Kado Kemerdekaan, 7800 Mangrove Ditanam di Pesisir Pulau Tanjung Carat

Kota Palembang280 Dilihat

SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG -Dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-78 Republik Indonesia (RI) sebanyak 7800 bibit pohon Mangrove ditanam di Pesisir Pulau Tanjung Carat Desa Sungsang IV Kecamatan Banyuasin II Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumsel, Sabtu (19/08/2023).

“Penanaman pohon mangrove dengan jumlah kelipatan seratus dari HUT ke-78 Kemerdekaan RI itu memiliki makna khusus di tahun ini. Karena tahun 2023, tepat RI merayakan ulang tahunnya ke-78 tahun, kita akan lakukan penanaman 7800 pohon mangrove hingga akhir tahun ini,”tegas Pjs. GM Project Sumatera PT Kilang Pertamina Internasional (KPI), I Gusti Bagus Prihanta usai melakukan penanaman Pohon Mangrove.

Penanaman mangrove dikatakannya, sesuai dengan komitmen Pertamina sebagai perusahaan yang peduli terhadap lingkungan. Dalam upaya menjaga keseimbangan antara pembangunan industri dan pelestarian lingkungan serta biodiversity.

Sementara itu salah satu warga Desa Sungsang Kecamatan Banyuasin II Provinsi Sumsel yang peduli akan magrove, Taher (56) mengungkapkan, banyak fungsi dan manfaat dari Hutan tanaman mangrove. Fungsi Hutan Mangrove diantaranya melindungi garis pantai sebagai penghalang alami terhadap badai dan banjir, melindungi garis pantai dari erosi dan membantu mengurangi dampak bencana alam. Kemudian sebagai

habitat bagi tumbuhan dan hewan termasuk ikan, burung, dan krustasea. Hutan mangrove juga merupakan tempat yang penting bagi migrasi dan reproduksi hewan.

Hutan mangrove menyerap dan menyimpan banyak karbon dioksida dari atmosfer, sehingga memiliki peran penting dalam penyimpanan karbon global.

IMG 20230820 WA0048
Penanaman Pohon Mangrove di Pesisir Pulau Tanjung Carat Kabupaten Banyuasin Provinsi Sumsel.

Fungsi lain menurut pria yang sudah 13 tahun berkecimpung dalam penanaman Pohon Mangrove ini adalah sebagai sumber makanan dan bahan bakar bagi masyarakat setempat termasuk ikan, kerang, dan kayu bakar. Hutan mangrove juga dapat menyerap polutan dari air laut, seperti logam berat dan bahan kimia lainnya sehingga membantu menjaga kualitas air laut. Hutan mangrove juga dapat menghasilkan pendapatan ekonomi bagi masyarakat setempat, seperti melalui pariwisata, penangkapan ikan, dan pemanfaatan kayu.

Baca Juga :  Hutan Konservasi di Tengah Perkotaan, Penyelamat dari Ancaman Bencana Alam di Palembang

Sedangkan manfaat Hutan Mangrove dikatakan pria yang sejak tahun 2010 mulai terjun langsung menanam mangrove ini sangat penting. Manfaat yang didapat dengan adanya Hutan Mangrove antara lain Perlindungan pesisir sebagai benteng alami yang melindungi pesisir dari erosi dan serangan gelombang besar.

“Akar-akar mangrove yang kuat membantu menjaga stabilitas tanah di sekitar garis pantai,”tutur bapak dari tiga anak ini.

Manfaat lain yang didapat dengan adanya Hutan Mangrove ini menurutnya, berperan

dalam menyerap air dan memperlambat aliran air pasang sehingga dapat membantu mengurangi risiko banjir di daerah pesisir. Bermanfaat juga sebagai penyaringan air, dimana akar dan tumbuhan mangrove berfungsi sebagai penyaring alami, membantu menyaring limbah dan polutan dari air yang mengalir melalui ekosistem hutan mangrove sebelum mencapai lautan.

Hutan mangrove dijelaskannya, merupakan salah satu ekosistem yang sangat efisien dalam menyimpan karbon. Tanaman mangrove dapat menyerap dan menyimpan jumlah karbon yang besar, membantu mengurangi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer dan berperan dalam mitigasi perubahan iklim. Hutan mangrove adalah rumah bagi berbagai spesies tumbuhan dan hewan yang khas. Ekosistem mangrove menyediakan habitat yang penting bagi berbagai jenis burung, ikan, kepiting, dan organisme lainnya.

Baca Juga :  Bahari Diving Club Latih Puluhan Wartawan Menyelam

“Ini juga berkontribusi pada keanekaragaman hayati global,”ujar pria asal Lampung ini.

Hutan mangrove menurutnya, memberikan sumber mata pencaharian bagi komunitas lokal, seperti nelayan, petani garam, dan pengumpul kerang. Mangrove juga memiliki potensi untuk pengembangan ekowisata, yang dapat memberikan peluang ekonomi bagi masyarakat setempat. Kayu mangrove yang kuat dan tahan air sering digunakan sebagai bahan konstruksi, pembuatan perabot, dan bahan bakar kayu oleh masyarakat di sekitarnya.

Namun, menurut Taher masih banyak masyarakat yang belum paham akan fungsi dan manfaat keberadaan Hutan Mangrove. Sehingga beranggapan bahwa Hutan Mangrove hanya memiliki fungsi untuk menahan abrasi pantai saja, tetapi fungsi dan manfaat dari Hutan Mangrove sangat banyak. “Karena itu perlu adanya edukasi dan sosialisasi ke masyarakat agar fungsi dan manfaat Hutan Mangrove lebih dipahami sehingga mereka juga turut berperan untuk merawat dan menjaga keberadaan Hutan Mangrove,”ujar Taher.

Dikatakan Taher, bagi masyarakat yang sudah paham keberadaan Hutan Mangrove. Mereka akan lebih peduli akan arti pentingnya Hutan Mangrove bagi keberlangsungan kehidupan manusia.

Ia menceritakan sejak tahun 2010 sudah bekerja menanam Pohon Mangrove. Saat itu kerjasama dengan orang Jepang dengan masa kontrak selama lima tahun untuk menanam Pohon Mangrove di lahan 200 hektar, penanaman dilakukan dari 2010 hingga 2015. Tahun-tahun selanjutnya juga melakukan penanaman di beberapa pesisir pantai yang ada di wilayah Sumsel.

Baca Juga :  Pemuda Mahasiswa Nusantara Ajak Milenial Latih Budi Daya Ikan Lele di Palembang 

“Untuk tahun 2023, saya melakukan penanaman Pohon Mangrove di lahan seluas 6 hektar disusul 2 hektar di kawasan Taman Nasional Sembilang pesisir Provinsi Sumsel,”jelas Taher.

Sementara itu Kepala Desa Sungsang IV, Romi Adi mengungkapkan, di Desa Sungsang mayoritas masyarakat berprofesi sebagai nelayan. Sehingga keberadaan Hutan Mangrove bagi masyarakat Desa Sungsang IV sangat penting. Jika lahan Hutan Mangrove semakin berkurang maka habibat bagi tumbuhan dan hewan termasuk ikan, udang, burung, dan krustasea juga berkurang.

 

“Ini juga akan berdampak bagi masyarakat kami yang hampir 90 persen mengantungkan hidupnya sebagai nelayan. Otomatis penghasilan mereka akan berkurang karena habibat ikan juga akan berkurang akibat Hutan Mangrove yang semakin sedikit tempat ikan-ikan dan udang-udang bertelur dan berkembang biak,”ungkap Romi.

 

Masyarakat Desa Sungsang IV dikatakan Romi, dalam melakukan penanaman Pohon Mangrove dilakukan secara berkelompok. Dalam satu kelompok berjumlah 10 sampai 15 orang tergantung luas lahan yang akan ditanam. Semakin luas lahan yang akan ditanam Pohon Mangrove maka akan semakin banyak masyarakat yang akan dikerahkan untuk menanam Pohon Mangrove.

“Saya berharap adanya sinergi antara pemerintah, masyarakat dan instansi terkait untuk sama-sama menjaga dan melestarikan keberadaan Hutan Mangrove,”tegasnya. (soimah)

    Komentar