China Diminta Menkeu AS Ringankan Utang Sri Lanka

- Redaksi

Jumat, 15 Juli 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Masyarakat Sri Lanka melakukan demostrasi di tengah kondisi ekonomi negara Sri Lanka yang bangkrut.
Foto: net

Masyarakat Sri Lanka melakukan demostrasi di tengah kondisi ekonomi negara Sri Lanka yang bangkrut. Foto: net

SUARAPUBLIK.ID, JAKARTA – Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Janet Yellen mendesak China untuk membantu meringankan utang Sri Lanka yang tengah mengalami krisis dan bangkrut.

“China merupakan kreditur penting Sri Lanka. Sri Lanka jelas tidak mampu membayar utang. Saya berharap China bersedia bekerja sama dengan Sri Lanka untuk merestrukturisasi utang yang kemungkinan bergantung pada kepentingan China dan Sri Lanka,” ujar Yellen dalam konferensi pers di Nusa Dua, Bali, yang dipantau secara virtual, Kamis (14/7) dilansir cnn indonesia.

Secara umum, ia ingin China meningkatkan perannya dalam merestrukturisasi utang negara miskin yang bisa dilakukan di bawah kerangka yang wajar. “Kita belum melihat banyak kemajuan,” ujarnya.

Karenanya, dalam pertemuan ketiga Finance Ministers and Central Bank Governors (FMCBG) di Bali pada 15-16 Juli 2022, ia akan mendesak mitra negara G20 untuk menekan China agar lebih kooperatif dalam merestrukturisasi utang negara yang tidak bisa dibayar.

Sri Lanka sendiri tengah menghadapi krisis ekonomi dan politik. Warganya kesulitan mendapatkan pangan hingga komoditas energi. Kas negara defisit dan terbebani oleh tumpukan utang.

China disebut sebagai negara pemberi pinjaman terbesar ke Sri Lanka dengan total nilai US$ 8 miliar atau setara Rp118,4 triliun (asumsi kurs Rp14.800 per dolar AS). Jumlah ini seperenam dari total utang luar negeri Sri Lanka sebesar US$45 miliar pada April 2022.

Melansir Times of India, tahun ini saja, Sri Lanka utang US$1 miliar hingga US$2 miliar ke Negeri Tirai Bambu.

Pemerintah Sri Lanka banyak meminjam dari Beijing sejak 2005 untuk sejumlah proyek infrastruktur, termasuk pelabuhan Hambantota. Namun, proyek infrastruktur tersebut dianggap tak memberi manfaat. (*)

Berita Terkait

Terungkap di Sidang! Pelanggan Setia Diduga Jadi Pencuri, Modus Rapi Bikin Toko Rugi Besar
Jambret Kalung Emas Nyaris Babak Belur Dihajar Warga
115 Unit Handphone Raib Digelapkan Karyawan Toko
Sidang Korupsi Dana Desa Terkuak: Kades Permata Baru Diduga Pakai Uang Negara untuk Bayar Utang dan Kabur
Unit 5 Satresnarkoba Gerebek Kontrakan di Kertapati, 10 Paket Sabu Disita
Kasus Pompa Karhutla Muratara: Dugaan Tekanan dan Mark Up Terkuak di Persidangan
Dugaan Korupsi Aset PT KAI, Kuasa Hukum PT Rimco dan Sunan Rubber Bantah Tudingan
Ketua PMI Mengaku Tak Tahu Pengelolaan Dana Hibah, Sidang Tipikor Ungkap Dugaan Kelalaian Pengawasan

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 21:24 WIB

Terungkap di Sidang! Pelanggan Setia Diduga Jadi Pencuri, Modus Rapi Bikin Toko Rugi Besar

Kamis, 16 April 2026 - 15:18 WIB

Jambret Kalung Emas Nyaris Babak Belur Dihajar Warga

Kamis, 16 April 2026 - 15:12 WIB

115 Unit Handphone Raib Digelapkan Karyawan Toko

Kamis, 16 April 2026 - 15:05 WIB

Sidang Korupsi Dana Desa Terkuak: Kades Permata Baru Diduga Pakai Uang Negara untuk Bayar Utang dan Kabur

Kamis, 16 April 2026 - 12:30 WIB

Unit 5 Satresnarkoba Gerebek Kontrakan di Kertapati, 10 Paket Sabu Disita

Berita Terbaru