Transisi Energi Jadi Sorotan, Jurnalis Sumsel Didorong Perkuat Kualitas Liputan

- Redaksi

Kamis, 18 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PALEMBANG, SUARAPUBLIK.ID – Sejumlah jurnalis di Provinsi Sumsel mengikuti lokakarya yang diadakan di Hotel Aston Palembang, Kamis (18/6/2026).

Lokakarya bertajuk ‘Masa Depan Sumatra Selatan dan Transisi Energi Berkeadilan: Lokakarya Jurnalis dan Beasiswa Liputan’ tersebut, digelar oleh Yayasan Cerah, berkolaborasi dengan AJI Kota Palembang.

Lokakarya tersebut menghadirkan beberapa pemateri. Seperti Dwiki Mahendra dari Yayasan Cerah, Sylvi Sabrina dari Indonesian Center for Environmental Law (ICEL), Jurnalis RMOL Sumsel Fajar Wiko dan Boni Bangun dari HAKI Sumsel.

Provinsi Sumsel menjadi perhatian akan transisi energi, karena masih merupakan salah satu provinsi penghasil batu bara terbesar.

Dwiki Mahendra berkata, peralihan menuju energi terbarukan tentu akan menimbulkan dampak baik dari segi ekonomi, lingkungan hingga aspek lain tak terkecuali masyarakat sekitarnya.

“Untuk itu, peran Jurnalis sangat krusial dalam menyampaikan soal transisi energi ini. Dampak yang didapat tentu harus disampaikan agar transisi energi ini dapat menjangkau masyarakat, hingga pemangku kebijakan,” ujarnya.

Dalam kolaborasi Yayasan Cerah bersama AJI Kota Palembang ini diharapkan para Jurnalis mendapatkan perspektif baru terkait Transisi Energi Berkeadilan, terutama di Sumsel.

Perspektif tersebut tidak hanya menjadi wawasan pribadi, namun diharapkan menambah diksi dalam penulisan, sehingga masyarakat juga lebih paham terkait transisi energi ini.

Di sisi lain, Silvy Sabrina dari ICEL juga menyoroti kebijakan yang terkait dari Transisi Energi tersebut, terutama di Provinsi Sumsel.

Menurutnya, ada semacam tumpang tindih kebijakan walaupun hierarki perundang-undangan cukup jelas.

“Banyak kita amati, terkadang antara peraturan dari Kementerian, Pemerintah Daerah hingga lapisan di bawahnya terkadang tidak sama,” ucapnya.

Belum lagi sosialisasi akan peraturan yang melancarkan transisi energi itu tidak tersosialisasikan dengan baik.

Sehingga, lanjut Silvy, peran Jurnalis di sini adalah sebagai pihak yang berdiri di tengah, mengkaji sekaligus mensosialisasikan hal tersebut.

Sementara itu, Jurnalis RMOL Sumsel Fajar Wiko memberikan pembekalan lebih mendalam terkait bagaimana jurnalis beraktifitas dengan aman.

Karena jika tidak sesuai, bukan tidak mungkin akan muncul penolakan baik dari pemilik pabrik, bahkan masyarakat.

Ia menitikberatkan pada peningkatan kualitas jurnalis, agar bisa menyederhanakan bahasa teknis yang cukup banyak di dunia transisi energi.

Kemudian, bagaimana kepiawaian jurnalis meracik tulisan sehingga tidak muncul penolakan, namun ketertarikan.

“Jangan terlalu banyak bahasa teknis, sederhanakan sehingga masyarakat atau pembaca dapat paham betapa Transisi Energi dibutuhkan saat ini,” ucapnya.

Walaupun ia tak menampik jika ada beberapa hal yang mewarnai perancangan liputan Transisi Energi.

Semisal tuntutan mendatangkan traffic, kebijakan redaksi dan lain-lain.

“Untuk itu, kita membutuhkan komitmen di seluruh lapisan, tidak hanya berhenti di level Jurnalis. Sebaiknya organisasi profesi dan pihak terkait menggelar workshop mulai dari level jurnalis, editor, bahkan pimpinan perusahaan pers,” ungkapnya.

Senada, Koordinator Perubahan Iklim Transisi Energi HaKI, Bonie Bangun menjelaskan tentang tantangan yang akan dihadapi pihak yang akan mengkampanyekan Transisi Energi.

Hal tersebut menjadi paradigma baru yang menarik untuk dipecahkan oleh para jurnalis yang akan mendalami Transisi Energi tersebut.

“Transisi energi itu memang berpengaruh terhadap Transformasi Ekonomi. Cuma kita cek dulu, apakah ini berpengaruh kepada pemerintahnya, atau rakyatnya,” katanya.

Materi yang disampaikan oleh para pemateri, memantik para jurnalis yang ikut dalam kegiatan ini.

Para jurnalis aktif bertanya terkait materi yang telah disampaikan, dan dikaitkan dengan kasus yang mereka hadapi selama ini.

Sementara itu, tak hanya lokakarya, Yayasan Cerah juga menggelar beasiswa liputan bagi 8 orang jurnalis terpilih yang akan menjalani proses seleksi dan pendampingan selama beberapa hari ke depan.

Proses seleksi tersebut melibatkan dewan juri yang kompeten, dan jurnalis yang terpilih tersebut akan menjalani proses mentoring dari para praktisi.

Penulis : Yun

Editor : Jaks

Berita Terkait

Kajati Sumsel Perkuat Sinergi, Silaturahmi ke DPRD, Griya Agung dan Pengadilan Tinggi
Demi Sawit dan Kopi, Sembilan Warga di Sumsel Berurusan dengan Hukum Akibat Karhutla
PH Kholizol-Raga Bongkar Peran Harmison di Proyek Irigasi Air Lemutu
Caleg Gagal Terpilih Gelapkan Jaminan Kredit Bank BJB, Nisdiarti Divonis 2 Tahun 4 Bulan
Nurcahyo Jungkung Madyo Resmi Pimpin Kejati Sumsel, Purna Adhyaksa Titip Harapan
Fee Rp471 Juta Terungkap di Sidang Korupsi Perkimtan, Rp283 Juta Disebut untuk Hartono
Usai Hadiri Sosialisasi Jamsostek Award 2026 di Palembang, Pemkab Muba Tegaskan Komitmen Gotong Royong Lindungi Pekerja Rentan
Anggaran HUT RI Kecamatan IT I Palembang Jadi Sorotan, Proposal Rp 76,2 Juta Tuai Pertanyaan Publik

Berita Terkait

Kamis, 13 Agustus 2026 - 21:02 WIB

Kajati Sumsel Perkuat Sinergi, Silaturahmi ke DPRD, Griya Agung dan Pengadilan Tinggi

Kamis, 13 Agustus 2026 - 20:57 WIB

Demi Sawit dan Kopi, Sembilan Warga di Sumsel Berurusan dengan Hukum Akibat Karhutla

Kamis, 13 Agustus 2026 - 20:55 WIB

PH Kholizol-Raga Bongkar Peran Harmison di Proyek Irigasi Air Lemutu

Kamis, 13 Agustus 2026 - 20:54 WIB

Caleg Gagal Terpilih Gelapkan Jaminan Kredit Bank BJB, Nisdiarti Divonis 2 Tahun 4 Bulan

Kamis, 13 Agustus 2026 - 18:10 WIB

Nurcahyo Jungkung Madyo Resmi Pimpin Kejati Sumsel, Purna Adhyaksa Titip Harapan

Berita Terbaru