Petani Empat Lawang Keluhkan Harga Pupuk Meroket

- Redaksi

Jumat, 28 Januari 2022

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pupuk non subsidi alami kenaikan harga hingga dua kali lipat sejak beberapa bulan terakhir.
Foto: delta/SP

Pupuk non subsidi alami kenaikan harga hingga dua kali lipat sejak beberapa bulan terakhir. Foto: delta/SP

SUARAPUBLIK.ID, EMPATLAWANG – Sejumlah petani di Empat Lawang mengeluhkan mahalnya harga pupuk non subsidi.

Seperti diungkapkan Yuli (44) yang berprofesi sebagai petani, dia sangat menyayangkan mahalnya pupuk non subsidi. Jika biasanya ia membeli pupuk subsidi urea dengan kartu kelompok tani seharga Rp 130 ribu sampai Rp 150 ribu per karung, kini terpaksa harus merogeh kocek yang cukup dalam untuk membeli pupuk non-subsidi yang harganya di kisaran Rp 300 ribu sampai Rp 500 ribu per karung.

Tingginya harga pupuk, membuat ia harus menghemat penggunaan pupuk. “Untuk optimalnya biasanya kami melakukan pemupukan dua kali dalam sehari, sekarang karena harganya mahal kami hanya melakukan pemupukan satu kali sehari,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pengolahan sawah membutuhkan biaya yang besar. Selain pupuk, biaya yang dikeluarkan untuk pengolahan sawah adalah sewa alat bajak, upah memotong rumput, lalu biaya panen.

Dalam kondisi ini, ia tidak bisa menaikan harga padi karena nantinya akan mengurangi pembeli. Mereka berdua berharap agar pemerintah segera membantu mensubsidi kembali pupuk untuk masyarakat agar beban produksi tidak membebani petani yang hanya bergantung kepada sawah mereka.

Sementara itu, salah satu pemilik toko tani di seputaran Kabupaten Empat Lawang yang namanya minta dirahasiakan mengatakan bahwa kenaikan harga jual mencapi 50 persen dari harga biasa untuk semua jenis pupuk non subsidi. Ia merincikan, jika sebelumnya harga Pupuk Urea non Subsidi hanya Rp.5.000 perkilogram sekarang mencapai Rp.11.000 Kilogram. Sementara satu karungnya dengan berat 50 Kilogram dulunya Rp280.000 kini menjadi Rp530.000 perkarungnya.

Untuk pupuk jenis mutiara sebelumnya seharga Rp.10.000 perkilogram kini menjadi Rp.13.000,  sementara harga satu sak yang sebelumnya Rp.425.000 kini menjadi Rp.630.000/ zak. Sedangkan pupuk KCL yang sebelumnya seharga Rp.7.000 kini menjadi Rp.12.000 dan harga satu zaknya dari Rp.300.000 kini menjadi Rp.580.000/zak. Kemudian pupuk merk TSP sebelumnya seharga Rp.6.000 kini menjadi Rp.10.000 perkilogram dan untuk satu zaknya sebelumnya Rp.300.000 kini mencapai Rp.430.000/zak.

“Kenaikan ini sudah terjadi kurang lebih 3-4 bulan terakhir, dan kita tidak tahu penyebabnya,” ungkapnya.

Ia mengatakan,dengan kenaikan ini otomatis tingkat penjualan atau daya beli petani ikut berkurang, karena petani lebih irit atau hanya beli dengan jumlah yang sedikit.

Terpisah Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Empat Lawang, Dadang Munandar tak menampik ada kenaikan yang cukup signifikan terhadap harga jual pupuk non subsidi di tingkat pengecer, yang menurutnya, berdasarkan informasi dilapangan disebabkannya bahan baku impor juga naik. “Namun meskipun harganya naik, tidak ada kelangkaan terhadap barang (pupuk) itu sendiri, karena mereka (penjual) pun juga tidak mau rugi,hanya saja tingkat pembeliannya yang berkurang,” tandasnya. (Alf)

Berita Terkait

Polsek Ulu Musi Salurkan Bansos untuk Korban Kebakaran di Desa Puntang
Bukan Sekadar Tarif, Keamanan dan Ketepatan Waktu Jadi Alasan Pilih Bluebird
Santri bisa jadi Ulama Hingga Pemimpin Bangsa
Warga Klaim Lahan 75 Hektare Milik PTPN IV, Manajemen Buka Mediasi
Para Ibu adalah Benteng Utama Pencegahan Narkoba
Manajemen Talenta ASN Jadi Faktor Penting dalam Pelayanan
Polres Empat Lawang Laksanakan Bakti Sosial Serentak dalam Rangka Hari Jadi ke-75 Humas Polri
Polres Empat Lawang Ungkap Kasus Pembakaran Lahan 4 Hektare

Berita Terkait

Jumat, 6 November 2026 - 10:16 WIB

Polsek Ulu Musi Salurkan Bansos untuk Korban Kebakaran di Desa Puntang

Jumat, 30 Oktober 2026 - 16:08 WIB

Bukan Sekadar Tarif, Keamanan dan Ketepatan Waktu Jadi Alasan Pilih Bluebird

Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:36 WIB

Santri bisa jadi Ulama Hingga Pemimpin Bangsa

Selasa, 20 Oktober 2026 - 18:10 WIB

Warga Klaim Lahan 75 Hektare Milik PTPN IV, Manajemen Buka Mediasi

Selasa, 20 Oktober 2026 - 17:57 WIB

Para Ibu adalah Benteng Utama Pencegahan Narkoba

Berita Terbaru

Kota Palembang

Modus Beri Tumpangan, Mahasiswa Unsri Jadi Korban Curas

Jumat, 6 Nov 2026 - 15:52 WIB