Sumsel Alami Inflasi 2,91 Persen pada 2025, Emas Jadi Penyebab Utama

- Redaksi

Senin, 5 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto saat diwawancarai, Senin (5/1/2025). Foto: Tia

Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto saat diwawancarai, Senin (5/1/2025). Foto: Tia

SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Provinsi Sumatra Selatan mengalami inflasi tahunan (year on year) sebesar 2,91 persen pada Desember 2025.

Angka ini menunjukkan peningkatan signifikan dibandingkan periode yang sama pada tahun 2024 yang hanya menyentuh angka 1,20 persen.

Kepala BPS Sumsel, Moh Wahyu Yulianto menyampaikan bahwa kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi penyumbang inflasi tertinggi dengan kenaikan mencapai 18,23 persen.

Disusul kemudian oleh kelompok makanan, minuman, dan tembakau yang mengalami perubahan harga sebesar 3,50 persen.

Kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga juga turut memberikan andil inflasi sebesar 0,15 persen.

“Tingginya inflasi di 2025 terjadi karena tekanan harga komoditas emas yang cukup tinggi yang memberikan andil cukup besar,” ujar Wahyu usai rilis berita statistik, Senin (5/1/2026).

Komoditas utama penyumbang inflasi pada akhir tahun 2025 meliputi emas perhiasan, cabai merah, beras, bahan bakar rumah tangga, hingga daging ayam ras.

Ia menjelaskan bahwa kenaikan harga pangan dipengaruhi oleh meningkatnya permintaan akhir tahun dan gangguan pasokan akibat bencana alam di wilayah pengirim.

“Selain memang permintaan naik di akhir tahun, bencana juga memengaruhi karena sebagian kebutuhan Sumsel dipasok dari Pulau Jawa dan Sumatra Barat,” jelasnya.

Berdasarkan wilayah, Kota Palembang mencatatkan inflasi tahunan tertinggi sebesar 2,92 persen, sementara Kota Lubuk Linggau menjadi yang terendah dengan 2,87 persen.

Secara bulanan (month to month), Sumsel mengalami inflasi 0,49 persen yang dipicu oleh harga emas perhiasan yang sempat menyentuh Rp2,5 juta per gram.

Pemerintah daerah bersama instansi terkait kini terus berupaya menjaga stabilitas harga agar angka inflasi tidak terus melonjak.

“Tapi tentu masih terus diupayakan agar inflasi angkanya tidak berjalan liar,” pungkasnya.

Berita Terkait

Kurir Sabu 198 Gram dan 100 Ekstasi Divonis 11 Tahun, Hanya Dijanjikan Upah Rp500 Ribu
Warga Indramayu Diringkus Polisi Gegara Gelapkan Sepeda Motor Milik Pacarnya
BPDP dan ISKOL Latih 101 Pekebun Sawit OKI Terapkan Standar ISPO
Hakim PN Palembang Jatuhkan Vonis 14 Tahun kepada Romli dalam Kasus Pembunuhan Joko Samara
Polda Sumsel Musnahkan Narkoba Senilai Rp 2,2 Miliar, 37 Tersangka Diamankan
Herman Deru Minta Plt Bupati Muara Enim Lanjutkan Visi Pembangunan
Kalung Emas Putih Raib Dijambret, Yuyun Menangis Saat Melapor ke Polisi
Aksi Demo Didepan Mapolda Sumsel, Terkait Aksi vidio Viral Pengusaha Transportasi

Berita Terkait

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:14 WIB

Kurir Sabu 198 Gram dan 100 Ekstasi Divonis 11 Tahun, Hanya Dijanjikan Upah Rp500 Ribu

Rabu, 10 Juni 2026 - 16:12 WIB

Warga Indramayu Diringkus Polisi Gegara Gelapkan Sepeda Motor Milik Pacarnya

Rabu, 10 Juni 2026 - 15:36 WIB

BPDP dan ISKOL Latih 101 Pekebun Sawit OKI Terapkan Standar ISPO

Rabu, 10 Juni 2026 - 15:32 WIB

Hakim PN Palembang Jatuhkan Vonis 14 Tahun kepada Romli dalam Kasus Pembunuhan Joko Samara

Rabu, 10 Juni 2026 - 15:18 WIB

Herman Deru Minta Plt Bupati Muara Enim Lanjutkan Visi Pembangunan

Berita Terbaru

101 Pekebun Sawit OKI yang mengikuti pelatihan implementasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) di Hotel Aryaduta Palembang, Selasa (9/6/2026). Foto: istimewa

Kota Palembang

BPDP dan ISKOL Latih 101 Pekebun Sawit OKI Terapkan Standar ISPO

Rabu, 10 Jun 2026 - 15:36 WIB