Tag: Bulog Sumsel Babel

  • Targetkan Serapan 172 Ribu Ton Beras, Bulog Sumsel Babel Optimistis Dongkrak Pengadaan Tahun 2026

    Targetkan Serapan 172 Ribu Ton Beras, Bulog Sumsel Babel Optimistis Dongkrak Pengadaan Tahun 2026

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Selatan dan Bangka Belitung (Sumsel Babel) menetapkan target penyerapan beras sebesar 172.682 ton untuk tahun 2026, atau meningkat 29,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya guna memperkuat stok pangan nasional.

    Target ambisius tersebut ditetapkan setelah Bulog Sumsel Babel mencatatkan kinerja positif pada 2025 dengan realisasi mencapai 141.465 ton atau setara 106 persen dari target awal.

    Pimpinan Wilayah Bulog Sumsel Babel, Mersy Windrayani menyampaikan kolaborasi lintas sektor menjadi fondasi utama dalam mengamankan produksi gabah petani.

    “Tahun lalu penyerapan berhasil melampaui target dengan total 141.465 ton setara beras,” ujar Mersy dalam keterangan tertulis, Senin (26/1/2026).

    Memasuki awal tahun ini, Bulog telah mengamankan serapan sementara sebanyak 4.174 ton gabah dari titik panen awal di Kabupaten Banyuasin hingga 24 Januari 2026.

    Ia memastikan proses pengadaan tetap berjalan sesuai dengan regulasi harga yang ditetapkan pemerintah untuk melindungi nilai jual di tingkat produsen.

    “Hingga saat ini, Bulog tetap konsisten melakukan pembelian sesuai harga ketentuan yakni Rp6.500 per kilogram,” imbuhnya.

    Meski menerapkan skema any quality dalam penyerapan, pihaknya terus memberikan edukasi kepada petani mengenai pentingnya waktu panen yang tepat.

    Langkah ini diambil untuk memastikan kualitas beras yang masuk ke gudang memenuhi standar sebagai Cadangan Pangan Pemerintah (CPP).

    “Harapannya dengan sinergi berbagai pihak di lapangan, penyerapan gabah kering panen lebih meningkat. Beras ini yang akan disimpan menjadi beras CPP yang nantinya disalurkan ke masyarakat,” pungkasnya.

  • Bulog Sumsel Babel Pastikan Stok Pangan Aman Sambut Natal dan Tahun Baru

    Bulog Sumsel Babel Pastikan Stok Pangan Aman Sambut Natal dan Tahun Baru

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Perum Bulog Wilayah Sumatera Selatan dan Bangka Belitung (Sumsel Babel) memastikan ketersediaan stok beras dalam kondisi aman menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

    Saat ini, Bulog Sumsel Babel memiliki stok beras sebanyak 83.661 ton yang tersimpan di gudang-gudang Bulog di Sumsel dan Babel. Jumlah tersebut dinilai lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama periode libur akhir tahun.

    Pemimpin Wilayah Perum Bulog Sumsel Babel, Mersi Windrayani, mengatakan stok beras yang tersedia jauh melampaui kebutuhan konsumsi masyarakat untuk beberapa bulan ke depan.

    “Kami memastikan stok beras cukup untuk menghadapi potensi lonjakan permintaan selama Natal dan Tahun Baru. Total stok saat ini mencapai 83.661 ton,” ujar Mersi, Rabu (24/12/2025).

    Selain beras, Bulog Sumsel Babel juga menyiapkan stok pangan komersial lainnya, seperti beras komersial sebanyak 497 ton, gula 170 ton, minyak goreng 273.886 liter, serta terigu 500 kilogram.

    Untuk mendukung kelancaran distribusi, Bulog telah menyiapkan mekanisme penyaluran yang lebih cepat dan efektif melalui kerja sama dengan pemerintah daerah dan distributor agar pasokan ke pasar tetap terjaga.

    Mersi juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian berlebihan selama periode libur Nataru demi menjaga kelancaran distribusi dan stabilitas harga.

    “Untuk beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan), Bulog Sumsel Babel telah menyalurkan sebanyak 31.919 ton. Hingga akhir tahun, target penyaluran mencapai 53.000 ton,” jelasnya.

    Dalam menghadapi Natal dan Tahun Baru (Nataru), Bulog Sumsel Babel menerapkan sejumlah strategi, antara lain penguatan ketersediaan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dan komoditas pangan strategis sebagai langkah antisipasi peningkatan permintaan.

    Selain itu, Bulog juga melaksanakan stabilisasi harga pangan melalui kegiatan Operasi Pasar dan program SPHP guna menjaga keterjangkauan harga bagi masyarakat.

    Penguatan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan, seperti pemerintah daerah, dinas terkait, Satgas Pangan, serta stakeholder lainnya, juga dilakukan untuk pengawasan distribusi dan pengendalian harga.

    Tak hanya itu, Bulog Sumsel Babel melakukan pemantauan secara intensif dan berkelanjutan terhadap perkembangan harga, stok, dan distribusi pangan di wilayah Sumsel dan Bangka Belitung.

  • Produksi Gabah Sumsel Tembus 3,5 Juta Ton, Naik 700 Ribu Ton

    Produksi Gabah Sumsel Tembus 3,5 Juta Ton, Naik 700 Ribu Ton

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Tahun ini Sumatera Selatan mampu meningkatkan produksi gabah kering giling (GKG). Bahkan, hingga September 2025 produksinya meningkat 600-700 ribu ton, menjadi 3,5 juta dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang hanya 2,7 juta ton.

    “Rata-rata produktivitas lahan kita sudah mencapai 3,5 juta ton GKG, naik dari sebelumnya 2,7 juta ton. Artinya, ada lompatan signifikan dalam produktivitas. Presiden juga menargetkan peningkatan produksi sebesar 300 ribu ton (sepanjang 2025) dan hingga September saja, peningkatannya sudah lebih dari 600 ribu ton,” ujar Gubernur Sumsel Herman Deru saat menerima perwakilan anggota DPR RI Komisi IV dan V.

    Menurutnya, capaian itu menggembirakan karena Sumsel menjadi salah satu daerah dengan peningkatan produksi tertinggi dibandingkan lumbung pangan lainnya.

    “Ini juga sekaligus motivasi untuk terus mengoptimalkan potensi pertanian di daerah,,” katanya.

    Deru menambahkan produksi gabah Sumsel masih potensial untuk dinaikkan. Terlebih, adanya program ekstensifikasi dan intensifikasi pertanian. Tahun ini, Sumsel ditugaskan Presiden Prabowo Subianto melakukan ekstensifikasi pertanian dengan target seluas 48 ribu hektare lahan pertanian baru (LPS).

    “Program tersebut saat ini berjalan sesuai dengan harapan. Sebelumnya, luas pertanian di Sumsel sekitar 519 ribu hektare, dan dengan tambahan 48 ribu hektare ini, posisi Sumsel naik dari peringkat 8 ke 5 besar provinsi dengan kontribusi ketahanan pangan nasional tertinggi,” katanya.

    Sementara itu, Wakil Ketua DPR RI Saan Mustopa mengatakan bahwa program ketahanan pangan menjadi agenda utama pemerintah. Sumsel memiliki peran strategis sebagai salah satu daerah penghasil pangan terbesar di Indonesia.

    Dia juga menyoroti soal pentingnya saluran irigasi karena dapat meningkatkan potensi luas tanam dan produktivitas Sumsel. Termasuk, infrastruktur lain seperti jalan di wilayah produksi dan ke wilayah lain, serta kehadiran Pelabuhan Palembang New Port Tanjung Carat.

    “Karena memang namanya ketahanan pangan membutuhkan interkoneksi satu sama lain,” jelasnya.

    Sementara itu, Direktur Bisnis Perum Bulog Febby Novita mengatakan Bulog terus melakukan penyerapan gabah ke petani dengan harga Rp 6.500 per kg. Harga yang ditetapkan itu belum termasuk biaya angkut.

    “Bulog membeli gabah Rp 6.500 di lokasi panen petani, jika ada ongkos angkut ke Bulog, (juga) akan di bayar oleh Bulog,” ujarnya.

    Katanya, Bulog mendukung program pemerintah dalam ketahanan pangan. Selain menyerap gabah, Bulog juga melakukan penyerapan panen jagung sebesar Rp 6.400 per kg

    “Untuk wilayah Sumsel Babel telah terserap Gabah sebanyak 193.569,1 ton dan jagung sebanyak 5.540,2 ton,” imbuhnya.

  • Bulog Sumsel Babel Serap 30 Ribu Ton Gabah di OKI, Harga Sesuai Standar

    Bulog Sumsel Babel Serap 30 Ribu Ton Gabah di OKI, Harga Sesuai Standar

    SUARAPUBLIK.ID,  OKI — Perum Bulog Sumatera Selatan (Sumsel) dan Bangka Belitung (Babel) menyampaikan kesiapannya untuk terus menyerap hasil panen petani di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI) hingga akhir tahun 2025, dengan harga pembelian gabah sesuai standar pemerintah yakni Rp6.500 per kilogram.

    Pimpinan Perum Bulog Sumsel Babel, Mersi Windrayani mengatakan bahwa pihaknya telah menyerap gabah petani dari sejumlah kecamatan dan akan terus melanjutkan penyerapan secara merata.

    “Alhamdulillah, gabah dari petani di Desa Sepang sudah terserap. Kami akan terus bekerja sama dengan BP dan Gapoktan ke depannya dengan harga Rp6.500 sesuai penugasan dari pemerintah,” ujar Mersi usai meninjau langsung panen di Desa Sepang, Kecamatan Pampangan, OKI, Selasa (23/9/2025).

    Mersi mengungkapkan hingga saat ini Bulog telah menyerap sekitar 30 ribu ton gabah dari berbagai kecamatan di OKI, termasuk Lempung Jaya, Tanjung Lubuk, Lempuing, dan Pampangan.

    “Kami siap menyerap hingga bulan Desember 2025. Selama masih ada panen, kami tetap buka penyerapan,” ungkapnya.

    Kemudian, ia menuturkan jika terkait isu perbedaan harga serap, pihaknya memastikan saat ini harga pembelian telah seragam.

    “Memang sebelumnya ada dinamika, tapi sekarang sudah merata harga standarnya Rp6.500. Kami mohon kerja sama dari petani dan mitra supaya proses penyerapan lancar,” tuturnya.

    Lebih lanjut, terkait curah hujan yang cukup tinggi dalam beberapa bulan terakhir, ia menjelaskan jika memang cukup memengaruhi kualitas dan volume produksi padi petani. Namun, Bulog tetap berkomitmen menyerap hasil panen yang memenuhi standar.

    “Curah hujan membuat proses pengeringan lebih lama dan memicu peningkatan serangan penyakit tanaman. Itu berdampak pada hasil panen yang sedikit berkurang dibanding tahun lalu. Meski begitu, kualitas gabah yang masuk ke Bulog tetap tinggi,” jelasnya.

    Terkait penyaluran, ia menyebutkan bahwa gabah yang telah diserap akan digunakan untuk program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) dan bantuan pangan pemerintah.

    “Kami maksimalkan untuk penugasan yang ada, seperti SPHP dan bantuan pangan. Itu jadi prioritas penyaluran ke depan,” ujarnya.

    Sementara itu, Koordinator Penyuluh Kecamatan Pampangan, Yusmar menyatakan kesiapan untuk mendampingi dan mendorong para petani dalam upaya meningkatkan indeks pertanaman (IP) hingga mencapai IP 200 sebagai bagian dari program peningkatan produktivitas pertanian.

    Di sisi lain, petani Desa Sepang, Redi berharap harga gabah bisa sedikit lebih tinggi agar petani dapat memperoleh keuntungan yang lebih layak.

    Ia menilai bahwa dengan harga yang lebih baik, petani akan lebih bersemangat untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas tanam.

    “Kalau bisa harga dinaikkan sedikit, minimal Rp7.000 per kilogram. Karena harga pupuk, obat-obatan, dan biaya pertanian lainnya sekarang makin mahal. Dan lahan sawah milik saya seluas enam hektare,” ucap dia.

  • Mentan-Mendagri-Dirut Bulog Cek Harga Sembako di Palembang, Pastikan Stok Beras Aman

    Mentan-Mendagri-Dirut Bulog Cek Harga Sembako di Palembang, Pastikan Stok Beras Aman

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian dan Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman blusukan ke Pasar Km 5 Palembang untuk memastikan stabilitas harga pangan dan efektivitas program Gerakan Pangan Murah (GPM) dari Bulog.

    Kunjungan tersebut bertujuan untuk memastikan distribusi pangan, terutama beras dapat berjalan lancar dan harga tetap terjangkau bagi masyarakat.

    “Kita ini spontan saja, tidak kita rencanakan mau datang kesini. Random saja,” ujar Tito saat diwawancarai langsung usai meninjau, Jumat (5/9/2025).

    Tito menjelaskan bahwa harga beras yang dipasok melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sudah terjangkau di bawah Rp 12.000 per kilogram dan kualitasnya pun diakui baik oleh warga.

    “Distribusi beras SPHP cukup lancar, di beberapa tempat juga dilakukan GPM. Harganya terjangkau dan kualitasnya bagus. Ini sangat membantu masyarakat. Kami berharap harga beras di daerah lain juga bisa turun,” jelasnya.

    Kedua menteri juga berdialog dengan para pedagang di pasar untuk mengetahui harga sembako terkini, termasuk cabai merah yang harganya berkisar Rp 40.000 hingga Rp 50.000 per kilogram.

    “Bu cabai merah berapa? Yang merah?” tanya Tito saat mengunjungi pedagang sembako.

    “Yang ini (cabai merah) Rp 40 ribu, yang ini (cabai rawit merah) Rp 50 ribu. Bawang merah dan putih Rp 40 ribu. Cung kediro Rp 15 ribu, tomat Rp 10 ribu kemarin sempat naik sekarang sudah turun,” jawab pedagang Pasar Km 5.

    Ia juga meminta masyarakat dan pemda memasifkan pekarangan rumahnya untuk menanam bahan pangan, terlebih jika daerah itu bukan wilayah penghasil.

    “Dari dulu sudah saya sampaikan, gerakan tanam cabai agar tidak bergantung kepada daerah penghasil. Se-Indonesia bisa memproduksi cabai, kalau wilayahnya kering bisa pakai hidroponik. Gampang sebenarnya. Tapi ini bukan berarti pemerintah tidak tanggung jawab, kita tetap melakukan upaya-upaya,” imbuhnya.

    Sementara itu, Amran Sulaiman menambahkan bahwa kolaborasi antara kementerian dan instansi terkait penting untuk menstabilkan harga pangan, yang menjadi salah satu penyebab inflasi.

    “Kami terus lakukan operasi pasar besar-besaran dan memantau harga, termasuk dengan pedagang untuk memastikan harga sembako tetap stabil. Saat ini inflasi sudah turun menjadi 2,31 persen,” katanya.

    Ia menyebutkan, saat ini stok beras nasional tercatat 1,3 juta ton dengan produksi beras yang mengalami lonjakan 3 juta ton dibandingkan tahun lalu.

    “Sampai dengan bulan sekarang ada kenaikan 3 juta ton. Itu informasi dari BPS. Artinya hasil pemantauan BPS dan monitoring Kemendagri dan produksi pertanian sinkron, tervalidasi dengan baik,” ungkap dia.

    Sementara itu, Pimpinan Wilayah Bulog Sumsel Babel, Mersi Windrayani mengatakan, pihaknya terus menggencarkan Gerakan Pangan Murah (GPM) di seluruh wilayah Sumsel dan Babel.

    “GPM hari ini kita lakukan di 37 titik di Sumsel, sementara di Palembang sendiri ada 19 titik. Total 144 ton beras yang kita gelontorkan, ini disebarkan di 5 cabang Bulog,” kata dia.

    Dia menyebut, setiap titiknya disebar 2 ton beras SPHP dengan kemasan karung berisi 5 kilogram. Harganya Rp 57.000 per 5 kilogram. Adapun ketentuannya, satu orang hanya bisa membeli dua kemasan beras SPHP atau masing-masing 10 kilogram beras.

    “Kalau memang antusias dari masyarakat banyak, nanti kita akan tambah lagi,” kata dia.

    Mersi menyebut, penyaluran SPHP hingga bulan Desember ditarget 44.000 ton. Sementara, stok di Gudang Bulog Sumsel Babel ada 99.000 ton.

    “Stok ini mampu mencukupi 5-6 bulan ke depan. Namun stok ini akan terus bertambah karena penyerapan di tingkat petani masih dilakukan,” jelasnya.

    “Kita juga melihat dan memantau harga, dengan mengelontorkan SPHP ini berdampak juga dengan harga beras premium khususnya di pasar-pasar tradisional, ritel atau modern. Itu juga menjadi satu dampak ke harga yang beredar sekarang,” tutupnya.

  • Bulog Sumsel Babel Pastikan Stok Beras Aman di Pasaran

    Bulog Sumsel Babel Pastikan Stok Beras Aman di Pasaran

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Bulog Sumsel Babel memastikan pasokan beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) terus dilakukan di wilayah tersebut. Apalagi dengan stok beras di gudang Bulog yang jumlahnya cukup melimpah, yakni 100.000 ton atau mencukupi hingga 10 bulan ke depan.

    Pimpinan Wilayah Bulog Sumsel Babel Mersi Windrayani mengatakan, beras SPHP secara optimal sudah dipasok ke berbagai saluran penjualan. Selain pengecer dalam pasar yang ada di pasar tradisional, Bulog juga menyuplai beras ke pengecer di luar pasar.

    Berdasarkan data Bulog, saat ini sudah ada belasan pasar yang sudah dipasok beras SPHP. Yakni Bukit Kecil, Padang Selasa, Maskerebet, KM 5, Lemabang, Cinde, Kertapati, Kebon Semai, Yada, Talang Kelapa, Sekip Ujung, Kamboja, Perumnas, Sekanak, 10 Ulu, Plaju, Kuto, 16 Ilir, Sematang Borang, Alang-Alang Lebar, dan Soak Bato.

    “Jadi memang stok beras kita melimpah, dan kita bersyukur permintaan beras SPHP cukup besar di Sumsel Babel. Kami terus memasok beras SPHP ke banyak saluran penjualan agar memudahkan masyarakat untuk mendapatkan beras tersebut,” kata Mersi, Rabu (27/8/2025).

    Bulog Sumsel Babel menargetkan hingga akhir tahun beras SPHP yang digelontorkan pihaknya bisa mencapai 44.000 ton. Karena itu, pihaknya pun tengah mengoptimalkan penyaluran melalui program Gerakan Pangan Murah yang bekerja sama dengan TNI/Polri dan Pemerintah Daerah di Bangka Belitung dan Sumatera Selatan.

    “Nah, selain di pasar tradisional, kita juga menyediakan beras SPHP lewat program GPM. Artinya kita bersama dengan instansi terkait aktif menggencarkan program GPM dengan sasaran masyarakat yang lebih luas,” kata dia.

    Bahkan pihaknya pun menggandeng Koramil dan Polsek terdekat di mana mereka juga menyediakan beras SPHP untuk masyarakat yang ingin membeli di sana. Ini sebagai komitmen dalam mendukung Asta Cita Prabowo.

    “Masyarakat juga bisa mendapatkan beras SPHP di semua gudang kita atau distribution center yang ada di wilayah Sumsel Babel. Setiap orang hanya diperbolehkan membeli beras SPHP sebanyak 2 kemasan 5 kilogram,” ucapnya.

    Selain itu, Bulog Sumsel Babel juga sudah memasok beras ke Koperasi Desa Merah Putih yang ada di wilayah Sumsel, yakni KDMP Sidodadi dan KDMP Mesuji.

    Meski stok beras melimpah, dalam mekanisme suplai beras SPHP ke agen atau pedagang ada aturannya sendiri. Pihaknya menjelaskan bahwa pedagang atau agen yang sudah bekerja sama dengan Bulog melakukan pemesanan terlebih dulu dan setelahnya baru dikirim ke lokasi tersebut.

    “Pengiriman beras SPHP itu menyesuaikan dari permintaan pedagang. Biasanya per pasar memang kami mengisi (memasok) seminggu sekali. Tapi jika stok di pedagang sudah habis sebelum satu minggu, mereka bisa memesan lagi ke kita, dan akan langsung kita kirimkan,” jelasnya.

    Hari ini, kata Mersi, pihaknya sudah mendistribusikan beras SPHP ke Pasar KM 5 Palembang karena permintaan sudah masuk. Sementara untuk Pasar Lemabang, akan dikirimkan besok lantaran permintaan dari pedagang baru masuk ke pihaknya.

    “Jadi intinya, jika ada permintaan pasti akan kami tindaklanjuti. Kita tidak bisa paksa distribusi SPHP setiap hari ke pedagang karena ini juga menyesuaikan kemampuan mereka,” kata dia.

    Mersi juga menyebut pihaknya masih membuka lebar jika ada agen atau pedagang di dalam pasar tradisional yang ingin bekerja sama dalam memasok beras SPHP ini. Adapun caranya yakni hanya melengkapi administrasi seperti KTP, NPWP, foto toko, surat permohonan, dan verifikasi.

    “Jika ada yang mau, kami membuka lebar kesempatan ini. Silahkan mendaftar ke kantor. Dengan semakin banyaknya pedagang atau agen yang menyediakan SPHP artinya semakin luas juga masyarakat bisa mendapatkan beras SPHP,” jelasnya.

    Mersi memastikan saat ini stok beras di gudang Bulog Sumsel Babel melimpah. Saat ini jumlahnya mencapai 100.000 ton beras.

    “Stoknya ada 100 ribu ton beras. Stok ini juga terus bertambah karena pengadaan dari petani masih berlanjut,” kata dia.

    Dengan stok tersebut, kebutuhan beras di Sumsel Babel bisa mencukupi hingga 10 bulan ke depan.

    “Saat ini di Banyuasin masih musim panen, Artinya stok yang masuk ke gudang Bulog akan semakin bertambah juga nantinya,” kata dia.

    Dalam satu hari , Bulog mencatat ada 500-800 ton gabah dari petani yang masuk ke gudang Bulog. Hal ini memperkuat stok beras Bulog di wilayah Sumsel Babel.

  • Penyaluran Beras SPHP di Sumsel Capai 5 ribu Ton, Target 44 Ribu Ton hingga Akhir Tahun

    Penyaluran Beras SPHP di Sumsel Capai 5 ribu Ton, Target 44 Ribu Ton hingga Akhir Tahun

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Perum Bulog Wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) dan Bangka Belitung (Babel) menargetkan penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di Provinsi Sumsel sebanyak 44 ribu ton hingga akhir tahun ini.

    “Kami akan terus mendorong percepatan agar target penyaluran sebesar 44 ribu ton bisa tercapai hingga Desember,” ujar Pimpinan Bulog Sumsel-Babel, Mersi Windrayani saat diwawancarai langsung pada, Selasa (26/8/2025).

    Bulog mencatat realisasi penyaluran beras program SPHP telah mencapai sekitar 5 ribu ton sejak dimulainya program pada Juli 2025.

    “Distribusi SPHP dimulai pada Juli, jadi sejauh ini baru sekitar 5 ribu ton yang tersalurkan,” imbuhnya.

    Ia menuturkan penyaluran beras SPHP dilakukan ke sejumlah tempat, termasuk di pasar tradisional.

    “Pasar tradisional, toko ritel modern, Rumah Pangan Kita (RPK), koperasi, serta mitra penyalur lainnya,” tuturnya.

    Di sisi lain, ia mengungkapkan jika pasokan beras di gudang Bulog Sumsel saat ini berada di angka sekitar 99.000 ton.

    “Ketersediaan stok sangat mencukupi, termasuk untuk kebutuhan beras komersial hingga akhir tahun 2025,” ungkapnya.

    Sementara itu, Asisten II Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Setda Sumsel, Basyaruddin Akhmad menegaskan bahwa SPHP merupakan bagian dari langkah pemerintah untuk menjaga stabilitas harga beras di pasaran.

    “Program ini menjadi salah satu upaya untuk mencegah lonjakan harga dan menjaga daya beli masyarakat, serta agar target penylauran beras SPHP itu sesuai dengan peruntukan,” tegasnya.

    Selain itu, pihaknya juga terus meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat mengenai keberadaan dan manfaat program tersebut.

    “Kita sudah coba rumuskan salah satunya publikasi yang harus kita jalankan agar masyarakat tahu bahwa ada beras SPHP yang diperuntukkan untuk masyarakat,” ucap dia.

  • Penyaluran Beras SPHP Capai 8.500 Ton, Bulog Pastikan Pasokan Aman di Sumsel Babel

    Penyaluran Beras SPHP Capai 8.500 Ton, Bulog Pastikan Pasokan Aman di Sumsel Babel

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Perum Bulog Sumatera Selatan (Sumsel) dan Bangka Belitung (Babel) telah menyalurkan sebanyak 8.500 ton beras dalam program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) hingga 21 Agustus 2025.

    Wakil Pemimpin Bulog Sumsel Babel, Rasiwan menyebut penyaluran tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga stabilitas harga dan ketersediaan beras di tengah masyarakat.

    “Penyaluran terus dimaksimalkan melalui kolaborasi dengan pemerintah daerah, TNI, dan Polri, terutama melalui kegiatan Gerakan Pangan Murah,” ujar Rasiwan, Minggu (24/8/2025).

    Rasiwan mengatakan saat ini ketersediaan beras di gudang Bulog wilayah Sumsel dan Babel mencapai 103.000 ton.

    Selain itu, beras SPHP saat ini sudah tersedia di berbagai saluran distribusi seperti pengecer pasar tradisional, toko di luar pasar, outlet pangan milik pemerintah daerah, hingga ritel modern sehingga mudah untuk mendapatkannya.

    “Masyarakat tidak perlu khawatir akan stok beras karena ketersediaan masih sangat mencukupi,” katanya.

    Ia menuturkan jika pihaknya secara aktif melakukan penyerapan gabah dan beras dari petani lokal, yang mana hingga saat ini tercatat sekitar 181.000 ton gabah dan 25.000 ton beras telah berhasil diserap dari wilayah Sumsel dan Babel.

    “Kami terus melakukan penyerapan hasil panen dari petani, terutama karena masih ada panen di sejumlah kabupaten. Ini untuk memastikan stok tetap terjaga dan harga beras tetap stabil,” ucap dia.

  • Kolaborasi Bulog dan TNI-Polri Gencarkan GPM di Sumsel

    Kolaborasi Bulog dan TNI-Polri Gencarkan GPM di Sumsel

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Sebagai upaya menjaga stabilitas harga bahan pokok dan mendukung ketahanan pangan masyarakat, Bulog Sumsel Babel menggencarkan Gerakan Pangan Murah (GPM) di wilayah Sumsel. Dalam pelaksanaannya, GPM ini menggandeng TNI dan Polri.

    Pelaksana Tugas Pemimpin Wilayah Bulog Sumsel Babel Rasiwan mengatakan, kegiatan ini merupakan bentuk nyata sinergi antara Bulog Sumsel Babel dengan TNI dan Polri dalam menjaga stabilitas harga dan memastikan akses masyarakat terhadap bahan pangan pokok tetap terjangkau di tengah fluktuasi ekonomi.

    “Kita melakukan GPM di dua lokasi hari ini, yakni di Ogan Ilir dan Palembang,” kata dia, Kamis (7/8/2025).

    Dia merincikan, di Kota Palembang, pihaknya bersama Korem Garuda Dempo melakukan kegiatan Gerakan Pangan Murah di Makorem 044/Gapo. Ada 2 ton beras yang dikucurkan untuk kegiatan tersebut.

    Sementara di Ogan Ilir, pihaknya melakukan kegiatan serupa dengan menggandeng Polres Ogan Ilir dan disediakan beras sebanyak 5 ton.

    “Dalam kegiatan GPM ini, harga jual beras SPHP yakni sebesar Rp 58.000/karung untuk kemasan 5 kilogram,” kata dia.

    Rasiwan mengatakan, beras yang dijual dalam kegiatan ini ditujukan khusus untuk konsumsi masyarakat dan tidak boleh dibeli dalam jumlah besar untuk dijual kembali.

    “Ini untuk masyarakat, bukan untuk dijual lagi. Pembelian kami batasi agar semua warga bisa merasakan manfaatnya,” tegasnya.

    Dia menjelaskan Gerakan Pangan Murah tidak hanya dilaksanakan di dua daerah itu saja melainkan di semua wilayah di Sumsel maupun Babel.

    “Dengan adanya kegiatan ini diharapkan bisa menstabilkan harga dan kelangkaan pangan khususnya beras bisa kita antisipasi bersama. Selain itu, kita berharap GPM ini dapat membantu seluruh masyarakat untuk memperoleh beras dengan harga terjangkau serta untuk menjaga inflasi,” jelasnya.

    Rasiwan menuturkan penyaluran beras SPHP di Perum Bulog Kanwil Sumsel Babel akan dilakukan sampai dengan akhir tahun. “Targetnya 44 ribu ton hingga akhir tahun,” tukasnya.

  • Perluas Jangkauan, Beras SPHP Kini Disalurkan ke Kopdes Merah Putih

    Perluas Jangkauan, Beras SPHP Kini Disalurkan ke Kopdes Merah Putih

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Badan Urusan Logistik menyalurkan beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Hal ini mendukung program Kopdes Merah Putih yang baru saja diluncurkan Presiden Prabowo.

    Dalam peluncuran Kopdes Merah Putih, ada 80.000 koperasi yang diresmikan. Kegiatan itu dilakukan Presiden Prabowo di Klaten, Jawa Tengah, Senin (21/7/2025) dan dilaksanakan serentak se-Indonesia.

    Di Sumsel sendiri, peluncuran koperasi tersebut dipusatkan di Kecamatan Purwodadi, Musi Rawas.

    Pelaksana Tugas Pemimpin Bulog Sumsel Babel, Rasiwan mengatakan, pihaknya siap menyalurkan beras SPHP melalui Kopdes Merah Putih.

    “Setelah penyaluran SPHP di pasar rakyat, dilanjutkan GPM, dan sekarang beras SPHP sudah bisa disalurkan melalui jalur Kopdes Merah Putih,” kata Rasiwan, Senin (21/7/2025).

    “Bulog sudah melakukan MoU dengan Kopdes Merah Putih, untuk men-support koperasi tersebut, terutama dalam penyaluran beras,” lanjut dia.

    Di wilayah Sumsel, kata dia, ada 7 Kopdes Merah Putih yang sudah disalurkan beras SPHP, yakni 3 titik di Palembang, 2 titik di Musi Rawas, 1 titik di Bangka Tengah dan 1 titik di Belitung. Jumlahnya akan terus bertambah nantinya.

    Dengan adanya penyaluran beras SPHP di Kopdes Merah Putih, Rasiwan berharap beras ini dapat lebih luas dijangkau oleh masyarakat, tak hanya di kota hingga ke pedesaaan.

    Rasiwan menyebut, saat ini stok atau ketersediaan beras di gudang Bulog cukup melimpah sehingga bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Sumsel dan Babel.

    “Posisi stok beras di Sumsel Babel saat ini di angka 100.000 ton. Stok yang sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di Sumsel dan Babel.

    Dengan begitu, kata Rasiwan, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kebutuhan beras, baik di Sumsel dan Babel.

  • Bulog Sumsel Babel: Bantuan Beras Untuk Dikonsumsi, Jangan Diperjualbelikan

    Bulog Sumsel Babel: Bantuan Beras Untuk Dikonsumsi, Jangan Diperjualbelikan

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Perum Bulog Sumatra Selatan (Sumsel) dan Bangka Belitung (Babel) mengimbau masyarakat khususnya penerima bantuan pangan beras agar tidak memperjualbelikan beras yang diterima.

    “Bantuan pangan beras ini harus dimanfaatkan untuk konsumsi, tidak boleh diperjualbelikan. Ini hanya untuk kebutuhan sehari-hari penerima bersama keluarga,” ujar Plt Kepala Bulog Sumsel, Babel Rasiwan di Palembang, Jumat (18/7/2025).

    Rasiwan menegaskan akan menindak tegas jika ada temuan tersebut dan langsung melaporkan kepada Dinas Sosial, Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan, maupun kelurahan setempat.

    “Untuk keputusan nanti apakah dicabut sebagai pwnerima ada di kemensos,” tegasnya.

    Ia mengatakan penerima bantuan pangan tersebut bersumber dari Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang dimutakhirkan oleh Kementerian Sosial bersama Badan Pusat Statistik (BPS).

    “Masyarakat yang terpilih bersumber dari data yang jelas, jadi penerimanya dapat dipastikan memang benar-benar membutuhkan,” katanya.

    Ia menyebut harga beras pada saat ini mulai terjadi lonjakan yaitu dengan rata-rata harga saat ini mencapai Rp15.000 ribu per kilogram.

    “Saya yakin jika bantuan ini akan dikonsumsi oleh penerima bersama keluarganya, karena harga beras di pasaran sudah sangat mahal,” imbuhnya.

    Diketahui Perum Bulog Sumsel Babel telah menyalurkan bantuan pangan beras untuk 544.317 keluarga penerima manfaat (KPM), dengan rincian untuk wilayah Sumsel 505.094 KPM dan Babel 39.223 KPM.

    jumlah penerima terbanyak berasal dari Palembang yang mencapai 68.876 penerima. Kemudian Banyuasin sebanyak 46.340 penerima, OKI 45.952 penerima, Muara Enim 43.720 penerima, dan Musi Rawas 41.287 penerima.

    Lalu Ogan Ilir 37.461 penerima, Muba 35.380 penerima, OKU Timur 34.306 penerima, Lahat 30.289 penerima, OKU Selatan 24.379 penerima, OKU 23.461 penerima, Lubuklinggau 17.668 penerima, Empat Lawang 15.164 penerima, Muratara 12.225 penerima, PALI 10.604 penerima, Prabumulih 10.056 penerima, dan Pagar Alam 7.926 penerima.

    Ia menyampaikan jika penerima bantuan akan menerima alokasi untuk 2 bulan periode Juni dan Juli 2025, yang mana masing-masing penerima akan mendapatkan 10 kilogram per bulan atau 20 kilogram per dua bulan.

    “Mudah-mudahan bantuanini bisa membantu dan meningkatkan daya beli masyarakat, sekaligus menjadi upaya pengendalian harga beras karena kecenderungan harganya mulai naik saat ini,” ucap dia.

  • 544.317 KPM di Sumsel Terima Bntuan Beras dari Bulog

    544.317 KPM di Sumsel Terima Bntuan Beras dari Bulog

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Sebanyak 544.317 keluarga penerima manfaat (KPM) di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menerima bantuan pangan beras dari Perum bulog Sumsel dan Bangka Belitung (Babel).

    Diketahui, penerima bantuan itu bersumber dari Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) yang dimutakhirkan oleh Kementerian Sosial bersama Badan Pusat Statistik (BPS).

    “Jadi, dari 544.317 KPM untuk wilayah Sumsel 505.094 KPM dan Babel 39.223 KPM,” ujar Plt Pemimpin Wilayah Bulog Sumsel Babel Rasiwan pada, Selasa (15/7/2025).

    Ia meyebutkan jumlah penerima terbanyak berasal dari Palembang yang mencapai 68.876 penerima. Kemudian Banyuasin sebanyak 46.340 penerima, OKI 45.952 penerima, Muara Enim 43.720 penerima, dan Musi Rawas 41.287 penerima.

    Lalu Ogan Ilir 37.461 penerima, Muba 35.380 penerima, OKU Timur 34.306 penerima, Lahat 30.289 penerima, OKU Selatan 24.379 penerima, OKU 23.461 penerima, Lubuklinggau 17.668 penerima, Empat Lawang 15.164 penerima, Muratara 12.225 penerima, PALI 10.604 penerima, Prabumulih 10.056 penerima, dan Pagar Alam 7.926 penerima.

    Ia mengatakan jika penerima bantuan akan menerima alokasi untuk 2 bulan periode Juni dan Juli 2025.

    “Setiap penerima itu masing-masing mendapatkan 10 kilogram per bulan atau 20 kilogram per 2 bulan. Mudah-mudahan bantuanini bisa membantu dan meningkatkan daya beli masyarakat, sekaligus menjadi upaya pengendalian harga beras karena kecenderungan harganya mulai naik saat ini,” katanya.

    Selain itu, ia menyampaikan jika kenaikan harga beras di pasaran dikarenakan panen di Sumsel mulai berkurang dan membuat pasokan turun.

    “Meski mulai terjadi penurunan serapan, untuk ketersediaan atau stok beras kita ada 180 ribu ton di gudang. Itu sangat cukup untuk memenuhi SPHP dan bantuan pangan ini,” ungkap dia.

  • Bulog Kembali Gelontorkan SPHP Rp 12.500/Kg

    Bulog Kembali Gelontorkan SPHP Rp 12.500/Kg

    SUARAPUBLIK.ID PALEMBANG – Lonjakan harga beras di pasaran mendorong pemerintah melalui Perum Bulog kembali menyalurkan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) di wilayah Sumatera Selatan dan Bangka Belitung. Mulai Sabtu (12/7/2025), distribusi beras SPHP resmi digulirkan kembali ke pasar-pasar tradisional.

    Penyaluran ini menjadi respons atas merosotnya hasil panen dan naiknya harga beras pasca panen raya beberapa bulan lalu. Bulog menyebut pendistribusian akan berlangsung hingga akhir tahun untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan beras berkualitas dengan harga terjangkau.

    Pelaksana Tugas Pemimpin Wilayah Bulog Sumsel Babel, Rasiwan, mengatakan penyaluran SPHP dilakukan sesuai arahan pemerintah pusat melalui Badan Pangan Nasional. Beras dijual ke masyarakat dengan harga eceran tertinggi (HET) Rp 12.500 per kilogram.

    “Distribusi ini serentak di seluruh Indonesia. Untuk Sumsel dan Babel, kami mulai sejak 12 Juli 2025, dan akan terus dilakukan hingga Desember,” ujar Rasiwan saat monitoring di Pasar KM 5 Palembang.

    Menurut Rasiwan, pihaknya bersama Dinas Ketahanan Pangan Sumsel, Satgas Pangan Polda Sumsel, dan TNI melakukan pemantauan langsung ke pasar guna memastikan distribusi tepat sasaran. Ia juga mengingatkan pedagang agar menjual beras sesuai HET dan tidak menimbun stok.

    “Setiap pembeli maksimal boleh membeli dua kemasan, masing-masing 5 kilogram. Jadi totalnya 10 kilogram per orang dengan harga Rp 62.500 per kemasan,” katanya.

    Selama tiga bulan terakhir, distribusi SPHP memang sempat dihentikan karena musim panen raya. Hal ini dilakukan agar harga gabah di tingkat petani tetap stabil. Kini, saat stok berkurang dan harga naik, Bulog kembali hadir menjaga keseimbangan pasar

    Rasiwan juga memastikan ketersediaan beras di gudang Bulog cukup aman. Saat ini stok mencapai 100.000 ton untuk wilayah Sumsel dan Babel, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap potensi kelangkaan.

    “Stok aman. Bahkan beras SPHP ini sebagian besar berasal dari petani Sumsel. Penyerapan tahun ini sudah 112.000 ton, atau 78 persen dari target,” jelasnya.

  • Bulog: Gudang TNI/Polri Siap Pakai untuk Bantu Tampung Gabah Serapan di Sumsel

    Bulog: Gudang TNI/Polri Siap Pakai untuk Bantu Tampung Gabah Serapan di Sumsel

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Badan Urusan Logistik (Bulog) Wilayah Sumatera Selatan dan Bangka Belitung (Sumsel-Babel) menyebut jika gudang milik TNI/Polri siap untuk membantu menampung gabah setara beras yang telah diserap dari petani di Sumsel.

    Pimpinan Bulog Wilayah Sumsel Babel, Heriswan mengatakan nantinya akan berkoordinasi dengan TNI/Polri untuk penyiapan gudang. Beberapa daerah sentra, juga telah meminjam gudang milik TNI/Polri.

    “Gudang TNI/Polri sudah siap semua, kalau mau kita pakai bisa. Sama seperti di Jawa Timur dan Sulawesi Selatan yang sudah memakai gudang milik TNI/Polri, tapi Sumsel belum,” kata Heriswan, Selasa (20/5/2025).

    Ia menuturkan beberapa pemda ikut membantu penyiapan gudang untuk menampung hasil pembelian Bulog. Terlebih jika optimasi lahan (opla) di Sumsel terealisasi, maka hasil pertanian Sumsel akan alami peningkatan yang tinggi.

    “Beberapa pemda masih berproses untuk membangun gudang penyimpanan beras, kita juga akan membangun dryer untuk proses pengeringan dari gabah kering petani (GKP) menjadi gabah kering giling (GKG),” tuturnya.

    Diketahui, hingga bulan Mei 2025 Bulog Sumsel Babel telah menyerap sebanyak 97 ribu ton gabah setara beras milik petani di Sumsel. Jumlah 97 ribu ton setara beras itu merupakan hasil dari 133.833 ton gabah kering panen (GKP) plus 25.721 ton beras.

    “Sampai bulan Mei 2025 ini Bulog Sumsel Babel telah menyerap 97 ribu ton gabah setara beras, masih ada sisa panen di Banyuasin dan kami optimis sampai akhir panen bisa mencapai 100 ribu ton,” ujarnya.

    Hingga akhir musim panen perdana 2025 ini, pihaknya menargetkan serapan di atas 100 ribu ton setara beras.

    “Masih ada dua pekan lagi untuk memenuhi 100 ribu ton gabah setara beras tersebut. Selama Bulog berdiri, ini penyerapan terbesar di Sumsel,” ungkapnya.

    Ia menjelaskan untuk penyimpanan 97 ribu ton setara beras itu telah bekerja sama dengan mitra, seperti di Pegayut Ogan Ilir ada 5 mitra dengan kapasitas 3.500 ton per gudang.

    “Tapi ini kapasitasnya bervariasi ya, setiap gudang beda-beda. Di BGR itu bisa sampai 10 ribu ton. Untuk di akhir musim panen tahap pertama ini masih ada 40 ribu space,” jelasnya.

    Ia menyampaikan serapan itu berasal dari kantor wilayah Bulog Sumsel dan 5 kantor cabang yang ada di Sumsel dan Babel. Terbanyak berasal dari Kanwil Sumsel yang mencapai 82 ribu ton.

    “Kanwil Sumsel merealisasikan 82.121,9 ton, paling tinggi dibandingkan 5 kancab Bulog lainnya. Kanwil Sumsel memiliki gudang di Palembang, Ogan Ilir, OKI (Ogan Komering Ilir), Banyuasin, dan Muba (Musi Banyuasin),” imbuhnya.

    Banyuasin menjadi daerah penghasil beras paling tinggi, bahkan menjadi peringkat 4 nasional. Terbanyak berikutnya adalah Kancab Ogan Komering Ulu (OKU) yang memiliki gudang di OKU, OKU Timur dan OKU Selatan sebanyak 12.005,5 ton.

    Lalu Kancab Lubuklinggau (Mura, Muratara, Lubuklinggau) 1.890,2 ton, Kancab Bangka 621 ton, Kancab Lahat (Lahat, Muara Enim, Prabumulih, PALI, Pagar Alam, dan Empat Lawang) 21,4 ton, dan Kancab Belitung 9,6 ton.

  • Serapan Bulog Melonjak Tiga Kali Lipat, Target 100 Ribu Ton Di Depan Mata

    Serapan Bulog Melonjak Tiga Kali Lipat, Target 100 Ribu Ton Di Depan Mata

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Panen perdana tahun ini menjadi momen bersejarah bagi Perum Bulog Wilayah Sumatera Selatan dan Bangka Belitung. Untuk pertama kalinya sejak berdiri, Bulog berhasil mencatat serapan beras hampir menyentuh 100 ribu ton, angka tertinggi yang pernah dicapai.

    “Serapan kami sudah mencapai 97 ribu ton setara beras, dan dengan sisa panen di Banyuasin yang masih berlangsung, kami optimistis bisa tembus 100 ribu ton dalam dua pekan ke depan,” ungkap Pimpinan Bulog Wilayah Sumsel-Babel, Heriswan, Senin (19/5).

    Jumlah itu merupakan hasil dari 133.833 ton gabah kering panen (GKP) dan 25.721 ton beras, jauh melampaui serapan tahun-tahun sebelumnya yang rata-rata hanya 30 ribu ton pada musim panen awal tahun.

    Secara rinci, berikut data serapan beras termasuk juga Gabah setelah dikonversi ke Beras pada Wilayah Kerja Sumsel Babel ;

    • Kanwil Sumsel (Palembang, Ogan Ilir, Ogan Komering Ilir, Banyuasin, Musi Banyuasin): 82.121.977 Kg
    • Kancab OKU (OKU, OKU Timur, OKU Selatan): 12.005.569 Kg
    • Kancab Lahat (Lahat, Muara Enim, Prabumulih, PALI, Pagar Alam, Empat Lawang): 21.497 Kg
    • Kancab Lubuk Linggau (Musi Rawas, Muratara, Lubuk Linggau): 1.890.263 Kg
    • Kancab Bangka: 621.066 Kg
    • Kancab Belitung: 9.600 Kg

    Total keseluruhan serapan mencapai 96.679.972 Kg atau hampir 97 ribu ton.

    Bangka Belitung juga menunjukkan tren positif, dengan serapan gabah meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, terutama didorong oleh kenaikan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) menjadi Rp6.500/kg.

    Heriswan menambahkan, capaian ini tidak lepas dari strategi jemput bola langsung ke sawah petani, berbeda dari pendekatan sebelumnya yang hanya menunggu pasokan di gudang.

    “Sesuai arahan Presiden, kami langsung turun ke lapangan menyambut panen petani. Ini yang membuat perolehan kami melonjak signifikan,” jelasnya.

    Pemerintah menargetkan Sumsel masuk dalam tiga besar daerah penghasil beras nasional, dengan dukungan dari program optimasi lahan (opla) yang tahun ini ditargetkan mencakup 106 ribu hektare di Banyuasin dan Ogan Komering Ilir (OKI).

    “Dengan kombinasi strategi jemput bola dan perluasan lahan tanam, kami yakin Sumsel bisa menjadi lumbung beras nasional yang disegani,” tutup Heriswan.

  • Bulog Sumsel Babel Lakukan Fumigasi untuk Jaga Kualitas Beras Serapan di Gudang

    Bulog Sumsel Babel Lakukan Fumigasi untuk Jaga Kualitas Beras Serapan di Gudang

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Selatan dan Bangka Belitung (Sumsel-Babel) melakukan proses pengendalian hama menggunakan gas atau asap (fumigan) guna menjaga kualitas beras hasil serapan di gudang penyimpanan yang ada.

    Pimpinan Kanwil Bulog Sumsel Babel, Heriswan menyampaikan jika di setiap gudang penyimpanan sudah ada petugas khusus untuk menjaga serta memeriksa kualitas gabah dan beras hasil serapan dari petani.

    “Kalau untuk beras kita sudah ada petugasnya di setiap gudang untuk memeriksa kualitas. Jadi ada waktu-waktunya petugas ini melakukan perawatan,” ujar Heriswan saat dibincangi langsung di ruang kerjanya pada, Senin (19/5/2025).

    Heriswan mengatakan para petugas yang ada di gudang rutin melakukan pemeriksaan terutama melindungi gabah dan beras yang disimpan terhindar dari hama.

    “Misalnya di gudang sudah terlihat ada tanda-tanda hama menyerang, itu akan dibasmi. Jika diketahui apakah ada hama yang masuk ke dalam karung, maka petugas akan melakukan fumigasi,” katanya.

    Lebih lanjut, ia menjelaskan cara kerja fumigasi yakni dengan cara menutup seluruh gabah dan beras dengan plastik, lalu di dalamnya diberi fumigan (gas dan asap) dan didiamkan selama 10 hari.

    “Itu seluruh beras yang ada di gudang kita tutup dengan plastik, disitu kita kasih obat, lalu didiamkan selama 10 hari dengan gudang dalam keadaan tidak dibuka,” jelasnya.

    Ia mengungkapkan, nantinya setelah 10 hari baru akan terlihat progres dari perawatan yang dilakukan oleh petugas.

    “Setelah 10 hari baru kita buka, dan baru terlihat nanti apapun yang bernyawa seperti tikus dan lainnya pasti akan mati. Jadi perawatan seperti itu yang kita lakukan untuk menjaga kualitas gabah setara berasnya,” ungkap dia.

  • Bulog Sumsel Babel Bakal Bangun Gudang Penyimpanan Beras di Muara Enim Seluas Satu Hektare

    Bulog Sumsel Babel Bakal Bangun Gudang Penyimpanan Beras di Muara Enim Seluas Satu Hektare

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Badan Urusan Logistik (Bulog) Wilayah Sumatera Selatan dan Bangka Belitung (Sumsel-Babel) berencana untuk membangun gudang guna menambah tempat penyimpanan beras seluas satu hektare.

    Pimpinan Kanwil Bulog Sumsel Babel, Heriswan mengatakan jika telah mengirimkan permohonan terkait pembangunan gudang baru tersebut.

    “Bulog sudah mengusulkan pembangunan gudang baru di Muara Enim seluas 1 hektare. Lokasinya sudah disiapkan, kini tinggal menunggu persetujuan dari pusat,” ujar Heriswan saat dibincangi langsung di ruang kerjanya, Jum’at (2/5/2025).

    Hermawan menuturkan, meskipun saat ini Bulog bekerjasama dengan lima mitra dan berencana menambah mitra untuk gudang penyimpanan hasil serapan, namun itu masih kurang.

    “Kapasitas gudang Bulog saat ini masih kurang, makanya bekerjasama dengan mitra yang memiliki gudang untuk dipakai menyimpan beras hasil serapan. Bulog juga akan menambah mitra kerjasama untuk gudang penyimpanan beras,” tuturnya.

    Terlebih saat ini penyerapan gabah dan beras petani saat ini jauh lebih besar dibanding tahun-tahun sebelumnya.

    “Pada 2022 penyerapan beras ada 15 ribu ton, 2023 ada 15 ribu ton, 2024 ada 31 ribu ton, dan di 2025 ini baru di bulan April saja sudah ada 81 ribu ton. Jumlahnya berpotensi bertambah lebih tinggi, karena saat ini masih dalam masa panen,” ungkapnya.

    Meski saat ini gudang milik Bulog sudah penuh, lanjutnya, Bulog tetap akan menyerap gabah atau beras dari para petani sesuai amanat Presiden seharga Rp6.500 per kilogram.

    “Kita tegaskan bahwa, meski gudang Bulog penuh tidak membuat adanya penghambatan penyerapan beras dari petani. Kita terus akan melakukan penyerapan hasil panen itu,” ucap dia. (Tia)

  • Penyerapan Gabah Tertinggi dalam 20 Tahun, Bulog Sumsel Babel Catat 81.700 Ton

    Penyerapan Gabah Tertinggi dalam 20 Tahun, Bulog Sumsel Babel Catat 81.700 Ton

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Perum Bulog Wilayah Sumatera Selatan dan Bangka Belitung terus bergerak cepat dalam menyerap hasil panen petani. Hingga April 2025, tercatat sebanyak 81.700 ton gabah setara beras berhasil diserap dari berbagai wilayah di Sumsel dan Babel. Angka ini diperkirakan akan menembus 100 ribu ton hingga akhir Mei mendatang.

    Pimpinan Bulog Wilayah Sumsel dan Babel, Heriswan, menegaskan komitmen Bulog untuk terus menyerap hasil panen tanpa henti. Bahkan ketika kapasitas gudang utama telah penuh, Bulog tetap melanjutkan penyerapan dengan menggandeng lima mitra gudang swasta untuk menambah daya tampung.

    “Kami tidak ingin petani ragu atau khawatir. Sepanjang masih ada panen, Bulog akan tetap hadir menyerap. Ini bentuk komitmen kami mendukung swasembada pangan nasional,” ujar Heriswan, Jumat (2/5/2025).

    Ia menambahkan, jika kapasitas gudang mitra juga telah penuh, pihaknya akan menambah sewa gudang di berbagai daerah, tidak hanya di Palembang, tetapi juga di kabupaten dan kota lain seperti Lubuklinggau dan wilayah lainnya di Sumsel Babel.

    Menurut Heriswan, penyerapan tahun ini merupakan yang terbesar dalam dua dekade terakhir. Ia menyebut keberhasilan ini tak lepas dari perubahan pola kerja Bulog yang kini aktif menjemput bola langsung ke sawah, sesuai dengan arahan Presiden Prabowo dalam program swasembada pangan.

    “Dulu kita menunggu hasil panen datang ke gudang, sekarang kita langsung ke lapangan. Petani merasa lebih dihargai dan kami pun bisa menyerap lebih banyak,” ungkapnya.

    Berdasarkan data Bulog, volume penyerapan beras di tahun-tahun sebelumnya jauh lebih kecil: hanya 15 ribu ton pada 2022 dan 2023, serta meningkat menjadi 31 ribu ton pada 2024. Namun pada 2025, hingga April saja telah mencapai 81.700 ton.

    Heriswan menyebutkan, wilayah dengan penyerapan terbesar saat ini adalah Banyuasin, Ogan Komering Ilir (OKI), dan Ogan Ilir. Sementara proses penyerapan juga tengah berlangsung di OKU, Lubuklinggau, dan Lahat. Rata-rata volume penyerapan gabah mencapai 2.200 hingga 2.800 ton per hari.

    Ia juga menyoroti keberhasilan Bulog dalam menarik minat petani menjual hasil panen ke Bulog daripada ke tengkulak. Hal ini berkat sosialisasi maksimal yang dilakukan bersama pemerintah daerah, TNI, dan penyuluh pertanian. Harga pembelian di tingkat petani yang mencapai Rp6.500 per kilogram serta sistem pembayaran tunai atau via rekening turut menjadi daya tarik tersendiri.

    Sebagai langkah strategis jangka panjang, Bulog Sumsel Babel telah mengusulkan pembangunan gudang baru di Muara Enim seluas satu hektare. Lokasi telah disiapkan dan kini tinggal menunggu persetujuan dari pusat.

    “Bulog ada untuk kalian. Jangan khawatir. Kami akan serap hasil panen, karena hanya dengan petani yang sejahtera, negeri ini bisa swasembada pangan. Harapan kami, petani bisa tersenyum dan semangat kembali ke sawah,” tutup Heriswan.

  • Bulog Sumsel-Babel: Penyerapan Beras PSO Lampaui Target Hingga Tiga Kali Lipat di 2025

    Bulog Sumsel-Babel: Penyerapan Beras PSO Lampaui Target Hingga Tiga Kali Lipat di 2025

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Perum Bulog Sumatra Selatan dan Bangka Belitung (Sumsel Babel) menyebut penyerapan beras PSO melampaui target hingga tiga kali lipat di tahun 2025.

    “Target sementara penyerapan beras PSO sebesar 100 ribu ton di tahun ini. Naik lebih dari tiga kali lipat. Namun, target ini masih mungkin mengalami perubahan,” ujar Pimpinan Wilayah Perum Bulog Sumsel dan Babel, Elis Nurhayati, Rabu (15/1/2025).

    Elis menyampaikan bahwa target beras PSO tahun lalu ditetapkan perusahaan sebesar 30.000 ton, dengan realisasi sebesar 31.440 ton atau 104,8 persen dari target.

    “Pada tahun 2024 target penyerapan beras komersial ditetapkan sebesar 10.500 ton, dengan realisasi mencapai 6.866 ton atau 65,3 persen. Sedangkan untuk serapan gabah komersial, targetnya sebesar 2.864 ton dengan realisasi mencapai 41.720 ton,” imbuhnya.

    Ia menjelaskan total target pengadaan beras dan gabah pada 2024 adalah 43.184 ton, dengan realisasi mencapai 80.026 ton atau setara 185 persen dari target.

    “Untuk tahun ini, kami (Bulog Sumsel-Babel) masih menunggu target resmi yang akan ditetapkan oleh pusat. Yang mana angkanya tidak akan jauh berbeda dari target yang telah ditentukan sebelumnya,” jelasnya.

    Ia mengungkapkan jika pihaknya optimistis dengan target yang telah ditetapkan tersebut. Terlebih dengan adanya kenaikan HPP baru untuk gabah yakni dari Rp6.000 menjadi Rp6.500 per kilogram, serta beras dari Rp11.000 menjadi Rp12.000 per kilogram.

    “Terkait pendanaan insyaa allah semuanya bisa disediakan dari kantor pusat. Jadi, tugas kami adalah untuk melakukan penyerapan,”

    Menurutnya, pihaknya dapat melakukan penyerapan lebih dari target yang ditetapkan seperti tahun lalu.

    “Tapi bukan berarti kami tidak bisa menyerap lebih dari itu [target]. Kalau memang masih ada panen yang bisa kita serap dari 100 persen pada prinsipnya kami siap,” ucap dia.

  • Bulog Sumsel-Babel Terapkan Perubahan Harga Pembelian Gabah dan Beras 2025

    Bulog Sumsel-Babel Terapkan Perubahan Harga Pembelian Gabah dan Beras 2025

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Perum Bulog Wilayah Sumsel dan Babel resmi memberlakukan perubahan harga pembelian gabah dan beras untuk tahun 2025, sesuai dengan Keputusan Badan Pangan Nasional (Bapanas) RI Nomor 2 Tahun 2025. Langkah ini diambil untuk meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

    Elis Nurhayati, Pimpinan Wilayah Bulog Sumsel dan Babel, menegaskan bahwa perubahan harga ini akan mendorong petani untuk menghasilkan gabah berkualitas tinggi. “Kami ingin agar setiap petani mendapatkan keuntungan yang maksimal dari hasil panen mereka, sesuai dengan kualitas yang ditentukan. Kami mengajak petani dan penyuluh untuk memahami dan mengikuti perubahan harga ini dengan bijak,” ujarnya saat membuka sosialisasi kepada petani hari ini, Rabu (15/1/2025).

    Perubahan harga ini akan diberlakukan berdasarkan kualitas gabah dan beras yang dihasilkan petani. Berikut adalah rincian harga pokok pembelian (HPP) gabah dan beras terbaru:

    Gabah Kering Panen di petani: Rp 6.500/kg (kadar air maksimal 25%).

    Gabah Kering Panen di penggilingan: Rp 6.700/kg (kadar air maksimal 25%)

    Gabah Kering Giling di penggilingan: Rp 8.000/kg (kadar air maksimal 14%).

    Gabah Kering Giling di gudang Bulog: Rp 8.200/kg (kadar air maksimal 14%).

    HPP Beras di gudang Bulog: Rp 12.000/kg (dengan ketentuan kualitas tertentu, Derajat Sosoh minimal 100% dan kadar air 14%).

    Lanjut Elis, Perubahan harga ini bertujuan untuk memotivasi petani dalam meningkatkan kualitas hasil panen mereka, sehingga Bulog dapat menyerap lebih banyak gabah berkualitas untuk memenuhi kebutuhan stok beras.

    “Dengan demikian, harga beras di pasaran dapat tetap stabil dan terjangkau bagi masyarakat,” ungkapnya.

    Sebagai bentuk dukungan nyata bagi petani, Bulog membuka beberapa posko pengadaan gabah di wilayah panen, termasuk di gudang-gudang Bulog di Telang, OKI, serta cabang Bulog lainnya. Bulog juga menggandeng BPP setempat untuk membuka posko di Kecamatan Seri Menanti, Banyuasin, guna memastikan proses pengadaan berjalan lancar dan optimal.

    Elis menambahkan, pihaknya ingin mempermudah petani dalam proses penyerapan hasil panen dengan harga yang sesuai ketentuan, sehingga mereka bisa mendapatkan hasil yang lebih baik dan stabil.

    Sebagai upaya memperkuat citra Bulog sebagai lembaga yang vital dalam ketahanan pangan Indonesia, Bulog mengundang akademisi, pengamat, dan jurnalis untuk bergabung dalam program Sahabat Bulog. Melalui program ini, mereka diharapkan dapat menulis artikel yang membahas peran Bulog dalam menjaga ketahanan pangan, serta memberikan informasi yang lebih luas kepada masyarakat tentang kontribusi Bulog.

    “Melalui partisipasi masyarakat dan media, kami berharap masyarakat lebih memahami dan mendukung peran Bulog dalam menjaga ketahanan pangan nasional,” kata Elis.

    Bagi petani atau penyuluh yang ingin memperoleh informasi lebih lanjut atau memiliki pertanyaan mengenai pengadaan gabah dan beras, dapat menghubungi call center Bulog di 082279723975.

    Dengan adanya perubahan harga ini, Bulog berharap dapat memberikan manfaat lebih besar bagi petani, menjaga kestabilan harga beras, dan tentunya, memperkuat ketahanan pangan Indonesia.

  • Jelang Nataru Stok Beras Sumsel Aman

    Jelang Nataru Stok Beras Sumsel Aman

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG –

     

    Jelang memasuki Hari Natal dan Tahun Baru 2023, Badan Urusan Logistik Divre Sumatra Selatan dan Bangka Belitung (Sumsel Babel) memastikan stok bahan pokok diwilahnya dalam kondisi aman.

     

    Kepala Perum Bulog Divre Sumsel Babel, Eko Hari Kuncahyo melalui Kepala Seksi Tata Usaha dan Humas, Mukhlis Affandi, kemarin menjelaskan jika Stok Beras di Gudang Bulog aman hingga 7 bulan kedepan.

     

    “Stok beras kita aman. Stok kita hingga bulan-bulan berikutnya kondisinya aman. Masyarakat tidak perlu kuatir,” kata Mukhlis Affandi, Kamis (1/12/2022).

     

    Selain menjanjikan stok beras aman dan berlebih, Perum Bulog Divre Sumsel Babel turut menjamin berbagai komoditas seperti minyak goreng dan tepung terigu tersedia dalam jumlah yang cukup.

     

    “Bahkan untuk stok daging beku kita juga kondisinya aman. Kita terus memonitoring semua stok yang ada di gudang,” ucapnya.

     

    Pihaknya juga sampai saat ini masih aktif melakukan operasi pasar di tempat keramaian. Seperti di pasar tradisional hingga di area perumahan. Hal itu dilakukan untuk memudahkan masyarakat menjangkau atau membeli produk Bulog, juga sebagai upaya menstabilkan harga komoditi, sebab Bulog menjual produk dengan harga yang cukup murah dibanding harga pasar.

     

    “Dengan stok kita yang melimpah, kita terus melakukan operasi pasar dan memang antusias masyarakat sangat besar,” ucapnya.

     

    Menurut dia, stok berbagai komoditi yang aman dan mencukupi dalam waktu panjang di Gudang Perum Bulog Divre Sumsel Babel turut mendorong kestabilan harga atau inflasi barang di Sumsel.