Nama: Nabila Khalishya Andini
NIM : PO7131226069
Prodi : D4 Gizi & Dietetika
Jika Pancasila adalah Cermin, Apa yang Saya Lihat?
Jika seseorang bertanya kepada saya, “Apa arti Pancasila bagi kamu?”, mungkin dulu saya hanya akan menjawab bahwa Pancasila adalah dasar negara Indonesia. Jawaban itu tidak salah, tetapi setelah menjadi mahasiswa dan mempelajarinya lebih jauh, saya mulai menyadari bahwa Pancasila bukan hanya sesuatu yang berada di luar diri saya. Pancasila seperti sebuah cermin yang membuat saya melihat kembali bagaimana saya bersikap, memperlakukan orang lain, dan menjalani kehidupan sebagai bagian dari masyarakat Indonesia.
Sebagai mahasiswa, saya sedang berada dalam proses mencari dan membentuk diri. Dunia perkuliahan membuat saya bertemu dengan banyak orang yang memiliki karakter dan pemikiran berbeda. Dari sana saya belajar menerima perbedaan, bertanggung jawab, bekerja sama, dan terkadang mengalah. Tanpa saya sadari, proses tersebut sangat dekat dengan nilai-nilai Pancasila.
Sila pertama mengajarkan saya untuk memiliki pegangan dalam menjalani kehidupan. Ketika menghadapi tugas, kegagalan, atau hal yang tidak sesuai harapan, saya belajar untuk tetap berusaha, bersyukur, dan percaya pada proses. Sila kedua mengajarkan saya untuk memiliki empati. Saya menyadari bahwa setiap orang memiliki cerita dan masalah yang tidak selalu terlihat. Karena itu, saya berusaha menghargai orang lain dan tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan.
Sila ketiga saya rasakan dalam kehidupan perkuliahan, terutama ketika bekerja dalam kelompok. Tidak semua pendapat saya diterima, begitu juga sebaliknya. Saya belajar bahwa persatuan bukan berarti harus selalu memiliki pemikiran yang sama, tetapi mampu tetap berjalan bersama di tengah perbedaan.
Sila keempat mengajarkan saya untuk mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain, sedangkan sila kelima mengingatkan saya untuk bersikap adil dan bertanggung jawab terhadap kewajiban saya.
Saya menyadari bahwa saya belum sempurna dalam menerapkan Pancasila. Saya masih belajar mengendalikan ego, menerima perbedaan, dan memahami orang lain. Namun, bagi saya, menjadi manusia yang ber-Pancasila bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang terus berusaha memperbaiki diri.
Jika Pancasila adalah sebuah cermin, saya ingin cermin itu tidak hanya menunjukkan siapa diri saya hari ini, tetapi juga mengingatkan saya tentang siapa yang ingin saya menjadi. Karena pertanyaan terpenting bukan “Apakah saya hafal Pancasila?”, melainkan “Sudah sejauh mana Pancasila terlihat dalam diri saya?”







