yang menetapkan. Untuk apel siaga akan dilakukan sekitar akhir Juni,” tuturnya.

    Diketahui, status siaga karhutla di Muba pada tahun ini berlaku sejak 19 Mei hingga 30 November.

    “Di OKI berlaku sejak 5 Mei-31 Desember, Prabumulih sejak 16 Mei hingga akhir tahun mendatang, dan di PALI sejak 8 Mei-30 September,” ucap dia.

  • BPBD Sumsel Siap Siagakan Personel Satgas hingga Water Bombing Guna Antisipasi Karhutla

    BPBD Sumsel Siap Siagakan Personel Satgas hingga Water Bombing Guna Antisipasi Karhutla

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Dalam rangka antisipasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumatera Selatan mulai mempersiapkan personel satgas hingga kesiapan pesawat water bombing untuk menghadapi musim kemarau yang diperkirakan akan lebih panjang dibanding tahun 2024.

    “Status siaga perlu segera ditetapkan, mengingat bulan Mei merupakan masa peralihan musim. Kita sudah mulai koordinasi sejak kemarin, termasuk dengan Danlanud terkait kesiapan pesawat water bombing,” ujar Kepala Pelaksana BPBD Sumsel, M. Iqbal Alisyahbana, Senin (5/5/2025).

    Ia menyampaikan koordinasi lintas sektor telah dilakukan bersama jajaran TNI, Polri, dan instansi terkait untuk penetapan status siaga.

    “Dalam waktu dekat juga akan koordinasi dengan Danrem untuk penempatan personel Satgas Karhutla,” imbuhnya.

    Ia menyebut target penetapan status siaga karhutla dijadwalkan pada awal bulan Juni mendatang. Namun, akan dilakukan rapat koordinasi bersama terlebih dahulu dengan seluruh stakeholder pada pertengahan bulan Mei agar percepatan penetapan bisa dilakukan.

    “Jika terlambat, dikhawatirkan jumlah titik panas (hotspot) akan meningkat signifikan, apalagi BMKG memprediksi kemarau tahun ini akan berlangsung lebih panjang, mirip dengan kondisi tahun lalu. Tapi tidak lebih panas dari tahun sebelumnya,” tuturnya.

    Ia mengatakan sesuai syarat dari BMKG, untuk usulan status siaga minimal harus ada dua daerah terdampak.

    “Saat ini sudah ada tiga daerah yang mengajukan, yaitu Ogan Ilir, Musi Banyuasin, dan Banyuasin. Kita antisipasi dari sekarang supaya jangan sampai nanti hotspot naik tajam,” katanya.

    Kemudian, dari sisi peralatan dan personel, pihaknya memastikan semua dalam kondisi siap. Latihan terpadu antara TNI dan Polri yang telah dilakukan tahun lalu juga menjadi bekal penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan petugas di lapangan.

    “Setelah penetapan status siaga di akhir Mei atau awal Juni, kita akan gelar Apel Siaga Karhutla,” ucap dia.

  • BPBD Sumsel Siapkan 100 Personel dan Ratusan Peralatan Siaga Banjir

    BPBD Sumsel Siapkan 100 Personel dan Ratusan Peralatan Siaga Banjir

     

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan telah menyiapkan kurang lebih 100 personel dan ratusan peralatan yang dibutuhkan untuk siaga banjir dan tanah longsor di sejumlah daerah yang berpotensi bencana.

    “Kalau di provinsi kita sudah menyiagakan kurang lebih 100 personil dan peralatan seperti perahu karet 5 unit, perahu polietelin 3 unit, pelampung 40 unit, dayung, selimut 758, senter, spain interval hujan 360, tenda pengungsi untuk penangan banjir 6 unit, sepatu petugas di lapangan 105, dan jas ujan,” ujar Kepala BPBD Sumsel, Iqbal Alisyabana saat diwawancarai, Senin (10/3/2025).

    Iqbal mengatakan saat ini ada delapan kabupaten/kota di Sumsel yang telah terdampak banjir.

    “Daerah yang rawan banjir untuk saat ini ada delapan kabupaten yang terdampak banjir, seperti Muratara, Mura, Pali, Muba, Banyuasin, Prabumulih, OKU, termasuk Palembang,” katanya.

    Selain itu, pihaknya juga menyiapkan alat berat yang disebar disejumlah wilayah di Sumsel untuk penangan jika terjadi tanah longsor.

    “Alat berat kita koordinasi dengan PU, karena PU tim teknis. Kita tidak ada alat berat di BPBD, jadi kita koordinasikan dengan PU dan Balai Pusat juga kita koordinasi. Kemudian, pihaknya juga menyiapkan logistik, seperti sembako untuk warga yang terdampak, termasuk di kabupaten/kota juga,” jelasnya.

    Oleh sebab itu, pihaknya mengimbau masyarakat agar lebih waspada dan berhati-hati terutama di bulan Maret ini.

    “Karena berdasarkan prediksi BMKG puncak hujan adalah bulan ini. Ditakutkan debit air naik secara tiba-tiba, terutama pada malam hari,” ucap dia. (Tia)

  • BPBD Imbau Masyarakat di Wilayah Barat Sumsel Waspada Bencana

    BPBD Imbau Masyarakat di Wilayah Barat Sumsel Waspada Bencana

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Selatan mengimbau masyarakat khususnya di wilayah barat Sumsel untuk tetap waspada terhadap tingginya curah hujan pada Februari mendatang.

    Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel, Sudirman menyampaikan jika bulan Februari masih merupakan puncak hujan.

    “Itu akan terjadi di beberapa kabupaten/kota di wilayah Barat Sumsel, seperti Musi Rawas, Musi Rawas Utara, Lahat, Empat Lawang dan lainnya. Namun, kesiapsiagaam diharapkan tak hanya pada wilayah tersebut saja, tapi juga seluruh daerah di Sumsel,” ujar Sudirman, Kamis (30/1/2025).

    Ia menegaskan seluruh personel BPBD di kabupaten/kota terus siaga dalam menindaklanjuti setiap kejadian bencana yang terjadi, termasuk saat hujan terjadi di wilayah masing-masing.

    “Kita mengimbau agar kabupaten/kota mengikuti peringatan dini yang disampaikan BMKG. Personel dan peralatan yang disiapkan kita harapkan selalu siaga, termasuk kerja sama lintas OPD di wilayah,” tegasnya.

    Ia mengungkapkan jika di beberapa daerah juga telah meminimalisir kemungkinan kejadian yang tidak diinginkan terjadi, di antaranya dengan pembersihan aliran sungai dan pemangkasan ranting pohon di wilayah masing-masing.

    “Pada Januari lalu, beberapa wilayah sudah terjadi bencana hidrometeorologi seperti banjir dan tanah longsor. Wilayah yang terdampak bencana akibat hujan intensitas tinggi seperti di OKU Selatan, Musi Banyuasin, Prabumulih, Lahat, Muara Enim dan sebagainya,” ungkap dia. (Tia)

  • Tertinggi … 154 Hotspot Terpantau Hari Ini

    Tertinggi … 154 Hotspot Terpantau Hari Ini

     

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – 154 Titik Panas di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) terpantau hari ini, menurut Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel angka itu menjadi yang tertinggi di sepanjang Tahun 2024.

    Jika dihitung dari awal September, Hotspot telah mencapai 273 titik sedangkan Sepanjang tahun ini, sejak Januari jumlahnya sudah mencapai 2.416 hotspot.

    “Dalam sehari hotspot yang terpantau dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) di Sumsel mencapai 154 titik panas,” ujar Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumsel Sudirman, Rabu (4/9/2024).

    Ia menyebut temuan titik panas terbanyak terpantau di wilayah Musi Banyuasin yakni mencapai 34 titik panas, 7 di antaranya di lahan gambut dan sisanya 27 di lahan mineral.

    “Secara keseluruhan 154 hotspot itu terpantau di wilayah gambut sebanyak 33 titik panas dan 121 titik panas di lahan mineral. Selain di Muba, penyumbang hotspot ada di Muara Enim 29 titik panas (7 hotspot di gambut dan 22 hotspot di mineral),” jelasnya.

    Lebih lanjut, kata dia, di Banyuasin 21 hotspot yakni 10 hotspot di lahan gambut dan 11 hotspot di lahan mineral, Musi Rawas Utara 21 hotspot yakni gambut 6 hotspot dan mineral 15 hotspot, Musi Rawas seluruhnya di lahan mineral 20 hotspot dan Ogan Komering Ulu sebanyak 10 hotspot di lahan mineral.

    “Ada 12 daerah yang terpantau hotspot, 6 daerah lainnya di bawah 10 hotspot. Empat Lawang 2 hotspot lahan mineral, Lahat 6 hotspot mineral, OKI 5 hotspot yakni lahan gambut 2 hotspot dan mineral 3 hotspot, OKU Selatan 2 hotspot lahan mineral, OKU Timur 1 hotspot lahan mineral dan PALI 3 hotspot yakni lahan gambut 1 hotspot dan mineral 2 hotspot,” lanjutnya.

  • Rugi Puluhan M Airlangga Minta Forkompinda Sumsel Serius Tangani Karhutla

    Rugi Puluhan M Airlangga Minta Forkompinda Sumsel Serius Tangani Karhutla

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Menteri Koordinator bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto meminta jajaran Forum Pimpinan Daerah (Forkopimda) Provinsi Sumsel serius dalam penanganan terhadap bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di tahun 2024.

    Apalagi, Karhutla dinilai banyak menimbulkan kerugian, Ia merincikan kerugian pada sisi ekonomi yang timbul akibat karhutla di Sumsel di Tahun 2022 mencapai RR42,7 Miliar yang dialami Sumsel dengan Kabupaten OKI menerima Kerugian terbesar sebanyak RP11 Miliar.

    “Karhutla menyebabkan kerugian dari berbagai sektor, maka agar kerugian itu tak terus berulang perlu ditangani bersama – sama agar kerugian bisa diminimalisir,” kata Airlangga saat menjadi Pembina Apel Siaga Karhutla Provinsi Sumsel, bertempat di Griya Agung Palembang, Sabtu (20/7/2024).

    Airlangga menjelaskan jika Provinsi Sumsel memiliki Topografi yang beragam, diwilayah barat merupakan area perbukitan dengan Bukit Barisan, sedangkan diwilayah Timur merupakan area yang berstruktur Gambut dan Muara.

    “Makanya Provinsi ini memiliki lahan yang subur baik dari bidang Pertanian dan Pertambangan. Namun juga memiliki ancaman bencana, saat musim Hujan terancam Banjir dan Longsor, pada Musim Kemarau ada ancaman Karhutla,” terangnya.

    Dalam mengatasi Karhutla, berbagai langkah efektif dijabarkan ketua Umum Partai Golkar ini, seperti melibatkan semua unsur Forkopimda hingga kepala Desa, memprioritaskan upaya pencegahan, Aktifnya Konsolidasi dan Komunikasi manajemen lapangan. “Sehingga Api kecil pun segera dilaporkan dan langsung dipadamkan,” tegasnya.

    Selain itu, langkah lainya seperti mendeksi dini titik Hotspot yang terlihat, memperbaharui informasi dengan tekhnologi yang Update, penataan Ekosistem Gambut, serta terus mengedukasi masyarakat. “Serta yang tak kalah penting penegakan hukum harus dilakukan tanpa kompromi. Butuh kepedulian kita untuk mengantisipasi Karhutla, Apel ini bukan Show of Force melainkan mendorong kita untuk mempersiapkan personil yang terampil, kemampuan yang memadai, dan peralatan yang mumpuni,” tutupnya.

    Sedangkan Pj Gubernur Sumsel, Elen Setiadi mengatakan, Sumsel telah mengantisipasi Karhutla dengan menetapkan status siaga darurat. Termasuk di sejumlah daerah yang rawan.

    “Penetapan siaga darurat Karhutla sudah kami lakukan, operasi modifikasi cuaca, apel siaga dan simulasi Karhutla, koordinasi dengan aparat penegak hukum dan upaya lainnya telah kami lakukan,” katanya.

    Setelah ini, pihaknya juga akan melakukan penempatan posko-posko pemadaman di darat. Patroli dan operasi di darat dan udara juga akan dilakukan.

  • Tabur Garam di Langit Sumsel Tingkatkan Intensitas Hujan

    Tabur Garam di Langit Sumsel Tingkatkan Intensitas Hujan

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel mulai hari ini melakukan Teknik Modifikasi Cuaca (TMC) di langit Provinsi Sumsel untuk mencegat Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla).

    Pemerintah Provinsi Sumsel memang rutin melakukan TMC untuk meningkatkan Potensi Hujan pada Musim kemarau, guna meminimalisir terjadinya Karhutla.

    Kabid Penanganan Darurat Sudirman mengatakan, Oprasi Modifikasi Cuaca sendiri mulai dilakukan hari ini Kamis (4/7/2024) hingga 13 Juli mendatang.

    Sebagai pelaksana OMC adalah BRGM (Badan Restorasi Gambut dna Mangrove) bersinergi dengan BPBD Sumsel, BMKG, Serta Lanud SMH (Sri Mulyono Herlambang)

    “Menggunakan pesawat Casa-212 Reg A-2104 yang akan menaburkan garam di awan-awan yang berpotensi hujan untuk meningkatkan intensitas hujan,” kata Sudirman.

    Selain itu, Sudirman mengaku OMC juga merupakan langkah strategis dalam upaya mitigasi dan penanggulangan bencana, khususnya untuk menghadapi potensi karhutla di Sumsel.

    “Diharapkan dengan OMC ini, karhutla di Sumatera Selatan dapat diminimalisir, sehingga tercipta lingkungan yang lebih aman dan kondusif bagi masyarakat, ” kata dia.

    Tak hanya itu, Sudirman menyampaikan pentingnya sinergi antara berbagai pihak dalam pelaksanaan OMC.

    “Kerja sama yang baik antara berbagai instansi dan sektor swasta sangat diperlukan untuk memastikan keberhasilan operasi ini dalam mengurangi potensi bencana,” kata dia.

  • BNPB Lakukan TMC di Sumsel Agar Hujan Tak di Wilayah Rawan Banjir 

    BNPB Lakukan TMC di Sumsel Agar Hujan Tak di Wilayah Rawan Banjir 

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Surhayanto beberapa waktu lalu mengintruksikan agar dibeberapa wilayah dalam Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) agar dilakukan Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) agar Hujan tak turun di wilayah rawan Banjir dan Longsor.

    Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel Iqbal Alisyahbana menjelaskan jika TMC telah dilakukan dibeberapa lokasi langit Sumsel.

    “TMC dilakukan agar hujan bisa merata dan tidak menerus turun di wilayah rawan banjir dan longsor. Hal itu kita lakukan juga sesua instruksi dari kepala BNPB,” kata Iqbal, Senin (3/6/2024).

    Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari menjelaskan jika TMC telah dilakukan sejak Jumat (31/5/2024). Di sekitar wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) dan Kabupaten Ogan Ilir (OI).

    “TMC telah dilakukan 3 sorti dengan menyemai 3 ton NaCl sejak 30 Mei-1 Juni,” ujarnya.

    Penyemaian pertama dilakukan di sekitar wilayah Ogan Komering Ilir (OKI) dan Kabupaten Ogan Ilir (OI). Lalu juga dilakukan di Banyuasin dan Musi Banyuasin.

    “Tim operasi TMC hari masih berada di lokasi untuk mempersiapkan penyemaian di beberapa lokasi yang berpotensi terjadinya turun hujan, sesuai dengan pantauan satelit cuaca. Bisa saja Oprasi TMC diperpanjang jika masih dibutuhkan,” jelasnya.

  • BPBD Sumsel Petakan 10 Daerah Rawan Bencana Tujuan Pemudik

    BPBD Sumsel Petakan 10 Daerah Rawan Bencana Tujuan Pemudik

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Masyarakat Sumsel yang ingin pulang kampung harus berhati – hati, pasalnya kondisi cuaca dengan hujan intensitas cukup tinggi Masih akan mengguyur Provinsi ini. Oleh karena itu Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumsel memetakan 10 Daerah yang rawan terkena Bencana hidrometeorologi.

    Kepala Pelaksana BPBD Sumsel Iqbal Alisyahbana mengatakan, pihaknya telah memetakan 10 Kabupaten Kota berikut kecamatanya yang berpotensi terjadi bencana pada arus mudik idul Fitri 2024.

    “Dengan kondisi yang masih dalam musim penghujan. Dari 10 Kabupaten Kota tersebut, total kecamatan ada 96 yang berpotensi terjadi bencana Hidrometeorologi,” jelas Iqbal, Senin (8/4/2024).

    Iqbal menjelaskan, semua daerah tersebut menjadi tujuan para pemudik baik yang ini pulang kampung maupun yang melintasi baik masyarakat dalam Provinsi dan juga luar Provinsi. Oleh karena itu pihaknya perlu melakukan kewaspadaan bencana.

    “Kita siapkan personil bencana yang tergabung dalam posko terpadu. Stidaknya tim kita sudah standby ketika terjadi bencana,” ungkapnya.

    96 kecamatan tersebut antara lain yakni kota Pagaralam dengan 4 Kecamatan rawan bencana, Liku Endikat di Dempo Selatan, Liku Lematang Indah di Dempo Selatan, Desa kerinjing di Dempo Utara, dan Gunung Dempo di Pagar Alam Utara.

    Kabupaten Lahat dengan 8 kecamatan yakni, Kecamatan PulauPinang, Gumay Ulu, Tanjung Sakti, Tanjung Tebat, Pseksu, KikimTimur, Kikim Barat, dan Merapi Timur.

    Kabupaten Muara Enim dengan 22 kecamatan yang seluruhnya masuk dalam daerah rawan bencana Hidrometeorologi.

    Kota Lubuklinggau ada 8 kecamatan, Lubuklinggau Barat I, Lubuklinggau Barat II, Lubuklingga Utara I, Lubuklingga Utara II, Lubuklinggau Tmur I, Lubuklinggau Timur II, Lubuklunggau Selatan I, dan Lubuklinggau Selatan II.

    Kabupaten Pebukal Abab Lematang Ilir (PALI) di 5 kecamatan, yakni Talang Ubi, Tanah Abang, Penukal, Penukal Utara, dan Abab.

    Selanjutnya Kabupaten Ogan Ilir di 16 kecamatan yakni, Muara Kuang, Rambang Kuang, Lubuk Keliat, Rantau Alai, Kandis, Sungai Pinang, Tanjung Raja , Rantau Panjang, Indralaya Selatan, Tanjung Batu, Payaraman, Indralaya, Pemulutan Selatan, Pemulutan, pemulutan Barat dan Kecamatan Indralaya Utara.

    Kabupaten Ogan Komering Ulu Timur di 10 kecamatan, Cempaka, Bunga Mayang, BP Bangsa Raja, Martapura, Madang Suku I, Madang Suku II, Semendawai Barat, Semendawai Suku III, Semendawai Timur, Belitang III.

    Lalu Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan di 10 kecamatan, Muaradua, Buana Pemaca, Buay Pemaca, Simpang, Tiga Dhaji, Muaradua Kisam, Sungai Are, Pulau Beringin, dan Warkuk.

    Kabupaten Musi Rawas di 8 kecamatan, Muara Lakitan, Muara Kelingi, Bts Ulu Cecar, Megang Sakti, Selangit, Stl Ulu Rawas, Sukakarya, Tuan Negeri.

    Terakhir Kabupaten Banyuasin di 13 Kecamatan, yakni Kecama Rantau Bayur, Banyuasin III, Banyuasin I, Banyuasin II, Tanjung Lago, Air Kumbang, Talang Kelapa, Tungkal Ilir, Pulau Rimau, Selat Penuguan, Air Salek, Makarti Jaya, dan Muara Sugihan.

  • 2024 Masih Ada El Nino di Sumsel

    2024 Masih Ada El Nino di Sumsel

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG -Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mulai melakukan persiapan menghadapi bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) tahun 2024. Apalagi di Prediksi tahun ini, El Nino masih akan terjadi di Sumsel pada musim kemarau nanti.

    Kepala Pelaksana BPBD Sumsel Iqbal Ali Syahbana menjelaskan Elnino akan terjadi pada bulan Juni hingga Agustus yang juga bertanda masuknya musim kemarau.

    “Berdasarkan data dan prediksi BMKG bahwa Indonesia termasuk Sumsel masih masuk kategori Elnino, dimana El Nino terjadi pada awal Juni – Agustus,” kata Iqbal bincangi, Jumat (22/3/2024).

    Mengetahui musim kemarau yang akan datang pada bulan Juni, Pemerintah Provinsi Sumsel akan melakukan Siaga Karhutla pada Juni pula.

    “Penanganan karhutla di Sumsel terus dilakukan dengan memeriksa kesiapsiagaan perusahaan perkebunan yang beroperasi di Bumi Sriwijaya. Pengecekan tersebut akan melibatkan multi sektoral mulai dari DLHP, BPBD hingga Dishut Sumsel,” ungkapnya.

    Iqbal menerangkan, untuk penanganan karhutla 2024 pihaknya akan memprioritaskan empat wilayah rawan karhutla seperti Ogan Komering Ilir (OKI), Musi Banyuasin (Muba), Muara Enim dan Ogan Ilir.

    “Kita juga akan mengecek uji kepatuhan terhadap 53 perusahaan yang ada,” jelss dia.

    Menurut Iqbal, ke depan pihaknya akan mendirikan posko bersama TNI, Polri, BPBD dan Manggala Agni dititik rawan karhutla yang ada di Sumsel. Hal ini dilakukan untuk memastikan tim dapat lebih sigap turun melakukan pemadaman jika terjadi kebakaran.

    “Selain itu pemprov juga meminta embung-embung yang ada di perusahaan tetap dijaga untuk digunakan saat kebakaran. Sumber air itu, akan digunakan tim darat dan udara agar cepat memadamkan api,” jelas dia

  • Antisipasi Banjir dan Tanah Longsor, Pemprov Siagakan Ratusan Personil dan Peralatan

    Antisipasi Banjir dan Tanah Longsor, Pemprov Siagakan Ratusan Personil dan Peralatan

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Gubernur Sumsel H. Herman Deru memimpin langsung apel kesiapan personil dan peralatan dalam rangka penguatan kapasitas kawasan untuk pencegahan dan kesiapsiagaan penanggulangan bencana banjir dan tanah longsor Sumsel tahun 2022 di Jakabaring Sport City (JSC), Rabu (7/12) sore.

    Dalam sambutannya Gubernur Herman Deru mengatakan, kondisi geografis Sumsel dengan dataran tinggi (Pegunungan) di bagian Barat seperti Pagaralam, Lahat, Muara Enim dan OKU Selatan, berpotensi terjadinya peristiwa alam seperti Gunung Meletus, Guguran Larva Panas, Gas Beracun/Belerang (Gunung Dempo) yang merupakan gunung api aktip, Tanah Longsor, Banjir Bandang dan Angin Puting Beliung.

    Sementara di bagian timur yang merupakan dataran rendah dan perairan seperti Musi Banyuasin, Banyuasin, Ogan Komering Ilir, Ogan Ilir dan Palembang, mempunyai potensi terjadinya potensi banjir akibat luapan air sungai dan menimbulkan genangan yang dipengaruhi oleh musim hujan dan pasang air laut, selain itu juga pada daerah yang lebih terbuka dapat terjadi angin puting beliung.

    Semua rangkaian peristiwa alam tersebut sebenarnya merupakan peristiwa alam biasa yang bisa saja terjadi, namun dampak dari peristiwa alam tersebut menjadi masalah atau menjadi bencana, seperti merobohkan rumah, merusak sarana prasarana dan fasilitas masyarakat yang ada, atau bahkan menimbulkan korban jiwa baik luka-luka atau bahkan meninggal dunia.

    “Peristiwa alam tersebut dapat berubah menjadi bencana apabila kita tidak siap dan melaksanakan upaya kesiapsiagaan mulai dari pemetaan daerah rawan bencana, sosialisasi kepada masyarakat tentang kondisi wilayah kebencanaan yang ada di daerahnya masing-masing. Karena itu diperlukan penguatan kapasitas masyarakat dan aparat seperti pelatihan,” jelas Herman Deru.

    Menurut HD hal lain yang lebih penting juga adalah kondisi alam, bencana ini terjadi juga karena terdegradasinya kondisi alam atau kurangnya daya dukung alam seperti kerusakan hutan, pertambangan, budaya masyarakat seperti membuang sampah sembarangan dan lain lain.

    ” Maka dari itu Saya selalu menghimbau agar kita dapat memanfaatkan alam ini secara bijak untuk meningkatkan perekonomian tanpa merusak alam sehingga kehidupan kita akan terjaga dan terlebih lagi kita masih dapat mewariskan alam dan lingkungan yang lestari untuk kehidupan anak cucu kita dimasa yang akan datang,” tambahnya.

    Dalam kesempatan itu Gubernur Herman Deru juga memaparkan bahwa berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi dan Geofisika (BMKG) bahwa musim hujan 2022/2023 telah mulai terjadi sejak awal September 2022 pada sebagian wilayah Sumatera Selatan dan terjadi pula fenomena la nina dan menguatnya Dipole Mode yang menyebabkan curah hujan meningkat diatas rata-rata tanpa mengalami musim kemarau, dengan perkiraan puncak musim hujan dan curah hujan tinggi.

    Puncak musim hujan di wilayah Sumatera Selatan diprakirakan mengalami puncak musim hujan pada bulan Desember 2022.

    Dikatakam Herman Deru sebagai salah satu bentuk kesiapsiagaan menghadapi bencana, itulah  digelar apel kesiapsiagaan terpadu dalam rangka antisipasi bencana alam di Sumatera Selatan.

    ” Dengan kesiapan tersebut tentunya kita akan lebih siap dan lebih cepat untuk mengantisipasi kejadian maupun dampaknya baik kerusakan sarana prasarana maupun korban jiwa,” paparnyam

    Di ujung sambutannya Ia juga berharap para personil penanggulangan bencana selalu siap dan peralatan penanggulangan yang ada juga dalam kondisi baik dan dapat digunakan secara maksimal dalam pelaksanaan penanggulangan bencana baik dalam wilayah Sumatera Selatan dan juga siap untuk dimobilisasi ke lokasi bencana di wilayah Provinsi terdekat dari Sumatera Selatan.

    Sementara itu Kepala Pelaksana BPBD Sumsel, H. Iriansyah, S.Sos. SKM, M. Kes menjelaskan bahwa

    melihat kondisi musim penghujan Tahun 2022 di wilayah Provinsi Sumatera Selatan, serta adanya potensi terjadinya bencana banjir dan tanah longsor pada beberapa wilayah di Provinsi Sumatera Selatan, maka perlu dilaksanakan upaya pencegahan dan kesiapsiagaan, berupa penyiapan personil dan peralatan untuk memudahkan mobilisasi personil dan peralatan ke lokasi bencana atau ke daerah rawan bencana.

    Menurutnya mobilisasi personil dan peralatan ke lokasi bencana atau ke daerah rawan bencana  untuk membantu melaksanakan bantuan pertolongan berupa penyelamatan dan evakuasi  untuk meminimalisir dampak bencana berupa kerusakan sarana prasarana maupun korban jiwa.

    Sehubungan dengan kesiapsiagaan personil dan peralatan tersebut hari ini tanggal 7 Desember 2022 dilaksanakan Kegiatan penguatan kapasitas kawasan untuk pencegahan dan kesiapsiagaan bencana dalam rangka Apel Kesiapsiagaan personil dan peralatan penanggulangan banjir dan tanah longsor tahun 2022, dan

    Tujuan apel kesiapsiagaan penanggulangan bencana di Sumsel Tahun 2022 antara lain untuk meningkatkan kemampuan personil dan kesiapan peralatan penanggulangan bencana banjir dan tanah longsor. Kemudian untuk mengoptimalkan peran, tugas dan tanggung jawab masing – masing Dinas/ Instansi/ Stakeholder terkait dalam penanggulangan bencana banjir dan tanah longsor agar korban jiwa, harta benda dan sarana prasarana dapat diminimalisir.

    ” Apel ini juga menunjukan kesiapan kita Pemerintah, Dunia Usaha, Akademisi dalam menghadapi bencana,” jelasnya.

    Beberapa sarana dan prasarana peralatan tersebut di antaranya seperti peralatan air, perahu karet dan perahu polythelen. Serta bantuan melalui udara dan parametor dari Federasi Aero Sport Sumsel. Sementara total personil yang disiagakan berjumlah ratusan antaranya dari Korem 044 Gapo, Biro Ops Polda Sumsel, Lanal Palembang, Tagana Dinsos Provinsi Sumsel, BPBD Sumsel, Satpol PP dan Damkar Pemprov Sumsel, dan sejumlah instansi terkait lainnya.

    Dalam kesempatan itu selain meninjau pasukan, Gubernur Sumsel H. Herman Deru juga mengecek peralatan yang disiagakan. Dilanjutkan dengan penyerahan bantuan CSR dari sejumlah perusahaan seperti PT. Pusri, PT Sampoerna Agro, PT. Bank Sumsel Babel dan PTBA yang sebagian besar merupakan sembako.