Nama : Veni Shaly Kirana
NIM : PO7131126025
Prodi : D3 Gizi A Tingkat 1
Rumahku: 5 Sila Pancasila untuk Menopang Masa Depan
Kalau ngomongin Pancasila, jujur ya saya taunya cuma hafalan waktu SD. Dulu mikirnya, “ngapain sih dihafalin, toh gak kepake juga.” Tapi lama-lama ngerasa kalau Pancasila penting banget. Apalagi sekarang di medsos orang gampang ribut karena beda pendapat. Nah, di situ baru kerasa kalau 5 sila itu sebenarnya kompas saya.
Menurut saya, Pancasila tuh kayak rumah. Ada 5 tiangnya dan semuanya harus sama-sama kuat. Kalau satu tiang patah, rumahnya bisa ambruk. Yang bangun rumah itu ya saya sendiri.
Pertama, Ketuhanan yang Maha Esa
Bukan berarti semua orang harus punya agama yang sama, tapi harus saling menghargai. Contohnya saat hari raya, saya saling mengucapkan selamat tanpa mempermasalahkan perbedaan.
Dalam kegiatan sehari-hari, saya bisa menerapkannya dengan menjalankan ibadah sesuai agama yang saya anut, menghargai teman yang berbeda keyakinan, serta tidak mengganggu orang lain ketika sedang beribadah. Hal sederhana seperti memberi kesempatan teman menjalankan ibadah dengan tenang juga menurut saya sudah termasuk bentuk menghargai sila pertama.
Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Di zaman HP, kita gampang banget ngetik komentar kasar. Jadi, mulai dari diri sendiri dengan membantu orang yang kesusahan dan tidak menyebarkan hoaks. Dalam kehidupan sehari-hari, saya bisa menerapkannya dengan berbicara sopan kepada orang lain, tidak membeda-bedakan teman, dan membantu ketika ada orang yang sedang membutuhkan bantuan. Di media sosial juga saya harus berpikir dulu sebelum menulis sesuatu agar perkataan saya tidak menyakiti orang lain.
Ketiga, Persatuan Indonesia
Indonesia beragam, termasuk bahasa, suku, dan budaya. Justru perbedaan itu yang bikin saya bisa belajar dan bekerja sama dengan banyak orang. Saya bisa mewujudkannya dengan berteman tanpa memilih-milih berdasarkan suku, daerah, atau budaya. Saat mengerjakan tugas kelompok, saya juga harus mau bekerja sama dan menghargai pendapat teman. Selain itu, saya bisa ikut menjaga kerukunan di lingkungan kampus dan tidak mudah ikut-ikutan memperbesar perbedaan.
Keempat, Kerakyatan yang Dipimpin Hikmat Kebijaksanaan
Intinya adalah musyawarah. Boleh berbeda pendapat, tapi tetap duduk bersama dan mencari keputusan yang terbaik. Penerapannya bisa dilakukan ketika berdiskusi atau mengerjakan tugas kelompok. Jika ada perbedaan pendapat, saya tidak boleh memaksakan keinginan sendiri. Saya perlu mendengarkan pendapat teman, menyampaikan pendapat dengan baik, lalu mencari jalan tengah yang bisa diterima bersama.
Kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
Keadilan bisa dimulai dari hal kecil, seperti membantu sesama dan menghargai usaha orang lain. Dalam kegiatan sehari-hari, saya bisa menerapkannya dengan bersikap adil kepada teman, tidak mengambil hak orang lain, dan mau berbagi ketika ada yang membutuhkan. Dalam tugas kelompok, misalnya, pembagian pekerjaan sebaiknya dilakukan secara adil supaya tidak ada satu orang yang merasa bekerja sendiri.
Jadi, kelima sila itu gak bisa dipisahkan Semuanya harus berjalan bersama. Kalau ingin Indonesia kuat di masa depan, mulainya dari saya, dari hal kecil di rumah, kelas, pertemanan, dan medsos. Dengan begitu, Pancasila bukan cuma sesuatu yang dihafal untuk tugas atau ujian. Nilainya bisa kita terapkan setiap hari, baik saat berbicara dengan teman, bekerja dalam kelompok, maupun saat menggunakan media sosial dengan bijak di lingkungan kampus dan masyarakat sekitar.







