PALEMBANG, SUARAPUBLIK.ID — Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan menyebut wilayah Sumatera Selatan menempati peringkat tertinggi kedua di Indonesia dalam akumulasi kasus bibir sumbing, di tengah masyarakat dengan tingkat probabilitas mencapai rata-rata satu kasus dari setiap seratus kelahiran bayi.
Temuan data epidemiologi medis ini mengindikasikan jika sebaran kasus kelainan struktural fisik tersebut paling banyak ditemukan pada masyarakat yang menetap di area pelosok atau pinggiran daerah.
“Karena berdasarkan laporan, Sumatera Selatan merupakan daerah dengan angka bibir sumbing tertinggi kedua di Indonesia,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Sumatera Selatan Trisnawarman, Senin (25/5/2026).
Trisnawarman menjelasksn jika berdasarkan pemetaan geografis di lapangan, sebaran penderita kelainan fisik ini menunjukkan adanya ketimpangan aksesibilitas penanganan yang cukup mencolok.
Karakteristik wilayah tempat tinggal pasien sangat memengaruhi durasi waktu tunggu penanganan medis hingga tindakan pembedahan dilakukan.
“Kalau di Sumatera Selatan, kasus banyak ditemukan di daerah pinggiran seperti OKI,” jelasnya.
Kondisi tersebut berbanding terbalik dengan dinamika penanganan kelainan pada anak di area urban atau perkotaan.
Di mana, faktor kedekatan fasilitas kesehatan (faskes) dan tingkat kesadaran orang tua membuat proses penyembuhan pasien berjalan jauh lebih responsif.
“Kalau di kota biasanya pasien lebih cepat ditangani dan langsung menjalani operasi,” katanya.
Mengenai aspek pemicu, ia menjelaskan terdapat dominasi indikator internal dari silsilah keluarga yang menjadi latar belakang utama munculnya kelainan struktural tersebut pada bayi baru lahir.
Karakteristik pewarisan sifat biologis ini terpantau kerap melompati satu generasi di dalam silsilah keturunan.
Ia menuturkan jika keterkaitan unsur keturunan ini membuat kehadiran kelainan fisik tersebut sering kali muncul secara tidak terduga oleh pihak orang tua.
Riwayat medis dari generasi terdahulu menjadi poin penting yang mendasari munculnya kasus baru di tengah masyarakat.
“Memang banyak faktor genetik yang ditemukan. Kadang ada yang diturunkan dari nenek, lalu cucunya yang mengalami,” tuturnya.
Selain dipicu oleh faktor internal garis keturunan, tim medis juga menemukan adanya indikasi pemicu dari faktor eksternal lingkungan sekeliling sang ibu.
Pola konsumsi zat kimia berbahaya seperti penggunaan obat-obatan tertentu secara sembarangan selama masa mengandung menjadi salah satu hal yang paling diantisipasi.
“Selain faktor genetik, penyebab bibir sumbing bisa juga akibat penggunaan obat-obatan saat hamil,” ucap.
Penulis : Tia
Editor : Jaks

















