Nama: Melati Lulukrianto
NIM : PO7131226067
Prodi : D4 Gizi dan Dietetika
Menghidupkan Nilai Pancasila dalam Keseharianku
Pancasila merupakan dasar negara Indonesia yang tidak hanya menjadi pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, tetapi juga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Menurut saya, penerapan nilai-nilai Pancasila dapat dimulai dari hal-hal sederhana yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga, pertemanan, maupun masyarakat.
Sila pertama, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, saya terapkan dengan selalu berusaha melaksanakan shalat lima waktu di mana pun saya berada. Tantangan terbesar bagi saya adalah ketika sedang berada di luar rumah. Ketika sedang bepergian bersama teman, saya biasanya mengajak mereka untuk melaksanakan shalat di masjid atau mushola terdekat. Saya juga merasa senang ketika bertemu dengan teman yang mau saling mengingatkan dan mengajak untuk melaksanakan shalat. Bagi saya, hal tersebut merupakan salah satu bentuk penerapan nilai ketuhanan dalam kehidupan sehari-hari.
Sila kedua, yaitu Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, saya terapkan dengan berusaha membuat orang-orang di sekitar saya tidak merasa sendirian. Ketika ada teman yang cenderung menyendiri atau memojokkan dirinya sendiri, saya berusaha mengajaknya berbicara, mencari topik pembicaraan, atau mengajaknya bermain agar ia merasa diterima. Selain itu, saya juga memiliki rasa prihatin ketika melihat orang-orang di jalan yang mengemis atau berjualan demi mendapatkan penghasilan. Jika memiliki kesempatan, saya berusaha menyisihkan sebagian uang saya untuk membantu mereka meskipun jumlahnya tidak besar. Menurut saya, kepedulian terhadap orang lain merupakan salah satu bentuk nyata dari nilai kemanusiaan.
Selanjutnya, sila ketiga yaitu Persatuan Indonesia, saya terapkan melalui pertemanan dengan orang-orang yang berasal dari berbagai daerah. Saya merasa senang dapat berteman dengan orang yang tidak berasal dari daerah yang sama dengan saya. Melalui pertemanan tersebut, saya dapat mengenal berbagai tradisi, budaya, kebiasaan, serta kegiatan dari daerah mereka. Perbedaan tersebut justru membuat saya mendapatkan wawasan baru dan belajar untuk menghargai keberagaman yang ada di Indonesia.
Sila keempat, yaitu Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, saya terapkan ketika mengerjakan tugas kelompok. Saya biasanya berusaha membuka pembicaraan terlebih dahulu untuk mendiskusikan tugas bersama anggota kelompok. Jika terdapat kesalahan dalam tugas yang dibuat, saya berusaha mendengarkan alasan dari anggota kelompok terlebih dahulu tanpa langsung menghakimi. Begitu pula ketika melakukan presentasi dan terjadi kesalahan yang tidak terduga, saya berusaha mengajak anggota kelompok untuk menyelesaikannya dengan tenang dan tidak terbawa emosi. Menurut saya, sikap saling mendengarkan dan menyelesaikan masalah melalui diskusi merupakan bentuk sederhana dari musyawarah.
Terakhir, sila kelima yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, saya terapkan dalam kegiatan kelompok bersama teman-teman. Ketika mendapatkan tugas yang mengharuskan pembentukan kelompok, saya dan teman-teman berusaha bersikap adil, terutama kepada orang yang sering kali tidak mendapatkan kelompok. Kami berusaha bergantian mengajak orang yang berbeda-beda dalam setiap tugas kelompok agar semua orang memiliki kesempatan untuk bergabung dan tidak ada yang merasa dikucilkan. Bagi saya, memberikan kesempatan yang sama kepada orang lain merupakan salah satu bentuk keadilan dalam kehidupan sehari-hari.







