Yuwono : Badai Sitokin Hanya Menyerang 0.5 Persen Penderita Covid-19

- Redaksi

Selasa, 24 Agustus 2021

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi badai sitokin

Ilustrasi badai sitokin

SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Badai Sitokin baru-baru ini sempat menghebohkan jagat tanah air, dan bisa berujung pada kematian jika tidak ditangani dengan cepat.

Ahli Mikrobiologi Universitas Sriwijaya (Unsri), Profesor Yuwono mengaku, badai Sitokin tidak banyak ditemukan oleh sebagian orang. Bahkan para dokter pun belum mengetahui kenapa badai Sitokin bisa terjadi pada orang-orang tertentu.

“Penderita Covid-19 memiliki kemungkinan untuk terkena badai Sitokin. Dan akan berujung pada kematian jika tidak ditangani dengan cepat. Karena Sitokin hanya menyerang 0,5 persen penderita Covid-19,” ungkap Yuwono, Selasa (24/8/2021).

Menurut Yuwono, Sitokin awalnya menyerang penderita di minggu pertama terpapar virus yang disebut flu like syndrome, atau gejala-gejala yang menyerupai flu. Kemudian minggu kedua yang bisa terjadi ada dua kemungkinan.

“Di minggu kedua seperti pasien masuk fase kritis dan penderita sudah sembuh.
Itulah kenapa isolasi mandiri wajib dilakukan selama 14 hari,” katanya.

Yuwono menjelaskan, meski melawan virus, Sitokin juga merusak tubuh, karena dampak paling berbahaya dari Badai Sitokin adalah pelemahan respon pengobatan. Bahkan Sitokin yang sudah keluar dianggap bagus untuk menghalangi virus, namun memiliki efek merusak tubuh sendiri.

“Dalam Sitokin ada yang dinamakan TNF Alpha. Pada orang tertentu, ini bisa membuat badan kurus kering, seperti orang yang menderita TBC. TNF Alpha ini bisa merusak tubuh. Kenapa disebut badai Sitokin karena keluarnya cukup banyak,” jelasnya.

Saat masuk fase kritis ditandai perlawanan imunitas yang begitu kuat. Perlawanan dilakukan oleh zat dalam tubuh yang dinamai Sitokin, utamanya adalah Interlukim 6 atau IL6. Pada perlawanan yang begitu tinggi, zat Sitokin berproduksi cukup banyak di dalam tubuh.

“Kondisinya tumpah ruah. Zat ini berperang melawan virus yang masuk ke dalam tubuh. Perang antara Sitokin dan virus membuat tubuh dalam keadaan tak kuat. Gejalanya bisa seperti hipertensi dan kesadaran menurun. Orang itu bisa teler atau koma. Lalu suhu badannya juga bisa menurun, agak dingin atau demam tinggi sampai 42 derajat,” jelas dia.

Dikatakan Yowono, pengobatan Sitokin memakan harga ratusan juta, bahkan untuk biaya obatnya sendiri bisa mencapai Rp13 juta untuk sekali penyuntikan. Para dokter biasanya memberikan obat antibody monokronal seperti Actemra yang sempat langka beberapa waktu lalu.

Selain itu, metode lainnya adalah terapi plasma, kemudian diberikan obat tiroid untuk meredakan badai tersebut, di samping alat bantu lain seperti ventilator.

“Mengatasi Badai Sitokin diperlukan pengobatan yang cukup mahal. Orang yang terkena Badai Sitokin bisa beberapa kali suntik antibody monokronal, sehingga total biaya obatnya saja bisa mencapai Rp150-Rp160 juta,” terangnya. (Nat)

Berita Terkait

Kasus Super Flu Masuk di Sumsel, 5 Orang Terjangkit
Kasus Bocah SD Lebam di Kedua Matanya, Ini Tanggapan Dokter Spesialis di Palembang
88 Persen Siswa SD di Palembang Alami Gigi Berlubang dan Penumpukan Kotoran Telinga
Imbas Siswa Keracunan, MBG di SDN 178 Palembang Distop Sementara
Antisipasi Kenaikan Kasus DBD, Dinkes Segera Sebar Larvasida
Bocah Kelamin Ganda Segera Dioperasi, Orangtua: Semoga Berjalan Lancar
Bayi 10 Bulan Idap Penyakit Hipospedia, Berharap Dapat Bantuan Pemerintah
RSUD Palembang BARI Siapkan Ruang Isolasi Pasien Mpox

Berita Terkait

Senin, 5 Januari 2026 - 20:17 WIB

Kasus Super Flu Masuk di Sumsel, 5 Orang Terjangkit

Selasa, 4 November 2025 - 17:28 WIB

Kasus Bocah SD Lebam di Kedua Matanya, Ini Tanggapan Dokter Spesialis di Palembang

Jumat, 26 September 2025 - 22:38 WIB

88 Persen Siswa SD di Palembang Alami Gigi Berlubang dan Penumpukan Kotoran Telinga

Jumat, 26 September 2025 - 16:13 WIB

Imbas Siswa Keracunan, MBG di SDN 178 Palembang Distop Sementara

Rabu, 20 November 2024 - 16:15 WIB

Antisipasi Kenaikan Kasus DBD, Dinkes Segera Sebar Larvasida

Berita Terbaru

Kapolsek Buay Madang Timur Iptu Swisspo, memimpin langsung pengamanan Perayaan Ekaristi Penerimaan Sakramen Krisma di Gereja Trinitas Bangun Sari, Desa Srikaton.

OKU Timur

Polsek Buay Madang Timur Amankan Perayaan Sakramen Krisma

Minggu, 10 Mei 2026 - 17:28 WIB