Proyek Jalan Khusus Belum Rampung, Produksi Batubara Sumsel Turun Lebih 50 Persen

- Redaksi

Sabtu, 18 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ketua Asosiasi Pertambangan Batubara Sumsel (APBS), Andi Asmara saat diwawancari di Kantor Gubernur, Sabtu (18/10/2025). Foto: Tia

Ketua Asosiasi Pertambangan Batubara Sumsel (APBS), Andi Asmara saat diwawancari di Kantor Gubernur, Sabtu (18/10/2025). Foto: Tia

SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Aktivitas pertambangan batubara di sejumlah wilayah di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) mengalami penurunan tajam dalam beberapa bulan terakhir.

Sejumlah perusahaan tambang di wilayah Muara Enim dan Lahat bahkan menghentikan sementara operasional akibat belum terhubungnya jalan khusus angkutan batubara yang masih dalam tahap pembangunan.

“Makanya sekarang ini batubara Sumsel, khususnya di Muara Enim dan Lahat, drop-nya besar sekali, lebih dari 50 persen,” ujar Ketua Asosiasi Pertambangan Batubara Sumsel (APBS), Andi Asmara, Sabtu (18/10/2025).

Andi mengatakan jika kondisi ini terjadi karena akses distribusi batubara yang belum sepenuhnya tersambung.

Diketahui, pembangunan jalan khusus yang ditujukan untuk mengalihkan angkutan batubara dari jalan umum baru mencapai sekitar 120 kilometer (km) dari total target 150 km.

“Targetnya, seluruh tambang bisa saling terhubung mulai dari Tanjung Enim ke tambang BAS milik Grup Titan, PT Bara Murti, eks tambang ABS, GGB, lalu ke Banjar Sri Bumi atau C-Way RDP, hingga akhirnya tersambung ke jalan SLR,” katanya.

Ia menjelaskan penyelesaian jalan khusus ini menjadi kunci untuk memulihkan aktivitas tambang dan memastikan pasokan batubara tetap stabil.

“Kalau jalur ini selesai, distribusi akan lancar. Sekarang banyak perusahaan memilih berhenti karena biaya logistik terlalu tinggi kalau tetap lewat jalan umum,” jelasnya.

Selain memengaruhi produksi, keterlambatan penyelesaian proyek tersebut juga berdampak pada perekonomian daerah.

“Dampaknya bukan hanya pada perusahaan, tapi juga ke tenaga kerja dan sektor pendukung seperti transportasi dan jasa logistik,” tuturnya.

Ia menyebut APBS terus berkoordinasi dengan pemerintah provinsi dan pihak terkait untuk mempercepat pembangunan infrastruktur tersebut dan ia berharap dalam waktu dekat ada solusi konkret agar aktivitas tambang dapat kembali normal.

“Kami bersama pemerintah terus mencari jalan terbaik. Kita belum bisa menggambarkan bentuk solusinya seperti apa, tapi koordinasi terus dilakukan. Mudah-mudahan sampai Januari nanti sudah terlihat hasilnya,” ucap dia.

Berita Terkait

Dinkes Sumsel Perketat Pengawasan Kasus Celah Bibir pada Bayi
Jelang Iduladha Pemprov Sumsel Minta Warga Tak Panic Buying
Dinkes Sebut Sumsel jadi Wilayah Tertinggi Kedua Kasus Bibir Sumbing di Indonesia
Musprov Inkindo Sumsel Dibuka, Cik Ujang Dorong Transformasi dan Profesionalisme Konsultan
Konser HS di Palembang Pecah, Polisi Sebut Paling Aman dan Tertib
Wakajati Sumsel Lantik 11 Pejabat Baru, Rotasi Jabatan untuk Perkuat Kinerja Kejati
Jangan Asal Salahkan Gubernur, DPRD Sumsel Ungkap Fakta Kewenangan Jalan Rusak di Sumsel
86 Solution Ikut Sukseskan Konser Spektakuler Slank di Palembang

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 20:56 WIB

Dinkes Sumsel Perketat Pengawasan Kasus Celah Bibir pada Bayi

Senin, 25 Mei 2026 - 20:53 WIB

Dinkes Sebut Sumsel jadi Wilayah Tertinggi Kedua Kasus Bibir Sumbing di Indonesia

Senin, 25 Mei 2026 - 17:30 WIB

Musprov Inkindo Sumsel Dibuka, Cik Ujang Dorong Transformasi dan Profesionalisme Konsultan

Senin, 25 Mei 2026 - 17:08 WIB

Konser HS di Palembang Pecah, Polisi Sebut Paling Aman dan Tertib

Senin, 25 Mei 2026 - 17:03 WIB

Wakajati Sumsel Lantik 11 Pejabat Baru, Rotasi Jabatan untuk Perkuat Kinerja Kejati

Berita Terbaru

Dua penderita bibir sumbing yang akan dioperasi di RSKGM Palembang. Foto: Tia

Kota Palembang

Dinkes Sumsel Perketat Pengawasan Kasus Celah Bibir pada Bayi

Senin, 25 Mei 2026 - 20:56 WIB