Nama: Riti Anjani
NIM : PO7120426020
Prodi: D4 Keperawatan Regular
Pancasila: Refleksi Sederhana dari Realitas Keseharian
Dulu, ketika mendengar kata Pancasila di luar ruang kelas atau ujian, rasanya agak cringe. Pancasila sering kali hanya lewat di kepala sebagai deretan teks hafalan yang wajib diingat. Namun, semua itu berubah sejak saya benar-benar merasakan kerasnya dunia perkuliahan, mulai dari drama tugas kelompok yang membuat stres hingga jadwal organisasi yang padat. Tanpa disadari, nilai-nilai Pancasila sebenarnya hidup dan melekat dalam keseharian kita.
Contoh paling sederhana terdapat pada sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Nilai sila ini sangat terasa ketika saya dan teman-teman sedang mengejar tenggat tugas bersama hingga sore. Saat azan Magrib berkumandang, saya dan teman-teman yang beragama Islam langsung bersiap mengambil wudu dan melaksanakan salat. Di saat yang sama, teman saya yang nonmuslim dengan santai makan atau berbincang pelan sambil menunggu kami selesai tanpa merasa terganggu. Begitu juga sebaliknya, ketika hari Minggu, tidak ada yang memaksa mengajak kerja kelompok pada pagi hari karena memahami bahwa beberapa teman harus beribadah terlebih dahulu ke gereja. Hal-hal kecil seperti saling menyesuaikan jadwal tanpa perlu diperintah membuat saya sadar bahwa nilai ketuhanan di lingkungan saya tercermin melalui sikap saling menghormati keyakinan dan menjaga kedamaian.
Masuk ke sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, ujian terbesarnya justru sering datang dari jempol sendiri. Sangat mudah bagi kita untuk bersikap seolah-olah kritis atau menghakimi orang lain di media sosial tanpa mengetahui keadaan sebenarnya. Namun, kehidupan nyata mengajarkan batasan. Sikap beradab justru diuji melalui cara kita memperlakukan orang-orang di sekitar yang sering dianggap tidak penting, mulai dari cara berbicara dengan ibu kantin dan bapak satpam hingga kepedulian ketika ada teman satu angkatan yang sedang mengalami tekanan karena masalah perkuliahan.
Kemudian, sila ketiga, Persatuan Indonesia, juga memiliki tantangannya sendiri, terutama di layar ponsel. Kita mudah terpancing hoaks atau unggahan yang sengaja memprovokasi dan mempertentangkan antardaerah. Sebagai anak muda, bentuk nasionalisme yang paling realistis adalah tidak ikut menyebarkan kebencian di grup WhatsApp atau media sosial, mampu menjadi penyaring informasi yang baik, serta tetap berteman dengan siapa saja tanpa memandang latar belakang.
Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, terasa ketika saya mengikuti rapat dan berdiskusi mengenai berbagai kegiatan. Ketika ego mulai muncul, perbedaan pendapat bisa membuat suasana menjadi tegang. Namun, dari situ saya belajar bahwa musyawarah melatih kita untuk berpikir dengan kepala dingin dan belajar menerima ketika ide yang kita ajukan tidak disetujui. Ternyata, mampu bekerja sama jauh lebih penting daripada sekadar memenangkan perdebatan.
Terakhir, ada sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Memikirkan keadilan untuk satu negara mungkin terasa terlalu jauh jika tugas makalah sendiri masih berantakan. Karena itu, bentuk keadilan yang paling masuk akal dapat dimulai dari diri sendiri. Misalnya, tidak menjadi freeloader yang hanya mencantumkan nama dalam tugas kelompok tanpa berkontribusi, tetapi benar-benar ikut bekerja dan menghargai usaha teman satu tim.
Pada akhirnya, saya menyadari bahwa Pancasila bukanlah pedoman hidup yang kaku atau sulit untuk diterapkan. Pada praktiknya, Pancasila berkaitan dengan bagaimana kita menjadi manusia yang mampu menjaga sikap, memahami batasan, bertoleransi, menghargai orang lain, dan tidak bersikap egois di tengah berbagai keruwetan kehidupan perkuliahan. Pancasila bukan sekadar hafalan, melainkan nilai yang dapat kita hidupkan melalui tindakan-tindakan sederhana setiap hari.







