Sumsel Mulai Uji Coba Kurikulum Mulok Pangan Lokal untuk Ketahanan Iklim

- Redaksi

Rabu, 22 Januari 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan memulai uji coba kurikulum Muatan Lokal (Mulok) Pangan Lokal untuk Ketahanan Iklim di 34 sekolah, terdiri dari 17 SMA dan 17 SMK di wilayah tersebut. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya Pemprov Sumsel untuk mendukung ketahanan pangan di tengah tantangan perubahan iklim.

Peluncuran uji coba kurikulum Mulok Pangan Lokal ini ditandai dengan acara Bimbingan Teknis (Bimtek) dan pengukuhan guru pelopor yang dihadiri oleh Plt. Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Selatan, H. Awalluddin, M.Si. Dalam kesempatan tersebut, ia menekankan pentingnya penguatan kapasitas guru dan kepala sekolah untuk menerapkan kurikulum yang akan dilaksanakan selama semester genap, dari Februari hingga Mei 2025.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya dampak perubahan iklim yang dirasakan masyarakat Sumsel, seperti bencana hidrometeorologi dan kebakaran hutan. Dalam menghadapi masalah ini, pangan lokal dianggap sebagai solusi untuk meningkatkan ketahanan pangan, mengingat potensinya yang melimpah di wilayah Sumatera Selatan.

“Edukasi tentang pangan lokal kepada siswa di sekolah sangat penting, mengingat tantangan perubahan iklim yang semakin nyata. Dengan kurikulum ini, diharapkan generasi muda dapat lebih memahami dan memanfaatkan sumber daya pangan lokal sebagai upaya menjaga ketahanan pangan daerah,” ujar Awalluddin, dibincangi, Rabu (22/1/2025).

Dalam menghadapi perubahan iklim yang semakin nyata, ia mengatakan jika salah satu langkah penting yang perlu diambil adalah menyiapkan generasi muda dengan pengetahuan dan keterampilan yang relevan. Salah satu upaya yang kini mulai digalakkan adalah implementasi kurikulum pangan lokal di sekolah-sekolah.

“Kurikulum ini bertujuan untuk mengajarkan anak-anak tentang potensi sumber pangan yang ada di sekitar mereka, dengan fokus pada bahan pangan lokal yang mudah dijangkau dan dapat diandalkan, terutama saat menghadapi krisis pangan,” ungkapnya.

Pengembangan kurikulum Mulok Pangan Lokal ini merupakan hasil kerja sama antara Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Selatan dan ICRAF Indonesia dalam proyek Land4Lives, yang didukung oleh pemerintah Kanada. Proyek ini bertujuan membantu masyarakat dalam mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim, dengan fokus pada peningkatan ketahanan pangan melalui pangan lokal.

Sementara itu, Andre, Ekadinata selaku Direktur Utama ICRAF, menjelaskan bahwa perbedaan mendasar antara kurikulum pangan lokal ini dengan kurikulum sebelumnya terletak pada relevansinya dengan kondisi setiap daerah.

“Penting bagi anak-anak untuk mengetahui bahwa pangan lokal itu beragam, bukan hanya beras dan nasi. Dengan demikian, mereka akan lebih siap menghadapi kemungkinan krisis pangan di masa depan,” ujar Andre

Meskipun potensi pangan lokal ini menjanjikan, tantangan terbesar yang dihadapi adalah kapasitas para guru. Menyamaratakan pemahaman tentang pangan lokal dan cara mengajarkannya menjadi pekerjaan besar. “Kami perlu memastikan bahwa para guru memiliki pemahaman yang sama tentang konsep pangan lokal dan cara mengajarkannya dengan tepat kepada siswa,” tambah Andre.

Implementasi kurikulum ini diharapkan tidak hanya memberi pengetahuan kepada anak-anak, tetapi juga memberikan keterampilan praktis dalam mengidentifikasi dan memanfaatkan sumber pangan yang ada di sekitar mereka. Sehingga, generasi mendatang bisa lebih mandiri dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang kian kompleks.

Sebelumnya, tim pengembang kurikulum telah menyusun bahan ajar dan modul yang akan diterapkan di sekolah-sekolah uji coba. Pada tahap ini, tim akan terus memantau dan mengevaluasi pelaksanaan kurikulum untuk memastikan efektivitasnya sebelum disahkan untuk implementasi lebih luas.

Dengan adanya Bimtek ini, diharapkan kepala sekolah dan guru di Sumsel memiliki kapasitas yang cukup untuk mengajarkan kurikulum Mulok Pangan Lokal dengan efektif. Ini menjadi langkah penting dalam mengintegrasikan konsep ketahanan pangan ke dalam pendidikan formal, yang diharapkan dapat melahirkan generasi yang lebih paham dan peduli terhadap pentingnya pangan lokal dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

Inisiatif ini tidak hanya akan memberi manfaat jangka pendek, tetapi juga membangun ketahanan jangka panjang bagi masyarakat Sumatera Selatan dalam menghadapi ketidakpastian iklim yang semakin meningkat.

Berita Terkait

OJK Sumsel dan HIPMI Syariah Perkuat Literasi Keuangan Syariah untuk UMKM
Meninggal Akibat Gagal Nafas, Jenazah Korban Bus ALS Asal Tegal Segera Dipulangkan
Jemput Bola, Tim DVI Polda Sumsel Ambil Sampel DNA dari Barang Pribadi Korban
DVI Polda Sumsel Ungkap Ada Jenazah Balita di Kantung Korban Bus ALS, Korban Tewas Bertambah Jadi 18
Kawal Kasus Bus ALS, Jasa Raharja Siapkan Santunan bagi Korban
Lewat Program Ganas Lebak Cindo, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Ajak Warga Nabung Sampah
Tiba di RS Bhayangkara, Korban Selamat Bus ALS Segera Jalani Perawatan Intensif
PMII Sumsel Peringati Harlah Sekaligus Laksanakan Pelatihan Instruktur Wilayah dan Rakorda

Berita Terkait

Jumat, 8 Mei 2026 - 21:58 WIB

Meninggal Akibat Gagal Nafas, Jenazah Korban Bus ALS Asal Tegal Segera Dipulangkan

Jumat, 8 Mei 2026 - 21:51 WIB

Jemput Bola, Tim DVI Polda Sumsel Ambil Sampel DNA dari Barang Pribadi Korban

Jumat, 8 Mei 2026 - 19:51 WIB

DVI Polda Sumsel Ungkap Ada Jenazah Balita di Kantung Korban Bus ALS, Korban Tewas Bertambah Jadi 18

Jumat, 8 Mei 2026 - 19:46 WIB

Kawal Kasus Bus ALS, Jasa Raharja Siapkan Santunan bagi Korban

Jumat, 8 Mei 2026 - 16:31 WIB

Lewat Program Ganas Lebak Cindo, Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Ajak Warga Nabung Sampah

Berita Terbaru