SUARAPUBLIK.ID, OKU TIMUR — Di bawah langit pagi yang kian terik dan dibayangi ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), sebuah pemandangan menyentuh hati terlihat di bumi OKU Timur. Tidak ada sekat pangkat maupun status sosial. Dari unsur pimpinan kepolisian, pejabat pemerintah, santri, hingga pengemudi ojek online, semuanya berdiri sejajar, menundukkan kepala dengan satu harapan yang sama: turunnya hujan pembawa berkah.
Gelombang ikhtiar spiritual ini diawali oleh jajaran Polres OKU Timur yang menggelar Salat Istisqa di Lapangan Satya Haprabu pada Selasa (25/08/2026). Diimami oleh Ustadz Adi Putra dan dilanjutkan khotbah oleh Ustadz Erpani, suasana khidmat begitu terasa ketika jemaah melantunkan doa memohon ampunan. Kehadiran komunitas ojek online, ibu-ibu pengajian, dan anak-anak santri kian mempertegas bahwa ujian kemarau ini adalah duka bersama yang harus dihadapi dengan saling menguatkan. Tak sekadar berdoa, Polres OKU Timur juga menyalurkan bakti sosial sebagai bentuk kepedulian nyata.
“Ini adalah bentuk kepedulian kita kepada masyarakat dan memohon kepada Allah agar diberikan hujan untuk mendinginkan bumi OKU Timur dan mencegah kebakaran hutan dan lahan,” ujar Kapolres OKU Timur, AKBP Lalu Hedwin Hanggara.
Semangat berpasrah dan berikhtiar ini kemudian bergerak ke tingkat jajaran. Pada Kamis (27/08/2026) pagi, giliran Polsek Buay Madang Timur bersama unsur Pemerintah Kecamatan dan warga setempat yang merapatkan saf di lapangan Polsek. Dipimpin oleh Ustadz Mubarok, sekitar 60 jemaah larut dalam kepasrahan yang dalam.
Camat Buay Madang Timur Ramadhan Agusten dan Kapolsek Buay Madang Timur Iptu Swisspo tampak khusyuk di antara barisan warga. Lapangan yang biasa menjadi area pelayanan hukum, hari itu berubah menjadi ruang spiritual yang syahdu.
“Ini adalah ikhtiar batiniah kita bersama. Di samping upaya fisik memadamkan api dan menjaga lahan, kita bersimpuh memohon pertolongan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar kemarau ini segera berakhir,” ungkap Iptu Swisspo.
Rangkaian aksi ini menjadi potret humanis yang mendalam di OKU Timur. Ketika kekuatan fisik manusia menghadapi batasnya dalam melawan kemarau dan api, sinergi antara aparat dan masyarakat dalam bersujud memohon mukjizat hujan menjadi pembuktian bahwa kebersamaan dan iman adalah kekuatan terbesar yang mereka miliki saat ini.
Penulis : Mamat
Editor : Aan Wahyudi














