PALEMBANG, SUARAPUBLIK.ID —Di tengah ancaman penyakit infeksi yang masih membayangi balita, pemerintah kembali menggencarkan pemberian kapsul Vitamin A secara nasional sepanjang Februari lalu. Program yang rutin digelar setiap Februari dan Agustus ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ikhtiar preventif untuk memastikan anak-anak Indonesia tumbuh sehat, kuat, dan memiliki daya tahan tubuh yang optimal sejak usia dini.
Dokter spesialis anak konsultan tumbuh kembang, Yudianita Kesuma, menegaskan bahwa momentum ini tidak boleh diabaikan orang tua. Ia mengingatkan, vitamin A memiliki peran krusial dalam menjaga kesehatan mata, memperkuat sistem kekebalan tubuh, serta mendukung proses tumbuh kembang anak secara optimal.
“Vitamin A membantu meningkatkan daya tahan tubuh anak terhadap infeksi, termasuk diare dan ISPA. Ini sederhana, tetapi dampaknya sangat besar bagi kualitas kesehatan anak,” ujarnya.
Menurutnya, kekurangan vitamin A masih menjadi persoalan yang kerap luput dari perhatian. Padahal, dampaknya dapat berlangsung jangka panjang. Anak yang mengalami defisiensi vitamin A lebih rentan terserang penyakit, berisiko mengalami gangguan penglihatan, hingga hambatan perkembangan fisik dan kognitif.
Ia menjelaskan, tidak semua kebutuhan vitamin A dapat terpenuhi hanya dari konsumsi harian, terutama pada anak dengan kondisi gizi kurang atau yang sering mengalami sakit berulang. Karena itu, suplementasi berkala melalui program pemerintah menjadi langkah strategis yang berbasis bukti ilmiah.
“Program ini sudah dirancang secara nasional dengan standar dosis yang aman dan efektif. Orang tua tidak perlu ragu karena kapsul yang diberikan telah melalui pengawasan ketat,” katanya.
Pemerintah menyediakan dua jenis kapsul vitamin A secara cuma-cuma. Kapsul biru diperuntukkan bagi bayi usia 6–11 bulan, sedangkan kapsul merah diberikan kepada anak usia 12–59 bulan. Distribusi dilakukan melalui posyandu, puskesmas, hingga fasilitas kesehatan terdekat.
Skema dua kali pemberian dalam setahun dinilai efektif dalam menjaga kecukupan vitamin A dalam tubuh anak. Namun, keberhasilan program sangat bergantung pada partisipasi aktif keluarga.
“Sayang sekali jika kesempatan ini terlewat. Orang tua cukup meluangkan waktu datang ke posyandu atau puskesmas terdekat,” ujar Yudianita.
Ia juga mengajak kader posyandu, tenaga kesehatan, hingga tokoh masyarakat untuk memperkuat edukasi kepada keluarga tentang pentingnya suplementasi vitamin A. Upaya kolektif dinilai menjadi kunci agar cakupan pemberian dapat mencapai target nasional.
Bagi Yudianita, pemberian vitamin A bukan hanya intervensi kesehatan jangka pendek, melainkan investasi masa depan. Anak yang sehat hari ini akan tumbuh menjadi generasi produktif di masa mendatang.
“Ini bagian dari membangun kualitas sumber daya manusia sejak usia dini. Ketika anak sehat dan tumbuh optimal, kita sedang menyiapkan generasi unggul untuk Indonesia,” tutupnya.
Penulis : Hasan Basri
Editor : Jaks

















