Biaya Pengemasan Tinggi Penyebab Beras Premium Kemasan 5 Kg Langka di Pasaran Sumsel

- Redaksi

Rabu, 9 September 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Stok beras di gudang bulog sumsel babel. Foto: ilustrasi

Stok beras di gudang bulog sumsel babel. Foto: ilustrasi

PALEMBANG, SUARAPUBLIK.ID – Tingginya biaya pengemasan ukuran kecil membuat pasokan beras premium kemasan 5 kilogram langka di pasaran wilayah Sumatera Selatan.

 

Kelangkaan tersebut terjadi akibat produsen memilih menghentikan sementara pengemasan ukuran kecil untuk menghindari risiko kerugian operasional.

 

“Premium sebenarnya yang langka itu, yang tidak ada itu yang kemasan 5 kilo. Tapi kalau yang kemasan 20 kilo, banyak,” ujar Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Sumsel Ruzuan Effendi, Rabu (9/9/2026).

 

Ruzuan mengatakan bahwa pembengkakan biaya produksi menjadi alasan utama produsen mengalihkan fokus pengemasan ke kapasitas yang lebih besar.

 

“Kalau 5 kilo pasti, kenapa? Karena itu biaya produksinya tinggi, sehingga akan rugi kalau memang dipaksakan dengan kondisi sekarang,” katanya.

 

Meskipun ukuran 5 kilogram sulit ditemukan, pihak DKPP mengimbau masyarakat untuk tidak khawatir karena stok beras secara keseluruhan masih melimpah.

 

“Secara ketersediaan ada. Sebenarnya di tingkat petani itu, yang petani sawah, itu banyak. Mereka itu menyetok gabah untuk kebutuhan mereka sehari-hari,” lanjutnya.

 

Tingginya beban biaya pengemasan tersebut juga dibenarkan oleh pihak penyelenggara logistik pangan daerah.

 

“Karena harga kemasan plastik itu semakin kecil semakin mahal,” ucap Pimpinan Kanwil Perum Bulog Sumsel Babel Ihsan.

 

Selain harga fisik kantong pembungkus, komponen biaya tenaga kerja turut memicu lonjakan pengeluaran operasional pengemasan beras ukuran kecil.

 

“Kalau dia kerja satu karung itu 20, dapatnya 20 kilo. Tapi kalau semakin kecil, dia kan hanya lima kilo di depannya. Jadi dia pasti minta upah yang lebih besar,” jelasnya.

 

Besarnya akumulasi biaya produksi membuat pelaku usaha memilih menjual kemasan sedang hingga besar guna menjaga stabilitas harga di tingkat konsumen.

 

“Produsen-produsen itu tidak memaksakan yang lima kilo, karena kalau dipaksakan nanti bisa melewati harga. Makanya dia menjualnya itu di 10kg – 20 kg,” pungkasnya.

Penulis : Tia

Editor : Jaks

Berita Terkait

Polisi Jelaskan Tidak Ada Aksi Pelaku Penculikan
Mediasi Buntu, Warga Kenten Raya ‘Tagih’ Air Bersih PDAM Tirta Betuah di Pengadilan
Sidang Suap Smart Board-Chromebook Muara Enim: Saksi Ungkap Abi Kenalkan Cory Saat Survei di Jakarta
Gelapkan 80 Dus Bir, Arianto Diciduk Unit Pidum Polrestabes Palembang
Menyikapi Dampak Kabut Asap Karhutla, Korsatpel Terminal Jakabaring Bagikan Ratusan Masker Gratis
Pertamina Patra Niaga Pastikan Avtur Siaga, Dukung Operasi Udara Pemadaman Karhutla di Sumsel
Kemarau Panjang dan Kabut Asap, Ratu Dewa Ajak Warga Berdoa dan Jaga Lingkungan
Kabut Asap Makin Pekat, Sekolah TK hingga SMP di Palembang Beralih ke PJJ

Berita Terkait

Rabu, 9 September 2026 - 18:09 WIB

Biaya Pengemasan Tinggi Penyebab Beras Premium Kemasan 5 Kg Langka di Pasaran Sumsel

Rabu, 9 September 2026 - 18:05 WIB

Polisi Jelaskan Tidak Ada Aksi Pelaku Penculikan

Rabu, 9 September 2026 - 18:03 WIB

Mediasi Buntu, Warga Kenten Raya ‘Tagih’ Air Bersih PDAM Tirta Betuah di Pengadilan

Rabu, 9 September 2026 - 17:56 WIB

Gelapkan 80 Dus Bir, Arianto Diciduk Unit Pidum Polrestabes Palembang

Rabu, 9 September 2026 - 13:20 WIB

Menyikapi Dampak Kabut Asap Karhutla, Korsatpel Terminal Jakabaring Bagikan Ratusan Masker Gratis

Berita Terbaru

Empat Lawang

Telkom Siap Perkuat Digitalisasi Pemerintahan di Empat Lawang

Rabu, 9 Sep 2026 - 18:38 WIB

Foto sekolah yg di datangi

Kota Palembang

Polisi Jelaskan Tidak Ada Aksi Pelaku Penculikan

Rabu, 9 Sep 2026 - 18:05 WIB