PALEMBANG, SUARAPUBLIK.ID – Dewan Pimpinan Pusat Perempuan Indonesia Maju (DPP PIM) resmi mengonsolidasikan gerakan pelestarian budaya secara serentak di berbagai wilayah Nusantara.
Sinergi tersebut diimplementasikan secara konkret oleh DPD PIM Sumatera Selatan lewat agenda “Parade Kebaya Songket: Pesona Perempuan Indonesia” di kawasan Car Free Day (CFD) Palembang, Minggu (19/7/2026).
Aksi ini menjadi penguat identitas bangsa pasca-penetapan kebaya sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh UNESCO pada akhir tahun 2024.
Langkah masif ini sekaligus menandai tahun ketiga peringatan Hari Kebaya Nasional yang lahir berdasarkan Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 19 Tahun 2023.
“Pengakuan UNESCO bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar,” ujar Ketua Umum DPP PIM, Lana T. Koentjoro.
Lana menegaskan jika momentum ini penting untuk menyatukan kembali gerakan pelestarian yang tersebar di daerah.
Rangkaian kegiatan ini akan berpusat pada puncak perayaan nasional di Jakarta pada 24 Juli mendatang.
Melalui pembudayaan busana tradisional secara masif, gerakan ini juga diproyeksikan menjadi motor penggerak ekonomi kreatif yang inklusif lewat kolaborasi pentahelix.
“Ketika masyarakat mengenakan kebaya, terdapat multiplier effect ekonomi yang sangat luas,” tegasnya.
Ajang ini sekaligus ditargetkan untuk mencatatkan Rekor MURI kategori perempuan berkebaya dengan kain songket terbanyak, guna mengangkat Jembatan Ampera ke tingkat internasional.
Ketua PIM Sumatera Selatan, Helen Ganefo, menyatakan rasa syukurnya atas membeludaknya partisipasi masyarakat yang ikut serta.
“Alhamdulillah, antusiasme masyarakat sangat tinggi. Jumlah pendaftar daring mencapai lebih dari 2.000 peserta,” ungkapnya.
Masyarakat di sekitar area CFD juga tetap diakomodasi untuk bergabung langsung. Total peserta berkebaya yang turun ke jalan diperkirakan menembus angka hingga 5.000 orang.
“Bukan semata-mata melihat jumlah pesertanya, tetapi tingginya antusiasme masyarakat Palembang,” imbuhnya.
Agenda ini menjadi perhelatan ketiga bagi PIM Sumsel setelah sebelumnya sukses digelar di Benteng Kuto Besak (BKB) dan Kantor Gubernur Sumsel.
Acara didukung penuh Pemprov Sumsel, Pemkot Palembang, serta melibatkan aktif 52 organisasi perempuan.
Parade ini juga diikuti oleh perwakilan 17 kabupaten/kota se-Sumsel, baik hadir langsung maupun via Zoom serta kehadiran peserta dari luar daerah seperti Padang dan Jambi.
Dukungan penuh juga datang dari Ketua Umum Kongres Wanita Indonesia (Kowani) periode 2024–2029, Nannie Hadi Tjahjanto, yang hadir langsung di Palembang menyaksikan pencatatan rekor MURI.
“Kebaya sudah dikenalkan di UNESCO, tentu kita sebagai generasi penerus harus melestarikan,” kata Nannie.
Nannie sepakat bahwa esensi utama gerakan ini adalah membangkitkan perputaran ekonomi sektor hilir bagi para pelaku UMKM secara riil.
“Dari kebaya ini kita telah mengangkat seluruh UMKM Indonesia. Mulai dari selop, kain ganding, hingga jasa MUA,” katanya.
Menjelang usia 100 tahun Kowani, momentum ini turut digunakan untuk merefleksikan semangat Kongres Perempuan pertama 1928 demi menyuarakan hak perempuan di tingkat menengah ke bawah.
“Kita harus pastikan tidak ada lagi KDRT, perdagangan manusia, anak terlantar, hingga kurir narkoba akibat desakan ekonomi,” tuturnya.
Bersama Hari Internasional Anti Narkotika, ia menyerukan penguatan ketahanan keluarga lewat program “1.000 Profesi, 1.000 Organisasi, dan 1.000 Komunitas”.
Demi menjamin keberlanjutan tradisi, DPP PIM berkomitmen terus mendekatkan kebaya kepada generasi muda lewat inovasi bahan modern oleh para desainer muda agar busana ini tidak dianggap rumit.
Strategi terstruktur seperti gerakan Kebaya Go to School dan Kebaya Go to Campus akan terus digalakkan dengan tetap mempertahankan pakem dasar busana seperti model Kutu Baru.
Penulis : Tia
Editor : Jaks

















