PALEMBANG,SUARAPUBLIK.ID— Penyakit kardiovaskular masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia. Berdasarkan data World Heart Observatory pada 2024 menunjukkan bahwa penyakit kardiovaskular menyebabkan hampir 700.000 kematian setiap tahunnya di Indonesia, menjadikannya penyebab kematian utama yang memberikan beban signifikan bagi sistem kesehatan dan masyarakat.
Menjawab tantangan tersebut, Siloam Hospitals Sriwijaya menyelenggarakan Siloam Sriwijaya Cardiology Symposium 2026 sebagai bagian dari komitmen untuk memperkuat kompetensi tenaga kesehatan, memperluas akses terhadap keahlian medis, serta mendorong kolaborasi klinis dalam penanganan penyakit kardiovaskular.
Mengangkat tema “Cardiovascular Continuum: Advancing Care Through Multidisciplinary Collaboration”, kegiatan ini menjadi wadah edukasi dan diskusi bagi dokter umum dan dokter spesialis mengenai pentingnya kolaborasi multidisiplin dalam menangani penyakit kardiovaskular yang kerap berkaitan dengan berbagai faktor risiko, penyakit penyerta, serta sistem organ lainnya. Melalui simposium ini, Siloam Hospitals Sriwijaya mendorong penguatan koordinasi klinis untuk mendukung penanganan pasien secara menyeluruh, mulai dari pencegahan dan deteksi dini hingga terapi serta pemantauan jangka panjang.
Executive Director Siloam Hospitals Sriwijaya Palembang Andry Sjamsu, EMBA, MARS, M.M., menyampaikan “Melalui Siloam Sriwijaya Cardiology Symposium, kami ingin terus mendorong pengembangan pengetahuan sekaligus memperkuat kolaborasi antartenaga medis. Pelayanan kesehatan yang berkualitas tidak hanya didukung oleh fasilitas dan teknologi, tetapi juga oleh kolaborasi klinis yang kuat untuk memastikan setiap pasien mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan kesehatannya,” ujar Andry Penanganan penyakit kardiovaskular tidak selalu terbatas pada kesehatan jantung, tetapi juga perlu mempertimbangkan keterkaitannya dengan kondisi paru-paru dan otak.
Melalui simposium ini, tiga dokter spesialis berbagi perspektif mengenai pentingnya pendekatan lintas disiplin dalam mengenali faktor risiko dan menentukan penanganan sesuai kondisi pasien, yaitu Dr. dr. Alexander Edo Tondas, Sp.JP, Subsp. K.I(K), FIHA, FICA, FAPSC, FESC, M.H., spesialis jantung dan pembuluh darah; dr. Dini Rizkie Wijayanti, Sp.P(K) Onk, FISR, spesialis pulmonologi dan kedokteran respirasi; serta dr. Henry Sugiharto, Sp.N, Subsp. NNN(K), FMIN, spesialis neurologi.
“Penyakit kardiovaskular merupakan suatu rangkaian yang dimulai dari faktor risiko hingga dapat berkembang menjadi kondisi klinis yang lebih kompleks. Karena itu, kolaborasi antarspesialis sangat penting agar faktor risiko dapat dikenali lebih dini dan pasien mendapatkan tata laksana yang tepat serta berkesinambungan,” ujar Dr. dr. Alexander Edo Tondas, Sp.JP, Subsp. K.I(K), FIHA, FICA, FAPSC, FESC, M.H.
Sementara itu, dari perspektif pulmonologi, dr. Dini Rizkie Wijayanti, Sp.P(K) Onk, FISR menyoroti pentingnya evaluasi pasien secara menyeluruh, terutama ketika gejala yang muncul dapat berkaitan dengan lebih dari satu kondisi medis.
“Keluhan pada jantung dan paru dapat saling berkaitan dan dalam beberapa kondisi memiliki gejala yang hampir serupa. Pendekatan multidisiplin membantu dokter melihat pasien secara lebih komprehensif sehingga proses evaluasi, diagnosis, dan penanganan dapat dilakukan dengan lebih terarah,” ujar dr. Dini Sementara dari sisi neurologi, dr. Henry Sugiharto, Sp.N, Subsp. NNN(K), FMIN menekankan bahwa kesehatan pembuluh darah dan jantung juga memiliki keterkaitan erat dengan kesehatan otak, termasuk dalam upaya pencegahan berbagai komplikasi neurologis.
“Kesehatan jantung, pembuluh darah, dan otak memiliki hubungan yang sangat erat. Faktor risiko seperti hipertensi, diabetes, gangguan irama jantung, maupun gangguan metabolik perlu dikelola secara menyeluruh. Kolaborasi lintas disiplin menjadi penting agar risiko komplikasi dapat dikenali dan ditangani sedini mungkin,” ujar dr. Henry Memperkuat Continuum of Cardiovascular Care
Konsep cardiovascular continuum menekankan bahwa perjalanan penyakit kardiovaskular dapat dimulai jauh sebelum munculnya gejala atau kejadian akut. Faktor risiko yang tidak terkontrol dapat berkembang menjadi kerusakan organ dan meningkatkan kompleksitas kondisi pasien.
Karena itu, pelayanan kardiovaskular membutuhkan pendekatan yang berkesinambungan, mulai dari pengelolaan faktor risiko dan deteksi dini, hingga diagnosis, intervensi medis, serta pemantauan jangka panjang sesuai kondisi pasien.
Hospital Director Siloam Hospitals Sriwijaya Palembang, Ns. Benedikta Betty Bawaningtyas, S.Kep., M.M., FISQua., menyampaikan “Dalam praktik klinis, kita semakin sering menghadapi pasien dengan kondisi yang kompleks dan melibatkan lebih dari satu faktor risiko maupun penyakit penyerta. Melalui simposium ini, kami berharap para dokter dapat saling bertukar perspektif dan semakin memperkuat koordinasi klinis untuk mendukung pengambilan keputusan medis yang tepat sesuai kebutuhan setiap pasien.”
Melalui forum ilmiah dan kolaborasi lintas spesialisasi, Siloam Hospitals Sriwijaya terus mendorong pengembangan kompetensi tenaga medis sebagai bagian dari upaya menghadirkan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan berkesinambungan. Dengan dukungan keahlian medis dan koordinasi klinis yang baik, pasien diharapkan dapat memperoleh penanganan yang tepat sesuai kondisi kesehatannya, sekaligus semakin yakin dalam mengambil keputusan terkait perawatan yang dibutuhkan bagi masyarakat Palembang, Sumatera Selatan, dan wilayah sekitarnya.
Penulis : Yun
Editor : Jaks


















