oleh

Menteri PPA dan Kapolda Jatim Bentuk Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak, Antisipasi Berulang Santri Terkena Penganiayaan

-Hukum, Peristiwa-29 Dilihat

SUARAPUBLIK.ID, JAKARTA – Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Gusti Ayu Bintang Darmawati beserta rombongan, dari Kementerian Agama, Komisi VIII DPR RI dan KPAI, mengunjungi Mapolres Ponorogo bersama Kapolda Jawa Timur Irjen Nico Afinta. Guna mengecek penanganan perkara kematian seorang santri AM di Pondok Pesantren Darusalam Gontor, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur.

Dalam pertemuan yang berlangsung di Mapolres Ponorogo tersebut, Kapolda Jatim Nico Afinta mengungkapkan bahwa telah melakukan diskusi terkait dua hal.

“Di dalam pertemuan itu kami mendiskusikan dua hal, yang pertama terkait dengan proses penyidikan. Di dalam penyidikan, penyidik telah mengumpulkan alat bukti dan telah menetapkan dua tersangka, dengan inisial MF dan IH. Dalam prosesnya kemarin juga sudah dilakukan otopsi, itu juga menjadi bahan kelengkapan proses penyidikan,” kata Nico, Senin (12/9/2022).

Baca Juga  Dikunjungi Pihak Ponpes Gontor, Soimah: Proses Hukum Tetap Jalan

Selanjutnya, Nico Afinta juga menyebut, telah membahas bagaimana mekanisme edukasi dan pencegahan supaya hal ini tidak terjadi kembali, khususnya di lembaga pendidikan yang ada di Jawa Timur.

“Kemudian dalam prosesnya kami kerjasama dengan stakeholder terkait, dengan membentuk satgas perlindungan perempuan dan anak. Di dalam satgas ini ada beberapa dinas yang terkait, seperti dinas sosial, dinas agama, Tim Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (TP2TPA), serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM),” paparnya.

“Didalam pembentukan badan ini, kami mengedepankan kemudahan dalam memberikan informasi dengan memberikan nomor Hotline, sehingga siapapun yang menjadi korban bisa segera melapor dan kami bisa cepat menindaklanjuti,” tambahnya.

Baca Juga  Dua Pelaku Pembunuhan Santri Pondok Gontor Ditahan, Pukul Korban Pakai Kayu

Lebih lanjut, Nico mengharapkan, di setiap lembaga pendidikan agar mematuhi perlindungan kepada anak, dalam hak memperoleh pendidikan tanpa ada kekerasan.

“Hal ini bisa didapatkan dengan peran aktif baik dari lembaga pendidikan, orang tua, maupun dari anak-anak sendiri yang sedang mengikuti pendidikan,” tuturnya.

Proses junior dan senior atau senioritas ini menjadi sifat pengasuhan, sehingga seorang anak yang melakukan proses pendidikan ini memperoleh pendidikan yang wajar tanpa ada tekanan maupun kekerasan.

“Saya kira penting, kerjasama ini terus ditingkatkan. Sehingga ke depan kita mencetak anak-anak yang mempunyai ilmu pengetahuan yang baik, punya akhlak yang baik dan kedepan bisa berguna bagi bangsa dan negara,” tutupnya.

Baca Juga  Dua Pelaku Pembunuhan Santri Pondok Gontor Ditahan, Pukul Korban Pakai Kayu

Kapolda Jatim usai melakukan diskusi dengan Menteri PPPA, Kementerian Agama dan Komisi 8 DPR RI dalam mengungkap aksi kekerasan yang terjadi di Lembaga pendidikan.

Sebelumnya diberitakan, kasus meninggalnya Santri Gontor asal Palembang AM (17) mencuat ke permukaan dan menjadi viral. Setelah ibu korban, Soimah mengadukan penganiayaan yang diterima anaknya ke pengacara kondang, Hotman Paris. Masalah ini kini sudah menjadi konsumsi publik sehingga pengusutan kasus ini harus transparan dan tuntas. (Rel)

Komentar