SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Fatah Palembang, Prof Dr Muhammad Adil MA menyampaikan, pelaksanaan kegiatan pelatihan dosen untuk pembelajaran mata kuliah gender sangat diperlukan di era sekarang ini.
Karena, lanjut Sirozi, bertujuan untuk meningkatkan kesetaraan dan keadilan gender serta memperkuat kapasitas dosen dalam riset dan pengajaran gender dalam menghasilkan materi ajar yang responsif gender seperti buku ajar.
“Pelatihan tersebut bertujuan untuk membekali dosen dengan pemahaman konsep dan metodologi penelitian gender serta cara mengintegrasikan perspektif gender ke dalam berbagai mata kuliah agar mahasiswa memiliki karakter yang peduli gender,” terangnya, Senin 13 Oktober 2025.
“Ada lima poin peningkatan kesetaraan dan keadilan gender di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di antaranya jadikan isu-isu gender yang nyaman saat dikonsumsi oleh masyarakat dan penyediaan sarana prasarana,” tambahnya.
Sementara melalui rilis yang diterima media ini, saat workshop yang diselenggarakan UIN Raden Fatah terkait pelatihan dosen untuk mata kuliah gender di Hotel Swarna Dwipa Palembang beberapa hari kemarin, Kabid Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Skriptandoni MM berharap UIN Raden Fatah Palembang sebagai penggagas kurikulum gender di PTKI dapat secepatnya mengimplementasikan kurikulum gender melalui pola mata kuliah mandiri dan terintegrasi dengan mata kuliah.
“Tujuan kegiatan ini dalam rangka mewujudkan kesetaraan gender di masyarakat. Walau Undang-Undang menyatakan bahwa semua masyarakat berhak berpartisipasi dalam pembangunan namun faktanya masih ada sekelompok masyarakat seperti perempuan yang mengalami diskriminasi,” jelasnya.
Sasaran Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), lanjut Skriptandoni terhadap perguruan tinggi dalam hal ini UIN Raden Fatah untuk menyelenggarakan workshop ini dinilai tepat karena dengan intelektualitasnya dapat menjadi rujukan pertanyaan dari masyarakat.
Selain itu, dosen juga dapat memberikan nilai kesetaraan gender pada mahasiswa sehingga nantinya mereka terjun langsung ke masyarakat sebagai agent of change.
“Adanya workshop ini diharapkan UIN Raden Fatah menjadi model bagi perguruan tinggi keagamaan khususnya yang ada di wilayah Sumatera Selatan,” katanya.
Menurutnya, perkembangan gender di Indonesia berawal dari kajian Al-Quran.
“Nilai kesetaraan gender yang benar adalah berasal dari Al-Quran. Kami telah membuat sistematika implementasinya dalam pembelajaran di PTKI dan responnya ternyata baik. Pentingnya isu ini diangkat karena kita bisa melihat bahwa ada peran yang tidak seimbang saat pembangunan nasional dimulai,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Workshop Mata Kuliah Gender Nilawati M Ag dalam laporannya menyampaikan kegiatan ini bersifat 70 persen praktek dan dana bersumber dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI.
“Dari workshop tersebut diharapkan dapat memberikan bekal bermanfaat bagi para dosen UIN Raden Fatah untuk mengadakan perkuliahan dengan nilai kesetaraan gender,” ujarnya.
“Tak hanya UIN Raden Fatah, seluruh civitas akademika lainnya juga diharapkan dapat berperan meningkatkan kualitas pendidikan termasuk dalam pemberdayaan perempuan. PSGA menjadi fasilitator yang concern pada masalah ini, tanggung jawab jelas cukup besar dalam upaya pengembangan kajian tentang perempuan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat,” tambahnya.
Sekedar informasi, kegiatan pelatihan dosen tersebut selain dibuka langsung oleh Rektor UIN Raden Fatah Palembang Bekali Pemahaman Konsep dan Metodologi, Rektor UIN Raden Fatah Palembang Sebut Pelatihan Dosen di Mata Kuliah Gender Sangat Diperlukan. (ANA)

















