Antrean Biosolar Sumsel Memanjang, Distribusi FAME Jadi Sorotan

- Redaksi

Selasa, 8 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PALEMBANG, SUARAPUBLIK.ID – Antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) jenis Biosolar di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Sumatera Selatan (Sumsel) dalam beberapa hari terakhir disoroti Pemerintah Provinsi Sumsel.

 

Salah satu persoalan yang disebut memengaruhi kondisi tersebut yakni terhambatnya distribusi Fatty Acid Methyl Ester (FAME) yang menjadi bahan pencampur Biosolar.

 

Gubernur Sumsel, Herman Deru mengatakan persoalan itu diketahui setelah pemerintah provinsi melakukan pembahasan bersama Pertamina Patra Niaga mengenai kondisi antrean Biosolar yang semakin panjang di lapangan.

 

“Mungkin sedikit terkadang untuk rapat hari ini seperti apa. Ya, ini rapat yang menyikapi kondisi lapangan tentang antrean BBM, khususnya Biosolar. Beberapa hari belakangan ini kita tidak bisa tutup mata bahwa antrean semakin panjang,” ujar Deru saat diwawancarai usai rapat di Griya Agung Palembang, Selasa (8/9/2026).

 

Menurut Deru, dari hasil pembahasan tersebut Pertamina Patra Niaga menyampaikan adanya kendala dalam distribusi FAME. Padahal, FAME harus tersedia sebelum melalui proses blending untuk menghasilkan Biosolar yang kemudian disalurkan ke SPBU.

 

“Jadi ketika kita tanyakan dengan Pertamina, Pertamina Patra Niaga, ternyata jujur memang ada. Mereka ada hambatan di distribusi FAME-nya, jadi sebelum di-blending menjadi Biosolar yang akan didistribusikan ke SPBU,” katanya.

 

Deru menyebut pasokan FAME tersebut berasal dari tujuh vendor yang berada di sejumlah wilayah. Tidak seluruhnya berada di Sumsel, karena terdapat pemasok dari daerah lain seperti Dumai dan Sulawesi.

 

Gangguan pengiriman membuat Pertamina Patra Niaga Palembang harus mengambil pasokan dari wilayah lain untuk menjaga ketersediaan FAME. Salah satu pasokan tersebut didatangkan dari Lampung melalui wilayah Panjang.

 

“Karena vendornya ada tujuh tadi disebut, ya. Yang dari sini ada Wilmar, bahkan ada dari Dumai, dari Sulawesi. Untuk FAME-nya tadi terpaksa Pertamina Patra Niaga Palembang ini ambil di wilayah lain, salah satunya dari Lampung, dari Panjang. Jadi BBM itu diambil,” tuturnya.

 

Menurutnya, kondisi tersebut seharusnya dapat diantisipasi sebelum berdampak pada ketersediaan Biosolar di SPBU. Ia menilai pasokan bahan pencampur tersebut harus dijaga secara berkelanjutan agar stok Biosolar tidak sampai terganggu.

 

“Nah, ini keterbukaan begini. Artinya, yang harusnya sudah kita awali sebelum terjadi. Karena stoknya terbatas, kan. Stok Pertalite itu untuk berapa hari, stok Pertamax berapa hari, stok Biosolar berapa hari. Stok Biosolar kita ini 0,86 tadi, kan. Tapi harus terjaga itu, kan. Dia harus terjaga terus. Ini tidak boleh kosong,” tegasnya.

 

Ia juga mengungkapkan terdapat vendor yang mengalami kegagalan dalam memenuhi pengiriman FAME. Ia menyebut berbagai kemungkinan dapat menjadi penyebab terganggunya pengiriman, termasuk kendala yang terjadi saat pasokan masih dalam perjalanan.

 

“Ambil dari tempat lain. Bahkan ada vendor itu yang memang gagal sampai apa, karena wanprestasi? Tidak mungkin pecah ban, kan. Waktu kapal yang tengah jalan bisa jadi karena erupsi. Ini berbagai-bagai,” ungkapnya.

 

Atas kondisi tersebut, Deru meminta Pertamina segera melibatkan para vendor dalam pembahasan untuk mencari solusi. Menurutnya, evaluasi terhadap pola pasokan diperlukan agar persoalan keterlambatan FAME tidak kembali mengganggu distribusi Biosolar.

 

“Nah, maka tadi saya sarankan untuk kita undang vendor itu,” ucapnya.

 

Selain meminta vendor dipanggil, Deru juga mendorong agar sumber FAME dari wilayah lokal lebih diperhatikan. Menurutnya, Sumsel memiliki potensi bahan baku sawit yang besar sehingga ketergantungan terhadap pasokan dari wilayah yang jauh perlu dikaji kembali.

 

“Kita juga sarankan kepada pemangku kebijakan, kenapa tidak ambil khusus vendor dari lokal saja? Jangan yang dari Sulawesi, dari Dumai jauh-jauh itu. Sementara kebun sawit kita ada 1,4 juta hektare,” lanjutnya.

 

Sementara itu, Region Manager Retail Sales PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Ayub Ritto menjelaskan posisi Pertamina dalam pengadaan FAME.

 

Ia menjelaskan bahan tersebut tidak diproduksi sendiri oleh Pertamina, melainkan diperoleh melalui kerja sama dengan vendor yang telah ditetapkan.

 

“Soal keterlambatan distribusi FAME tadi, Pak. FAME ini begini, jadi FAME ini kami tidak produksi. Paham, ya. Itu penuh. Kalau vendor saya yakin teman-teman paham lah, ya, proses karena proses itu adalah kami berkontrak dengan pihak vendor,” jelasnya.

 

Ayub menyebut pengiriman FAME sebenarnya telah memiliki jadwal yang ditentukan. Namun, dalam pelaksanaannya terdapat beberapa keterlambatan pengiriman pada bulan ini.

 

“Sehingga waktu kedatangannya pun sebenarnya sudah terjadwal oleh kami. Ketika ada kendala, kami pasti tanya sama vendor kenapa ada kendala. Itu, teman-teman. Ini kan catatannya tadi sering terlambat. Ada beberapa keterlambatan di bulan ini,” terangnya.

 

Pertamina, lanjut Ayub, akan meminta penjelasan kepada vendor apabila pasokan tidak tiba sesuai jadwal. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui penyebab kendala sekaligus memastikan vendor memenuhi komitmen pengiriman yang telah disepakati.

 

Lebih lanjut, terdapat tujuh vendor yang telah ditetapkan sebagai pemasok FAME untuk kebutuhan Pertamina. Ketujuh vendor tersebut yakni Wilmar Bioenergi Indonesia, Pelita Agung Agriindustri, Tunas Baru Lampung, Sari Dumai Sidati, Energi Unggul Bersada, LDC Indonesia, dan Multinavati Sulawesi.

 

“Jadi kalau kami urut tadi, Pak Gubernur, yang pertama Wilmar Bioenergi Indonesia, kemudian Pelita Agung Agriindustri, kemudian Tunas Baru Lampung, Sari Dumai Sidati, Energi Unggul Bersada, kemudian LDC Indonesia, dengan Multinavati Sulawesi,” katanya.

 

Seluruh vendor tersebut telah ditetapkan dan pada dasarnya memiliki kesiapan untuk mengirimkan FAME. Namun, apabila pengiriman tidak terlaksana, Pertamina akan meminta penjelasan dari vendor mengenai alasan terjadinya kendala.

 

“Jadi vendor-vendor ini kan sudah ditetapkan, ya, dan itu sebenarnya dalam konteks mereka, ya, siap kirim. Tapi ketika dia tidak terkirim, pasti dia punya justifikasi dan kita pun sudah menyampaikan kepada mereka untuk memenuhi komitmen yang diminta, gitu, ya, teman-teman,” pungkasnya.

Penulis : Tia

Editor : Jaks

Berita Terkait

Ambil HP Korban di Jalan, Basaruddin Divonis 8 Bulan Penjara
Sabu 488,70 Gram, Andrika Divonis 10 Tahun Penjara di PN Palembang
Zero Balap Liar Ratusan Pemuda Deklarasi Tolak Balap Liar
Angkut 10 Ribu Liter Solar Sulingan dari Muba ke Lampung, Dua Sopir Divonis 15 Bulan Penjara
Cekcok Usai Pesta Ciu Berujung Maut, Andy Saputra Didakwa Bunuh Teman Sendiri
5G XLSMART Resmi Hadir di Palembang SMARTFREN Hadirkan Pengalaman Unlimited 5G untuk Dukung Aktivitas Digital Masyarakat  
Wyndham Opi Hotel Palembang Tawarkan Paket Ciatok, Mulai Rp4,8 Juta per Meja
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Perkuat Garda Terdepan Penanganan Karhutla di Ogan Ilir

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 18:17 WIB

Antrean Biosolar Sumsel Memanjang, Distribusi FAME Jadi Sorotan

Selasa, 8 September 2026 - 17:08 WIB

Ambil HP Korban di Jalan, Basaruddin Divonis 8 Bulan Penjara

Selasa, 8 September 2026 - 17:06 WIB

Sabu 488,70 Gram, Andrika Divonis 10 Tahun Penjara di PN Palembang

Selasa, 8 September 2026 - 17:05 WIB

Zero Balap Liar Ratusan Pemuda Deklarasi Tolak Balap Liar

Selasa, 8 September 2026 - 16:57 WIB

Cekcok Usai Pesta Ciu Berujung Maut, Andy Saputra Didakwa Bunuh Teman Sendiri

Berita Terbaru

Kota Palembang

Antrean Biosolar Sumsel Memanjang, Distribusi FAME Jadi Sorotan

Selasa, 8 Sep 2026 - 18:17 WIB

Empat Lawang

Pemkab Empat Lawang Perkuat Edukasi Warga untuk Cegah Karhutla

Selasa, 8 Sep 2026 - 18:16 WIB

Foto : Kapolrestabes dan Pemuda menolak balap liar

Kota Palembang

Zero Balap Liar Ratusan Pemuda Deklarasi Tolak Balap Liar

Selasa, 8 Sep 2026 - 17:05 WIB