PALEMBANG, SUARAPUBLIK.ID —Bulan Ramadhan tidak menjadi penghalang bagi sekolah untuk menjaga kualitas pembelajaran. Di sejumlah sekolah dasar di Kota Palembang, suasana kelas justru terlihat lebih tertib, tenang, dan kondusif. Para guru mampu mengendalikan ritme belajar dengan strategi yang terukur, sehingga siswa tetap fokus meski menjalankan ibadah puasa.
Sejak bel masuk berbunyi, guru langsung mengambil peran sebagai pengarah sekaligus pengendali suasana. Materi disampaikan secara sistematis, dengan durasi yang disesuaikan agar tidak terlalu menguras energi siswa. Pola pembelajaran dibuat lebih efektif padat, jelas, dan interaktif tanpa mengurangi substansi materi yang harus dicapai.
Menurut Kepala Bidang Sekolah Dasar (SD) Dinas Pendidikan Kota Palembang, Dr. Alhadi Yan Putra, S.E., S.Sos., M.Si.,menegaskan bahwa kunci keberhasilan pembelajaran di bulan Ramadhan terletak pada kemampuan guru menguasai kelas.
“Guru bukan hanya menyampaikan materi, tetapi memastikan suasana belajar tetap hidup dan terarah. Penguasaan kelas, pengaturan waktu, serta komunikasi yang tepat membuat proses belajar tetap efektif meskipun siswa berpuasa,” ujarnya.
Menurutnya, pendekatan humanis menjadi strategi utama. Guru memahami kondisi fisik siswa yang sedang menahan lapar dan dahaga. Karena itu, metode ceramah panjang diminimalisasi dan diganti dengan diskusi terarah, tanya jawab singkat, serta aktivitas literasi yang lebih ringan namun tetap bermakna.
“Empati penting. Waktu istirahat dimanfaatkan untuk kegiatan reflektif seperti membaca atau penguatan karakter. Ini bukan sekadar mengurangi aktivitas fisik, tetapi mengoptimalkan pembelajaran sesuai situasi,” katanya.
Ia menilai, Ramadhan justru menjadi momentum strategis untuk memperkuat pendidikan karakter. Nilai disiplin, kesabaran, tanggung jawab, dan pengendalian diri dapat diintegrasikan langsung dalam proses belajar. Guru mengaitkan materi pelajaran dengan nilai-nilai kehidupan, sehingga siswa tidak hanya memahami konsep akademik, tetapi juga makna di baliknya.
Di sejumlah kelas, siswa terlihat tetap antusias mengikuti pelajaran. Kondisi kelas relatif lebih tertib dan minim gangguan. Situasi ini menunjukkan bahwa puasa tidak identik dengan menurunnya produktivitas belajar.
Ia menambahkan, pihaknya terus mengingatkan seluruh satuan pendidikan agar menjaga keseimbangan antara capaian kurikulum dan kondisi peserta didik. Penyesuaian jam belajar, penguatan literasi, serta pengawasan proses pembelajaran menjadi perhatian khusus selama Ramadhan.
“Kami ingin memastikan kualitas pembelajaran tetap terjaga. Puasa bukan alasan untuk menurunkan standar. Justru ini menjadi ujian profesionalisme guru dalam mengelola kelas secara adaptif dan inovatif.
Dengan manajemen kelas yang matang dan pendekatan yang tepat, pembelajaran di bulan Ramadhan tetap berjalan optimal. Sekolah tidak hanya menjadi ruang transfer ilmu, tetapi juga ruang pembentukan karakter yang kuat membuktikan bahwa dalam kondisi apa pun, pendidikan harus tetap berkualitas,” pungkasnya.
Penulis : Hasan Basri
Editor : Jaks


















