Salwa dan Goresan Kenangan dari Jari Jemarinya

- Redaksi

Kamis, 29 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PALEMBANG, SUARAPUBLIK.ID —Di sebuah ruang belajar sederhana di Jalan Mandi Api I, Persada 2, RT 33, Palembang, sunyi kerap menjadi teman setia Salwa. Di sanalah, di antara kanvas, cat, dan kuas, seorang anak perempuan membiarkan imajinasinya tumbuh tanpa gaduh, tanpa sorotan. Hanya warna, rasa, dan ketekunan yang bicara.

Salwa Aliya Putri, lahir pada 18 November 2011, menemukan ketenangan dalam melukis. Selain menggambar, ia juga gemar bermain piano. Namun, melukis menjadi bahasa yang paling ia pahami untuk menyampaikan perasaan. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, aktivitas itu ia jalani dengan konsisten perlahan, sabar, dan penuh kesungguhan.

Kini, Salwa tercatat sebagai siswi kelas IX.7 SMP Negeri 19 Palembang. Ia adalah anak pertama dari pasangan Lidia dan Arwin Agustian. Bakat melukis yang ia miliki tidak datang secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari kebiasaan yang dirawat, dari ruang yang dibuka orang tua, dan dari kebebasan berekspresi yang tidak pernah dipaksakan.“Kalau melukis, rasanya tenang,” tutur Salwa pelan.

Di atas kanvas, ia belajar memahami diri sendiri belajar sabar, teliti, dan jujur pada perasaan yang kerap sulit diucapkan dengan kata-kata.

Puluhan karya telah lahir dari tangannya. Pemandangan alam, potret wajah, hingga ekspresi kehidupan sehari-hari pernah ia abadikan. Namun, satu lukisan belakangan ini memiliki arti yang lebih dalam dibandingkan yang lain.

Dengan penuh kesungguhan, Salwa melukis potret Kepala Dinas Pendidikan Kota Palembang, Affan Prapanca. Lukisan itu bukan sekadar karya seni, melainkan ungkapan terima kasih seorang siswa kepada sosok yang ia pandang berjasa dalam dunia pendidikan.

Proses pengerjaannya tidak singkat. Berkali-kali Salwa mengulang detail, memperbaiki bayangan, dan menyesuaikan gradasi warna agar mendekati rupa aslinya. Setiap goresan kuas lahir dari jari jemari yang masih belia, namun sarat kehati-hatian dan rasa hormat.“Saya ingin lukisan ini benar-benar pantas diberikan,” ucapnya lirih.

Ketika lukisan itu akhirnya diserahkan, momen sederhana berubah menjadi peristiwa yang hangat. Affan Prapanca menerima karya tersebut dengan apresiasi mendalam. Ia mengaku tersentuh bukan semata oleh hasil akhirnya, tetapi oleh ketulusan di balik prosesnya.

“Saya sangat berterima kasih. Lukisan ini bukan hanya indah, tetapi juga bermakna karena dibuat langsung oleh seorang siswa, dari hasil karya tangannya sendiri,” ujarnya.

Bagi Affan, karya Salwa menjadi pengingat penting bahwa sekolah bukan hanya tempat mengejar angka dan nilai akademik. Sekolah, menurutnya, adalah ruang tumbuhnya karakter, bakat, dan kepekaan rasa. Jari jemari Salwa dan goresan kuasnya adalah simbol masa depan pendidikan yang memberi tempat bagi kreativitas.

“Anak-anak seperti Salwa adalah bukti bahwa jika diberi kesempatan dan dukungan, potensi mereka bisa tumbuh dengan luar biasa,” katanya.

Bagi Salwa sendiri, lukisan itu kini telah berpindah tangan. Namun, jejak emosinya tetap tinggal. Ia belajar bahwa karyanya mampu berbicara, menyentuh, dan memberi makna bagi orang lain. Sebuah pengalaman sederhana yang kelak mungkin akan ia kenang sebagai titik penting dalam perjalanan hidupnya.

Di usia yang masih muda, Salwa telah memahami satu hal penting: mimpi tidak selalu harus diteriakkan. Kadang, ia cukup dilukiskan pelan, jujur, dan penuh cinta dari tangan seorang anak yang percaya pada warna dan masa depan.

Berita Terkait

OTT Lagi, Pola Korupsi Masih Sama Fitra Sebut Ini Mencederai Kepercayaan Publik Terhadap Pemerintah Daerah
Herman Deru Segera Usulkan Plt Bupati Muara Enim Pasca OTT KPK
Muhammad Suryadi Resmi Pimpin Bank Sumsel Babel, Siap Perkuat Kepercayaan dan Transformasi Digital
Stafsus Gubernur Sumsel Mukhlis: Masyarakat Jangan Terpancing Isu Sara
Terdakwa Penipuan dengan Jaminan Sertifikat Palsu Divonis 2 Tahun 6 Bulan Penjara
Setelah Dua Hari Dicari, Bocah Tenggelam di Sungai Musi Ditemukan Mengapung 1,5 Kilometer dari Lokasi Awal
Heboh Motor Hilang di RS Bhayangkara Palembang, Rekaman CCTV Perlihatkan Pria Berhelm Keluar Bawa Motor
Warga Temukan Mayat Pria Mengapung di Kolam 

Berita Terkait

Selasa, 9 Juni 2026 - 18:57 WIB

OTT Lagi, Pola Korupsi Masih Sama Fitra Sebut Ini Mencederai Kepercayaan Publik Terhadap Pemerintah Daerah

Selasa, 9 Juni 2026 - 17:43 WIB

Herman Deru Segera Usulkan Plt Bupati Muara Enim Pasca OTT KPK

Selasa, 9 Juni 2026 - 17:02 WIB

Stafsus Gubernur Sumsel Mukhlis: Masyarakat Jangan Terpancing Isu Sara

Selasa, 9 Juni 2026 - 17:00 WIB

Terdakwa Penipuan dengan Jaminan Sertifikat Palsu Divonis 2 Tahun 6 Bulan Penjara

Selasa, 9 Juni 2026 - 16:20 WIB

Setelah Dua Hari Dicari, Bocah Tenggelam di Sungai Musi Ditemukan Mengapung 1,5 Kilometer dari Lokasi Awal

Berita Terbaru

Gubernur Sumatera Selatan, Herman Deru saat diwawancarai langsung, Senin (9/6/2026). Foto: Tia

Kota Palembang

Herman Deru Segera Usulkan Plt Bupati Muara Enim Pasca OTT KPK

Selasa, 9 Jun 2026 - 17:43 WIB