Sidang Korupsi Guest House UIN Raden Fatah, Tiga Saksi Tim Pengadaan dan Perencanaan Diperiksa

- Redaksi

Jumat, 10 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Saat Para saksi dihadirkan disidang PN Tipikor Palembang, Jumad (10/7/2026)

Saat Para saksi dihadirkan disidang PN Tipikor Palembang, Jumad (10/7/2026)

PALEMBANG, SUARAPUBLIK.ID- Sidang lanjutan perkara dugaan korupsi pembangunan Gedung Guest House UIN Raden Fatah Palembang dengan terdakwa Abdul Karim S.Ag., M.Hum selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), kembali digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Palembang, Jumat (10/7/2026).

 

Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Ade Sumitra Hadisurya SH MHum itu menghadirkan tiga saksi, yakni Hasan Marzuki selaku anggota tim perencanaan, Yan Maradona selaku Ketua Pengelola Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah Kanwil Kementerian Agama Provinsi Lampung, serta Jawairil Islamudin selaku Pejabat Pengadaan pembangunan Guest House UIN Raden Fatah Palembang.

 

Dalam persidangan, Yan Maradona menjelaskan bahwa proyek pembangunan Guest House dilaksanakan dalam dua tahap, yakni pada Tahun Anggaran 2022 dan dilanjutkan pada Tahun Anggaran 2023.

 

“Saya tergabung dalam Pokja untuk pengadaan pekerjaan fisik. Proyek ini dilaksanakan dalam dua tahap, tahun 2022 dan dilanjutkan pada 2023,” ujar Yan Maradona di hadapan majelis hakim.

 

Sementara itu, Hasan Marzuki menerangkan dirinya hanya terlibat pada tahap perencanaan dan tidak terlibat dalam pelaksanaan fisik proyek.

 

“Saya hanya menangani perencanaan pada tahap lanjutan karena pekerjaan sebelumnya sudah direncanakan,” jelas Hasan.

 

Setelah pemeriksaan para saksi selesai, Jaksa Penuntut Umum (JPU) dari Kejaksaan Negeri Palembang memperlihatkan sejumlah barang bukti di hadapan majelis hakim dan para saksi.

 

Majelis hakim kemudian menunda persidangan dan menjadwalkan sidang lanjutan pada Selasa (14/7/2026) dengan agenda pemeriksaan lima orang saksi lainnya.

 

Dalam surat dakwaannya, JPU menyebut Abdul Karim diduga melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama dengan Dony Prayatna selaku Direktur PT Cahaya Sriwijaya Abadi dan Sarwono Christianto selaku Direktur Utama PT Gapssary Mitra Kreasi.

Kedua pihak tersebut sebelumnya telah diproses hukum dan telah memperoleh putusan pengadilan.

 

Jaksa mengungkapkan, selaku PPK, Abdul Karim diduga tidak menjalankan kewajibannya mengendalikan pelaksanaan kontrak sesuai ketentuan. Ia juga diduga membiarkan perubahan personel inti proyek tanpa addendum kontrak, serta tidak melakukan pengawasan optimal terhadap pekerjaan konstruksi maupun jasa konsultan manajemen konstruksi.

 

Akibatnya, ditemukan kekurangan volume pekerjaan, ketidaksesuaian spesifikasi teknis, serta penggunaan personel yang tidak sesuai dengan kontrak.

 

Proyek pembangunan Guest House UIN Raden Fatah tersebut meliputi pekerjaan perencanaan Tahun Anggaran 2021, pembangunan fisik Tahun Anggaran 2022, dan jasa konsultan manajemen konstruksi dengan total nilai anggaran lebih dari Rp17,7 miliar.

 

JPU juga menguraikan adanya dugaan penyimpangan dalam proses pengadaan, mulai dari penggunaan perusahaan pinjaman saat tender perencanaan, perubahan personel pelaksana di lapangan, hingga pelaksanaan pekerjaan yang tidak sesuai gambar kerja, Rencana Anggaran Biaya (RAB), maupun spesifikasi kontrak.

 

Berdasarkan hasil pemeriksaan fisik tim ahli konstruksi, ditemukan kekurangan volume pekerjaan dan mutu beton pada sejumlah bagian bangunan yang tidak memenuhi spesifikasi kontrak.

 

Akibat perbuatan tersebut, Dony Prayatna diduga memperoleh keuntungan lebih dari Rp2 miliar, sedangkan Sarwono Christianto memperoleh keuntungan sekitar Rp117,7 juta.

 

Perbuatan para terdakwa diduga mengakibatkan kerugian keuangan negara sebesar Rp2.123.788.215,08 berdasarkan hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan Sumatera Selatan tertanggal 21 Agustus 2024.

 

Atas perbuatannya, Abdul Karim didakwa melanggar UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 18 UU Tipikor, serta Pasal 603 juncto Pasal 20 huruf c UU Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP.

Penulis : Hermansyah

Editor : Jaks

Berita Terkait

Polda Sumsel Catat 1.218 Penindakan Premanisme, Warga Diminta Lapor ke 110
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Perluas Peluang Usaha UMKM, Raih Omzet Puluhan Juta di OPI Food Carnival 2026
26 Tahun Biznet, Perkuat Infrastruktur Digital dan Perluas Jaringan Internet
Komitmen Bersama Pemkot Dan TNI AU Pembangunan Sekolah Rakyat 
Terima Fee Rp4 Miliar dari Agen Kapal, Kepala UPP Sungai Lumpur Didakwa Korupsi
Enam Orang Luka dalam Bentrokan Mapolda Sumsel, Pria Bawa Dua Sajam Diamankan
Ketua DPM FH UM Palembang Kecam Kekerasan terhadap Aktivis Mahasiswa dan Jurnalis di Mapolda Sumsel
DR Conie SH : Kuasa Hukum Korban Penusukan Berharap Pihak Pemerintah Membantu Biaya Rumah Sakit

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 17:58 WIB

Polda Sumsel Catat 1.218 Penindakan Premanisme, Warga Diminta Lapor ke 110

Rabu, 14 Oktober 2026 - 17:54 WIB

Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel Perluas Peluang Usaha UMKM, Raih Omzet Puluhan Juta di OPI Food Carnival 2026

Rabu, 14 Oktober 2026 - 15:29 WIB

26 Tahun Biznet, Perkuat Infrastruktur Digital dan Perluas Jaringan Internet

Rabu, 14 Oktober 2026 - 14:50 WIB

Komitmen Bersama Pemkot Dan TNI AU Pembangunan Sekolah Rakyat 

Rabu, 14 Oktober 2026 - 14:48 WIB

Terima Fee Rp4 Miliar dari Agen Kapal, Kepala UPP Sungai Lumpur Didakwa Korupsi

Berita Terbaru

Kadis Kesehatan empat lawang, Dery Kurniawan

Empat Lawang

Kabut asap Landa Empat Lawang, Kasus ISPA Meningkat

Rabu, 14 Okt 2026 - 19:10 WIB