Menjalani Pancasila: Dari Kesadaran Diri Menuju Harmoni Sosial

- Redaksi

Rabu, 19 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Nama : Aura Salwa Ismail

NIM   : PO7124226034

Prodi : STR Kebidanan

 

Menjalani Pancasila: Dari Kesadaran Diri Menuju Harmoni Sosial

 

“Pancasila tidak cukup hanya dihafalkan di kepala, tetapi harus berdenyut dalam setiap detak jantung dan perbuatan sehari-hari.” Pancasila sering kali hanya hadir sebagai pajangan di dinding kelas atau rangkaian kata formal yang dihafalkan saat upacara. Padahal, lima asas ini bukanlah dokumen kaku, melainkan kompas moral yang dinamis. Bagi saya, membumikan Pancasila bukanlah tentang melakukan tindakan megah yang diliput media, melainkan tentang bagaimana kita merawat integritas, memperlakukan sesama, dan berkontribusi secara nyata dalam ruang hidup sehari-hari.

 

Langkah awal pengamalan ini saya tambatkan pada Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Sebagai seorang Muslim, dimensi spiritual menjadi kompas utama dalam menata langkah kehidupan. Saya berusaha mengamalkannya melalui kedisiplinan menunaikan sholat lima waktu, konsistensi menghafal ayat-ayat Al-Qur’an, serta tekun memperdalam ilmu agama. Bagi saya, ibadah dan proses belajar agama bukan sekadar rutinitas personal, melainkan benteng moral yang menjaga kesucian niat dan kejujuran di tengah hiruk-pikuk dinamika perkuliahan.

 

Pancaran kesadaran spiritual tersebut secara alami mewujud dalam Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Keimanan yang benar melahirkan empati. Dalam keseharian, saya melatih diri untuk tidak gampang menghakimi, menjadi pendengar yang baik tanpa memotong pembicaraan, serta hadir mengulurkan tangan saat rekan atau sesama membutuhkan bantuan. Memperlakukan setiap orang dengan santun dan penuh rasa hormat—tanpa memandang latar belakang—adalah wujud keadaban paling mendasar yang terus saya asah.

 

Sikap saling menghargai itu menjadi perekat untuk menjaga Sila Ketiga, Persatuan Indonesia. Di lingkungan kampus yang multikultural dan dipenuhi keragaman latar belakang, saya memilih untuk merangkul semua orang. Saya aktif membangun ruang diskusi yang ramah, merawat jalinan persahabatan lintas latar belakang, dan selalu menempatkan rasa kebersamaan di atas ego atau kepentingan pribadi. Persatuan bukanlah keseragaman, melainkan kemampuan untuk berjalan berdampingan dalam perbedaan.

 

Ketika berhadapan dengan perbedaan pandangan atau dinamika pengambilan keputusan kelompok, saya mempraktikkan Sila Keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Saya membiasakan diri untuk mendengarkan sudut pandang orang lain sebelum berpendapat, tidak memaksakan kehendak saat berdiskusi, serta menghargai setiap keputusan bersama. Saya percaya bahwa musyawarah yang sehat membutuhkan kelapangan dada untuk menerima kritik demi tercapainya kebaikan bersama.

 

Seluruh rangkaian tindakan tersebut akhirnya bermuara pada Sila Kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Nilai keadilan ini saya wujudkan mulai dari hal-hal sederhana di sekitar saya, seperti membagi peran tugas kelompok secara adil, tidak mengambil hak orang lain, serta menghargai karya dan usaha sesama. Keadilan sosial bukanlah angan-angan jauh, melainkan akumulasi dari kepedulian individu untuk tidak bersikap egois dalam kehidupan bermasyarakat.

 

Pada akhirnya, Pancasila adalah tentang cara kita hidup dan berinteraksi setiap hari. Ketika nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Musyawarah, dan Keadilan bersatu dalam tindakan nyata yang konsisten, kita tidak hanya sedang menyelesaikan tugas akademis, tetapi juga sedang ikut merajut masa depan Indonesia yang lebih harmonis, beradab, dan berkeadilan.

Berita Terkait

DR Conie SH : Kuasa Hukum Korban Penusukan Berharap Pihak Pemerintah Membantu Biaya Rumah Sakit
Terduga Provokator Bawa Pisau Diamankan Kapolri Minta Lakukan Investigasi Menyeluruh 
Bupati Toha Lantik Pejabat Pemkab Muba, Tekankan Integritas dan Pelayanan Publik
BNN Empat Lawang Ajak Masyarakat Perkuat Bejeghum P4GN Bersinar
Kajati Sumsel Kunjungi Kejari Empat Lawang, Evaluasi Pelaksanaan Tugas
Dua Wartawan Jadi Korban Kekerasan saat Demo di Polda Sumsel, Kapolda Turun Tangan
Diserang saat Live Facebook, Wartawan Tribun Sumsel Dirawat Intensif, Redaksi Desak Pelaku Ditangkap
Dua Wartawan Diduga Dianiaya saat Liput Kericuhan di Polda Sumsel

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 12:08 WIB

DR Conie SH : Kuasa Hukum Korban Penusukan Berharap Pihak Pemerintah Membantu Biaya Rumah Sakit

Rabu, 14 Oktober 2026 - 12:01 WIB

Terduga Provokator Bawa Pisau Diamankan Kapolri Minta Lakukan Investigasi Menyeluruh 

Rabu, 14 Oktober 2026 - 11:26 WIB

Bupati Toha Lantik Pejabat Pemkab Muba, Tekankan Integritas dan Pelayanan Publik

Selasa, 13 Oktober 2026 - 23:15 WIB

BNN Empat Lawang Ajak Masyarakat Perkuat Bejeghum P4GN Bersinar

Selasa, 13 Oktober 2026 - 23:12 WIB

Kajati Sumsel Kunjungi Kejari Empat Lawang, Evaluasi Pelaksanaan Tugas

Berita Terbaru

Empat Lawang

BNN Empat Lawang Ajak Masyarakat Perkuat Bejeghum P4GN Bersinar

Selasa, 13 Okt 2026 - 23:15 WIB