oleh

Kena Sanksi, Warga Rusia Antre Berjam-jam Demi Tarik Uang Tunai

SUARAPUBLIK.ID, RUSIA – Rusia yang menginvansi Ukraina kini harus berhadapan dengan sejumlah sanksi ekonomi yang diberlakukan sejumlah negara Barat. Hal ini tak hanya membuat ekonomi Rusia membeku, tetapi juga menyulitkan warganya.

Antrean warga mengular pusat perbelanjaan di ibu kota Rusia, Moskow. Mereka mengantre demi mendapatkan uang tunai yang disimpan di dalam akun bank.

Terlebih, mata uang Rusia yakni rubel nilainya berguguran akibat sanksi ekonomi yang dijatuhkan sebagian besar negara termasuk Amerika Serikat (AS).

Nilai rubel Rusia kini semakin tergerus menjadi 109 rubel per dolar AS pada Rabu (2/3) siang. Padahal, nilai Rubel masih di kisaran 84,95 rubel per dolar AS pada saat Putin mendeklarasikan invasi ke Ukraina.

Baca Juga  Rusia Belum Hentikan Serangan ke Ukraina, PBB Adakan Pertemuan Darurat

Bahkan, nilainya masih lebih tinggi dibandingkan beberapa pekan sebelum invasi yakni di antara 76,73 hingga 78,84 rubel per dolar AS.

Olga, salah seorang warga Rusia dilansir cnn indonesia, mengklaim telah menghabiskan waktu hingga dua hari hanya untuk mencari Anjungan Tunai Mandiri (ATM) demi mendapatkan uangnya sendiri. Ia juga berharap setidaknya beberapa uang miliknya dalam bentuk mata uang asing masih bisa dicairkan di beberapa perbankan.

Olga tak sendirian, penduduk Moskow lainnya juga mengantre hingga berjam-jam untuk menemukan ATM dan berharap bisa membawa pulang rubel.

Baca Juga  Rusia Belum Hentikan Serangan ke Ukraina, PBB Adakan Pertemuan Darurat

Antrean tersebut mengingatkan orang-orang Rusia pada masa kejatuhan Uni Soviet yang memaksa penduduknya harus menunggu berjam-jam hanya untuk membeli makanan.

“Saya belum berhasil menarik satu euro pun. Aku khawatir, entah bagaimana perlu mendapatkan uang tunai,” kata Olga dikutip dari Reuters, Rabu (2/3).

Beberapa analis mengatakan rubel dapat terus tergerus nilainya setelah banyak sanksi Barat yang dirancang khusus untuk mengucilkan ekonomi Rusia. Bahkan beberapa sanksi sengaja dijatuhkan untuk meningkatkan risiko gagal bayar utang luar negerinya.

Sebagai informasi, Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan untuk melancarkan aksi militer ke Ukraina pada Kamis (24/2). Saat itu, orang-orang Rusia mulai mempersiapkan diri demi menghadapi kemungkinan terburuk.

Baca Juga  Rusia Belum Hentikan Serangan ke Ukraina, PBB Adakan Pertemuan Darurat

Tak hanya masalah uang tunai, rakyat Rusia juga dihantui inflasi tinggi. Mereka khawatir apabila harga bahan pokok naik lebih tinggi dan suku bunga juga naik lebih dari dua kali lipat akan semakin mempersulit kondisi perekonomian rakyat.

Komentar