PALEMBANG, SUARAPUBLIK.ID —Di sebuah ruang belajar sederhana di Jalan Mandi Api I, Persada 2, RT 33, Palembang, sunyi kerap menjadi teman setia Salwa. Di sanalah, di antara kanvas, cat, dan kuas, seorang anak perempuan membiarkan imajinasinya tumbuh tanpa gaduh, tanpa sorotan. Hanya warna, rasa, dan ketekunan yang bicara.
Salwa Aliya Putri, lahir pada 18 November 2011, menemukan ketenangan dalam melukis. Selain menggambar, ia juga gemar bermain piano. Namun, melukis menjadi bahasa yang paling ia pahami untuk menyampaikan perasaan. Sejak duduk di bangku sekolah dasar, aktivitas itu ia jalani dengan konsisten perlahan, sabar, dan penuh kesungguhan.
Kini, Salwa tercatat sebagai siswi kelas IX.7 SMP Negeri 19 Palembang. Ia adalah anak pertama dari pasangan Lidia dan Arwin Agustian. Bakat melukis yang ia miliki tidak datang secara tiba-tiba. Ia tumbuh dari kebiasaan yang dirawat, dari ruang yang dibuka orang tua, dan dari kebebasan berekspresi yang tidak pernah dipaksakan.“Kalau melukis, rasanya tenang,” tutur Salwa pelan.
Di atas kanvas, ia belajar memahami diri sendiri belajar sabar, teliti, dan jujur pada perasaan yang kerap sulit diucapkan dengan kata-kata.
Puluhan karya telah lahir dari tangannya. Pemandangan alam, potret wajah, hingga ekspresi kehidupan sehari-hari pernah ia abadikan. Namun, satu lukisan belakangan ini memiliki arti yang lebih dalam dibandingkan yang lain.
Dengan penuh kesungguhan, Salwa melukis potret Kepala Dinas Pendidikan Kota Palembang, Affan Prapanca. Lukisan itu bukan sekadar karya seni, melainkan ungkapan terima kasih seorang siswa kepada sosok yang ia pandang berjasa dalam dunia pendidikan.
Proses pengerjaannya tidak singkat. Berkali-kali Salwa mengulang detail, memperbaiki bayangan, dan menyesuaikan gradasi warna agar mendekati rupa aslinya. Setiap goresan kuas lahir dari jari jemari yang masih belia, namun sarat kehati-hatian dan rasa hormat.“Saya ingin lukisan ini benar-benar pantas diberikan,” ucapnya lirih.
Ketika lukisan itu akhirnya diserahkan, momen sederhana berubah menjadi peristiwa yang hangat. Affan Prapanca menerima karya tersebut dengan apresiasi mendalam. Ia mengaku tersentuh bukan semata oleh hasil akhirnya, tetapi oleh ketulusan di balik prosesnya.
“Saya sangat berterima kasih. Lukisan ini bukan hanya indah, tetapi juga bermakna karena dibuat langsung oleh seorang siswa, dari hasil karya tangannya sendiri,” ujarnya.
Bagi Affan, karya Salwa menjadi pengingat penting bahwa sekolah bukan hanya tempat mengejar angka dan nilai akademik. Sekolah, menurutnya, adalah ruang tumbuhnya karakter, bakat, dan kepekaan rasa. Jari jemari Salwa dan goresan kuasnya adalah simbol masa depan pendidikan yang memberi tempat bagi kreativitas.
“Anak-anak seperti Salwa adalah bukti bahwa jika diberi kesempatan dan dukungan, potensi mereka bisa tumbuh dengan luar biasa,” katanya.
Bagi Salwa sendiri, lukisan itu kini telah berpindah tangan. Namun, jejak emosinya tetap tinggal. Ia belajar bahwa karyanya mampu berbicara, menyentuh, dan memberi makna bagi orang lain. Sebuah pengalaman sederhana yang kelak mungkin akan ia kenang sebagai titik penting dalam perjalanan hidupnya.
Di usia yang masih muda, Salwa telah memahami satu hal penting: mimpi tidak selalu harus diteriakkan. Kadang, ia cukup dilukiskan pelan, jujur, dan penuh cinta dari tangan seorang anak yang percaya pada warna dan masa depan.

















