Oleh: Kay Nissa Kusuma
Mahasiswa Ilmu Komunikasi Massa Semester Tiga
Bina Nusantara University
DI ZAMAN sekarang, marak sekali terdengar kasus body shaming yang terjadi entah itu dengan teman, kerabat, maupun publik figur. Sebelumnya, apa itu body shaming? Body shaming merupakan tindakan mengejek atau mempermalukan seseorang karena bentuk tubuhnya. Tindakan ini termasuk pada tindakan bullying verbal.
Bentuk dari tindakan body shaming ini beragam. Mulai dari memberi kritik kepada bentuk tubuh orang, membanding-bandingan bentuk tubuh orang satu dengan yang lain, bahkan ada juga yang secara terang-terangan mengatakan ‘kamu kok gendutan ya?’. Hal seperti inilah yang termasuk dalam body shaming.
Sudah sejak dahulu, kita disuguhkan figur wanita yang langsing melalui iklan yang ditayangkan oleh media. Berbagai macam iklan menggunakan model wanita dengan tubuh langsing, tinggi, berkulit putih, dan sebagainya. Karena hal tersebut, figur wanita yang dianggap berbadan ‘ideal’ hanya mereka yang langsing.
Media Massa sudah menanamkan kepada kita untuk menciptakan image wanita ideal dengan cara yang salah. Lalu apa hubungan dari media massa dengan body shaming?
Karena image yang diciptakan oleh media massa tersebut, masyarakat mempunyai anggapan bahwa tubuh ideal ialah tubuh yang langsing. Oleh karena itu, saat mereka bertemu dengan orang yang mempunyai tubuh lebih gemuk, mereka akan memberikan komentar atau kritik seperti ‘kamu kok gendutan ya?’ atau ‘kamu sepertinya dulu lebih kurus, kenapa sekarang jadi gendut?’.
Banyak wanita yang akhirnya merasa tidak puasa dan tidak percaya diri terhadap tubuh mereka. Hal tersebut kemudian mendorong wanita untuk melakukan ‘perubahan’ terhadap tubuh mereka. Contohnya seperti suntik kurus, sedot lemak, meminum obat pencahar, dan tentunya masih banyak tindakan lain. Tak sedikit juga dari mereka yang akhirnya menahan untuk tidak makan dan berakibat fatal. Seperti menderita anorexia atau bahkan kematian.
Media massa mempunyai pengaruh sangat besar dalam menciptakan opini atau pandangan masyarakat. Masyarakat dianggap pasif karena mereka akan terus-terusan menerima dan menelan informasi yang didapatkan melalui media. Melalui penayangan oleh media massa, gambaran mengenai cita tubuh menjadi tidak sehat, atau bisa dibilang toxic.
Berdasarkan kasus diatas, sekarang diadakan campaign yang kita kenal dengan body positivity.
Body positivity merupakan campaign dimana kita menanamkan pola pikir positif terhadap tubuh kita masing-masing. Body positivity membantu kita untuk lebih mencintai diri kita sendiri lebih dalam lagi. Kita akan semakin bisa menerima apa yang sudah dianugerahkan kepada kita.
Menerima bentuk tubuh, bukan hal yang mudah bagi Sebagian besar wanita. Ditambah lagi dengan image citra tubuh yang dibentuk oleh media. Banyak dari kita yang ingin memiliki tubuh langsing seperti model. Hal ini membawa pengaruh buruk pada kesehatan mental.
Campaign body positivity sangat bisa membawa pengaruh baik bagi diri sendiri. Wanita menjadi bisa menerima bagaimana pun bentuk tubuhnya. Penerimaan diri ini tentunya menjadi awal dari rasa percaya diri yang akan tumbuh. Disaat kita merasa nyaman dengan tubuh kita, secara otomatis rasa percaya diri akan tumbuh dengan sendirinya.
Body positivity juga mampu membuat kita percaya bahwa kecantikan tidak hanya dilihat dari fisik. Mempunyai tubuh langsing tidak bisa dijadikan sebagai ‘standard kecantikan’. Setiap orang berhak untuk mempunyai rasa percaya diri dan nyaman atas bentuk tubuh mereka masing-masing.
Campaign ini di dukung oleh banyak brand pakaian di dunia, salah satunya adalah Victoria’s Secret. Brand ini melakukan rebranding dengan menggantikan model bertubuh langsing dengan beberapa wanita plus size. Diharapkan dengan adanya campaign ini, image masyarakat menjadi berubah. Masyarakat tidak lagi menganggap cantik adalah mereka yang langsing. Setiap wanita cantik dengan keunikan dan karakternya sendiri. (*)

















