Inilah Pesantren Shiddiqiyyah Jombang Kini Izinnya Dicabut Kemenag

- Redaksi

Jumat, 8 Juli 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUARAPUBLIK.ID, JOMBANG – Izin operasional Pesantren Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah, Jombang, Jawa Timur, dicabut oleh Kementerian Agama, Kamis (7/7/2022). Pencabutan izin itu buntut kasus dugaan kekerasan seksual yang dilakukan salah satu pemimpinnya, yaitu Moch Subchi Azal Tsani (MTS) alias Bechi (42), terhadap salah satu santriwati di pondok pesantren. Ponpes ini juga dinilai menghalang-halangi proses hukum terhadap Bechi yang merupakan buronan polisi.

“Sebagai regulator, Kemenag memiliki kuasa administratif untuk membatasi ruang gerak lembaga yang di dalamnya diduga melakukan pelanggaran hukum berat,” kata Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag Waryono di Jakarta.l dilansir cnn indonesia, Jumat (8/7/2022).

Pondok Pesantren Pesantren Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah Ploso merupakan satu dari ratusan pesantren yang ada di wilayah Jombang, Jawa Timur. Kawasan ini memang dikenal dengan julukan sebagai ‘Kota Santri’ dengan banyaknya pesantren yang tersebar di penjuru wilayahnya.

Pesantren ini memiliki nama populer ‘Pondok Pesantren Majma’al Bahrain Hubbul Wathan Minal Iman Shiddiqiyyah’. Pesantren ini berlokasi di Jalan Raya Ploso Babat, Desa Losari, Kecamatan Ploso, Jombang.

Perkembangan Pesantren Majma’al Al Bahrain Shiddiqiyyah memiliki kaitan erat dengan ajaran Thoriqoh Shiddiqiyyah. Tarekat Shiddiqiyyah adalah salah satu aliran tasawuf yang berkembang di Indonesia.

Ajaran ini dibawa oleh para ulama dari Irbil, lalu diajarkan oleh Muchammad Muchtar Mu’thi, sang pendiri pesantren tersebut sejak tahun 1959 hingga sekarang.

Cikal bakal pesantren berawal dari pendirian Yayasan Pendidikan Shiddiqiyyah (YPS) di tahun 1973. Yayasan ini dibentuk sebagai wadah formal aktivitas Thoriqoh Shiddiqiyyah. Kemudian baru di tahun 1974 pesantren secara formal berdiri dan dikenal masyarakat luas.

Dalam laman resmi Emis Pendidikan Islam Kementerian Agama, Pesantren Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah memiliki nomor statistik 510335170176. Pesantren ini pun memiliki Izin Operasional (Ijop) dengan nomor 875/Kk.13.12.5/11/2018.

Kegiatan utama di pesantren ini juga bergerak di bidang pendidikan, sosial keagamaan, dan ekonomi. Pada tahun 1985, Pesantren Majma’al Bahrain Shiddiqiyyah merintis berdirinya lembaga pendidikan formal dengan nama Tarbiyyah Hifdhul Ghulam wal Banat (THGB).

Pesantren ini juga dikenal dengan pengajaran nasionalisme atau cinta Tanah Air. Karenanya, pesantren ini turut mencantumkan ‘hubhul wathan minal iman’ atau ‘cinta Tanah Air adalah bagian dari iman’.

Bahkan, kurikulum nasionalisme sudah diberlakukan sejak tahun 1985 di THGB. Pendidikan cinta Tanah Air atau Hubbul Wathan termasuk salah satu dari 6 mata pelajaran utama yang diajarkan di THGB.

Sosok Muchtar Mu’thi
Keberadaan sebuah pesantren tak bisa dilepaskan dari sosok kiai kharismatik yang menjadi pendiri atau pengasuh utama pesantren tersebut.

Ketika berbicara pesantren Majma’al Al Bahrain Shiddiqiyyah, maka tak bisa dilepaskan dari nama Muchammad Muchtar Mu’thi sebagai pendiri pesantren tersebut. Mukhtar juga merupakan ayah dari MSAT alias Bechi yang merupakan tersangka pencabulan.

Muchtar merupakan seorang putra dari tokoh agama di wilayah Ploso Jombang yang bernama H Abdul Mu’thi, yang merupakan putra dari kiai Ahmad Syuhada, pendiri Pesantren Kedungturi.

Pria yang akrab disapa Kiai Tar itu juga merupakan murid dari Syekh Ahmad Syuaib Jamali al-Banteni. Ia selama ini dikenal sebagai seorang mursyid atau guru tarekat bagi masyarakat.

Muchtar sempat mengenyam pendidikan di Pesantren Darul Ulum Rejoso, serta Pesantren Bahrul ulum Tambakberas Jombang, saat usianya remaja.

Ia juga dikenal memiliki kedalaman dalam ilmu agama Islam. Sejumlah kitab juga dikuasainya mulai dari ilmu fiqh, ilmu hadist, ilmu tata bahasa arab, hingga ilmu tafsir.

Adapun saat ini Bechi telah ditahan polisi setelah menyerahkan diri pada Kamis malam. Sebelumnya, polisi mengepung ponpes dan mencari tersangka selama sekitar 15 jam. (*)

Berita Terkait

4 Rumah Di Lorong Bersama Silaberanti Hangus Terbakar 
Lift Mati Saat Blackout Mahasiswa FE UMP Terjebak 50 Menit di Dalam Gedung
Mayat Pria yang Hilang di Sungai Lematang Akhirnya Ditemukan Setelah 2 Pekan Pencarian
Diduga Depresi, IRT di Sukarami Ditemukan Tewas Tergantung di Samping Rumah
Truk Bermuatan Pasir Terbalik di Jembatan Musi II Palembang, Sempat Bikin Macet
Tiba di RS Bhayangkara, Korban Selamat Bus ALS Segera Jalani Perawatan Intensif
Diduga Terjadi Korsleting Listrik Lapak Di Pasar 16 Ilir Hangus Terbakar 
Keluarga Korban Bus ALS Asal Lampung Syok, Keberangkatan Sempat Tertunda Sebelum Tragedi di Muratara

Berita Terkait

Sabtu, 23 Mei 2026 - 14:17 WIB

4 Rumah Di Lorong Bersama Silaberanti Hangus Terbakar 

Sabtu, 23 Mei 2026 - 10:48 WIB

Lift Mati Saat Blackout Mahasiswa FE UMP Terjebak 50 Menit di Dalam Gedung

Kamis, 21 Mei 2026 - 15:54 WIB

Mayat Pria yang Hilang di Sungai Lematang Akhirnya Ditemukan Setelah 2 Pekan Pencarian

Jumat, 15 Mei 2026 - 15:29 WIB

Diduga Depresi, IRT di Sukarami Ditemukan Tewas Tergantung di Samping Rumah

Selasa, 12 Mei 2026 - 18:50 WIB

Truk Bermuatan Pasir Terbalik di Jembatan Musi II Palembang, Sempat Bikin Macet

Berita Terbaru