Nama : Balkis Novita
NIM : PO7120426016
Prodi : STR Keperawatan Regular
Pancasila dalam Diriku
Pancasila bukan sekadar pilar atau simbol negara yang terukir di dada Burung Garuda, melainkan moral dan pedoman hidup bagi setiap warga negara Indonesia. Sebagai seorang pribadi, saya menyadari bahwa meresapi nilai-nilai Pancasila tidak cukup hanya dengan menghafalnya, melainkan harus diwujudkan melalui aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila hidup dan bernapas dalam setiap tindakan, tutur kata, dan keputusan yang saya ambil dari Sila Pertama hingga Sila Kelima.
Pengamalan Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa, menjadi landasan spiritual dalam hidup saya. Sebagai seorang Muslim, saya menjalankan kewajiban ibadah salat lima waktu sebagai bentuk ketaatan dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Ibadah ini tidak hanya mendekatkan diri saya kepada Sang Pencipta, tetapi juga membentuk kedisiplinan dan kerendahan hati dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Landasan spiritual ini memperkuat moral saya untuk menjadi individu yang jujur dan bertanggung jawab.
Nilai ketuhanan tersebut mengalir secara alami ke dalam Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Dalam kehidupan bermasyarakat dan bersekolah, saya selalu berusaha menerapkan prinsip keadilan dan kemanusiaan. Saya berteman secara adil tanpa membeda-bedakan seseorang berdasarkan latar belakang suku, agama, ras, maupun status sosial. Bagi saya, setiap orang memiliki harkat dan martabat yang sama, sehingga menghargai sesama tanpa memilih-milih teman adalah bentuk nyata dari nilai adab dan kemanusiaan.
Sikap saling menghargai membimbing saya pada pengamalan Sila Ketiga, Persatuan Indonesia. Di tengah keberagaman lingkungan sekitar, saya aktif menjaga kerukunan dan menghindari konflik yang berpotensi memecah belah persaudaraan dan pertengkaran . Saya mengutamakan semangat gotong royong, baik saat bekerja kelompok maupun dalam kegiatan kemasyarakatan. Dengan menempatkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi, saya turut menjaga keutuhan dan rasa persatuan di lingkungan terdekat saya.
Dalam mengambil keputusan bersama, saya memegang teguh prinsip Sila Keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Ketika menghadapi perbedaan pendapat dalam diskusi kelompok atau organisasi, saya selalu mengutamakan jalan musyawarah untuk mencapai mufakat. Saya belajar untuk mendengarkan pandangan orang lain dengan lapang dada, tidak memaksakan kepribadi, dan menerima setiap keputusan bersama dengan rasa penuh tanggung jawab.
Akhirnya, dari seluruh pengamalan tersebut tercermin pada Sila Kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Saya berusaha bersikap adil dalam membagi waktu, menghargai hak-hak orang lain, Selain itu, saya juga membiasakan diri untuk hidup hemat, tidak berfoya-foya, serta peduli terhadap sesama yang membutuhkan bantuan. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban adalah cara sederhana saya dalam mewujudkan keadilan sosial dari sekala terkecil.
Secara keseluruhan, Pancasila bukanlah teori yang kaku, melainkan jiwa yang menggerakkan perilaku saya sehari-hari. Dengan menjalankan ibadah, berteman tanpa membeda-bedakan, menjaga persatuan, bermusyawarah, dan berlaku adil, saya berusaha menjadikan Pancasila benar-benar hidup dalam diri saya demi menjadi pribadi yang bermanfaat bagi bangsa dan negara.












