Sumsel Tegaskan Larangan Potong Sapi Betina Demi Lindungi Genetik Ternak Lokal

- Redaksi

Senin, 20 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Salah satu pternakan sapi di Palembang. Foto: Tia

Salah satu pternakan sapi di Palembang. Foto: Tia

SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menegaskan pentingnya larangan pemotongan sapi betina produktif sebagai bagian dari upaya melindungi sumber daya genetik ternak lokal yang memiliki peran strategis dalam pemenuhan kebutuhan daging nasional.

Pejabat Otoritas Veteriner Sumsel, Jafrizal di Palembang menyampaikan bahwa praktik menjual indukan betina untuk dipotong tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga mengancam keberlanjutan populasi sapi lokal yang memiliki nilai genetik penting.

“Sapi betina produktif adalah aset genetik bangsa. Ketika disembelih, kita tidak hanya kehilangan satu ekor sapi, tapi juga potensi kelahiran generasi berikutnya yang bisa membawa sifat unggul,” ujar Jafrizal, Senin (20/10/2025).

Ia menegaskan berdasarkan Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan, penyembelihan induk betina produktif dilarang dan bisa dikenai sanksi pidana hingga 3 tahun penjara serta denda maksimal Rp300 juta.

Menurutnya, salah satu tantangan besar dalam pembangunan peternakan nasional adalah menjaga ketersediaan populasi sapi indukan yang sehat dan produktif. Banyak dari sapi betina lokal telah beradaptasi dengan lingkungan, memiliki tingkat ketahanan yang tinggi terhadap penyakit, dan cocok dikembangkan di berbagai daerah.

“Jika sapi betina produktif terus dipotong, kita akan kehilangan garis keturunan yang sudah beradaptasi secara genetik. Akibatnya, kita harus mulai dari nol atau bergantung pada impor bibit,” tegasnya.

Ia menyebutkan, seekor sapi betina dapat melahirkan satu anak per tahun. Artinya, dalam lima tahun, satu induk bisa menghasilkan lima anak. Kehilangan 1.000 induk produktif berarti kehilangan 5.000 ekor calon ternak.

Meski larangan ini sudah jelas, dirinya mengakui bahwa sebagian peternak mengambil jalan pintas menjual indukan karena tekanan ekonomi dan mahalnya biaya produksi.

“Peternak sebenarnya tahu risikonya. Tapi saat harga pakan naik, biaya beternak tinggi, dan tidak ada insentif, mereka memilih yang cepat, meskipun dampaknya besar,” imbuhnya.

Ia mengatakan pemotongan sapi betina produktif adalah gejala dari kurangnya dukungan sistemik, bukan semata pelanggaran hukum individu. Karena itu, ia mendorong dibukanya lahan penggembalaan umum, revitalisasi balai pembibitan, serta penerapan insentif bagi peternak pembibit.

“Pemerintah harus hadir, tidak cukup dengan melarang. Kita perlu memastikan ada sistem yang memungkinkan peternak bertahan sambil menjaga indukan,” katanya.

Ia menekankan, jika Indonesia serius ingin mencapai kedaulatan pangan, maka menjaga sumber daya genetik ternak harus menjadi prioritas. Pemotongan sapi betina produktif bukan hanya mengurangi populasi, tapi juga mempersempit ruang inovasi genetika lokal yang seharusnya dikembangkan.

“Banyak negara bersaing memperkuat sektor peternakan mereka lewat inovasi genetika. Kita punya sumber daya itu, tapi sering tidak dijaga. Ini soal visi jangka panjang,” tuturnya.

Lebih lanjut, kata dia, bahwa menjaga sapi betina produktif bukan hanya tanggung jawab peternak, melainkan seluruh elemen dalam ekosistem peternakan.

“Jika ingin swasembada daging yang berkelanjutan, maka kita harus mulai dari menjaga sumbernya: indukan yang sehat, produktif, dan berasal dari genetik lokal unggul,” ungkap dia.

Berita Terkait

4 Rumah Di Lorong Bersama Silaberanti Hangus Terbakar 
Sambut HUT Sumsel ke-80, Bank Sumsel Babel Perluas Akses Operasi Bibir Sumbing Gratis
Lift Mati Saat Blackout Mahasiswa FE UMP Terjebak 50 Menit di Dalam Gedung
Tim Tabur Kejati Sumsel Ringkus Buronan Kasus Asusila di Sekayu
Blackout Massal Landa Sumatera, Sistem Kelistrikan Sumbagut Padam Total
Ekspansi Strategis, Chery Resmikan Dealer 3S Baru di Palembang untuk Perkuat Pasar Sumatera Selatan
50 Anak Ikuti Sunat Massal Gratis HUT Kota Palembang Dan Hut Bhayangkara ke 80
Gubernur Sumsel Harapkan Kampus Jadi Penggerak Pelestarian Alam
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 23 Mei 2026 - 14:17 WIB

4 Rumah Di Lorong Bersama Silaberanti Hangus Terbakar 

Sabtu, 23 Mei 2026 - 14:14 WIB

Sambut HUT Sumsel ke-80, Bank Sumsel Babel Perluas Akses Operasi Bibir Sumbing Gratis

Sabtu, 23 Mei 2026 - 10:45 WIB

Tim Tabur Kejati Sumsel Ringkus Buronan Kasus Asusila di Sekayu

Jumat, 22 Mei 2026 - 22:56 WIB

Blackout Massal Landa Sumatera, Sistem Kelistrikan Sumbagut Padam Total

Jumat, 22 Mei 2026 - 19:21 WIB

Ekspansi Strategis, Chery Resmikan Dealer 3S Baru di Palembang untuk Perkuat Pasar Sumatera Selatan

Berita Terbaru

Foto.:  kebakaran di jalan Silaberanti

Kota Palembang

4 Rumah Di Lorong Bersama Silaberanti Hangus Terbakar 

Sabtu, 23 Mei 2026 - 14:17 WIB