PALEMBANG, SUARAPUBLIK.ID — Di tengah derasnya arus digitalisasi dan perubahan gaya hidup remaja, SMA Negeri 16 Palembang memilih memperkuat benteng moral siswanya melalui Pesantren Kilat Ramadan 1447 Hijriah. Selama tiga hari, ratusan siswa dipusatkan di Musholla Al-Kautsar untuk mengikuti rangkaian pembinaan spiritual yang dirancang lebih sistematis dan transformatif.
Mengusung tema “Mewujudkan Generasi Muslim yang Berjiwa Qurani, Unggul dalam Prestasi, dan Santun secara Spiritual di Era Globalisasi”, kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi dijadikan momentum pembentukan karakter secara menyeluruh.
Kepala SMA Negeri 16 Palembang, Dra. Hj. Ema Nurnisya Putri, M.M., menegaskan bahwa Pesantren Kilat Ramadan bukanlah seremoni keagamaan yang bersifat formalitas. Sekolah, kata dia, sedang menghadapi tantangan nyata: derasnya pengaruh media sosial, perubahan nilai sosial, hingga krisis keteladanan di kalangan generasi muda.
“Pesantren Ramadan tahun ini kami arahkan pada transformasi perilaku siswa melalui empat tahapan penting, perubahan mindset, peningkatan skill, pembentukan attitude, dan penguatan karakter,” ujarnya.
Menurut Ema, akhlak adalah fondasi utama dalam membangun generasi beradab. Tanpa akhlak, kecerdasan akademik akan kehilangan makna. Karena itu, kegiatan ini didesain untuk menyentuh kesadaran batin siswa, bukan sekadar menambah pengetahuan agama.
“Kita ingin memicu dan memacu pergerakan akhlak mereka ke arah yang lebih baik. Jika anak memiliki akhlak, maka ia beradab. Jika beradab, ia akan mampu menjaga hubungan harmonis dengan sesama dan Sang Pencipta. Inilah upaya kita menyelamatkan generasi,” tegasnya
Lebih jauh ia menjelaskan, hari pertama kegiatan dibuka dengan tausiyah oleh Ustadz Bukhori, S.Pd.I., yang menyoroti tantangan mendidik generasi digital. Ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi membawa kemudahan, tetapi juga risiko degradasi nilai jika tidak dibarengi dengan penguatan iman dan kontrol diri.
Selama tiga hari pelaksanaan, siswa tidak hanya menerima materi keagamaan secara teoritis dari guru dan ustadz, tetapi juga dilibatkan dalam aktivitas interaktif. Sekolah merancang berbagai lomba bernuansa edukatif seperti Lomba Azan, Lomba Baca Ayat Pendek, serta Lomba Ranking 1 bertema keislaman.
“Suasana kompetitif yang sehat sengaja dibangun untuk menumbuhkan keberanian tampil, ketepatan pemahaman, serta rasa percaya diri siswa. Pendekatan ini membuat pembelajaran agama terasa lebih hidup dan tidak monoton,” katanya.
Sambungnya,lebih dari itu, Pesantren Kilat Ramadan menjadi ruang refleksi bersama. Siswa diajak mengevaluasi diri, memperbaiki kebiasaan, dan menata kembali orientasi hidup di tengah tantangan zaman yang serba cepat.
“Melalui kegiatan ini, SMA Negeri 16 Palembang berharap nilai-nilai Qurani tidak berhenti di ruang ibadah atau ruang kelas, tetapi terinternalisasi dalam perilaku sehari-hari. Targetnya jelas, melahirkan generasi muda yang religius, berprestasi, berkarakter kuat, serta mampu berdiri tegak di tengah dinamika global tanpa kehilangan jati diri,” pungkasnya.
Penulis : Hasan Basri
Editor : Jaks

















