Tag: OJK Sumsel Babel

  • Stabilitas Sektor Keuangan Tetap Terjaga Hadapi Prospek Ekonomi 2026

    Stabilitas Sektor Keuangan Tetap Terjaga Hadapi Prospek Ekonomi 2026

    SUARAPUBLIK.ID, JAKARTA — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga di tengah dinamika perekonomian global dan domestik. Penilaian tersebut disampaikan dalam Rapat Dewan Komisioner (RDK) Bulanan OJK yang digelar pada 24 Desember 2025.

    OJK mencatat, perkembangan ekonomi global menunjukkan sinyal perbaikan meskipun masih dibayangi sejumlah risiko. Aktivitas manufaktur global tetap berada di zona ekspansi, walaupun lajunya mengalami moderasi seiring menurunnya kepercayaan konsumen dunia. Kinerja ekonomi Tiongkok juga masih berada di bawah ekspektasi, terutama akibat lemahnya konsumsi rumah tangga dan berlanjutnya tekanan di sektor properti.

    Untuk tahun 2026, lembaga multilateral memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan melandai dan berada di bawah rata-rata pertumbuhan sebelum pandemi. Kondisi tersebut dipengaruhi meningkatnya risiko fiskal di sejumlah negara utama.

    Di Amerika Serikat, perekonomian tercatat masih relatif solid. Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III 2025 tumbuh 4,3 persen secara tahunan (saar), lebih tinggi dari kuartal sebelumnya dan di atas konsensus pasar. Pertumbuhan tersebut didorong oleh konsumsi rumah tangga, penurunan impor, serta peningkatan investasi yang berkaitan dengan pengembangan kecerdasan buatan.

    Meski demikian, pasar tenaga kerja AS mulai menunjukkan tanda-tanda moderasi. Inflasi pada November 2025 tercatat menurun menjadi 2,7 persen, sementara inflasi inti turun ke level 2,6 persen dari sebelumnya 3,0 persen pada Oktober 2025.

    Berbeda dengan AS, perlambatan ekonomi di Tiongkok masih berlanjut. Dari sisi penawaran, indeks PMI manufaktur kembali masuk ke zona kontraksi, sementara tekanan di sektor properti belum mereda.

    Perkembangan tersebut mendorong perbedaan arah kebijakan moneter global. The Federal Reserve memangkas suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin pada Desember 2025. Bank of England (BoE) juga menurunkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75 persen, yang merupakan pemangkasan keempat sepanjang 2025. Sebaliknya, Bank of Japan menaikkan suku bunga kebijakan ke level tertinggi dalam tiga dekade terakhir akibat tekanan inflasi yang masih persisten.

    Perbedaan kebijakan tersebut turut memengaruhi pasar keuangan global. Pasar saham dunia secara umum bergerak menguat merespons pemangkasan FFR, meskipun muncul kekhawatiran terhadap potensi gelembung di saham sektor teknologi. Di sisi lain, kenaikan suku bunga Jepang memicu pelemahan pasar obligasi pemerintah global seiring berakhirnya praktik carry trade.

    Memasuki awal 2026, pelaku pasar juga mencermati perkembangan geopolitik di Venezuela dan potensi dampaknya terhadap stabilitas politik serta pasar keuangan global.

    Di tengah dinamika global tersebut, OJK mencatat kondisi perekonomian domestik Indonesia tetap terjaga. Inflasi inti pada Desember 2025 mengalami peningkatan, sektor manufaktur masih berada dalam fase ekspansi, dan kinerja eksternal tetap solid dengan neraca perdagangan yang terus mencatatkan surplus.

  • Sultan Muda DIGINATION RUN 2025 Gerakan Literasi Inklusi Keuangan Digital dari Sumatera Selatan untuk Indonesia

    Sultan Muda DIGINATION RUN 2025 Gerakan Literasi Inklusi Keuangan Digital dari Sumatera Selatan untuk Indonesia

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Selatan bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan sukses menyelenggarakan Sultan Muda DIGINATION RUN 2025, sebuah kegiatan kolaboratif yang menjadi bagian dari puncak peringatan Bulan Inklusi Keuangan (BIK) 2025.

    Kegiatan ini menjadi momentum sinergi antara edukasi keuangan, digitalisasi, dan gaya hidup sehat, dengan semangat Digital Financial Literacy — gerakan nasional untuk meningkatkan kesadaran finansial masyarakat di era ekonomi digital yang dinamis.

    DIGINATION RUN 2025 menghadirkan pendekatan baru dalam kampanye inovasi keuangan digital, menggabungkan nilai edukasi, literasi, dan sportivitas dalam satu gerakan publik yang inklusif dan inspiratif.

    “Gerakan Sultan Muda Sumsel Center memperkuat Literasi Inklusi Keuangan sekaligus mendorong kemandirian generasi muda di era digital, salah satunya melalui pelaksanaan Sultan Muda Digination Run 2025 yang bukan hanya ajang olahraga, tetapi juga wujud semangat kolaborasi dan inovasi anak muda Sumatera Selatan yang sehat, kreatif, dan inklusif” ujar Gubernur Sumatera Selatan, H. Herman Deru, saat membuka kegiatan di Lapangan Kantor Gubernur Sumsel.

    Kegiatan ini diikuti oleh lebih dari 2.700 peserta dari berbagai kalangan — pelajar, mahasiswa, komunitas olahraga, pelaku UMKM, hingga insan Industri Jasa Keuangan (IJK).

    Sebagai event DIGINATION RUN pertama dan terbesar di Indonesia, kegiatan ini berhasil memadukan semangat olahraga dengan edukasi literasi keuangan digital secara masif, memperlihatkan antusiasme luar biasa masyarakat Sumatera Selatan terhadap gerakan ekonomi digital yang inklusif dan berkelanjutan.

    Rute lari melewati Kantor Gubernur Sumatera Selatan, Gedung OJK Provinsi Sumsel, dan gedung-gedung IJK, melambangkan sinergi antara pemerintah daerah, regulator, dan industri keuangan dalam berlari bersama menuju ekosistem keuangan digital yang aman dan berdaya saing.

    “Saya mengapresiasi langkah OJK Sumsel yang mampu menggabungkan dunia olahraga, digitalisasi, dan edukasi keuangan dalam satu wadah yang inspiratif. Sultan Muda Digination Run adalah contoh nyata sinergi antara Pemerintah, Regulator, dan Masyarakat untuk membangun generasi muda yang cerdas finansial dan berdaya saing,” kata Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, H. Fauzi Amro, yang turut hadir memberikan dukungan dalam kegiatan tersebut.

    Dalam kesempatan yang sama, turut diluncurkan Sultan Muda Privilege Card, inovasi layanan keuangan inklusif yang memberikan akses pembiayaan, pelatihan digital, dan jejaring usaha bagi generasi muda. Kartu ini menjadi bagian dari ekosistem Sultan Muda Sumsel Center (SMSC) — wadah kolaboratif antara OJK Sumsel dan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan untuk mewujudkan Gerakan 100.000 Sultan Muda, mencetak generasi muda yang cakap digital, berdaya saing, dan berjiwa wirausaha.

    “Sultan Muda Digination Run 2025 menjadi simbol gerakan Literasi Inklusi Keuangan yang dikemas secara kreatif untuk generasi muda. Melalui kegiatan ini, kami ingin menegaskan bahwa memahami keuangan, berinovasi secara digital, dan menjaga kesehatan dapat berjalan beriringan menuju masa depan Sumatera Selatan yang inklusif dan berdaya,” ujar Arifin Susanto, Kepala OJK Provinsi Sumatera Selatan.

    Ke depan, OJK Sumsel akan terus memperluas gerakan literasi dan inovasi keuangan digital melalui kolaborasi lintas sektor demi terwujudnya ekosistem keuangan yang inklusif dan berkelanjutan..

  • Gubernur Resmi Luncurkan Kartu Keanggotaan Sultan Muda untuk Dorong Kemandirian Ekonomi Pemuda

    Gubernur Resmi Luncurkan Kartu Keanggotaan Sultan Muda untuk Dorong Kemandirian Ekonomi Pemuda

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Gubernur Sumatera Selatan Dr. H. Herman Deru kembali meluncurkan inovasi besar bagi generasi muda Sumsel melalui Sultan Muda Privilege Card, Minggu (19/10/2025). Peluncuran ini menjadi puncak dari Sultan Muda Digination Festival 2025, hasil kolaborasi Pemerintah Provinsi Sumsel dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

    Kartu Sultan Muda bukan sekadar kartu keanggotaan, tetapi simbol lahirnya gerakan ekonomi kreatif berbasis generasi digital. Dilengkapi fitur e-money, kartu ini memungkinkan pemuda melakukan transaksi digital serta menjadi identitas resmi anggota komunitas Sultan Muda.

    Dalam sambutannya, Herman Deru menyebut peluncuran ini sebagai wujud nyata komitmen Pemerintah Provinsi dalam memberdayakan generasi muda menuju Indonesia Emas 2045. “Kemandirian ekonomi harus dimulai dari anak muda. Kita ingin mereka jadi pencipta, bukan penunggu kesempatan,” tegasnya.

    Menurut Herman Deru, kegiatan seperti Digination Run dan lomba digital merupakan simbol semangat kecepatan, kolaborasi, dan kreativitas pemuda Sumsel dalam menatap masa depan ekonomi digital.

    Ia mengajak seluruh stakeholder untuk mendukung gerakan Sultan Muda ini agar terus berkelanjutan, sehingga Sumsel dapat menjadi model pengembangan ekonomi berbasis generasi muda di tingkat nasional.

    Gerakan ini menargetkan 100.000 pemuda Sumsel bergabung dalam lima tahun ke depan untuk dilatih menjadi wirausahawan muda melalui pelatihan, mentoring, dan dukungan permodalan dari pemerintah dan sektor perbankan.

    Sebagai simbol peluncuran, Herman Deru menyerahkan secara simbolis 20 kartu Sultan Muda Privilege kepada pemuda terpilih yang telah aktif berwirausaha dan berinovasi di bidang digital.

    Kegiatan ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk Anggota DPR RI Komisi XI Fauzi Amro, yang menilai langkah tersebut sebagai inovasi cerdas untuk memperluas inklusi keuangan di daerah. “OJK akan terus mendukung agar gerakan seperti ini menjangkau lebih banyak pemuda di seluruh Sumatera Selatan,” katanya.

    Sementara itu, Kepala OJK Sumsel Arifin Susanto menyebut Digination Festival sebagai wadah aktualisasi anak muda di era teknologi. “Kami ingin memantik semangat inovasi, kreativitas, dan semangat digital yang bisa menggerakkan ekonomi daerah,” ujarnya.

    Festival yang berlangsung selama tiga hari ini menampilkan berbagai kegiatan seperti lomba e-sports, kompetisi robotik, seminar digital, dan lokakarya inovasi bisnis, yang diikuti lebih dari 2.900 peserta dari berbagai kabupaten/kota di Sumsel.

    Turut hadir dalam acara tersebut Komisioner OJK RI Hasan Fauzi, Sekda Sumsel Edward Candra, Ketua Kadin Sumsel Puri Andamas, serta sejumlah pimpinan perbankan Himbara dan OPD di lingkungan Pemprov Sumsel.

  • Wagub Sumsel Buka Sultan Muda Digination Fest 2025, Dorong Anak Muda Jadi Pelopor Inovasi Digital

    Wagub Sumsel Buka Sultan Muda Digination Fest 2025, Dorong Anak Muda Jadi Pelopor Inovasi Digital

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Wakil Gubernur Sumatera Selatan, H. Cik Ujang, secara resmi membuka acara Sultan Muda Digination Fest Piala Gubernur Sumsel 2025 di Gedung Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumsel, Jumat (17/10). Acara ini menjadi momentum penting bagi pemerintah daerah dalam mendorong lahirnya generasi muda yang kreatif, inovatif, dan berdaya saing di era digital.

    Dalam sambutannya, Cik Ujang menegaskan bahwa penguasaan teknologi informasi dan digitalisasi menjadi kunci utama kemajuan daerah di masa depan. Menurutnya, anak muda Sumsel harus siap menghadapi tantangan zaman dengan kemampuan berpikir kritis, berinovasi, dan memanfaatkan teknologi secara produktif.

    “Acara ini adalah wadah yang sangat strategis. Generasi muda Sumsel harus menjadi motor penggerak dalam menghadapi tantangan era digital. Kami berharap melalui festival ini akan lahir inovasi-inovasi yang memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah,” ujar Wagub.

    Cik Ujang juga menambahkan bahwa Pemerintah Provinsi Sumsel berkomitmen untuk menciptakan ekosistem yang mendukung kreativitas dan literasi digital di kalangan pemuda. Melalui kegiatan seperti Digination Fest, diharapkan muncul kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan dunia industri dalam memperkuat potensi digital daerah.

    Sementara itu, Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Selatan dalam kesempatan yang sama menyampaikan dukungan penuh terhadap kegiatan tersebut. Menurutnya, OJK memandang penting penguatan literasi keuangan dan digital bagi generasi muda agar lebih siap beradaptasi di tengah perubahan ekonomi global.

    “OJK mendorong generasi muda untuk tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pelaku yang mampu menciptakan solusi dan inovasi berbasis digital. Melalui festival ini, kami ingin membangun kesadaran tentang pentingnya literasi keuangan dan transformasi digital,” ungkap perwakilan OJK.

    Sultan Muda Digination Fest 2025 menghadirkan berbagai kegiatan menarik seperti talkshow inspiratif, kompetisi inovasi digital, serta pameran karya kreatif anak muda. Event ini diharapkan menjadi ruang aktualisasi dan kolaborasi bagi generasi muda Sumsel yang ingin berkontribusi melalui teknologi dan ide-ide kreatif.

    Kegiatan yang berlangsung meriah tersebut turut dihadiri oleh para kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), perwakilan industri keuangan, serta ratusan peserta muda dari berbagai kabupaten dan kota di Sumatera Selatan.

  • Peningkatan Akses Keuangan Daerah untuk Perkuat Program Prioritas Pemerintah

    Peningkatan Akses Keuangan Daerah untuk Perkuat Program Prioritas Pemerintah

    SUARAPUBLIK.ID, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian serta Kementerian Dalam Negeri terus memperkuat komitmen dalam memperluas akses keuangan di seluruh wilayah Indonesia. Upaya ini menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas sektor keuangan dan mendukung program prioritas pemerintah sesuai visi Asta Cita.

    Hal tersebut disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus, Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar, dan Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan OJK Friderica Widyasari Dewi dalam Rapat Koordinasi Nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (Rakornas TPAKD) 2025 di Jakarta, Jumat (10/10).

    Menko Airlangga menegaskan bahwa TPAKD memiliki peran penting karena inklusi keuangan merupakan indikator utama stabilitas ekonomi makro. Hal ini juga menjadi bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) serta Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD).

    “Inklusi keuangan juga menjadi perhatian global. Bahkan, Komite Inklusi Keuangan Dunia yang dipimpin Ratu Máxima turut menyoroti isu ini. Presiden Prabowo Subianto pun menekankan pentingnya inklusi keuangan dalam pertemuan bilateral di Belanda,” ujar Airlangga.

    Ia menambahkan, Presiden mengapresiasi capaian Dewan Nasional Keuangan Inklusif yang dinilai selaras dengan program Asta Cita. Ke depan, TPAKD diharapkan dapat memperluas dukungan terhadap agenda prioritas Presiden, seperti program makan bergizi gratis serta penguatan ekonomi rakyat melalui koperasi Merah Putih.

    Ketua Dewan Komisioner OJK, Mahendra Siregar, menegaskan bahwa OJK akan terus memperkuat peran TPAKD sebagai katalis pemerataan ekonomi nasional dengan membangun ekosistem akses keuangan di daerah secara berkelanjutan, terutama dalam pembiayaan sektor UMKM.

    Menurut Mahendra, terdapat empat langkah strategis yang terus didorong:

    1. Penguatan infrastruktur dan ekosistem keuangan digital, termasuk perluasan titik-titik akses keuangan.

    2. Peningkatan literasi dan inklusi keuangan, seiring pendalaman sektor keuangan dan perlindungan konsumen.

    3. Menjaga keberlanjutan kegiatan TPAKD, agar konsisten dan memberikan manfaat nyata bagi ekonomi daerah.

    4. Peningkatan kapasitas anggota TPAKD agar adaptif terhadap perubahan ekonomi dan inovasi keuangan.

    “Dengan implementasi roadmap yang kuat, setiap program di daerah dapat dilaksanakan secara terukur, terencana, dan dievaluasi secara transparan,” kata Mahendra.

    Sementara itu, Friderica Widyasari Dewi menekankan bahwa program TPAKD tidak hanya memperluas akses keuangan masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari strategi nasional mewujudkan Asta Cita Pemerintah.

    “TPAKD telah menjadi motor penggerak ekonomi daerah. Hingga kini, program Kredit/Pembiayaan Melawan Rentenir telah menyalurkan Rp46,71 triliun kepada 1,7 juta debitur, serta pembiayaan sektor pertanian sebesar Rp3,71 triliun kepada lebih dari 80 ribu debitur,” ungkap Friderica.

    Selain itu, program Satu Rekening Satu Pelajar telah mencatatkan 58,32 juta rekening (87% dari total pelajar Indonesia), sementara Laku Pandai telah menjangkau 72.353 desa dan membantu 16 juta masyarakat masuk ke sektor keuangan formal.

    Wakil Menteri Dalam Negeri, Akhmad Wiyagus, turut menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi antarlembaga dalam memperkuat ketahanan ekonomi daerah.

    “Kolaborasi nyata akan mendorong pemerataan pembangunan ekonomi. Rakyat kecil tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku utama pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.

    Kemendagri memastikan kebijakan TPAKD di pusat dan daerah berjalan selaras melalui penyusunan Roadmap TPAKD 2026–2030, yang diluncurkan dalam kegiatan ini. Roadmap tersebut akan menjadi acuan kebijakan baru bagi penguatan akses keuangan daerah, khususnya bagi UMKM.

    Rakornas TPAKD 2025 dihadiri oleh ratusan kepala daerah, perwakilan kementerian/lembaga, dan pelaku industri keuangan. Sejak diinisiasi pada 2016, TPAKD telah terbentuk di 38 provinsi dan 514 kabupaten/kota, dengan berbagai program unggulan seperti Kredit/Pembiayaan Melawan Rentenir (K/PMR), Kredit/Pembiayaan Sektor Prioritas (K/PSP), Simpanan Pelajar (SimPel), Simpanan Pemuda (SiMuda), serta Laku Pandai yang menjangkau hingga pelosok desa.

    Sebagai bagian dari rangkaian acara, OJK turut memberikan TPAKD Award 2025 sebagai bentuk apresiasi atas kontribusi nyata dalam memperluas akses keuangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

    Penerima TPAKD Terbaik Tingkat Provinsi:

    Wilayah Sumatera: Provinsi Sumatera Selatan

    Wilayah Jawa–Bali: Provinsi D.I. Yogyakarta

    Wilayah Kalimantan: Provinsi Kalimantan Barat

    Wilayah Sulawesi: Provinsi Sulawesi Selatan

    Wilayah Nusra, Maluku, dan Papua: Provinsi Nusa Tenggara Barat

    Penerima TPAKD Terbaik Tingkat Kabupaten/Kota:

    Wilayah Sumatera: Kabupaten Langkat, Kota Metro

    Wilayah Jawa–Bali: Kota Surabaya, Kabupaten Sumedang

    Wilayah Kalimantan: Kota Banjarmasin, Kabupaten Kapuas Hulu

    Wilayah Sulawesi: Kabupaten Maros, Kota Palu

    Wilayah Nusra, Maluku, dan Papua: Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Maluku Tengah

  • Capacity Building Koperasi Inklusif OJK Sumsel dan BNI Kanwil 03 Palembang Perkuat Peran Koperasi Merah Putih di Tingkat Kelurahan

    Capacity Building Koperasi Inklusif OJK Sumsel dan BNI Kanwil 03 Palembang Perkuat Peran Koperasi Merah Putih di Tingkat Kelurahan

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Selatan menggelar kegiatan Capacity Building Penguatan Akses Keuangan Inklusif bagi Koperasi Kelurahan Merah Putih di Kota Palembang. Kegiatan ini merupakan bagian dari strategi OJK Sumsel bersama BNI Kanwil 03 Palembang dalam memperluas literasi dan inklusi keuangan sekaligus mengakselerasi pemerataan akses pembiayaan bagi koperasi dan UMKM.

    Inisiatif tersebut sejalan dengan program nasional penguatan ekonomi kerakyatan serta arahan Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD).

    Kepala OJK Provinsi Sumsel, Arifin Susanto, menegaskan bahwa Koperasi Merah Putih merupakan simbol semangat ekonomi kerakyatan yang menjadi bagian dari Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden RI.

    “OJK mendukung penuh penguatan kelembagaan dan akses pembiayaan koperasi agar semakin mandiri, profesional, dan terhubung dengan sistem keuangan formal. Keuangan inklusif adalah pondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi berkeadilan dan berkelanjutan di Sumsel,” ujarnya.

    Senada, Pemimpin BNI Wilayah 03 Palembang, Zamzani, menegaskan komitmen BNI untuk terus membuka akses perbankan dan pembiayaan produktif bagi koperasi serta UMKM lokal.

    “BNI siap hadir bukan hanya sebagai penyalur pembiayaan, tetapi juga mitra pembina agar koperasi tumbuh sehat dan berkelanjutan melalui produk dan layanan perbankan yang inklusif,” katanya.

    Dukungan juga datang dari Pemerintah Kota Palembang. Staf Ahli Bidang Ekonomi, Pembangunan, dan Investasi, Riza Pahlevi, menekankan bahwa Pemkot berkomitmen mendampingi koperasi agar mampu meningkatkan tata kelola dan membuka ruang partisipasi masyarakat.

    “Koperasi ini dibangun dari dan untuk masyarakat. Pemerintah Kota siap bersinergi dalam mendukung pengembangan koperasi produktif,” tegasnya.

    Dalam sesi capacity building, peserta memperoleh materi tentang tata kelola koperasi, strategi pembiayaan produktif, literasi keuangan digital, serta simulasi perencanaan bisnis sederhana. Narasumber berasal dari kalangan perbankan, dinas koperasi, hingga pelaku koperasi yang telah sukses.

    Kegiatan ini diharapkan menjadi titik awal transformasi kelembagaan koperasi menuju model koperasi modern yang siap terintegrasi dengan ekosistem keuangan inklusif dan digital.

    Dengan semangat kolaborasi, OJK berharap Koperasi Merah Putih di tingkat kelurahan dapat menjadi model koperasi inklusif yang mendorong pemberdayaan ekonomi masyarakat dari akar rumput. Melalui pembiayaan yang adil, pendampingan kelembagaan, dan literasi berkelanjutan, koperasi ini diharapkan tumbuh menjadi lokomotif kesejahteraan warga sekaligus memperkuat struktur ekonomi lokal di Kota Palembang.

  • OJK Sumsel Gelar Sosialisasi Perdagangan Karbon untuk Sektor Jasa Keuangan dan Industri Daerah

    OJK Sumsel Gelar Sosialisasi Perdagangan Karbon untuk Sektor Jasa Keuangan dan Industri Daerah

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Direktorat Pengawasan Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon bersama OJK Provinsi Sumatera Selatan berkolaborasi dengan PT Bursa Efek Indonesia (IDXCarbon) menyelenggarakan Sosialisasi Perdagangan Karbon bagi Sektor Jasa Keuangan dan Pelaku Industri Daerah di Kota Palembang. Acara ini mengangkat tema “Mendorong Investasi Melalui Bursa Karbon dan Strategi Dekarbonisasi”.

    Kegiatan ini merupakan bagian dari strategi nasional program Asta Cita Pemerintah, yang menekankan pentingnya pengembangan kemandirian keamanan negara melalui swasembada energi, ekonomi kreatif, ekonomi hijau, dan ekonomi biru. Salah satu fokus utamanya adalah mendukung pengurangan emisi karbon dengan memperkuat pasar karbon domestik serta mendorong keterlibatan aktif pelaku industri daerah demi tercapainya target Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada 2060.

    Deputi Komisioner Pengawas Emiten, Transaksi Efek & Pemeriksaan Khusus OJK, I. B. Aditya Jayaantara, menegaskan pentingnya pemahaman mekanisme perdagangan karbon. “Perdagangan karbon melalui bursa karbon adalah instrumen strategis untuk memperkuat pembiayaan hijau dan menginternalisasi biaya emisi. Kami berharap pelaku industri dan sektor jasa keuangan dapat memanfaatkan peluang ekonomi berkelanjutan ini. OJK akan terus hadir mengembangkan, mengawasi, dan memperkuat kerangka pasar karbon yang kredibel dan transparan,” ujarnya.

    Kepala OJK Provinsi Sumatera Selatan, Arifin Susanto, menambahkan bahwa Sumsel memiliki posisi strategis dalam agenda transisi energi nasional. “Dengan potensi sumber daya alam yang besar, mulai dari tutupan hutan, lahan gambut, hingga energi terbarukan seperti PLTP dan biomassa, Sumsel berpeluang menjadi provinsi hijau unggulan di Indonesia. Melalui forum ini, kami ingin memperkuat sinergi antara regulator, pemerintah daerah, pelaku industri, dan akademisi demi percepatan ekonomi hijau di Sumsel,” ungkapnya.

    Sosialisasi ini juga bertujuan meningkatkan literasi, memperluas partisipasi, dan membangun dialog konstruktif antara regulator, sektor swasta, akademisi, serta praktisi terkait perdagangan karbon dan strategi dekarbonisasi. Palembang sendiri menjadi salah satu pusat ekonomi terbesar di Sumatera Selatan, dengan potensi proyek Pelaku Jasa Bursa Karbon (PJBK), khususnya di sektor perkebunan dan pengolahan limbah. Beberapa BUMN berskala besar yang berkantor pusat di Sumsel juga dinilai berpotensi aktif dalam transaksi perdagangan karbon.

    Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Iman Rahman, menekankan pentingnya kesiapan teknis dan institusional. “Sebagai penyelenggara bursa karbon melalui platform IDXCarbon, kami berkomitmen menyediakan infrastruktur perdagangan yang transparan, akuntabel, dan efisien. Kehadiran bursa karbon adalah langkah penting mendukung upaya nasional menuju NZE, sekaligus membuka peluang investasi berbasis keberlanjutan. Kami mengajak pelaku industri dan sektor jasa keuangan untuk aktif berpartisipasi dan menjadikan transisi energi sebagai bagian dari strategi bisnis,” jelasnya.

    Melalui sosialisasi ini, OJK berharap literasi pasar karbon di Sumsel semakin meningkat, partisipasi sektor jasa keuangan dan industri daerah semakin luas, serta investasi hijau semakin berkembang. Dengan mekanisme bursa karbon yang transparan dan berintegritas, Sumatera Selatan diharapkan dapat menjadi pelopor transformasi menuju ekonomi rendah karbon yang berkelanjutan di Indonesia.

  • OJK Dorong Perdagangan Karbon Daerah, Sumsel Dinilai Punya Potensi Besar

    OJK Dorong Perdagangan Karbon Daerah, Sumsel Dinilai Punya Potensi Besar

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG— Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama sejumlah lembaga strategis mendorong pemanfaatan potensi kredit karbon di daerah, khususnya Sumatera Selatan, melalui sosialisasi dan penguatan literasi mengenai mekanisme bursa karbon.

    Program ini merupakan agenda rutin yang melibatkan kerja sama antara OJK Pusat, OJK Daerah, Bursa Efek Indonesia (BEI), IDX Carbon, serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK).

    “Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan pemahaman masyarakat, pelaku usaha, investor, dan pemerintah daerah terkait potensi serta mekanisme perdagangan karbon di bursa,” ujar perwakilan Kantor Pusat OJK, Aditya Jaya Antara saat diwawancarai langsung pada, Kamis (25/9/2025).

    Aditya mengatakan daerah seperti Sumsel memiliki potensi besar dalam menghasilkan kredit karbon, terutama dari pengelolaan limbah produksi, limbah pertanian, dan perkebunan.

    “Seluruh potensi ini dapat dikonversi menjadi unit karbon yang bisa diperdagangkan. Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi juga tentang manfaat ekonomi langsung yang bisa dirasakan masyarakat,” katanya.

    Aditya Jaya Antara menegaskan bahwa kegiatan sosialisasi ini bertujuan menjadikan Sumatera Selatan sebagai salah satu model nasional dalam pengembangan bursa karbon berbasis masyarakat.

    “Kita ingin menjembatani gap literasi di masyarakat, pemerintah daerah, dan pelaku usaha terkait peluang besar dari sektor ini. Wilayah prioritas pengembangan saat ini adalah Lampung, Jambi, dan Palembang,” ucapnya.

    Ia juga menyebut kerja sama antar lembaga telah terjalin melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara OJK dan KLHK.

    “Kami optimistis, ke depan bursa karbon akan menjadi instrumen penting dalam mewujudkan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif,” imbuhnya.

    Sementara itu, Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia, Iman Rachman mengungkapkan menyampaikan bahwa bursa karbon Indonesia resmi diluncurkan pada 26 September 2023 dan hingga saat ini telah mencatatkan delapan proyek dengan total volume perdagangan sebesar 1,6 juta ton CO₂ ekuivalen senilai Rp80 miliar.

    “Supply karbon yang tersedia saat ini mencapai 3 juta ton CO₂ ekuivalen dan akan terus bertambah, terutama dari Sumatera Selatan,” ungkapnya.

    Ia menuturkan semua proses verifikasi dan validasi terhadap unit karbon dilakukan oleh KLH sebelum dapat diperdagangkan, dan fokus ke depan adalah memperluas jumlah investor dan pengguna jasa.

    “Awalnya hanya dua pengguna, sekarang sudah 130 pengguna aktif. Ini perkembangan yang sangat positif,” tuturnya.

    Di sisi lain, Direktur Tata Kelola Penerapan Nilai Ekonomi Karbon KLH, Wahyu menjelaskan pentingnya peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan berkelanjutan, salah satunya melalui skema perhutanan sosial.

    “Masyarakat adalah aktor utama dalam upaya kita menurunkan emisi. Mereka yang paling terdampak perubahan iklim, maka mereka pula yang harus menerima manfaat ekonomi secara langsung,” jelasnya.

    Menurutnya, saat ini terdapat lebih dari 40 proyek perhutanan sosial yang telah teridentifikasi dan siap masuk ke dalam mekanisme bursa karbon.

    Kendala sebelumnya terkait skema kredit kini mulai teratasi berkat kerja sama dengan lembaga internasional seperti Plan Vivo.

    “Di Jambi, misalnya, sudah ada proyek perhutanan sosial yang berpotensi memperoleh pendanaan hingga 70 juta dolar AS. Potensi nasional dari sektor ini bahkan diperkirakan mencapai 1,1 triliun dolar AS,” jelas Wahyu.

    Melalui pendekatan berbasis komunitas, masyarakat atau lembaga seperti koperasi, BUMDes, dan BUMD akan menjadi pemilik proyek karbon dan menerima langsung hasil perdagangan karbon.

    “Prosesnya mulai dari identifikasi lahan, pelatihan, pengukuran emisi, verifikasi, sertifikasi, lalu perdagangan di bursa. Setiap ton CO₂ yang berhasil dikurangi bisa dikonversi menjadi kredit karbon,” terangnya.

    Ia menegaskan keuntungan dari bursa karbon akan kembali ke masyarakat sebagai pemilik proyek, bukan melalui perantara.

    “Ini juga membuka peluang lapangan kerja hijau (green jobs) yang sangat besar ke depannya,” tegas dia.

  • Dorong Inovasi Produk Syariah OJK Sumsel Gelar Workshop Bersama BPRS se-Sumatera

    Dorong Inovasi Produk Syariah OJK Sumsel Gelar Workshop Bersama BPRS se-Sumatera

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Kantor OJK Provinsi Sumatera Selatan menyelenggarakan Workshop Implementasi Produk Unik Syariah bagi Industri BPRS selama dua hari, 22–23 September 2025, di Kota Palembang. Kegiatan ini diikuti oleh jajaran pimpinan dan pegawai BPRS dari berbagai wilayah Pulau Sumatera dan menjadi bagian dari upaya OJK dalam memperkuat kontribusi BPRS terhadap pengembangan ekonomi dan keuangan syariah nasional.

    Deputi Direktur Pengawasan LJK 1 OJK Provinsi Sumatera Selatan, Lina, menyampaikan, “BPRS memiliki kekuatan akar yang langsung bersentuhan dengan pelaku usaha kecil dan masyarakat. Karena itu, kami mendorong BPRS untuk mampu berinovasi dalam pengembangan produk syariah yang unik, relevan, dan tepat sasaran. Workshop ini adalah ruang strategis untuk bertukar gagasan, memperkuat sinergi, dan menyerap pengalaman lintas wilayah agar daya saing BPRS semakin meningkat.”

    Senada dengan itu, Kepala Direktorat Pengaturan dan Pengembangan Perbankan Syariah OJK, Nyimas Rohmah, dalam sambutannya menyampaikan bahwa keberadaan BPRS harus mampu menjawab tantangan transformasi industri keuangan di era digital, tanpa meninggalkan prinsip-prinsip syariah. “OJK mendorong lahirnya produk-produk inovatif yang tidak hanya berbasis kepatuhan syariah, tapi juga adaptif terhadap kebutuhan masyarakat modern. BPRS harus terus meningkatkan kapasitas dan menjalin kolaborasi agar tetap relevan dan kontributif dalam ekosistem ekonomi nasional.”

    Melalui workshop ini, para peserta tidak hanya mendapatkan pemahaman teknis tentang desain produk syariah, tetapi juga praktik terbaik (best practices) dalam pengelolaan risiko, segmentasi nasabah, serta pemanfaatan teknologi dalam pengembangan layanan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana silaturahmi dan konsolidasi antar BPRS se-Sumatera untuk memperkuat peran strategis lembaga keuangan syariah di tingkat lokal.

    OJK berharap kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata dalam meningkatkan kualitas dan keberlanjutan bisnis BPRS. Dengan inovasi produk yang tepat dan manajemen yang kuat, BPRS diyakini mampu menjadi pilar utama dalam memperluas inklusi keuangan syariah serta memperkuat ketahanan ekonomi umat di seluruh penjuru Indonesia.

  • Tingkatkan Kepercayaan Publik, OJK Terbitkan Aturan Baru Transparansi

    Tingkatkan Kepercayaan Publik, OJK Terbitkan Aturan Baru Transparansi

    SUARAPUBLIK.ID, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menerbitkan Peraturan OJK Nomor 18 Tahun 2025 tentang Transparansi dan Publikasi Laporan Bank sebagai langkah strategis memperkuat disiplin pasar, meningkatkan keterbukaan informasi, dan memperkokoh kepercayaan publik terhadap industri perbankan.

    Aturan baru ini mendorong bank menyajikan laporan keuangan dan informasi material secara lebih transparan, akurat, terkini, dan dapat diperbandingkan sesuai praktik terbaik internasional.

    Melalui penerbitan POJK ini, OJK menegaskan komitmennya untuk memperkuat tata kelola perbankan, meningkatkan keterbukaan informasi, dan menjaga stabilitas sistem keuangan. Transparansi yang lebih baik diharapkan dapat memperkuat daya saing perbankan nasional serta meningkatkan kepercayaan publik terhadap sektor jasa keuangan Indonesia.

    POJK ini merupakan penyempurnaan ketentuan yang sebelumnya diatur dalam POJK Nomor 37/POJK.03/2019 yang disesuaikan dengan perkembangan standar internasional dan dinamika hukum nasional.

    Penyusunan POJK juga mempertimbangkan masukan dari berbagai pihak, seperti perbankan dan asosiasi, LJK dan asosiasi di luar perbankan, investor, akademisi, regulator dan stakeholder lainnya, rekomendasi Basel Committee on Banking Supervision (BCBS), Islamic Financial Services Board (IFSB), serta tindak lanjut hasil Financial Sector Assessment Program (FSAP) dan Reports on the Observance of Standards and Codes – Accounting and Auditing (ROSC A&A). Dengan demikian, POJK ini tidak hanya mengadopsi praktik terbaik internasional, tetapi juga memperhatikan kepentingan nasional (best fit).

    Melalui POJK ini, Bank diwajibkan menyusun, mengumumkan, dan/atau menyampaikan laporan publikasi kepada masyarakat dan kepada OJK. Laporan dipublikasikan meliputi:

    1) laporan keuangan dan informasi kinerja keuangan;

    2) laporan eksposur risiko dan permodalan;

    3) laporan informasi atau fakta material;

    4) laporan suku bunga dasar kredit, dan

    5) laporan lain sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang wajib dipublikasikan (termasuk laporan keberlanjutan, laporan tata kelola terintegrasi bagi konglomerasi keuangan, laporan keuangan emiten dan/atau perusahaan publik).

    POJK ini juga memperkuat aspek integritas dan kompetensi penyusun laporan keuangan melalui kewajiban memiliki sertifikasi Chartered Accountant (CA) level tertentu, serta memastikan keterlibatan direksi, dewan komisaris, dan dewan pengawas syariah dalam pengawasan. Bagi Bank yang tidak mematuhi ketentuan ini dapat dikenai sanksi administratif baik denda maupun non-denda.

    Ketentuan ini berlaku bagi bank umum konvensional, bank umum syariah, unit usaha syariah, serta kantor cabang dari bank yang berkedudukan di luar negeri. POJK mulai berlaku setelah enam bulan terhitung sejak diundangkan, yaitu pada Februari 2026. Dengan berlakunya aturan baru ini, POJK Nomor 37/POJK.03/2019 dicabut dan dinyatakan tidak berlaku, meskipun ketentuan pelaksanaannya masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam POJK ini

  • OJK Sumsel Pastikan Layanan Sektor Jasa Keuangan (SJK) Berjalan Normal di Tengah Dinamika Aktivitas Masyarakat Sumsel

    OJK Sumsel Pastikan Layanan Sektor Jasa Keuangan (SJK) Berjalan Normal di Tengah Dinamika Aktivitas Masyarakat Sumsel

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Sumatera Selatan (OJK Sumsel) memastikan seluruh pelayanan Jasa Keuangan kepada Masyarakat tetap berjalan normal sesuai prosedur di tengah dinamika aktivitas penyampaian aspirasi yang berlangsung di wilayah Sumsel, baik layanan publik di sektor jasa keuangan maupun layanan publik di OJK Sumsel. Hal ini mencerminkan komitmen OJK Sumsel untuk senantiasa memberikan kepastian, keamanan, dan kenyamanan bagi masyarakat yang membutuhkan layanan.

    Kepala OJK Provinsi Sumatera Selatan, Arifin Susanto, menegaskan, “Kami memastikan bahwa seluruh pelayanan Sektor Jasa Keuangan di Sumatera Selatan, baik perbankan maupun non perbankan tetap berjalan normal dan dapat diakses masyarakat dengan baik. Sejalan dengan itu, OJK Sumsel juga tetap memberikan pelayanan publik secara normal meliputi permintaan informasi, pengaduan konsumen, dan permintaan data informasi debitur melalui SLIK. OJK Sumsel berkomitmen untuk selalu menjaga Stabilitas Sektor Jasa Keuangan sekaligus melindungi kepentingan konsumen, agar masyarakat mendapatkan pelayanan yang optimal di tengah berbagai dinamika yang berkembang.”

    OJK Sumsel juga terus berkoordinasi dengan aparat keamanan dan pihak terkait untuk memastikan kenyamanan dan keselamatan masyarakat Sumsel. OJK mengimbau agar masyarakat yang ingin mengakses layanan tetap tenang dan dapat memanfaatkan berbagai saluran resmi, baik melalui kanal daring maupun secara tatap muka sesuai prosedur yang berlaku.

    OJK Sumsel optimis bahwa sektor jasa keuangan akan tetap menjadi pilar penting pembangunan ekonomi daerah, dengan layanan yang terjaga kualitasnya meskipun di tengah dinamika sosial yang berkembang.

  • Road to Sultan Muda DIGINATION RUN 2025: OJK Sumsel dan Pemprov Sumsel Gelar Warming Up Bersama Runners Industri Jasa Keuangan

    Road to Sultan Muda DIGINATION RUN 2025: OJK Sumsel dan Pemprov Sumsel Gelar Warming Up Bersama Runners Industri Jasa Keuangan

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Selatan bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan menggelar kegiatan Warming Up – Road to Sultan Muda DIGINATION Run 2025, Minggu (24/8). Kegiatan ini diikuti oleh 200 pelari dari kalangan Runners Industri Jasa Keuangan (IJK) Sumsel, sekaligus menandai peluncuran resmi Komunitas IJK Runners Sumatera Selatan. Kegiatan Warming Up ini merupakan bagian penting dari rangkaian Sultan Muda DIGINATION FEST 2025, yang puncaknya akan digelar pada 14 September 2025 di Lapangan DPRD Provinsi Sumsel. Selain menjaga kebugaran jasmani, kegiatan ini juga menjadi simbol kekompakan IJK dalam mendukung semangat Sultan Muda Sumsel menuju era digital yang sehat, inovatif, dan inklusif.

    Kepala Direktorat Pengawasan Perilaku PUJK, Edukasi, Pelindungan Konsumen, dan Layanan Manajemen Strategis OJK Provinsi Sumsel, Tito Adji Siswantoro, menyampaikan apresiasi atas antusiasme para Insan IJK Sumsel dalam menyemarakkan kegiatan ini. “OJK berkomitmen mendukung Pemprov Sumsel mengakselerasi pencapaian Program 100.000 Sultan Muda. Berkomitmen menghadirkan ekosistem sektor jasa keuangan yang sehat tidak hanya melalui regulasi dan pengawasan, tetapi juga lewat gaya hidup sehat dan kebersamaan. Melalui komunitas IJK Runners, kita menegaskan bahwa semangat sportivitas, kebugaran, dan kolaborasi merupakan nilai penting yang juga menopang ketangguhan sektor jasa keuangan Sumsel ke depan,” ujarnya.

    Senada dengan itu, mewakili Gubernur Sumatera Selatan, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumatera Selatan, Amiruddin, menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam mendukung pembangunan ekonomi daerah. “Kami menyambut baik sinergi dan kolaborasi selama ini antara OJK, Pemprov Sumsel, dan IJK khususnya dalam mendukung Program 100.000 Sultan Muda yang dicanangkan Bapak Gubernur Sumsel. Dengan semangat kebersamaan ini, kami percaya kegiatan Warming Up hari ini dapat menjadi momentum memperkuat solidaritas, meningkatkan produktivitas, menuju kesuksesan Sultan Muda DIGINATION RUN 2025,” ungkapnya.

    Kegiatan Warming Up Run ini berlangsung meriah dengan rute sepanjang 5 (lima) kilometer di pusat Kota Palembang, disertai suasana kebersamaan antar peserta yang penuh energi positif. Ke depan, OJK Sumsel bersama Pemprov Sumsel berharap kegiatan ini semakin memantik semangat menuju acara puncak Sultan Muda DIGINATION RUN 2025. Budaya yang sehat, solid, dan kolaboratif merupakan faktor penting untuk terciptanya ekosistem keuangan yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan di Sumatera Selatan.

  • OJK Sumsel dan OJK Institute Angkat Peran AI dalam Cetak Pemimpin Masa Depan

    OJK Sumsel dan OJK Institute Angkat Peran AI dalam Cetak Pemimpin Masa Depan

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Selatan bersama OJK Institute menggelar kegiatan OJK Berbagi 2025 bertema “Leading with Intelligence: Artificial Intelligence dan Kepemimpinan dalam Sektor Jasa Keuangan” di Kantor OJK Provinsi Sumatera Selatan, Selasa (12/8).

    Kegiatan ini bertujuan memberikan wawasan kepada para akademisi mengenai peran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam membentuk kepemimpinan yang adaptif, inovatif, dan berintegritas di era transformasi digital.

    Kepala OJK Provinsi Sumatera Selatan, Arifin Susanto, dalam sambutannya menegaskan bahwa penguasaan teknologi merupakan keterampilan penting bagi calon pemimpin masa depan, khususnya di sektor jasa keuangan.

    “Kecerdasan buatan bukan hanya sekadar inovasi teknologi, tetapi juga instrumen strategis untuk membangun kepemimpinan yang tangguh, responsif, dan berorientasi pada solusi. Melalui kegiatan ini, kami berharap para dosen dan mahasiswa dapat mengintegrasikan wawasan tentang AI ke dalam pembelajaran dan pengembangan diri, sehingga mampu menjadi agen perubahan di Sumatera Selatan,” ujar Arifin.

    Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari OJK Institute, yakni Direktur Kelompok Spesialis Risat dan Widyaiswara, Bayu Bandono dan Endang Nuryadin. Mereka membawakan sesi berbagi pengetahuan, diskusi interaktif, serta studi kasus yang relevan dengan tantangan dunia kerja di era digital.

    Para peserta memperoleh pemahaman konkret mengenai penerapan AI yang etis, aman, dan berdampak positif bagi penguatan industri jasa keuangan. Mereka juga mendapatkan wawasan tentang bagaimana teknologi ini dapat dimanfaatkan untuk mendukung literasi keuangan, inklusi, dan perlindungan konsumen.

    Ke depan, OJK Provinsi Sumatera Selatan berkomitmen memperluas kolaborasi dengan perguruan tinggi dalam membangun kapasitas sumber daya manusia yang siap menghadapi disrupsi teknologi.

    Semangat belajar dan jejaring kolaborasi yang terbangun melalui OJK Berbagi 2025 diharapkan menjadi fondasi terciptanya ekosistem keuangan yang inovatif, inklusif, dan berdaya saing global.

    Langkah ini juga diharapkan mendorong generasi muda Sumatera Selatan menjadi pemimpin masa depan yang cerdas, berintegritas, dan mampu memanfaatkan teknologi secara bijak demi kemajuan sektor jasa keuangan dan perekonomian daerah.

  • Sultan Muda Goes to Musi Raya: Bangun Ekosistem Keuangan Inklusif di Daerah

    Sultan Muda Goes to Musi Raya: Bangun Ekosistem Keuangan Inklusif di Daerah

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Selatan bersama Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, pemerintah kabupaten/kota, dan pelaku industri jasa keuangan menyelenggarakan kegiatan Sultan Muda Goes to Musi Raya, Kabupaten Musi Rawas, Musi Rawas Utara, dan Kota Lubuklinggau pada tanggal 29 s.d. 31 Juli 2025.

    Program ini merupakan bagian dari implementasi Program 100.000 Sultan Muda serta kelanjutan peluncuran Sultan Muda Sumsel Center (SMSC) dan khusus pada Kota Lubuklinggau terdapat tambahan Program Sumsel Religius Berekonomi Syariah yang bertujuan memperkuat literasi keuangan dan pemberdayaan UMKM.

    Kegiatan ini merupakan bentuk sinergi antara OJK, Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), pemerintah daerah, dan pelaku industri jasa keuangan dalam memperluas akses keuangan masyarakat.

    Melalui edukasi keuangan, business matching, dan penguatan akses pembiayaan berbasis potensi lokal, kegiatan ini dirancang untuk menjangkau langsung pelaku UMKM dan generasi muda, termasuk yang berada di kawasan perdesaan dan belum sepenuhnya terjangkau layanan keuangan formal.

    Turut hadir dalam kegiatan ini Asisten Direktur Pengawasan Perilaku PUJK dan EPK OJK Provinsi Sumatera Selatan, Abdul Muin Akmal Padang, bersama perwakilan TPAKD kabupaten/kota, dinas koperasi dan UMKM, serta pelaku industri jasa keuangan. Kegiatan ini juga menghadirkan sesi penyuluhan pembiayaan, edukasi pelindungan dari aktivitas keuangan ilegal, dan koneksi langsung antara pelaku usaha dengan lembaga keuangan.

    OJK Sumsel berkomitmen untuk terus membangun ekosistem keuangan yang inklusif dan berkelanjutan, khususnya di wilayah perdesaan yang masih memiliki tantangan akses dan literasi. Melalui penguatan peran TPAKD dan kolaborasi lintas sektor, OJK mendorong pertumbuhan pelaku usaha yang tangguh, UMKM yang naik kelas, serta lahirnya wirausaha muda yang adaptif guna mendukung pertumbuhan ekonomi daerah secara merata hingga ke pelosok Sumatera Selatan.

  • Gen Z Sumsel Siap Jadi Investor Masa Depan, BEI Bersama OJK Laksanakan Kuliah Umum Pasar Modal di Universitas Bina Darma

    Gen Z Sumsel Siap Jadi Investor Masa Depan, BEI Bersama OJK Laksanakan Kuliah Umum Pasar Modal di Universitas Bina Darma

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Dalam rangka meningkatkan Literasi dan Inklusi Keuangan serta mendorong partisipasi generasi muda khususnya investasi aman di Pasar Modal, Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyelenggarakan Kuliah Umum dengan tema “Kupas Tuntas Strategi Investasi Pasar Modal Ala Gen Z”, bertempat di Universitas Bina Darma Palembang. Kegiatan ini merupakan upaya berkelanjutan untuk meningkatkan jumlah investor muda yang berwawasan digital serta mampu menjadi agen perubahan dalam membangun industri jasa keuangan yang inklusif dan berkelanjutan.

    Dalam sambutannya, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon merangkap Anggota Dewan Komisioner OJK RI, Inarno Djajadi menyampaikan bahwa “Tema kita hari ini bukan hanya tentang berinvestasi, namun juga tentang sinergi dalam berinvestasi di Pasar Modal Indonesia. Pasar Modal bukan sekedar tempat transaksi, tetapi sebuah ekosistem yang terdapat regulator, pelaku industri, investor, akademisi, dan tentunya para mahasiswa. Semua harus dapat bersinergi bersama agar tercipta Pasar Modal yang inklusif, stabil, dan berkelanjutan”.

    Menanggapi Inarno, Wakil Rektor Universitas Bina Darma, Edi Surya Negara mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi kepada BEI-OJK yang telah melaksanakan acara kuliah umum. Edi mengharapkan kegiatan kuliah umum menjadi momentum strategis untuk menanamkan semangat literasi keuangan sejak dini kepada mahasiswa. Selain itu, Edi juga menyampaikan bahwa sinergi ini merupakan wujud nyata kolaborasi dunia pendidikan dan regulator dalam mencetak generasi yang unggul, adaptif, dan siap berkontribusi bagi masyarakat.

    Kegiatan kuliah umum menghadirkan narasumber utama Direktur Utama BEI Iman Rachman dengan tema “Kupas Tuntas Strategi Investasi Pasar Modal Ala Gen Z”. Materi ini diharapkan memberikan insight kepada generasi muda bahwa Gen Z tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga harus menjadi pelaku aktif dalam pembangunan ekonomi nasional melalui pemahaman terhadap instrumen keuangan yang sehat dan berizin. Mahasiswa harus berani mengambil peran lebih besar dalam membangun masa depan keuangan yang lebih baik dan meningkatkan kewaspadaan terhadap investasi ilegal yang ditawarkan pihak-pihak tidak bertanggung jawab.

    Gen Z Sumsel diharapkan semakin memiliki awareness mengenai pentingnya memahami produk dan fitur, hak dan kewajiban, serta manfaat dan risiko, sehingga mereka dapat menjadi kepanjangan tangan OJK menjadi duta literasi keuangan di lingkungan sekitarnya.

  • Kick Off Digination Fest 2025 Dimulai, Sumsel Siapkan Generasi Sultan Muda Melek Digital

    Kick Off Digination Fest 2025 Dimulai, Sumsel Siapkan Generasi Sultan Muda Melek Digital

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Langkah besar menuju penguatan ekonomi digital di kalangan generasi muda resmi dimulai. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sumsel secara resmi meluncurkan Kick Off Sultan Muda DIGINATION FEST – Piala Gubernur Sumsel 2025. Kegiatan ini merupakan pembuka dari rangkaian acara puncak yang akan digelar pada 12–14 September 2025 mendatang.

    DIGINATION FEST dirancang sebagai ruang akselerasi literasi keuangan digital dan penguatan kewirausahaan muda. Ajang ini sekaligus mendukung penuh program unggulan Gubernur Sumsel yakni 100.000 Sultan Muda, yang bertujuan menciptakan generasi mandiri dan berdaya saing tinggi di era digital.

    Gubernur Sumatera Selatan, Dr. H. Herman Deru, SH, MM, dalam sambutannya menekankan pentingnya keberanian generasi muda untuk bermimpi dan bertindak nyata. Menurutnya, festival ini menjadi contoh konkret bagaimana transformasi digital dapat dimanfaatkan untuk memperluas kapasitas dan daya saing pemuda daerah.

    “Saya apresiasi setinggi-tingginya kepada OJK Sumsel yang mendukung penuh program 100.000 Sultan Muda. Festival ini adalah wujud nyata bahwa anak muda bisa tumbuh besar melalui inovasi dan pemanfaatan teknologi. Mereka harus cepat, kreatif, dan kontributif bagi Sumsel,” ujar Gubernur.

    Kegiatan ini tidak hanya ceremonial. Berbagai rangkaian acara seperti Summit, Competition, Entrepreneur Expo, Experience Zone, dan DIGINATION Run disiapkan untuk mengasah keterampilan, kreativitas, dan kolaborasi lintas sektor. Semua kegiatan tersebut akan memperebutkan Piala Gubernur Sumsel 2025.

    Kepala OJK Provinsi Sumsel, Arifin Susanto, menyebut DIGINATION FEST sebagai bagian dari strategi besar membangun ekosistem keuangan digital yang inklusif dan adaptif. Ia berharap kegiatan ini mampu menanamkan pemahaman mendalam tentang pengelolaan keuangan dan peluang ekonomi berbasis teknologi.

    “Kami ingin menciptakan ruang kolaboratif, di mana pelajar, mahasiswa, dan komunitas muda bisa belajar, mencoba, dan berinovasi. Semangat ini harus menjadi gerakan bersama demi masa depan keuangan Sumsel yang inklusif dan kuat,” ungkap Arifin.

    Lebih dari sekadar festival, kegiatan ini juga menjadi medium membangun jejaring antara pemerintah, sektor keuangan, pelaku industri, dan pemuda kreatif. Kolaborasi ini diyakini mampu mendorong pertumbuhan ekonomi baru berbasis inovasi dan keberlanjutan.

    Arifin pun mengajak masyarakat, khususnya kalangan muda dan komunitas olahraga lari, untuk ikut serta dalam acara puncak Sultan Muda DIGINATION RUN pada 14 September 2025. Informasi lengkap dan pendaftaran acara bisa dipantau melalui akun Instagram resmi @ojk_sumbagsel dan @sultanmudarun.

  • OJK Sumsel Babel Gelar Sultan Muda Digination Festival Pertama di Palembang

    OJK Sumsel Babel Gelar Sultan Muda Digination Festival Pertama di Palembang

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Selatan dan Bangka Belitung (Sumsel Babel) bakal menggelar ajang perdana Sultan Muda Digination Festival pada 12–14 September 2025 di Kota Palembang. Festival ini akan menjadi sarana edukasi, hiburan, dan kompetisi yang dikemas untuk mendorong lahirnya generasi muda digital yang inklusif secara finansial.

    Dengan mengusung tema “Memberdayakan Generasi Digital, Mendorong Inklusi Keuangan, Berinovasi untuk Kemajuan Sumsel”, kegiatan ini diharapkan mampu mencetak sedikitnya 10.000 Sultan Muda  sebutan untuk generasi muda yang cakap digital dan melek finansial.

    Kepala OJK Sumsel Babel, Arifin Susanto, menjelaskan bahwa festival ini merupakan inisiatif strategis untuk memperluas literasi dan inklusi keuangan secara kreatif di kalangan anak muda. “Kami ingin membentuk generasi yang tidak hanya melek digital, tetapi juga paham bagaimana mengelola keuangan dan melindungi diri sebagai konsumen jasa keuangan,” ujar Arifin.

    Festival ini akan diramaikan oleh beragam kegiatan menarik seperti Sultan Muda Digination Summit, Digination Competition, Entrepreneur Expo, dan Experience Zone, yang akan menampilkan karya-karya serta inovasi anak muda. Tak hanya itu, akan hadir juga booth edukasi, zona permainan, hiburan musik, dan pameran teknologi.

    Puncak acara akan digelar pada 14 September 2025 melalui OJK Run 5K yang mengambil titik start di Halaman DPRD Sumsel dan melewati Kantor OJK Sumsel Babel. Peserta lari akan memperebutkan berbagai hadiah menarik, termasuk sepeda motor dan piala dari Gubernur Sumsel. Biaya pendaftaran hanya sebesar Rp125.000 untuk peserta umum.

    Direktur Pengawasan PUJK, Edukasi, Perlindungan Konsumen, dan Layanan Masyarakat Sumsel Babel, Tito Adji Siswantoro, menambahkan bahwa program ini juga menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antar-regulator dalam memberikan perlindungan konsumen yang berkelanjutan.

    “Edukasi keuangan tidak bisa lagi dilakukan dengan cara konvensional. Kami percaya pendekatan kolaboratif dan berbasis pengalaman langsung seperti Digination Festival akan lebih efektif menjangkau anak muda,” tegas Tito.

    Ajang ini juga akan menggelar berbagai kompetisi yang diminati generasi muda, seperti lomba robotik, poster digital, dan e-sport Mobile Legends, melanjutkan antusiasme tinggi dari tahun sebelumnya.

  • Sinergi OJK dan Pemerintah Kota, Dorong Pemberdayaan UMKM Melalui Program “Palembang Berdaya, Palembang Sejahtera”

    Sinergi OJK dan Pemerintah Kota, Dorong Pemberdayaan UMKM Melalui Program “Palembang Berdaya, Palembang Sejahtera”

    PALEMBANG,- Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sumatera Selatan melakukan audiensi bersama Wali Kota Palembang, Rabu (16/7/2025).

    Pertemuan yang berlangsung di Ruang Audiensi Wali Kota Lantai 8 ini dilakukan untuk terus berkomitmen membangun kesejahteraan masyarakat melalui program Palembang Berdaya Palembang Sejahtera.

    Program ini dirancang untuk memberdayakan masyarakat secara menyeluruh, khususnya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah.

    Dalam berbagai kegiatan yang dilaksanakan, program ini mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama memberdayakan UMKM lokal.

    Fokus utama program meliputi permodalan, pemasaran, serta peningkatan kualitas kemasan produk UMKM agar lebih kompetitif di pasar.

    “UMKM di Palembang perlu kita dorong dan dukung, tidak hanya akses permodalan, tapi juga dengan edukasi dan pendampingan.

    OJK siap melalukan kolaborasi diantaranya tempat sosialisasi, dan konsolidasi agar UMKM bisa lebih terorganisir dan berkembang,” Ujar Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sumatera Selatan, Arifin Susanto.

    Dalam programnya, OJK menyoroti pentingnya kemasan dan branding bagi UMKM lokal, khususnya komoditas unggulan seperti kopi.

    Menurutnya, meski Palembang dikenal sebagai salah satu penghasil kopi, justru daerah lain yang lebih dikenal namanya di pasar.

    “Kemasan itu sangat berpengaruh kuat. Kita di Palembang sebagai penghasil kopi, tapi justru daerah sebelah yang dikenal. Ini perlu kita dorong bersama agar kopi Palembang bisa lebih dikenal luas,” ujarnya.

    Untuk program Cerdas, OJK siap berkolaborasi dengan program Sultan Muda milik Pemerintah Kota Palembang.

    “Kami telah siapkan satu lantai khusus sebagai Sultan Muda Center. Di sana tersedia booth camp, workshop, hingga ruang inkubasi yang bisa dikoordinasikan dengan Dinas Koperasi dan UMKM,” jelasnya.

    OJK juga berencana mendukung penyelenggaraan kompetisi inkubasi bisnis bagi anak muda.

    Dengan konsep gedung terbuka yang telah mendapatkan sertifikasi Green Building Gold, ruang tersebut sangat memungkinkan menjadi pusat pelatihan kewirausahaan muda.

    “Konsep open space kami memungkinkan berbagai kegiatan seperti pelatihan UMKM dan inkubasi bisnis yang sejalan dengan program Cerdas dari Pak Wali Kota,” tambahnya.

    Sementara dalam program Peduli, OJK mengapresiasi langkah Pemerintah Kota Palembang dalam memberikan perhatian terhadap UMKM.

    “Kami siap mendidik pelaku UMKM dalam digitalisasi. OJK memiliki laboratorium digital dan AI, serta pelatihan teknologi digital khususnya untuk pemasaran tanpa biaya mahal,” katanya.

    Sementara itu, Wali Kota Palembang Ratu Dewa menyatakan komitmennya untuk memperkuat peran UMKM dan generasi muda di Palembang melalui sinergi program “Berdaya, Cerdas, dan sejahtera” yang digagas Pemerintah Kota Palembang.

    Dengan sinergi yang kuat antara OJK dan Pemerintah Kota Palembang, diharapkan potensi UMKM lokal dan semangat kewirausahaan anak muda bisa terus tumbuh dan berkembang.

    “Menuju Palembang yang lebih sejahtera dan berdaya saing,” tutupnya.

  • OJK Sumsel Perkuat Akses Keuangan bagi Penyandang Disabilitas

    OJK Sumsel Perkuat Akses Keuangan bagi Penyandang Disabilitas

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyelenggarakan kegiatan Sosialisasi Pedoman Akses Pelayanan Keuangan untuk Disabilitas Berdaya (Pedoman SETARA) dan Pelatihan Sensitivitas Layanan bagi Pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) bertempat di Kantor OJK Provinsi Sumatera Selatan. Kegiatan ini merupakan langkah konkret untuk mendukung kebijakan Literasi dan Inklusi Keuangan yang juga menjadi salah satu kebijakan Prioritas Pemerintah dalam Asta Cita, serta memastikan bahwa penyandang disabilitas memperoleh akses ke layanan keuangan secara adil, setara, dan bermartabat.

    Kepala OJK Provinsi Sumatera Selatan, Arifin Susanto dalam sambutannya menyampaikan Pedoman SETARA disusun sebagai panduan praktis bagi seluruh PUJK untuk memastikan pelayanan yang ramah dan inklusif bagi penyandang disabilitas di semua titik perjalanan konsumen, mulai dari pembukaan rekening, transaksi, hingga penanganan pengaduan.

    “Dengan sosialisasi dan pelatihan ini, kami ingin membangun kesadaran dan meminta kesiapan industri jasa keuangan dalam mewujudkan layanan keuangan yang tidak diskriminatif dan menjangkau seluruh lapisan masyarakat,” katanya.

    Kegiatan ini juga diisi dengan pelatihan sensitivitas layanan oleh fasilitator dari SIGAB (Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel), agar pelaku usaha jasa keuangan dapat lebih memahami perspektif disabilitas dan memberikan pengalaman layanan yang inklusif. Berdasarkan data Regsosek 2022, dari 125 ribu penyandang disabilitas berada di Sumatera Selatan, baru 25% yang memiliki rekening bank. Oleh karena itu, keterlibatan PUJK dalam menerapkan Pedoman SETARA dapat dijadikan sebagai rujukan dan pelatihan sensitivitas sebagai bekal dalam memberikan pelayanan yang lebih empatik, inklusif, dan mendukung kemandirian finansial bagi seluruh lapisan masyarakat, termasuk penyandang disabilitas khususnya di Provinsi di Sumatera Selatan.

    Dengan terlaksananya kegiatan ini, diharapkan agar seluruh pemangku kepentingan, khususnya PUJK, lebih aktif menerapkan prinsip Literasi dan Inklusi Keuangan dalam setiap layanan dan kebijakannya. Pedoman SETARA bukan hanya dokumen kebijakan, tetapi juga komitmen moral untuk memastikan bahwa tidak ada masyarakat yang tertinggal dalam akses keuangan  no one left behind. Semangat kolaboratif ini diharapkan mampu mendorong transformasi sektor jasa keuangan menjadi lebih adil, humanis, dan inklusif untuk semua.

  • Pemuda Melek Finansial, OJK dan Dispora Sumsel Siapkan Generasi “Sultan Muda” Digital

    Pemuda Melek Finansial, OJK dan Dispora Sumsel Siapkan Generasi “Sultan Muda” Digital

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Generasi muda Sumatera Selatan didorong untuk tidak hanya unggul dalam olahraga dan kepemimpinan, tetapi juga cakap dalam mengelola keuangan serta peka terhadap perkembangan teknologi digital. Hal ini tercermin dalam kolaborasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Selatan dan Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sumsel melalui kegiatan bertajuk “Sultan Muda Sumsel Center (SMSC) x Duta PORA Sumsel 2025.”

    Kegiatan yang diikuti para finalis Duta Pemuda dan Olahraga (PORA) Sumsel 2025 ini menjadi wadah strategis untuk memperkuat kapasitas generasi muda dalam bidang literasi keuangan, inklusi digital, dan kewirausahaan. Para peserta disiapkan menjadi agen perubahan yang tidak hanya karismatik di bidang kepemudaan, tetapi juga cerdas dalam menghadapi tantangan ekonomi dan teknologi.

    Kepala OJK Provinsi Sumsel, Arifin Susanto, menjelaskan pentingnya membekali generasi muda dengan kemampuan finansial sejak dini. Ia menilai, pemuda yang paham pengelolaan keuangan dan risiko digital akan lebih siap menghadapi realitas kehidupan masa kini.

    “Duta PORA diharapkan mampu menjadi figur pemuda yang tangguh secara finansial dan adaptif terhadap era digital. Mereka akan menjadi role model yang mampu menginspirasi pemuda lainnya untuk tidak hanya aktif secara fisik, tetapi juga cerdas secara ekonomi,” ujar Arifin dalam sambutannya.

    Sementara itu, Kepala Dispora Sumsel, Rudi Irawan, menambahkan bahwa peran pemuda tidak cukup hanya di lapangan olahraga, tetapi juga harus meluas ke ranah edukasi dan penguatan kapasitas diri, termasuk dalam aspek literasi finansial.

    “Dengan memahami pentingnya perencanaan keuangan dan inovasi digital, para Duta PORA akan lebih siap menghadapi dinamika masa depan. Kami sangat mengapresiasi inisiatif OJK dalam mendukung peningkatan kualitas pemuda Sumsel secara menyeluruh,” kata Rudi.

    Dalam kegiatan ini, peserta mendapatkan materi seputar dasar-dasar keuangan, pengelolaan uang saku, investasi pemula, serta pemahaman tentang risiko dalam penggunaan layanan digital. Format penyampaian dibuat menarik agar sesuai dengan karakter generasi muda.

    Program Sultan Muda ini diharapkan menjadi awal dari terbentuknya generasi pemimpin yang sehat, produktif, dan cerdas dalam mengelola tantangan ekonomi digital. OJK dan Dispora berkomitmen melanjutkan kolaborasi untuk memperluas jangkauan edukasi keuangan kepada lebih banyak pemuda di seluruh wilayah Sumatera Selatan.

  • Dorong Penetrasi Pasar Ekspor Global melalui Keuangan Inklusif, OJK Sumsel Bersama Pemprov Sumsel Perkuat Sinergi Pembiayaan Produktif Komoditas Kopi

    Dorong Penetrasi Pasar Ekspor Global melalui Keuangan Inklusif, OJK Sumsel Bersama Pemprov Sumsel Perkuat Sinergi Pembiayaan Produktif Komoditas Kopi

    SURAPUBLIK.ID, PALEMBANG – toritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Selatan menyelenggarakan kegiatan Penyerahan Simbolis Akses Keuangan dan Focus Group Discussion (FGD) dengan tema “Penguatan Ekosistem Closed Loop Guna Mendukung Keberlanjutan Ekspor Kopi Sumatera Selatan” di Gedung OJK Sumsel. Kegiatan ini mempertemukan pemerintah pusat-daerah, lembaga keuangan, dan pelaku usaha untuk mendorong produktivitas kopi Sumsel sebagai komoditas utama melalui skema Kredit Usaha Alat dan Mesin Pertanian (Alsintan) dan pembiayaan terintegrasi hulu ke hilir kepada lebih dari 198 ribu petani dan pelaku usaha kopi.

    Dalam sambutannya, Ketua Dewan Komisioner OJK RI Mahendra Siregar menyatakan, “Penguatan ekosistem closed loop adalah strategi nasional menciptakan pembiayaan produktif dan berkelanjutan. Sumatera Selatan punya potensi luar biasa, dan OJK ingin memastikan potensi ini dikapitalisasi dengan akses keuangan yang inklusif.”

    Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Daerah Provinsi Sumsel, Edward Candra, menambahkan “Komitmen ini menjadi langkah konkret menyusun peta jalan ekspor kopi Sumsel berkelanjutan sekaligus membuka sinergi lintas sektor. Harapannya, berbagai komoditas unggulan lainnya juga dapat diakselerasi khususnya komoditas pangan”

    Kepala OJK Provinsi Sumsel, Arifin Susanto menjelaskan, “Model closed loop mengarahkan pembiayaan alsintan langsung ke kelompok tani sehingga produktivitas meningkat dan hasil panen layak ekspor. Inilah inklusi keuangan yang berdampak langsung bagi perekomian Sumsel.”

    Ekosistem closed loop diharapkan menjadi kerangka kerja yang memudahkan petani mengakses pembiayaan, teknologi, dan pasar, menjadikan Sumsel model integrasi pembiayaan pertanian dengan pembangunan ekonomi berbasis komoditas unggulan.

    Salah satu upaya konkret OJK Sumsel bersama dengan Pemprov Sumsel untuk mendukung para pelaku usaha kopi Sumsel salah satunya melalui program terintegrasi yaitu 100ribu Sultan Muda Sumsel dan Sultan Muda Sumsel Center (SMSC) yang berlokasi di Gedung OJK Sumsel. SMSC berfungsi sebagai training facility, pusat inkubasi, dan connection hub untuk memperkuat salah satunya kapasitas pelaku usaha kopi dari aspek teknis, manajerial, hingga akses pasar, sehingga mampu bersaing di tingkat global.

    Melalui kolaborasi bersama ini, OJK Sumsel berharap terwujud sinergi nyata yang menjawab tantangan produktivitas dan keberlanjutan ekspor kopi Sumsel.

  • Kinerja Sektor Keuangan Sumbagsel Tumbuh Stabil Hingga April 2025

    Kinerja Sektor Keuangan Sumbagsel Tumbuh Stabil Hingga April 2025

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Selatan mencatat kinerja Industri Jasa Keuangan (IJK) di wilayah Sumatera Bagian Selatan (Sumbagsel) tumbuh positif, stabil, dan terjaga hingga April 2025. Wilayah Sumbagsel meliputi Provinsi Sumatera Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Jambi, Lampung, dan Bengkulu.

    Stabilitas sektor jasa keuangan di kawasan ini didorong oleh kinerja solid sektor perbankan, pasar modal, serta industri keuangan nonbank, yang juga diperkuat oleh peningkatan edukasi dan perlindungan konsumen secara berkelanjutan.

    “Kondisi sektor jasa keuangan di Sumbagsel hingga April 2025 menunjukkan stabilitas yang terjaga dan pertumbuhan yang sehat. Ini mencerminkan peran aktif industri dalam mendorong pemulihan dan penguatan ekonomi daerah,” ujar Kepala OJK Sumsel Babel, Arifin Susanto, dalam keterangan persnya.

    Per April 2025, kinerja perbankan mengalami pertumbuhan cukup signifikan. Total aset perbankan di Sumbagsel naik sebesar 8,10 persen (yoy) menjadi Rp347,65 triliun. Fungsi intermediasi juga meningkat, dengan total penyaluran kredit/pembiayaan berdasarkan lokasi bank tumbuh 8,86 persen (yoy) menjadi Rp308,97 triliun.

    Penyaluran kredit tersebut didominasi oleh kredit konsumtif sebesar 43,07 persen, dengan kualitas kredit bermasalah (NPL net) yang tetap terjaga di angka rendah, yakni 0,99 persen.

    Sementara itu, penghimpunan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh sebesar 7,11 persen (yoy) menjadi Rp274,51 triliun, dengan dominasi dana tabungan sebesar 55,71 persen.

    Dari sisi sektoral, penyaluran kredit terbanyak terserap pada sektor pertanian, perburuan, dan kehutanan sebesar Rp57,83 triliun atau tumbuh 6,40 persen (yoy), dengan pangsa pasar 10,74 persen dari total kredit nasional di sektor tersebut. Namun, pertumbuhan tertinggi tercatat pada sektor real estate, usaha persewaan, dan jasa yang melonjak 37,08 persen menjadi Rp6,44 triliun.

    Arifin juga menyoroti komitmen perbankan dalam mendukung pembiayaan sektor usaha kecil.

    “Penyaluran kredit kepada UMKM di wilayah Sumbagsel mencapai Rp120,60 triliun atau setara 39,03 persen dari total kredit. Ini menunjukkan bahwa perbankan regional mendukung target inklusi keuangan dan pemberdayaan UMKM secara optimal,” jelasnya.

    Capaian penyaluran kredit UMKM tersebut melampaui target nasional minimal porsi kredit UMKM sebesar 30 persen, yang menjadi bagian dari strategi mendorong pertumbuhan ekonomi yang merata dan inklusif.

  • UMKM Harus Melek Digital, OJK Sumsel dan BPPTIK Dorong Pemanfaatan AI Lewat Akademi Wirausaha

    UMKM Harus Melek Digital, OJK Sumsel dan BPPTIK Dorong Pemanfaatan AI Lewat Akademi Wirausaha

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Di tengah derasnya arus digitalisasi, pelaku UMKM dituntut untuk lebih adaptif dan inovatif. Menyadari hal itu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Selatan bersama BPPTIK Kementerian Komunikasi dan Digital serta Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumsel menggelar Digital Entrepreneurship Academy (DEA) bertema “Pemasaran Digital Dasar Berbasis Kecerdasan Buatan (AI) untuk Wirausaha”.

    Program ini menjadi bagian dari penguatan ekosistem Program Sultan Muda Sumsel yang bertujuan melahirkan generasi wirausaha muda yang tak hanya tangguh secara finansial, tetapi juga siap bersaing di era ekonomi berbasis teknologi.

    Kepala OJK Provinsi Sumsel, Arifin Susanto, mengatakan bahwa OJK tak hanya fokus pada pembiayaan, tetapi juga pada transformasi digital UMKM agar mereka mampu tumbuh berkelanjutan.

    “Kami ingin mendorong pelaku usaha lokal untuk tidak hanya bertahan, tapi naik kelas melalui pemanfaatan teknologi digital dan kecerdasan buatan. Ini adalah langkah nyata mencetak wirausaha yang siap menghadapi pasar global,” ungkap Arifin.

    Senada dengan itu, Kepala BPPTIK Kementerian Komunikasi dan Digital, Hamdani Pratama, menyebut bahwa kegiatan DEA dirancang agar mudah dipahami dan langsung bisa diterapkan dalam kegiatan bisnis sehari-hari.

    “Kami ingin para Sultan Muda Sumsel tidak hanya tahu cara menggunakan teknologi, tapi juga mampu menjadikannya sebagai alat utama dalam mengembangkan usaha mereka secara efisien dan kompetitif,” tegasnya.

    Kegiatan ini menjadi bukti nyata bahwa kolaborasi lintas sektor sangat penting untuk mempercepat digitalisasi UMKM. Transformasi ini bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak yang akan menentukan arah pertumbuhan ekonomi Sumatera Selatan ke depan.

  • Sultan Muda Sumsel Dorong Regenerasi Wirausaha Muda dan Percepatan Ekonomi Daerah

    Sultan Muda Sumsel Dorong Regenerasi Wirausaha Muda dan Percepatan Ekonomi Daerah

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Program Sultan Muda Sumsel kini tidak lagi sekadar inisiatif literasi keuangan, tetapi telah menjelma menjadi motor penggerak regenerasi wirausaha muda dan transformasi ekonomi daerah. Hal ini terbukti dari pelaksanaan kegiatan Sultan Muda Sumsel Goes to Kabupaten-Kota yang menyasar lima wilayah potensial: Kabupaten Empat Lawang, Muara Enim, Ogan Ilir, Kota Pagar Alam, dan Ogan Komering Ulu.

    Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari peluncuran program 100.000 Sultan Muda Sumatera Selatan dan pendirian Sultan Muda Sumsel Center (SMSC) pada Mei 2025 lalu, yang diprakarsai oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumsel bersama Pemerintah Provinsi dan kabupaten/kota, serta didukung oleh industri jasa keuangan seperti Bank Sumsel Babel dan BPJS Ketenagakerjaan.

    Berbeda dari program sejenis, Sultan Muda Sumsel dirancang untuk membentuk ekosistem yang menyeluruh—menggabungkan literasi keuangan, akses pembiayaan, pelatihan kewirausahaan, hingga peluang ekspor. Program ini juga menjadi bagian integral dari implementasi Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) yang aktif menjangkau pelaku usaha langsung di tingkat desa dan kelurahan.

    “Kami ingin menunjukkan bahwa Sultan Muda adalah gerakan nyata. Kami hadir langsung di daerah membawa akses keuangan, literasi, dan semangat usaha kepada para pelaku UMKM,” ujar perwakilan OJK Sumsel dalam sambutannya.

    Kegiatan ini menghadirkan ratusan pelaku UMKM dan wirausahawan muda, yang mendapat pelatihan serta diskusi langsung dengan perbankan dan lembaga keuangan lainnya. Tak hanya itu, peserta juga diberi informasi praktis tentang akses Kredit Usaha Rakyat (KUR), jaminan sosial ketenagakerjaan, hingga potensi kemitraan usaha.

    Perwakilan Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumsel menyampaikan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan sektor keuangan telah membuka jalan baru bagi wirausaha muda di daerah. “Ini bukan hanya soal bantuan, tapi tentang membentuk mentalitas bisnis dan memperluas jejaring pasar UMKM,” katanya.

    Kegiatan ini direspons positif oleh pemerintah daerah. “Program ini menjawab kebutuhan UMKM kami. Banyak pelaku usaha muda yang mulai memahami pentingnya perencanaan keuangan dan akses legal terhadap pembiayaan,” ujar salah satu kepala dinas kabupaten.

    Ke depan, OJK Sumsel berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan Sultan Muda ke seluruh wilayah provinsi, sebagai bagian dari visi mendorong ekonomi kerakyatan berbasis kewirausahaan muda dan inklusi keuangan.

    Dengan pendekatan kolaboratif lintas sektor, Sultan Muda Sumsel diharapkan mampu mencetak generasi wirausaha baru yang adaptif, berdaya saing, dan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.

  • Dukung Penguatan Akses Keuangan, BRI Hadiri Kunjungan Kerja Komite IV DPD RI di OJK Provinsi Sumatera Selatan

    Dukung Penguatan Akses Keuangan, BRI Hadiri Kunjungan Kerja Komite IV DPD RI di OJK Provinsi Sumatera Selatan

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk melalui Kantor Wilayah BRI Regional 4 Palembang menghadiri kunjungan kerja Komite IV Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Daerah Pemilihan Sumatera Selatan, yang dipimpin oleh Ibu Amaliah Sobli, S.KG., M.B.A., bertempat di Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Selatan. Kehadiran BRI dalam kegiatan ini merupakan bagian dari dukungan terhadap penguatan infrastruktur keuangan dan perluasan akses layanan formal di tingkat daerah.

    Kegiatan tersebut dilaksanakan untuk mendengarkan pemaparan dan menjalin dialog langsung dengan para pemangku kepentingan di sektor keuangan Sumatera Selatan. Forum ini menjadi wadah untuk merumuskan langkah-langkah strategis dalam memperluas inklusi keuangan, khususnya di wilayah pedesaan dan daerah yang belum sepenuhnya terjangkau layanan keuangan formal.

    Regional CEO BRI Regional 4 Palembang, Kusdinar Wiraputra, menyampaikan bahwa BRI terus berperan aktif dalam mendorong percepatan inklusi keuangan melalui keikutsertaan dalam Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) Sumatera Selatan.

    “BRI terus memperluas penyaluran pembiayaan hingga ke pelosok desa guna mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Melalui sinergi Holding Ultra Mikro bersama Pegadaian dan PNM, kami meyakini bahwa inklusi keuangan di Sumatera Selatan dapat tumbuh secara lebih merata dan berkelanjutan,” ujar Kusdinar.

    Sebagai lembaga keuangan yang hadir dan tersebar di seluruh wilayah Indonesia, BRI memiliki kapasitas untuk menjangkau berbagai segmen masyarakat, termasuk pelaku usaha ultra mikro dan UMKM. Dalam forum tersebut, BRI turut menyampaikan dukungan terhadap upaya peningkatan kapasitas ekonomi masyarakat melalui perluasan akses terhadap layanan keuangan formal.

    Kehadiran BRI dalam kegiatan ini mencerminkan konsistensi perusahaan dalam memperkuat peran sektor keuangan daerah. BRI akan terus mendorong kolaborasi dan sinergi antar-lembaga guna memperluas jangkauan layanan formal yang berorientasi pada pemberdayaan ekonomi masyarakat. Langkah ini menjadi bagian dari komitmen BRI dalam membangun ekosistem keuangan yang inklusif dan berkelanjutan di seluruh Indonesia.

  • SICANTIKS Palembang: OJK Berdayakan Perempuan & UMKM Lewat Edukasi Keuangan Syariah

    SICANTIKS Palembang: OJK Berdayakan Perempuan & UMKM Lewat Edukasi Keuangan Syariah

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat upaya peningkatan literasi dan inklusi keuangan, kali ini dengan menggandeng perempuan dan pelaku UMKM di Sumatera Selatan melalui program edukasi keuangan syariah bertajuk Sahabat Ibu Cakap Literasi dan Inklusi Keuangan Syariah atau SICANTIKS.

    Mengusung tema “Perempuan Berdaya, Masyarakat Sejahtera,” kegiatan ini digelar di Palembang pada Sabtu, 17 Mei 2025, dan diikuti ribuan peserta. Sebanyak 100 kader Tim Penggerak PKK Provinsi Sumatera Selatan dan 400 pendamping UMKM dari PT Permodalan Nasional Madani (PNM) hadir secara langsung, sementara 4.917 pendamping UMKM lainnya mengikuti secara daring dari berbagai wilayah di Sumatera.

    Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan pentingnya peran perempuan sebagai agen perubahan literasi keuangan di tengah keluarga dan masyarakat.

    > “Perempuan adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya. Karena itu, OJK menempatkan perempuan sebagai salah satu dari sepuluh segmen prioritas edukasi keuangan nasional,” ujarnya.

    Ia juga mengingatkan peserta untuk waspada terhadap maraknya kejahatan digital, seperti pinjaman online ilegal, investasi bodong, hingga penipuan berbasis scam dan deepfake AI.

    Ketua TP PKK Provinsi Sumsel, Feby Herman Deru, menyambut baik program SICANTIKS dan menyebutnya sangat relevan untuk memberdayakan perempuan dan UMKM. Ia berharap kegiatan ini bisa dilanjutkan hingga ke seluruh kabupaten/kota di Sumatera Selatan.

    Dukungan juga datang dari Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Fauzi Amro, yang menyebut SICANTIKS sebagai bentuk nyata implementasi Undang-Undang Penguatan dan Pengembangan Sektor Keuangan (UU P2SK). Ia menyampaikan bahwa program edukasi OJK turut berkontribusi pada peningkatan angka literasi keuangan nasional dari 65 persen menjadi 66 persen, dan inklusi keuangan dari 75 persen menjadi 80 persen.

    Program SICANTIKS merupakan kolaborasi strategis antara OJK dan PT PNM, dan akan terus digelar sepanjang tahun 2025 di berbagai wilayah Indonesia seperti Jabodetabek, Jawa, Kalimantan, hingga Sulawesi.

    Tak hanya itu, OJK juga telah menyiapkan modul edukasi keuangan syariah yang dapat dimanfaatkan oleh para duta literasi di daerah, guna memperluas pemahaman masyarakat tentang keuangan syariah, pengelolaan keuangan yang bijak, serta perlindungan terhadap risiko kejahatan keuangan digital.

  • Pemuda Sumsel Disiapkan Jadi ‘Sultan Muda’, OJK Gencarkan Literasi Keuangan dan Lawan Kejahatan Finansial Digital

    Pemuda Sumsel Disiapkan Jadi ‘Sultan Muda’, OJK Gencarkan Literasi Keuangan dan Lawan Kejahatan Finansial Digital

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Ratusan generasi muda Sumatera Selatan mendapat suntikan semangat dan pengetahuan baru dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) lewat peluncuran program ambisius bertajuk 100 Ribu Sultan Muda. Program ini jadi bagian dari upaya masif mendorong lahirnya pengusaha muda tangguh yang tak hanya melek keuangan, tetapi juga tahan banting menghadapi maraknya kejahatan digital seperti pinjol ilegal dan investasi bodong.

     

    Dua agenda besar digelar: Youngpreneur Summit 2025 dengan tema “Berdayakan Pemuda, Lahirkan Sultan Muda untuk Tingkatkan Literasi Keuangan dan Ekonomi Nasional”, serta Syariah Financial Fair (SYAFIF) Goes to Palembang. Keduanya merupakan bagian dari program edukasi keuangan Sumsel GENCARKAN.

     

    Acara yang digelar di Kantor OJK Provinsi Sumatera Selatan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting seperti Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, Gubernur Sumsel H. Herman Deru, serta Kepala OJK Sumsel Arifin Susanto.

     

    Friderica menegaskan pentingnya generasi muda memahami pengelolaan keuangan agar bisa mandiri dan berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah. “Kita ingin semua Ayu dan Kakak di Sumatera Selatan menjadi Sultan Muda yang mampu menembus pasar nasional bahkan ekspor,” tegasnya.

     

    Ia juga mengungkapkan, sepanjang tahun ini, lebih dari 1.300 entitas ilegal telah ditutup, termasuk 1.100 pinjaman online ilegal. Karena itu, OJK meluncurkan Indonesia Anti-Scam Center untuk melindungi dana masyarakat dari kejahatan finansial digital.

     

    Sementara itu, Gubernur Sumatera Selatan H. Herman Deru mengapresiasi langkah OJK dalam mempersiapkan anak muda Sumsel menjadi pelaku usaha. Ia membagikan kisah perjuangannya sebagai wirausahawan sejak usia 18 tahun dan menekankan prinsip sukses: Konsisten, Konsekuen, dan Speed.

     

    “Literasi keuangan bukan cuma teori, tapi bekal hidup. Jangan tergiur investasi bodong. Kita punya 600 ribu UMKM, dan program Sultan Muda ini adalah peluang nyata, bukan sekadar omong doang,” ujar Herman, seraya meresmikan Sultan Muda Sumsel Center (SMSC).

     

    Kegiatan ini juga dirangkai dengan pengukuhan lima OJK Penggerak Duta Literasi Keuangan (OJK PEDULI), yang akan menjadi ujung tombak diseminasi informasi keuangan di masyarakat. OJK juga terus mendorong pemuda melalui gerakan Gen LIMAS (Generasi Literasi dan Inklusi Keuangan Masyarakat Sumsel).

    Total peserta kegiatan mencapai 1.000 orang yang hadir secara hybrid, terdiri dari 500 peserta luring dan 500 daring, yang merupakan bagian dari Komunitas Sultan Muda dan UMKM binaan PT Pegadaian.

    Kepala OJK Provinsi Sumatera Selatan, Arifin Susanto, menyampaikan bahwa inisiatif ini selaras dengan target peningkatan indeks literasi dan inklusi keuangan nasional. Ia menyebut, berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2022, tingkat literasi keuangan masyarakat Sumatera Selatan mencapai 49,63%, dan inklusi keuangan 86,48% angka yang menunjukkan kemajuan, namun tetap perlu didorong lebih lanjut melalui program terstruktur.

    “Lewat program Sultan Muda, kami ingin mencetak generasi yang bukan hanya paham keuangan, tetapi mampu menjadi penggerak sektor UMKM yang kuat dan berkelanjutan. Kegiatan ini adalah upaya bersama mempercepat tercapainya target inklusi keuangan sebesar 90% secara nasional pada 2024,” ujar Arifin.

    Ia menambahkan, OJK Sumsel juga terus memperluas jangkauan edukasi keuangan melalui program Gen LIMAS (Generasi Literasi dan Inklusi Keuangan Masyarakat Sumatera Selatan) serta penguatan peran OJK PEDULI, duta literasi yang kini hadir aktif menyebarkan pemahaman keuangan hingga ke pelosok desa.

    Sebagai rangkaian kegiatan, turut diluncurkan Kick Off Bulan Literasi Keuangan serta peresmian Sultan Muda Sumsel Center (SMSC), yang diharapkan menjadi pusat kolaborasi, pelatihan, dan inkubasi wirausaha muda Sumsel.

    Program 100 Ribu Sultan Muda sendiri merupakan salah satu dari 12 Program Strategis Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan yang digagas untuk mewujudkan Sumsel Maju Terus untuk Semua, dengan semangat membangun karakter wirausaha muda yang adaptif, kreatif, dan resilien dalam menghadapi tantangan zaman.

  • Sumsel Luncurkan Program 100.000 Sultan Muda untuk Meningkatkan Literasi Keuangan dan Kewirausahaan Pemuda

    Sumsel Luncurkan Program 100.000 Sultan Muda untuk Meningkatkan Literasi Keuangan dan Kewirausahaan Pemuda

    SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG — Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Sumatera Selatan secara resmi meluncurkan Kick Off Program 100.000 Sultan Muda dan Sultan Muda Sumsel Center (SMSC), yang diselenggarakan di Kantor OJK Provinsi Sumsel. Program ini merupakan bagian dari 12 Program Strategis Gubernur Sumatera Selatan Tahun 2025 yang fokus pada peningkatan literasi dan inklusi keuangan, serta pemberdayaan ekonomi pemuda melalui kewirausahaan.

    Peluncuran ini bertujuan untuk mensosialisasikan secara luas pelaksanaan Program 100.000 Sultan Muda dan pendirian SMSC, sekaligus mendorong partisipasi aktif seluruh pemangku kepentingan. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari kampanye edukatif yang terintegrasi dengan Gerakan Nasional Cerdas Keuangan (GENCARKAN), menunjukkan komitmen kuat OJK dan Pemprov Sumsel dalam mencetak generasi muda yang cakap finansial dan mandiri secara ekonomi.

    Program 100.000 Sultan Muda bertujuan membentuk generasi muda yang tidak hanya melek keuangan, tetapi juga siap menjadi wirausahawan muda yang inovatif dan berdaya saing. Sementara itu, Sultan Muda Sumsel Center (SMSC) akan menjadi pusat edukasi, pelatihan, mentoring, dan kolaborasi strategis antara pemerintah, sektor jasa keuangan, serta komunitas pemuda untuk membangun jejaring bisnis berkelanjutan.

    Kepala OJK Provinsi Sumatera Selatan, Arifin Susanto, menyatakan bahwa program ini merupakan langkah konkret dalam pembangunan sumber daya manusia melalui peningkatan literasi keuangan. “Kami percaya bahwa kemajuan ekonomi Sumsel harus didorong oleh generasi muda yang tidak hanya memahami pentingnya pengelolaan keuangan, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha yang berdampak,” ujarnya.

    Kepala Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Sumsel, Ir. H. Amiruddin, M.Si., menegaskan kesiapan pihaknya untuk menjadi koordinator dalam merealisasikan program ini. “Kami berkomitmen menyediakan pendampingan dan pelatihan berkelanjutan bagi para Sultan Muda agar usaha yang dirintis dapat tumbuh secara berkelanjutan,” katanya.

    Senada dengan itu, Sekretaris Daerah Provinsi Sumsel, Drs. H. Edward Candra, M.H., menyatakan bahwa keberhasilan program ini sangat bergantung pada kolaborasi seluruh pihak. “Sultan Muda bukan sekadar program, tetapi gerakan strategis untuk mencetak pemuda berkualitas yang bisa menjadi tulang punggung perekonomian daerah,” ungkapnya.

    Peluncuran resmi Program 100.000 Sultan Muda dan SMSC akan dilakukan pada 16 Mei 2025 oleh Gubernur Sumatera Selatan bersama Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK. Diharapkan, melalui program ini, Sumsel mampu melahirkan generasi muda yang cakap finansial, mandiri, dan menjadi penggerak ekonomi masa depan.

  • OJK dan BPS Umumkan Peningkatan Literasi dan Inklusi Keuangan Nasional melalui SNLIK 2025

    OJK dan BPS Umumkan Peningkatan Literasi dan Inklusi Keuangan Nasional melalui SNLIK 2025

    SUARAPUBLIK.ID, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja merilis hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025, yang menunjukkan adanya kemajuan signifikan dalam pemahaman dan akses masyarakat terhadap layanan keuangan di Indonesia. Hasil survei yang dipresentasikan oleh Friderica Widyasari Dewi, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan OJK, dan Ateng Hartono, Deputi Bidang Statistik Sosial BPS, mengungkapkan bahwa indeks literasi keuangan Indonesia mencapai 66,46 persen sementara indeks inklusi keuangan mencapai 80,51 persen.

     

    Peningkatan yang tercatat pada SNLIK 2025 ini merupakan hasil dari kerja sama antara OJK dan BPS yang berlangsung sejak 2024. Pada tahun sebelumnya, angka literasi keuangan Indonesia tercatat hanya 65,43 persen, sementara angka inklusi keuangan berada pada 75,02 persen. Angka-angka tersebut menunjukkan adanya peningkatan yang konsisten, yang tidak hanya mencerminkan pertumbuhan sektor keuangan, tetapi juga semakin banyaknya masyarakat yang teredukasi dalam penggunaan produk dan layanan keuangan.

     

    Meningkatnya literasi keuangan ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia semakin mampu memahami berbagai produk keuangan yang ada, dari perbankan hingga layanan fintech. Dengan adanya pemahaman yang lebih baik mengenai produk-produk ini, diharapkan masyarakat dapat mengambil keputusan yang lebih bijak dalam mengelola keuangan mereka, baik untuk keperluan sehari-hari maupun untuk perencanaan jangka panjang.

     

    Survei SNLIK 2025 menggunakan dua metode perhitungan yang berbeda. Metode pertama, yang disebut Metode Keberlanjutan, mempertahankan cakupan sektor yang sama seperti pada survei sebelumnya, yaitu sektor perbankan, pasar modal, asuransi, dan lainnya, serta sistem pembayaran. Metode ini digunakan untuk mengukur keberhasilan program literasi dan inklusi keuangan OJK. Sedangkan, metode kedua, yaitu Metode Cakupan DNKI, memperluas cakupan sektor keuangan dengan menambahkan badan penyelenggara jaminan sosial seperti BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan, serta lembaga keuangan lain seperti koperasi simpan pinjam.

     

    Dari kedua metode tersebut, hasil yang diperoleh menunjukkan adanya perbedaan. Dengan Metode Keberlanjutan, indeks literasi keuangan tercatat sebesar 66,46 persen dan inklusi keuangan 80,51 persen. Namun, dengan Metode Cakupan DNKI, literasi keuangan sedikit lebih tinggi, mencapai 66,64 persen, sementara inklusi keuangan melonjak tajam ke 92,74 persen. Angka-angka ini menunjukkan bahwa apabila seluruh sektor keuangan yang lebih luas diperhitungkan, akses masyarakat terhadap layanan keuangan akan lebih terbuka.

     

    Secara keseluruhan, survei ini juga menyoroti perbedaan signifikan antara wilayah perkotaan dan perdesaan. Di wilayah perkotaan, indeks literasi keuangan mencapai 70,89 persen, sementara inklusi keuangan berada di angka 83,61 persen. Sebaliknya, di perdesaan, literasi keuangan tercatat 59,60 persen dan inklusi keuangan 75,70 persen. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada kesenjangan besar dalam pemahaman dan akses ke layanan keuangan antara masyarakat kota dan desa.

     

    Selain itu, faktor pendidikan turut mempengaruhi tingkat literasi dan inklusi keuangan. Mereka yang memiliki tingkat pendidikan lebih tinggi, seperti lulusan perguruan tinggi, menunjukkan indeks literasi keuangan yang lebih tinggi, yaitu 90,63 persen. Sementara itu, mereka yang memiliki tingkat pendidikan lebih rendah, seperti yang hanya tamat SD atau bahkan belum pernah bersekolah, menunjukkan angka yang jauh lebih rendah, yakni 43,20 persen untuk literasi keuangan.

     

    OJK dan BPS juga memaparkan bahwa literasi keuangan syariah, meskipun masih relatif rendah, menunjukkan potensi yang besar untuk berkembang. Literasi keuangan syariah tercatat sebesar 43,42 persen, sementara inklusi keuangan syariah baru mencapai 13,41 persen. Ini menunjukkan bahwa meskipun ada perkembangan, sektor keuangan syariah masih memiliki ruang besar untuk tumbuh, terutama dalam hal inklusi keuangan.

     

    Kelompok usia juga mempengaruhi angka literasi dan inklusi keuangan. Mereka yang berusia 26-35 tahun dan 18-25 tahun memiliki tingkat literasi keuangan yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia lainnya, dengan angka masing-masing sebesar 74,04 persen dan 73,22 persen. Sedangkan kelompok yang berusia lebih tua, yaitu 51-79 tahun, memiliki angka literasi yang jauh lebih rendah, yaitu 54,55 persen. Hal ini mencerminkan pentingnya pendidikan keuangan sejak usia muda, agar masyarakat dapat lebih siap menghadapi tantangan finansial di masa depan.

     

    Sementara itu, data berdasarkan pekerjaan juga memperlihatkan bahwa pekerja profesional dan pengusaha memiliki tingkat literasi keuangan yang lebih tinggi. Para pensiunan juga menunjukkan angka yang relatif tinggi, mencerminkan bahwa mereka mungkin telah memiliki pengalaman dalam mengelola keuangan selama bekerja. Sebaliknya, petani, nelayan, dan mereka yang tidak bekerja memiliki tingkat literasi keuangan yang lebih rendah, dengan angka 49,36 persen untuk mereka yang tidak bekerja dan 58,87 persen untuk petani.

     

    Melihat hasil dari SNLIK 2025, OJK menyadari bahwa masih ada tantangan besar dalam meningkatkan literasi dan inklusi keuangan di Indonesia. Meskipun angka-angka ini menunjukkan kemajuan, masih banyak segmen masyarakat, terutama mereka yang tinggal di daerah perdesaan, yang perlu didorong untuk lebih memahami produk keuangan dan cara mengaksesnya. Oleh karena itu, OJK berencana untuk memperluas program edukasi keuangan, dengan fokus pada kelompok-kelompok yang memiliki tingkat literasi yang lebih rendah, seperti perempuan, pelajar, dan mereka yang memiliki pendidikan rendah.

     

    Ke depan, OJK berencana untuk mengintensifkan upaya literasi dan inklusi keuangan melalui berbagai inisiatif dan program. Salah satunya adalah penguatan Peta Jalan Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen (2023-2027), serta mendukung pencapaian tujuan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025-2029. Diharapkan, dengan peningkatan literasi dan inklusi keuangan ini, masyarakat Indonesia dapat lebih bijak dalam mengelola keuangan pribadi dan berkontribusi pada perekonomian yang lebih inklusif dan berkelanjutan.