PALEMBANG, SUARAPUBLIK.ID — Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Sumatera Selatan, Universitas Sriwijaya, dan ICRAF Indonesia, yang kini memakai nama operasional Landscape Alliance, menggelar konferensi ilmiah Simpul Pangan Nusantara di Grand Atyasa Convention Center, Palembang, Rabu (28/10).
Sebanyak 29 makalah dan 10 poster ilmiah dipresentasikan dalam acara ini. Semuanya membahas berbagai cara membangun kemandirian pangan Sumatera Selatan, mulai dari kebun pekarangan rumah tangga hingga tata kelola lanskap gambut.
Acara dibuka oleh Kepala BRIDA Sumatera Selatan Regina Ariyanti. Wakil Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Prof. Susilawati dan Direktur Asia Landscape Alliance Dr. Sonya Dewi menyampaikan pidato ilmiah kunci.
Sesi makalah terbagi dalam empat tema paralel: inovasi tingkat tapak, agroforestri, dan pertanian cerdas iklim; kelembagaan, gender, inklusi sosial, dan ekonomi komunitas; diversifikasi konsumsi, sistem pangan lokal, dan resiliensi gizi komunitas; serta tata kelola lanskap, pemetaan spasial, dan resiliensi kebijakan.
“Tema hari ini, yang fokus pada inovasi tingkat tapak, agroforestri dan pertanian cerdas iklim, GEDSI, dan ekonomi komunitas, sangat selaras dengan visi pembangunan Sumatera Selatan,” kata Kepala Brida Sumsel dalam pidato pembukaannya.
Ia juga mengungkapkan harapan bahwa konferensi ini dapat membantu BRIDA merumuskan rekomendasi kebijakan pangan yang adaptif dan berbasis data untuk Sumatera Selatan.
Kedua pidato ilmiah kunci menekankan peran pangan lokal dalam menunjang sistem pangan berkelanjutan. Pangan lokal adalah pangan yang didapatkan dari sumber lokal serta dikenal dan dimanfaatkan oleh masyarakat.
Prof. Susilawati menjelaskan salah satu peran penting akademisi ialah mendokumentasikan praktik pangan lokal. “Tidak hanya mengidentifikasi dan mencatat, tetapi juga mengkaji, menguji, dan menyebarluaskan pengetahuan serta inovasi yang berkembang di tengah masyarakat,” ujarnya.
Adapun Dr. Sonya menyoroti peran hutan dalam menunjang sistem pangan berkelanjutan. “Hutan menyediakan manfaat pangan secara langsung maupun tidak langsung, serta jasa ekosistem untuk pertanian termasuk habitat bagi hewan penyerbuk,” ia menjelaskan.
Menurut Dr. Sonya, berkurangnya tutupan hutan dapat mendorong erosi pengetahuan tentang pangan lokal dan pergeseran pola pangan masyarakat ke pangan olahan atau pangan dengan rantai pasok yang panjang. Hal ini pada gilirannya meningkatkan kebutuhan lahan untuk produksi pangan, yang kemudian menambah tekanan pada hutan.
Ia menawarkan riset dan edukasi pangan lokal, agroforestri, serta integrasi kebijakan pangan dan lahan sebagai cara untuk memutus siklus tersebut.
Palembang menjadi lokasi seri ketiga sekaligus terakhir dari rangkaian regional Simpul Pangan Nusantara. Dua seri sebelumnya berlangsung di Kupang pada 16 September dan di Makassar pada 7 Oktober.
Secara keseluruhan, ketiga seri telah menghimpun 103 makalah dan 47 poster ilmiah. Makalah terpilih akan diterbitkan dalam prosiding ber-ISBN.
Direktur ICRAF Indonesia Andree Ekadinata mengatakan rangkaian Simpul Pangan Nusantara menunjukkan bahwa pengetahuan tentang pangan lokal dan ketangguhan iklim sudah ada di kampus, lembaga riset, dan kebun petani.
“Tugas kita sekarang adalah memastikan pengetahuan itu tidak berhenti di prosiding, tetapi sampai ke meja perencanaan daerah,” ujarnya.
Konferensi yang jatuh pada Hari Sumpah Pemuda ini juga memberi ruang bagi generasi muda. Dalam Semeja Makan, dialog multipihak yang dipandu Andree Ekadinata, mahasiswa Politeknik Negeri Sriwijaya pemenang lomba esai duduk satu meja dengan perwakilan BRIDA Sumatera Selatan, dosen Universitas Sriwijaya, dan pegiat WikiPangan Sumatera Selatan.
*Land4Lives mendukung ketahanan pangan dan gizi*
Simpul Pangan Nusantara adalah bagian dari penutupan kegiatan proyek riset-aksi Land4Lives di Sumatera Selatan. Proyek ini didukung oleh Global Affairs Canada dan diimplementasikan oleh ICRAF Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Banyuasin, KPH Lalan Mendis, dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan sejak 2021.
Land4Lives bertujuan memperkuat ketahanan pangan dan penghidupan masyarakat rentan, terutama perempuan, dalam menghadapi tantangan iklim. Di banyak wilayah di Indonesia, perubahan iklim berdampak pada pola curah hujan, mengakibatkan kemarau panjang dan banjir yang mengganggu kalender tanam dan menurunkan produktivitas pertanian.
Kegiatan Land4Lives di Sumatera Selatan berfokus pada pengelolaan bentang lahan, khususnya wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Lalan Mendis dan Kesatuan Hidrologis Gambut Saleh Sugihan. Beriringan dengan itu, Land4Lives melakukan penguatan ketahanan pangan dan penghidupan petani di desa.
Lima tahun berjalan, Land4Lives mencatat bahwa ketahanan pangan rumah tangga tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan produksi. Stabilitas pendapatan, keterjangkauan harga pangan, akses pasar, dan kemampuan rumah tangga menghadapi guncangan juga ikut menentukan.
Di tingkat desa, Land4Lives mendampingi pembangunan 21 kebun pangan komunal dan 347 kebun pekarangan keluarga, yang ditopang dua rumah benih lokal. Sebanyak 589 warga, 82 persen di antaranya perempuan, mengikuti peningkatan kapasitas tentang pangan lokal, gizi, dan ketahanan iklim.
Edukasi gizi berbasis prinsip Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) serta Isi Piringku kini diintegrasikan ke dalam program Desa B2SA, yang dibiayai DAK nonfisik dan dijalankan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Banyuasin. Pendekatan ini telah memperkuat tujuh kelompok tani di tujuh desa penerima program, dengan melibatkan lebih dari 300 fasilitator dan petani.
Di jenjang pendidikan, Land4Lives bersama Dinas Pendidikan Sumatera Selatan mengembangkan kurikulum muatan lokal “Pangan Lokal untuk Ketahanan Iklim” untuk SMA, SMK, dan SLB. Kurikulum ini disahkan melalui Keputusan Gubernur Sumatera Selatan Nomor 822/KPTS/DISDIK/2025 dan telah disosialisasikan ke lebih dari 500 sekolah. Pengalaman ini turut menjadi rujukan dalam panduan kurikulum muatan lokal pangan lokal dan B2SA yang disusun Badan Pangan Nasional dan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah bersama ICRAF.
Sebagai pelengkap, komunitas WikiPangan Sumatera Selatan telah menulis lebih dari 250 artikel tentang bahan dan olahan pangan Sumatera Selatan sejak 2023. Artikel-artikel ini menjadi bagian dari 830 artikel di WikiPangan.id dan kini dimanfaatkan sebagai bahan ajar bagi guru muatan lokal.
Di tingkat provinsi, Land4Lives turut mengawal pengarusutamaan ketahanan iklim, ketahanan pangan, dan keadilan gender ke dalam RPJPD Sumatera Selatan 2025–2045 dan RPJMD Sumatera Selatan 2025–2029. Kedua dokumen tersebut antara lain memuat arah diversifikasi sistem pangan lokal yang tangguh iklim.
Rangkaian penutupan Land4Lives di Sumatera Selatan berlanjut dengan diseminasi hasil “Jejak Kolaborasi Land4Lives di Sumatera Selatan” di Kantor Bappeda Provinsi Sumatera Selatan pada 29 Oktober 2026.
───────────
*Tentang Landscape Alliance*
Landscape Alliance adalah nama operasional dari Center for International Forestry Research (CIFOR) dan International Centre for Research in Agroforestry (ICRAF). CIFOR dan ICRAF adalah organisasi internasional independen dan pusat riset CGIAR.
*Tentang Land4Lives*
Land4Lives (Sustainable Landscapes for Climate-Resilient Livelihoods in Indonesia) adalah proyek kerja sama untuk perubahan iklim antara Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas dan Pemerintah Kanada melalui Global Affairs Canada (GAC).
Proyek ini bertujuan meningkatkan ketahanan pangan, pengelolaan bentang lahan yang peka gender, dan penghidupan berketahanan iklim, khususnya bagi kelompok masyarakat rentan, termasuk perempuan dan anak perempuan.
Land4Lives berjalan sejak Maret 2021 di tiga provinsi: Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, dan Nusa Tenggara Timur. Di Sumatera Selatan, Land4Lives bekerja di Kabupaten Banyuasin dan wilayah KPH Lalan Mendis bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, Pemerintah Kabupaten Banyuasin, serta mitra lokal Konsorsium HaKI.
Editor : Jaks


















