Nama: Tiwi Artika Sri Dewi
Nim : P07131126026
Prodi : D3 Gizi B
Pancasila dalam Keseharian Saya sebagai Anak Pertama
Halo, perkenalkan saya Tiwi Artika Sri Dewi. Saat ini, saya sedang menempuh perjalanan baru sebagai mahasiswa jurusan Gizi. Di keluarga, saya adalah anak pertama dari empat bersaudara. Menjadi anak pertama memberikan saya pelajaran berharga tentang tanggung jawab sejak masih remaja. Saya sadar bahwa setiap tindakan dan keputusan yang saya ambil akan dilihat dan mungkin ditiru oleh adik-adik saya. Oleh karena itu, saya selalu berusaha membawa nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah fondasi Saya menjalaninya dengan konsisten beribadah, berdoa, dan selalu bersyukur atas setiap proses yang saya lalui. Saya percaya bahwa kuliah bukan hanya soal mengejar nilai atau menjadi pintar, tapi juga tentang membentuk karakter yang beriman dan punya rasa tanggung jawab kepada Tuhan.
Sila Kedua Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, hal ini sudah menjadi kebiasaan saya di rumah. Sebagai anak pertama, saya terbiasa menaruh empati dan membantu adik-adik saat mereka kesulitan. Kebiasaan ini saya bawa ke kampus saya berusaha menghargai setiap teman tanpa memandang latar belakang atau perbedaan karakter mereka.
Untuk Sila Ketiga Persatuan Indonesia, saya menerapkannya dengan cara menjaga hubungan baik dan kekompakan saat bekerja sama dengan teman-teman. Saya mulai paham bahwa perbedaan pendapat atau suku bukanlah penghalang, melainkan kekuatan yang bisa saling melengkapi satu sama lain.
Di dunia perkuliahan yang penuh dengan diskusi, Sila Keempat Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawarahan/Perwakilan, sangat terasa manfaatnya Saat mengerjakan tugas kelompok, saya belajar untuk berani menyampaikan ide, namun di saat yang sama juga harus belajar berlapang dada dengan mendengarkan dan menghargai masukan dari orang lain demi mencapai kesepakatan bersama.
Terakhir, Sila Kelima Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, saya wujudkan melalui sikap adil. Di kampus, saya berusaha tidak pilih-pilih teman, dan di rumah, saya belajar untuk berbagi dengan adik-adik saya secara proporsional. Saya sangat percaya bahwa keadilan bisa dimulai dari hal-hal kecil yang kita lakukan sehari-hari.







