Nama : Dra. Sri Artati Waluyati, M.Si., Adielia Semenguta
Email : sriartatiwaluyati@gmail.com, adelia221204@gmail.com
Universitas Sriwijaya
SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG – Indonesia memiliki kekayaan alam dan warisan yang sangat melimpah. Indonesia sering disebut dengan negara kepulauan, sehingga terdapat keberagaman. Keberagaman yang ada di Indonesia tidak hanya tercermin pada suku bangsa dan budaya, tetapi juga mencakup berbagai aspek lainnya.
Bentuk-bentuk keragaman tersebut meliputi kondisi ekonomi, etnis, ras, agama, bahasa daerah, serta keberagaman pada rumah adat, kesenian tradisional seperti lagu daerah, tarian, pakaian adat, dan alat musik khas dari berbagai wilayah (Sa’diyah, et al., 2021).
Dengan banyaknya keanekaragaman budaya yang ada mencerminkan bahwa setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda. Karakter yang unik dapat menjadi ciri khas dalam suatu daerah setempat.
Setiap wilayah yang ada di Indonsia memiliki tradisi serta kebudayaan yang beragam, sehingga menjadikan Indonesia kaya akan warisan sejarah. Di dalam sebuah tradisi terselip nilai-nilai yang bermakna di dalamnya. Lahirnya tradisi pada suatu daerah menjadi manifestasi pada masyarakat daerah setempat untuk mencerminkan niali-nilai yang baik.
Tradisi dapat dipahami sebagai seperangkat pola perilaku, kebiasaan, serta keyakinan yang mencakup nilai, hukum, norma, serta aturan yang tumbuh dalam suatu komunitas. Tradisi menjadi bagian integral dari kehidupan sosial karena diwariskan dari generasi ke generasi dan terus dipraktikkan secara berulang sejak masa lampau (Anjaswan,et al., 2023).
Tradisi merupakan kegiatan yang dilakukan secara berulang dan nantinya menjadi sebuah kebisaan (Saputri,et al., 2022). Maka dapat dikatakan tradisi adalah sebuah kebisaan, tingkah laku, atau suatu kepercayaan terhadap norma serta nilai-nilai yang terdapat pada masyarakat, yang telah ada sejak zaman nenek moyang dan telah diwarisakan kepada anak cucunya. Tradisi yang dilakukan secara turun-temurun sangat besar manfaat bagi kehidupan masyarakat, seperti dapat mempertahankan solidaritas sosial antar individu dengan lain (Wati,et al., 2023).
Salah satu tradisi yang terkenal di Indonesia adalah tradisi pada saat panen raya padi. Tradisi panen raya padi merupakan praktik budaya yang diwariskan oleh nenek moyang secara turun-temurun kepada masyarakat Indonesia sejak masa lampau. Tradisi ini bukan hanya berfungsi sebagai rangkaian kegiatan pascapanen, tetapi juga mengandung makna simbolik sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas keberlimpahan hasil pertanian.
Selain itu, tradisi panen raya memiliki peran sosial yang signifikan karena mampu memperkuat hubungan antarmasyarakat melalui aktivitas gotong royong dan interaksi sosial yang terjadi selama prosesi berlangsung.
Pelaksanaannya biasanya dilakukan setiap enam bulan sekali, ketika tanaman padi telah berisi penuh, berwarna kuning, dan mulai merunduk sebagai tanda siap dipanen. Tradisi panen raya padi juga terdapat di Provinsi Sumatera Selatan, tepat nya pada Desa Pagar Agung, Semende Darat Laut yang disebut dengan Bebie.
Tradisi Bebie merupakan tradisi yang diwariskan oleh nenek moyang. Tradisi ini melambangkan persatuan di dalam keluarga dan mengarmoniskan hubungan atar tetangga atau masyarakat.
Tradisi Bebie merupakan kegiatan yang dilakukan bersama-sama oleh keluarga besar serta tetangga sekitar rumah. Tradisi ini di lakukan agar proses penanaman dan pemanan padi secara bersama-sama cepat terselesaikan.
Jika panen telah terselesikan maka masyarakat akan melaksanakan perayaan sebagi bentuk rasa syuruk atas kelimpahan serta berkat dari yang maha kuas. Tradisi Bebie dilaksankan ketika sudah masuk masa penanaman padi dan pemanenan, biasanya tradisi ini dilakukan dalam jangka waktu 1 tahun 2 kali.
Tradisi Bebie yang dilakukan baik pada penanaman dan pemanenan itu sama proses nya. Dimana pihak keluarga yang melaksanakan tradisi ini akan memanggil atau mengundang seluruh keluarga besar atau biasa disebut Apit Jurai dan tetangga di sekitar rumah, untuk melaksanakan tradisi tersebut.
Di dalam tradisi bebie terdapat prosesi ziahar puyang. Dimana ziarah puyang yang dimaksud dalam tradisi ini hanya mendokan leluhur, serta berdoa atas perlindungan dan keselamatan hasil panen yang melimpah. Prosesi ini diawali dengan seluruh apit jurai (keluarga besar) berkumpul di dangau (pondok tempat istirahat). Acara dibuka oleh tuan rumah, kemudian dilanjutkan dengan sambutan dari perwakilan pihak perempuan yang disebut Meraje, dan dibalas oleh perwakilan pihak laki-laki. Setelah sambutan selesai, tuan rumah memimpin pembacaan surat Al-Fatihah yang ditujukan kepada arwah leluhur, kemudian dilanjutkan dengan doa bersama.
Usai prosesi ziarah puyang, seluruh anggota orang yang hadir menikmati makanan yang telah disiapkan oleh tuan rumah. Setelah makan bersama, kegiatan dilanjutkan dengan pelaksanaan inti Tradisi Bebie, yaitu menanam atau memanen padi secara gotong royong. Seluruh anggota keluarga bekerja sama dalam suasana kebersamaan dan saling membantu hingga proses penanaman atau pemanenan selesai.
Makanan yang disuguhkan oleh tuan rumah biasanya masakan sederhanan. Ada makanan ciri khas dalam tradisi ini yaitu lemang. Biasanya lemang dibuat ketika padi yang ditanaman adalah padi ketan. Masakan yang dihidangkan biasanya dimasak secara bersama sama oleh para wanita.
Dilakukannya Tradisi Bebie tidak hanya mendapatkan hasil jerih payah memanen padi saja, selain untuk malakukan panen padi tradisi ini juga bertujuan untuk menjaga warisan kebudayaan yang sudah ada sejak lama sehingga memiliki nilai kearifan lokal yang ada di Desa Pagar Agung akan tetap dilestarikan sampai anak cucu. Banyak nilai-nilai yang terkandung tidak hanya dari segi kekeluargaan dan tanggung jawab saja, melainkan nilai religius, nilai gotong royong, dan nilai watak yang terkandung di dalamnya.
Tradisi Bebie masih terus dilestarikan hingga saat ini oleh Masyarakat Desa Pagar Agung, Kecamatan Semende Darat Laut, Muara Enim, guna menjaga Kerukunan keluarga dan pelestarian tradisi kepada anak cucu.
DAFTAR PUSTAKA
Anjaswan, S., Zubair, M., Alqadir, B., & Sawaludin. (2023). TRADISI BAREMPUK DALAM PELAKSANAAN PANEN RAYA (Studi di Kelurahan Menala Kecamatan Taliwang Kabupaten Sumbawa Barat). Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar, 08.
Ina, M. R., & Fatmawati. (2023). NILAI KEARIFAN LOKAL UPACRA PANEN PADI SEBAGAI BENTUK SOLIDARITAS SOSIAL DI DESA BALILEDO SUMBA BARAT. MAHARSI, 5(1), 35–42. https://doi.org/10.33503/maharsi.v5i1.2643
Sa’diyah, M. K., Dewi, D. A., & Furnamasari, Y. F. (2021). Pendidikan Kewarganegaraan Mengenai Keragaman Budaya Indonesia Di Sekolah Dasar.
Saputri, A. A. D., Yuhstina, & Trinugraha, Y. H. (2022). Perubahan Partisipasi Pemuda Dalam Tradisi Sinoman Di Dusun Karanglor Kecamatan Manyaran Kabupaten Wonogiri. Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan (JISIP), 6. https://doi.org/10.36312/jisip.v6i1.3087/http://ejournal.mandalanursa.org/index.php/JISIP/index

















