Saya Berpancasila

- Redaksi

Kamis, 27 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nama: Muhammad Seda Kalteris

NIM   : PO7120426005

Prodi : D4 Keperawatan Reguler

 

Saya Berpancasila

 

Pancasila bukan hanya lima sila yang tertulis dalam buku pelajaran atau dihafalkan ketika berada di bangku sekolah. Bagi saya, Pancasila adalah nilai yang seharusnya hidup dalam setiap tindakan, bahkan dalam hal-hal sederhana yang sering kali tidak kita sadari. Pancasila hadir ketika kita beribadah, membantu orang lain, menghargai perbedaan, bermusyawarah, hingga berlaku adil kepada sesama.

 

Karena itu, saya percaya bahwa menjadi pribadi yang menerapkan nilai-nilai Pancasila tidak harus selalu dimulai dari tindakan besar. Penerapannya dapat dimulai dari diri sendiri dan lingkungan terdekat.

 

Dalam kehidupan sehari-hari, saya berusaha menerapkan nilai sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa. Saya membiasakan diri melaksanakan salat dan mengaji sebagai bentuk ibadah sekaligus usaha untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Bagi saya, menjalankan ajaran agama bukan hanya tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga bagaimana ajaran tersebut tercermin dalam sikap kepada sesama.

 

Salah satunya adalah menghormati teman yang memiliki agama berbeda. Saya menyadari bahwa setiap orang memiliki keyakinan dan cara beribadah masing-masing. Oleh karena itu, perbedaan agama bukan alasan untuk menjauh atau merendahkan satu sama lain. Justru dari perbedaan tersebut saya belajar bahwa hidup berdampingan dengan saling menghormati merupakan bagian penting dari penerapan Pancasila.

 

Nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab juga berusaha saya terapkan melalui hal-hal sederhana. Ketika ada teman yang membutuhkan bantuan, saya berusaha membantu sesuai dengan kemampuan saya. Misalnya, ketika seorang teman meminta bantuan karena belum mengetahui cara merapikan atau mengatur tulisan di Microsoft Word, saya berusaha menjelaskan dan membantunya sampai ia memahami caranya.

 

Bagi saya, membantu tidak selalu harus dalam bentuk sesuatu yang besar. Terkadang, meluangkan waktu dan memberikan sedikit pengetahuan saja sudah dapat meringankan kesulitan orang lain.

 

Saya juga berusaha untuk tidak melakukan perundungan atau bullying kepada siapa pun. Setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing sehingga tidak seharusnya seseorang direndahkan hanya karena perbedaan yang dimilikinya.

 

Dalam kehidupan sehari-hari, saya juga berusaha menjaga sopan santun, termasuk ketika berbicara dan berinteraksi dengan orang yang lebih tua. Contohnya, ketika melewati seseorang yang lebih tua, saya membiasakan diri mengucapkan “permisi”. Bagi saya, kalimat sederhana tersebut merupakan bentuk penghargaan terhadap orang lain dan cerminan dari sikap beradab.

 

Selanjutnya adalah sila Persatuan Indonesia. Saya menyadari bahwa lingkungan tempat saya berada terdiri atas orang-orang dengan latar belakang yang berbeda. Ada yang berasal dari suku, agama, maupun daerah yang berbeda. Namun, perbedaan tersebut tidak seharusnya menjadi alasan untuk membentuk kelompok-kelompok yang saling menjauh.

 

Saya berusaha berteman dan bergaul tanpa membeda-bedakan seseorang berdasarkan asal daerah, suku, maupun agamanya. Semangat persatuan juga saya terapkan melalui kegiatan gotong royong. Ketika ada kegiatan membersihkan lingkungan rumah maupun kampus, saya berusaha ikut terlibat.

 

Membersihkan lingkungan bersama-sama mungkin terlihat sebagai kegiatan sederhana, tetapi dari sana saya belajar bahwa pekerjaan yang berat akan terasa lebih ringan ketika dilakukan bersama. Gotong royong juga mengajarkan bahwa kepentingan bersama terkadang harus didahulukan daripada kepentingan pribadi.

 

Dalam kehidupan bersama, perbedaan pendapat tentu tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, saya berusaha menerapkan sila keempat, yaitu Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.

 

Ketika akan mengambil keputusan bersama, saya terbiasa mengutamakan musyawarah. Contohnya, ketika kelas memiliki kegiatan bersih-bersih, kami dapat berdiskusi terlebih dahulu mengenai pembagian tugas. Ada yang bertugas menyapu, membersihkan papan tulis, merapikan meja, membuang sampah, dan mengerjakan tugas lainnya.

 

Dengan berdiskusi, setiap orang memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapat sehingga keputusan dapat diambil bersama. Setelah keputusan dihasilkan melalui diskusi, saya berusaha menghargai dan menjalankannya.

 

Menurut saya, musyawarah bukan hanya tentang menyampaikan pendapat, tetapi juga tentang kesediaan mendengarkan pendapat orang lain dan menerima keputusan bersama dengan penuh tanggung jawab. Tidak semua keinginan pribadi harus menjadi keputusan akhir. Terkadang, kita perlu mengalah demi kepentingan bersama.

 

Sila terakhir, yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, juga dapat diterapkan melalui kehidupan sehari-hari. Salah satu contohnya adalah ketika saya memiliki makanan dan ingin membagikannya kepada teman. Saya berusaha membaginya secara merata agar tidak ada yang merasa diperlakukan berbeda.

 

Saya juga berusaha membantu teman tanpa melihat siapa dirinya atau dari mana asalnya. Bagi saya, membantu seseorang seharusnya dilakukan karena ia membutuhkan bantuan, bukan karena ia berasal dari kelompok atau lingkungan tertentu.

 

Dalam mengerjakan tugas kelompok, saya juga berusaha menerapkan keadilan melalui pembagian tugas. Setiap anggota sebaiknya mendapatkan tanggung jawab sesuai kesepakatan. Misalnya, ada yang menjadi moderator, pemateri, pembuat materi, maupun bertugas mempersiapkan presentasi.

 

Dengan pembagian tugas yang adil, setiap anggota memiliki kesempatan untuk berkontribusi dan tidak ada satu orang yang harus mengerjakan seluruh pekerjaan kelompok.

 

Dari berbagai kebiasaan tersebut, saya semakin menyadari bahwa Pancasila sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita. Pancasila tidak selalu hadir dalam bentuk tindakan besar yang terlihat oleh banyak orang. Pancasila dapat hadir ketika kita mengucapkan salam dan permisi kepada orang lain, membantu teman yang kesulitan, ikut membersihkan lingkungan, menghargai perbedaan, mendengarkan pendapat teman, atau membagi sesuatu secara adil.

 

Saya mungkin belum sempurna dalam menerapkan seluruh nilai Pancasila. Namun, saya percaya bahwa menjadi pribadi yang mencerminkan Pancasila adalah sebuah proses yang dimulai dari kebiasaan kecil dan dilakukan secara konsisten.

 

Jika setiap orang mau memulai dari dirinya sendiri, lingkungan yang penuh toleransi, persatuan, musyawarah, kemanusiaan, dan keadilan bukan lagi sekadar harapan.

 

Karena itu, mari kita berhenti memandang Pancasila hanya sebagai lima sila yang harus dihafalkan. Mari kita menjadikannya sebagai pedoman dalam bersikap dan bertindak. Mulailah dari hal sederhana, yaitu menghormati perbedaan, membantu orang yang membutuhkan, menjaga persatuan, mendengarkan pendapat orang lain, dan berlaku adil kepada siapa pun.

 

Sebab, pada akhirnya, Pancasila bukan hanya sesuatu yang kita ucapkan, tetapi sesuatu yang harus kita hidupkan. Jika ditanya di mana Pancasila berada, mungkin jawabannya sederhana: Pancasila ada dalam diri kita, selama kita mau menerapkannya dalam setiap langkah kehidupan.

Berita Terkait

Cahaya Lima Sila dalam Kehidupan Sehari-hari
Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupanku
Hidup Bersama Nilai-Nilai Pancasila
Pancasila: Refleksi Sederhana dari Realitas Keseharian
Lima Sila dalam Cerita Perjalanan Saya di Kampus
Langkah Kecilku Bersama Pancasila
Menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari
Pancasila sebagai Pedoman dalam Kehidupan Sehari-hari

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 23:07 WIB

Cahaya Lima Sila dalam Kehidupan Sehari-hari

Kamis, 27 Agustus 2026 - 23:04 WIB

Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupanku

Kamis, 27 Agustus 2026 - 22:58 WIB

Hidup Bersama Nilai-Nilai Pancasila

Kamis, 27 Agustus 2026 - 22:54 WIB

Pancasila: Refleksi Sederhana dari Realitas Keseharian

Kamis, 27 Agustus 2026 - 22:50 WIB

Lima Sila dalam Cerita Perjalanan Saya di Kampus

Berita Terbaru

Sumsel

Cahaya Lima Sila dalam Kehidupan Sehari-hari

Kamis, 27 Agu 2026 - 23:07 WIB

Sumsel

Penerapan Nilai-Nilai Pancasila dalam Kehidupanku

Kamis, 27 Agu 2026 - 23:04 WIB

Sumsel

Hidup Bersama Nilai-Nilai Pancasila

Kamis, 27 Agu 2026 - 22:58 WIB

Sumsel

Pancasila: Refleksi Sederhana dari Realitas Keseharian

Kamis, 27 Agu 2026 - 22:54 WIB

Sumsel

Lima Sila dalam Cerita Perjalanan Saya di Kampus

Kamis, 27 Agu 2026 - 22:50 WIB