PALEMBANG, SUARAPUBLIK.ID – Perum Bulog Kantor Wilayah Sumatera Selatan dan Bangka Belitung memperketat pengawasan jalur distribusi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan kepada seluruh mitra penyalur di Kota Palembang pada, Rabu (4/11/2026).
Langkah pengawasan intensif tersebut diterapkan guna menjamin ketersediaan pasokan beras murah bagi masyarakat tetap aman, terkontrol, dan tepat sasaran di tingkat tapak.
“Proses pendistribusian beras ini, mulai dari pemesanan hingga barang sampai di tangan mitra, semuanya terlapor dan tercatat di CS. Karenanya, dapat menekan atau mengentaskan adanya temuan menyimpang dari orang tak bertanggung jawab,” ujar Wakil Pemimpin Wilayah Bulog Sumsel Babel Renato Horison.
Pengawasan ketat ini mencakup keseluruhan alur penyaluran, mulai dari pemesanan berbasis digital hingga penerimaan langsung oleh jaringan Rumah Pangan Kita (RPK).
Bulog saat ini menyalurkan beras SPHP kepada sekitar 400 jaringan RPK di Kota Palembang dengan alokasi pasokan mencapai satu ton beras per pekan untuk setiap mitra.
Sepanjang tahun 2026, Bulog Sumsel Babel mengemban target penyaluran beras SPHP sebesar 33.000 ton yang disebar melalui RPK dan berbagai mitra resmi.
Hingga saat ini, progres penyaluran beras subsidi tersebut telah menunjukkan pencapaian positif dengan menyentuh angka sekitar 30.000 ton atau setara 90 persen dari target tahunan.
Selain rantai distribusi, pengawasan mutu juga difokuskan di dalam gudang melalui pengecekan berkala, sanitasi rutin,hingga prosedur repacking yang ketat.
“Saat dilakukan repacking juga kita memastikan bahwa kualitas beras tetap terjaga. Kualitas beras ini juga terus kita monitoring secara berkala hingga saat disalurkan ke mitra penyalur atau RPK,” terangnya.
Tingginya penyerapan di lapangan diakui oleh para pemilik RPK, salah satunya Afriyanti selaku Pemilik RPK MCP Palembang yang menyebut stok satu ton ludes dalam lima hari.
Beras SPHP tersebut dijual kepada masyarakat seharga Rp62.000 per kemasan lima kilogram, jauh lebih murah dibandingkan beras komersial yang berada di atas Rp80.000.
“Antusias masyarakat kepada beras SPHP ini cukup tinggi. Karenanya stok satu ton tersebut biasanya ludes hanya lima hari. Padahal dari kami sudah menerapkan pembatasan pembelian kepada konsumen,” ungkapnya.
Hal senada diungkapkan Pemilik RPK Diosi Palembang Diosi Arisandi yang terpaksa membatasi pembelian maksimal dua karung untuk setiap pembeli demi pemerataan.
Selisih harga yang signifikan membuat permintaan beras SPHP terus melonjak tinggi di tengah masyarakat perkotaan.
“Antusias masyarakat kepada beras SPHP ini cukup tinggi. Karenanya stok satu ton tersebut biasanya ludes hanya lima hari. Padahal dari kami sudah menerapkan pembatasan pembelian kepada konsumen,” pungkasnya.
Penulis : Tia
Editor : Jaks


















