Pemanfaatan Lahan Gambut Berkelanjutan Jadi Kunci Penurunan Emisi di Indonesia

- Redaksi

Rabu, 13 November 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Penerima Pahlawan Gambut Award, perwakilan petani, guru, Bappeda, dll, dr Sumsel dan Kalbar. Foto : Dok.  ICRAF

Penerima Pahlawan Gambut Award, perwakilan petani, guru, Bappeda, dll, dr Sumsel dan Kalbar. Foto : Dok. ICRAF

SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG– Lahan gambut Indonesia yang luas, hampir 24 juta hektar, kini menjadi sorotan utama dalam upaya global mitigasi perubahan iklim. Meskipun lahan gambut memiliki peran vital dalam menyimpan karbon dan mendukung keanekaragaman hayati, pengelolaan yang tidak tepat justru menyebabkan kerusakan ekologis dan meningkatkan emisi gas rumah kaca (GRK). Praktik drainase berlebihan untuk membuka lahan, misalnya, menyebabkan gambut menjadi kering, rentan terbakar, dan menyumbang emisi besar yang berkontribusi pada pemanasan global.
Namun, di tengah tantangan tersebut, Indonesia berkomitmen untuk menghadapi permasalahan ini dengan cara yang lebih berkelanjutan. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah dengan mengembangkan proyek Peat-IMPACTS Indonesia, yang berfokus pada pengelolaan gambut yang adaptif dan berkelanjutan di Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat. Proyek ini merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Pertanian, International Centre for Research in Agroforestry (ICRAF), dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang bertujuan untuk mengurangi emisi GRK serta memperkuat kapasitas petani melalui pelatihan dan penerapan teknik pertanian ramah lingkungan.
Pada acara Ekspose Nasional Pahlawan Gambut yang digelar pada 12 November di Jakarta, Dr. Ladiyani Retno Widowati, Kepala Balai Pengujian Standar Instrumen Tanah dan Pupuk Kementerian Pertanian, menekankan pentingnya pengelolaan lahan gambut yang bijaksana. “Dampak dari praktik drainase yang tidak terkendali adalah penurunan kualitas lahan dan peningkatan emisi GRK, yang berdampak buruk pada perubahan iklim,” ujar Dr. Ladiyani.
Sejak dimulai pada 2020, proyek Peat-IMPACTS telah berhasil memperkenalkan teknik pengelolaan gambut yang tidak hanya menjaga keberlanjutan lingkungan tetapi juga mendukung peningkatan kesejahteraan petani. Pelatihan kepada petani dan pemberdayaan masyarakat lokal menjadi bagian dari upaya untuk menciptakan solusi yang dapat diterapkan dalam skala luas, mengingat dampaknya yang tidak hanya bagi Indonesia, tetapi juga untuk dunia.
Dalam sambutannya, Direktur ICRAF Program Indonesia, Andree Ekadinata, menyampaikan apresiasi atas kolaborasi para pihak dalam pengelolaan lahan gambut berkelanjutan. “Peat-IMPACTS bertujuan memperkuat kapasitas para pemangku kepentingan dan menciptakan solusi nyata untuk pengelolaan gambut yang adaptif dan berkelanjutan,” ujarnya.
Kepala Badan Standardisasi dan Instrumen Pertanian, Prof. Dr. Fadjri Djufry, melalui perwakilannya, Dr. Ir. Haris Syahbuddin, menyatakan bahwa penerapan praktik baik yang telah diuji di Sumatera Selatan dan Kalimantan Barat dapat memperluas dampaknya. “Jika inisiatif ini diterapkan di seluruh Indonesia, manfaatnya akan sangat besar, baik untuk negara kita maupun untuk upaya global dalam menanggulangi perubahan iklim,” katanya.
Dengan tantangan besar yang dihadapi dalam menjaga kelestarian ekosistem gambut, pemerintah Indonesia berharap proyek seperti Peat-IMPACTS dapat menjadi model pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan, sekaligus mendukung target nasional pengurangan emisi GRK dalam Enhanced Nationally Determined Contribution (ENDC) sebesar 29% pada 2030.
Keberhasilan proyek ini bukan hanya soal mengurangi kebakaran dan deforestasi, tetapi juga tentang mengubah cara masyarakat dan pemerintah memandang dan mengelola lahan gambut. Sebagai penyangga karbon terbesar di dunia, ekosistem gambut Indonesia menjadi kunci dalam menjaga kestabilan iklim global. Oleh karena itu, pengelolaan yang berkelanjutan menjadi urgensi yang harus dilakukan agar bumi tetap aman dari ancaman perubahan iklim yang semakin nyata.

Berita Terkait

Palembang Ikuti Pelatihan Teknis Pelaporan E-Monev Bappenas
Belajar Dua Shift Masih Berjalan, SMA Negeri 20 Palembang Ajukan Tambahan 9 Kelas ke Pusat
Lawan Arus Globalisasi, Palembang Masukkan Bahasa Daerah ke Kurikulum Sekolah
Pegadaian Kanwil III Palembang Hadirkan “Ramadan Bareng TRING! 2026” di PSCC
Pledoi: Reimar Yousnadi Minta Keadilan, PH Sebut Kasus Pasar Cinde Seharusnya Ranah Perdata
Mediasi Gugatan 24 Media Gagal, Kuasa Hukum Media Suara Republik Siap Hadapi Pembuktian di Persidangan
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Pastikan Ketersediaan BBM dan LPG pada Masa Ramadan dan Menjelang Idulfitri
Junaidi Minta Divonis Bebas, PH: Fakta Persidangan Tak Bukti Pengeroyokan
Tag :

Berita Terkait

Jumat, 6 Maret 2026 - 15:15 WIB

Palembang Ikuti Pelatihan Teknis Pelaporan E-Monev Bappenas

Jumat, 6 Maret 2026 - 15:07 WIB

Belajar Dua Shift Masih Berjalan, SMA Negeri 20 Palembang Ajukan Tambahan 9 Kelas ke Pusat

Jumat, 6 Maret 2026 - 15:04 WIB

Lawan Arus Globalisasi, Palembang Masukkan Bahasa Daerah ke Kurikulum Sekolah

Jumat, 6 Maret 2026 - 14:30 WIB

Pegadaian Kanwil III Palembang Hadirkan “Ramadan Bareng TRING! 2026” di PSCC

Jumat, 6 Maret 2026 - 13:59 WIB

Pledoi: Reimar Yousnadi Minta Keadilan, PH Sebut Kasus Pasar Cinde Seharusnya Ranah Perdata

Berita Terbaru

Kota Palembang

Palembang Ikuti Pelatihan Teknis Pelaporan E-Monev Bappenas

Jumat, 6 Mar 2026 - 15:15 WIB