PALEMBANG, SUARAPUBLIK.ID – Lonjakan gangguan kesehatan pernapasan di tengah masyarakat Sumatera Selatan belum menunjukkan tren penurunan yang signifikan, di mana Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumsel mencatat kasus harian Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih bertahan di angka 1.660 kasus.
Tingginya angka tersebut terpantau kendati sejumlah wilayah di Bumi Sriwijaya mulai dilanda hujan dan intensitas titik panas (hotspot) berangsur berkurang.
“Berdasarkan laporan harian pada 26 Oktober 2026 tercatat sebanyak 1.660 kasus ISPA dalam sehari. Angka tersebut meningkat dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat sebanyak 1.528 kasus atau bertambah 132 kasus dalam sehari,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Sumsel, Ira Primadesa, Kamis (28/10/2026).
Ira memaparkan, kenaikan sebanyak 132 kasus hanya dalam rentang waktu 24 jam ini membuktikan bahwa risiko ancaman ISPA masih membayangi warga meskipun kondisi cuaca mulai basah.
Menurutnya, kemunculan kasus ISPA tidak melulu disebabkan oleh paparan asap karhutla semata, melainkan turut dipicu oleh agen infeksius lain seperti bakteri dan virus di lingkungan sekitar.
“ISPA merupakan kelompok penyakit yang menyerang saluran pernapasan, mulai dari bagian atas hingga bawah. Penyakit ini dapat disebabkan oleh infeksi virus maupun bakteri,” tuturnya.
Berdasarkan rekapitulasi grafik mingguan Dinkes Sumsel sepanjang 2026, lonjakan terparah sempat terjadi pada pekan ke-40 dengan catatan 12.583 kasus, sebelum berangsur turun ke angka 11.948 kasus (minggu ke-41) dan 11.663 kasus (minggu ke-42).
Sementara itu, akumulasi bulanan menempatkan September sebagai puncak tertinggi dengan 52.483 kasus, disusul bulan Oktober yang mencatatkan total 42.744 kasus hingga periode berjalan.
Secara khusus, data sebaran kabupaten/kota pada kurun 1 hingga 25 Oktober 2026 merangkum total 40.486 kasus di seluruh wilayah Sumsel.
Kota Palembang menduduki peringkat teratas penyebaran kasus terbanyak dengan 13.132 penderita, diikuti Musi Banyuasin (4.699 kasus) serta Muara Enim (3.455 kasus).
Wilayah penyumbang ribuan kasus lainnya mencakup Lahat (2.322 kasus), Banyuasin (2.230 kasus), Lubuk Linggau (1.910 kasus), serta Ogan Ilir (1.881 kasus).
Berdasarkan kategori kelompok umur selama Oktober 2026, warga usia di atas lima tahun menjadi kelompok paling mendominasi dengan 31.864 penderita, sementara kelompok balita di bawah lima tahun mencatatkan 8.622 kasus.
Selain faktor infeksi, sisa polusi udara seperti partikel kasat mata PM2.5 dan PM10 dari dampak kebakaran sebelumnya masih berpotensi mengiritasi saluran pernapasan, utamanya bagi kalangan rentan.
“Karena itu, masyarakat diimbau tetap menjaga kesehatan meskipun hujan mulai turun dan jumlah hotspot berkurang,” tutupnya.
Penulis : Tia
Editor : Jaks


















