Pantun dan Gurindam Nyaris Hilang, DPRD Palembang Serukan Revitalisasi Sastra Lokal

- Redaksi

Senin, 1 Desember 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Palembang yang membidangi pendidikan dan kesehatan,H.MGS. Syaiful Fadli,ST.,MM.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Palembang yang membidangi pendidikan dan kesehatan,H.MGS. Syaiful Fadli,ST.,MM.

SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG —Wacana Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) untuk mengubah nama mata pelajaran Bahasa Indonesia menjadi “Bahasa dan Sastra Indonesia” turut menjadi sorotan DPRD Kota Palembang. Komisi IV yang membidangi pendidikan dan kesehatan menilai wacana tersebut bukan sekadar pergantian nama, melainkan momentum strategis untuk menghidupkan kembali pembelajaran sastra di sekolah.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Palembang, H. MGS. Syaiful Fadli, ST., MM., mengatakan bahwa aspek sastra selama ini kalah dominan dibanding materi teknis kebahasaan. Ia menilai perubahan nomenklatur dapat menjadi titik balik bagi kebangkitan kegiatan literasi dan kesastraan yang lebih kreatif di lingkungan pendidikan.

“Kami memandang kebijakan ini sebagai upaya positif untuk mengembalikan keseimbangan antara bahasa dan sastra. Siswa tidak hanya perlu mahir secara gramatikal, tetapi juga memiliki kepekaan estetika dan kemampuan mengapresiasi karya sastra,” ujar Syaiful.

Ia menjelaskan, sastra memiliki peran penting dalam membentuk empati, karakter, serta kemampuan berpikir reflektif. Menurutnya, kemampuan tersebut sangat dibutuhkan generasi muda di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial.

Lebih lanjut, Syaiful menyebut wacana ini dapat membuka ruang lebih luas bagi kegiatan kesastraan di sekolah, seperti baca puisi, teater, resensi buku, hingga penulisan kreatif. Meski begitu, ia menegaskan bahwa kompetensi guru juga harus diperkuat agar pengajaran sastra tidak lagi sekadar pelengkap.

Meski mendukung, Syaiful menekankan pentingnya kesiapan menyeluruh sebelum kebijakan diterapkan. “Perubahan ini harus dibarengi pembaruan kurikulum, pelatihan guru, serta penyediaan buku dan bahan ajar sastra yang relevan. Jika dilakukan secara komprehensif, kebijakan ini dapat melahirkan generasi yang cakap berbahasa dan kaya imajinasi,” tegasnya.

Ia juga berharap pembaruan mata pelajaran dapat mengakomodasi kearifan lokal. Menurutnya, banyak sastra daerah seperti pantun dan gurindam mulai ditinggalkan generasi muda. Karena itu, perubahan ini dinilai sebagai momentum untuk menghidupkan kembali kekayaan sastra lokal, khususnya di Kota Palembang.

“Palembang memiliki warisan muatan lokal yang kaya, termasuk bahasa asli Palembang. Perubahan ini dapat menjadi pintu untuk menggali kembali kekayaan tersebut,” ujarnya.

Syaiful menambahkan, keberhasilan kebijakan ini membutuhkan dukungan nyata dari pemerintah, baik fasilitas, sumber daya manusia, maupun apresiasi terhadap guru. Semua itu, katanya, menjadi modal penting dalam menyongsong perubahan menuju mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.

Sementara itu, guru Bahasa Indonesia di Palembang, Rinata Putri, menyambut baik wacana perubahan tersebut. Ia menilai nama baru itu dapat menjadi “napas segar” bagi pembelajaran sastra, yang sebelumnya kurang mendapat ruang karena dominasi materi kebahasaan.

“Selama ini sastra seperti berjalan di lorong sempit. Siswa sering dijejali aturan kebahasaan, sementara ruang berimajinasi makin menyusut,” kata Rinata.

Ia menekankan bahwa sastra memiliki kekuatan menyentuh emosi dan membuka empati, sesuatu yang tidak dimiliki materi teknis. Karena itu, jika perubahan ini diterapkan dengan serius, ia yakin sekolah akan lebih kreatif menghadirkan kegiatan seperti mendongeng, teater mini, klub baca, hingga proyek antologi.

“Sastra bukan pelengkap. Ia ruang untuk membentuk manusia yang peka dan berkarakter,” pungkasnya.

Berita Terkait

Sensus Ekonomi 2026 Jadi Fondasi Utama Kebijakan yang Tepat Sasaran
Mensos-BPS Jamin Akurasi Data Siswa Sekolah Rakyat
Open House Sekolah Rakyat Palembang, Gus Ipul Tekankan Kejujuran Penjangkauan Siswa
PCX Bikers Playland, Astra Motor Sumsel Ajak Komunitas Honda Pererat Kebersamaan Bersama Keluarga
Tim Karate Polda Sumsel Tembus Peringkat Ke-8 Tingkat Nasional Piala Kapolri
Begal Sadis yang Tikam Korban 11 Kali Akhirnya Dibekuk, Seluruh Pelaku Curas di Jakabaring Ditangkap
Polda Sumsel Putus Jalur Peredaran Ekstasi Medan-Palembang, Dua Kurir Dibekuk
Ombudsman RI: Ada Lima Pelanggaran SPMB di Sumsel

Berita Terkait

Minggu, 28 Juni 2026 - 23:51 WIB

Sensus Ekonomi 2026 Jadi Fondasi Utama Kebijakan yang Tepat Sasaran

Minggu, 28 Juni 2026 - 21:40 WIB

Mensos-BPS Jamin Akurasi Data Siswa Sekolah Rakyat

Minggu, 28 Juni 2026 - 20:58 WIB

Open House Sekolah Rakyat Palembang, Gus Ipul Tekankan Kejujuran Penjangkauan Siswa

Minggu, 28 Juni 2026 - 18:34 WIB

PCX Bikers Playland, Astra Motor Sumsel Ajak Komunitas Honda Pererat Kebersamaan Bersama Keluarga

Minggu, 28 Juni 2026 - 17:05 WIB

Tim Karate Polda Sumsel Tembus Peringkat Ke-8 Tingkat Nasional Piala Kapolri

Berita Terbaru

Caption: Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti dalam rangkaian kegiatan Semarak Sensus Wong Kito di Benteng Kuto Besak Palembang, Minggu (28/6/2026). Foto: Tia

Kota Palembang

Sensus Ekonomi 2026 Jadi Fondasi Utama Kebijakan yang Tepat Sasaran

Minggu, 28 Jun 2026 - 23:51 WIB

Menteri Sosial RI, Syaifullah Yusuf saat diwawancarai langsung usai acara Open House Sekolah Rakyat di SRMA 7 Palembang, Minggu (28/6/2026). Foto: Tia

Kota Palembang

Mensos-BPS Jamin Akurasi Data Siswa Sekolah Rakyat

Minggu, 28 Jun 2026 - 21:40 WIB