PALEMBANG, SUARAPUBLIK.ID – Seorang wali murid berinisial HY (42) menjadi korban dugaan penganiayaan oleh dua orang petugas keamanan (security) di halaman sebuah SMA Negeri di Palembang. Ironisnya, peristiwa tersebut terjadi di lingkungan sekolah dan disaksikan anak korban serta sejumlah guru.
Akibat kejadian itu, HY mengalami luka robek di bagian kepala hingga harus mendapatkan jahitan medis. Tidak terima atas perlakuan tersebut, warga Kecamatan Bukit Kecil, Palembang, itu akhirnya melaporkan dugaan penganiayaan yang dialaminya ke Polrestabes Palembang, Kamis (29/10/2026) malam.
Dalam laporannya, korban berharap polisi segera mengusut kejadian tersebut dan mengambil tindakan terhadap pihak yang diduga melakukan pemukulan.
Kepada petugas, HY menceritakan peristiwa itu terjadi pada Kamis (29/10/2026), sekitar pukul 10.30 WIB, di area parkir sekolah anaknya yang berada di Jalan Puncak Sekuning, Palembang.
Awalnya, korban datang ke sekolah dengan maksud menemui anaknya untuk mengambil sejumlah roti. Barang tersebut merupakan bagian dari tugas sekolah anaknya yang akan dijual dalam sebuah kegiatan atau acara sekolah.
“Saya awalnya hendak mengambil barang, Pak, berupa roti kepada anak saya di sekolah,” ungkap HY.
Setibanya di halaman parkir, seorang security yang berjaga di pos menghampiri dan menanyakan keperluan korban datang ke sekolah. HY kemudian menjelaskan bahwa dirinya sedang menunggu anaknya untuk mengambil roti tersebut.
Namun, tidak berselang lama, seorang petugas keamanan lainnya yang kini dilaporkan sebagai terlapor kembali menghampiri korban dan menanyakan maksud kedatangannya.
Korban pun kembali menjelaskan bahwa dirinya datang untuk mengambil roti, bukan menjemput anaknya. Setelah mendengar penjelasan tersebut, security itu sempat meninggalkan lokasi.
“Datang lagi security lain. Kembali saya jelaskan kalau saya ke sini hendak mengambil barang, bukan menjemput anak,” katanya.
Sekitar lima menit kemudian, security tersebut kembali menghampiri korban. Kali ini, petugas keamanan itu disebut menunjuk-nunjuk korban sembari memintanya keluar dari halaman sekolah.
Di tengah situasi tersebut, anak HY kemudian datang menemui dirinya. Karena sudah bertemu dengan anaknya, korban mengaku tidak bersedia meninggalkan area sekolah.
“Saya disuruh keluar, Pak. Padahal saya masih di atas motor, tidak turun, dan sudah bertemu anak saya. Dia juga sudah tahu kalau saya ini wali murid,” tuturnya.
Situasi kemudian memanas hingga terjadi cekcok mulut antara korban dan petugas keamanan. Korban mengaku dibentak dan diusir. Merasa keberatan dengan perlakuan tersebut, HY turun dari sepeda motornya dan mempertanyakan sikap security yang membentaknya.
“Kenapa membentak saya, apa mau memukul?” ujar korban menirukan perkataannya saat itu.
Bukannya mereda, security tersebut justru diduga mendorong tubuh korban. Tidak lama kemudian, seorang security lain yang berada di pos turut mendekat dan ikut membentak serta mendorong korban.
Korban kembali mempertanyakan tindakan tersebut. Bahkan, ia sempat menantang kedua petugas keamanan itu untuk memukulnya jika memang berniat melakukan hal tersebut.
Namun, salah seorang security diduga langsung melayangkan pukulan menggunakan tangan kosong ke bagian kepala korban lebih dari satu kali.
“Saya dipukuli, Pak. Saya bilang kepada keduanya bahwa kejadian ini akan saya laporkan ke polisi. Mereka malah menjawab, ‘Laporkan saja!'” bebernya.
Akibat dugaan penganiayaan itu, HY mengalami luka bengkak, robek hingga harus mendapatkan jahitan, serta memar di bagian kiri belakang kepala.
Usai kejadian, korban meninggalkan lokasi dan mendatangi Rumah Sakit Islam (RSI) Siti Khadijah Palembang untuk mendapatkan penanganan medis.
Sementara itu, Kanit SPK Polrestabes Palembang, Ipda Ari, membenarkan adanya laporan dugaan penganiayaan tersebut.
“Laporan sudah kita terima dan akan segera ditindaklanjuti petugas Satreskrim Polrestabes Palembang Unit Pidana Umum (Pidum) untuk melakukan penyelidikan dan menangkap pelaku,” tutupnya.
Penulis : Kiki
Editor : Jaks


















