PALEMBANG, SUARAPUBLIK.ID – Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Provinsi Sumatera Selatan menggandeng insan pers untuk memperluas sosialisasi program prioritas nasional dan Bangga Kencana. Kolaborasi ini dinilai penting agar berbagai program pembangunan keluarga semakin dikenal, dipahami, serta mendapat dukungan dan partisipasi masyarakat.
Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Sumatera Selatan, dr. Arios Saplis, mengatakan media memiliki peran strategis dalam menjembatani kebijakan pemerintah dengan masyarakat. Sebab, keberhasilan suatu program tidak hanya ditentukan oleh pelaksanaan di lapangan, tetapi juga sejauh mana informasi mengenai program tersebut tersampaikan dengan baik kepada publik.
“Program pemerintah tidak cukup hanya dilaksanakan, tetapi masyarakat juga harus mengetahui, memahami manfaatnya dan ikut berpartisipasi. Di sinilah media memiliki peran penting untuk memperluas jangkauan informasi sekaligus membangun pemahaman masyarakat,” ujarnya dalam Forum Komunikasi Publik bersama media di Ruang Bangga Kencana Kantor Perwakilan BKKBN Sumsel, Rabu (4/11/2026).
Menurut Arios, sinergi dengan media massa maupun media digital perlu diperkuat secara berkelanjutan. Melalui pemberitaan yang informatif dan edukatif, berbagai program Kemendukbangga/BKKBN diharapkan tidak hanya dikenal sebagai kebijakan pemerintah, tetapi juga menjadi gerakan bersama dalam membangun keluarga berkualitas.
Forum tersebut juga menghadirkan dua narasumber, yakni Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Sumsel, Tony Kurniawan, serta Kepala Biro ANTARA Sumsel, Dolly Rosiana. Keduanya turut membahas strategi komunikasi publik dan pentingnya peran media dalam menyampaikan informasi pembangunan agar lebih mudah dipahami dan menjangkau masyarakat luas.
Arios menjelaskan, terdapat lima program prioritas Kemendukbangga/BKKBN yang membutuhkan dukungan publikasi secara luas. Kelima program tersebut meliputi Taman Asuh Sayang Anak (TAMASYA), Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), Lansia Berdaya (SIDAYA), Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), serta Makan Bergizi Gratis bagi Ibu Hamil, Ibu Menyusui dan Balita (MBG 3B).
“Kelima program ini menyentuh langsung kebutuhan keluarga pada berbagai tahapan kehidupan. Karena itu, masyarakat perlu mendapatkan informasi yang utuh, mulai dari tujuan, manfaat hingga bagaimana mereka bisa terlibat dalam menyukseskannya,” jelasnya.
Dia menambahkan, program-program tersebut memiliki keterkaitan erat dengan upaya memperkuat ketahanan keluarga dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. TAMASYA, misalnya, mendorong tersedianya layanan pengasuhan anak berkualitas, terutama bagi keluarga dengan orang tua bekerja.
Di Sumsel, tercatat sebanyak 59 tempat penitipan anak (TPA) telah terintegrasi dengan program TAMASYA. Pelaksanaannya juga mendapat dukungan 12 perusahaan, di antaranya PT Pusri, Pertamina, PLN, PTBA, PGN dan Pertagas.
Sementara GATI mendorong keterlibatan ayah dalam pengasuhan, pendidikan dan perlindungan anak. Capaian edukasi program ini di Sumsel tercatat sebesar 111,16 persen dari target 91.115 ayah dan calon ayah. Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR) dan Gerakan Ayah Mengantar Anak pada Hari Pertama Sekolah (GAMAS) menjadi bagian dari upaya membangun kedekatan ayah dengan anak.
Untuk program SIDAYA, sebanyak 1.879 lansia di Sumsel telah mengikuti sekolah lansia. Adapun GENTING mencatat 32.393 keluarga berisiko stunting telah menerima bantuan atau mencapai 104,17 persen dari target 33.741 keluarga pada 2026.
Sedangkan pada program MBG 3B, BKKBN memperkuat pendataan, pendampingan dan koordinasi melalui Tim Pendamping Keluarga (TPK). Dari 6.127 TPK di Sumsel, sebanyak 2.286 atau 37,31 persen telah mendistribusikan MBG 3B.
Berdasarkan data Badan Gizi Nasional, penerima manfaat program tersebut meliputi 30.586 ibu hamil, 83.278 ibu menyusui dan 250.996 balita non-PAUD. Penyaluran dilakukan melalui 764 dari total 808 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Sumsel.
Lebih lanjut, Arios menegaskan media juga memiliki peran penting dalam mendukung percepatan penurunan stunting. Menurutnya, persoalan stunting tidak semata-mata berkaitan dengan pemenuhan gizi, tetapi juga dipengaruhi pola asuh, kesehatan ibu dan anak, kesehatan reproduksi serta kondisi keluarga.
“Penurunan stunting membutuhkan keterlibatan semua pihak. Edukasi harus dilakukan sejak hulu, mulai dari remaja, calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui hingga pemantauan tumbuh kembang anak. Informasi seperti ini perlu terus disampaikan kepada masyarakat,” katanya.
Karena itu, dia berharap media tidak hanya memberitakan kegiatan dan capaian program, tetapi juga mengangkat persoalan yang dihadapi masyarakat, tantangan pelaksanaan di lapangan serta solusi yang dapat menjadi pembelajaran bersama.
Melalui pemberitaan yang berimbang dan mudah dipahami, media juga diharapkan dapat membantu meluruskan informasi yang kurang tepat mengenai program pemerintah sehingga tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.
Arios turut mengajak masyarakat Sumsel mendukung Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR) sebagai bagian dari GATI. Keterlibatan ayah dalam pendidikan dan pendampingan anak dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk membangun keluarga harmonis sekaligus mendukung tumbuh kembang generasi penerus.
“Kami berharap kemitraan dengan insan pers ini terus terjalin. Dengan dukungan media, pesan pembangunan keluarga dapat menjangkau lebih banyak masyarakat sehingga program prioritas nasional dan Bangga Kencana benar-benar diketahui, dipahami dan dirasakan manfaatnya,” tutupnya.
Editor : Jaks


















