Oleh : Muhammad Dimas
SUARAPUBLIK.ID -Bulan Ramadhan seringkali identik dengan peningkatan aktivitas belanja, mulai dari kebutuhan bahan pokok, takjil, hingga persiapan menyambut Idul Fitri.
Namun, di tengah gemerlapnya tren belanja ini, umat Muslim diingatkan untuk kembali ke esensi bulan suci: kesederhanaan, kepedulian, dan menghindari pemborosan atau israf.
Di berbagai negara Muslim, daya beli masyarakat meningkat pesat selama Ramadhan. Tren belanja yang ramai dibicarakan antara lain promo besar-besaran di e-commerce, pembelian paket sembako, hingga perburuan takjil dan makanan siap saji yang kerap menjadi topik hangat dengan tagar #wartakjil. Hampers Ramadhan, busana muslim, perlengkapan ibadah, hingga kue kering juga menjadi komoditas utama yang permintaannya melonjak .
Namun, para pakar dan tokoh agama mengingatkan agar peningkatan konsumsi ini tidak melenceng menjadi konsumsi berlebihan yang sia-sia.
Muhammad Dimas Mahasiswa Program Pascasarjana IAI Pagar Alam, menegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan nilai-nilai dan moderasi. Islam mengajarkan keseimbangan dan melarang berlebih-lebihan, sebagaimana firman Allah, “Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.” Ia menekankan bahwa praktik negatif seperti menyiapkan makanan berlebihan yang berujung pada pemborosan (menyisakan makanan hingga terbuang) bertentangan dengan tujuan mulia bulan suci.
Padahal, di saat yang sama, banyak saudara kita yang membutuhkan. Oleh karena itu, muncul seruan untuk merasionalisasi belanja dan mempromosikan budaya menjaga nikmat. Lembaga-lembaga amil zakat dan food bank di berbagai negara, termasuk Qatar, gencar menggalakkan program penyelamatan makanan surplus untuk didistribusikan kepada fakir miskin dan para pekerja.
Langkah ini tidak hanya mengurangi limbah makanan, tetapi juga memperkuat solidaritas sosial. Ramadhan harusnya menjadi momentum untuk mengelola anggaran rumah tangga secara bijak, menghindari pengeluaran tidak perlu, dan mengarahkan surplus untuk kegiatan amal .
Editor : Redaksi

















