SUARAPUBLIK.ID, PALEMBANG- Pelaksanaan Ujian Kesetaraan Paket C tahun ini hanya diikuti sekitar 280 peserta, menurun dari lebih dari 300 peserta pada tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi hampir di seluruh Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Kota Palembang, berdasarkan data penyelenggara pendidikan nonformal.
Salah satu penyebab utama turunnya jumlah peserta adalah perubahan mekanisme pendaftaran yang kini terintegrasi penuh dengan Sistem Data Pendidikan Nasional (Dapodik). Seluruh data peserta didik dikunci dan diverifikasi langsung oleh pusat, sehingga peserta yang terlambat mendaftar tidak lagi dapat ditambahkan.
Kabid PAUD dan Dikmas, Andalusia, S.Pd., M.M., melalui Plt. Katim Sapras Bidang PAUD dan Dikmas, R. Abd. Syaripuddin, A.Md., menjelaskan bahwa aturan ini berdampak pada calon peserta yang baru berminat menjelang ujian, karena tidak dapat diakomodasi.
“Pendaftaran Ujian Paket C tahun ini sudah ditutup, dan datanya terkunci dari pusat. Peserta hanya yang terdaftar sebelum penutupan. Tidak bisa lagi menambah peserta baru,” ujarnya.
Menurutnya, mekanisme baru ini diterapkan untuk memastikan seluruh peserta benar-benar mengikuti proses pembelajaran sejak awal, bukan hanya muncul menjelang ujian. Kebijakan tersebut juga bertujuan mencegah pendaftaran ganda dan menghindari manipulasi data.
Meski demikian, sejumlah PKBM menyebut minat masyarakat terhadap pendidikan kesetaraan masih sangat tinggi. Banyak warga membutuhkan ijazah Paket C untuk syarat pekerjaan, kenaikan pangkat, maupun melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Namun, tidak sedikit calon peserta yang baru mengetahui batas waktu pendaftaran setelah proses verifikasi ditutup.
“Banyak yang datang mendadak meminta didaftarkan, tetapi sistem sudah tertutup. Ini yang membuat angka peserta turun tahun ini,” kata Syaripuddin.
Ia menambahkan bahwa masyarakat yang belum sempat mendaftar masih memiliki kesempatan pada awal tahun depan, saat pendataan siswa melalui Dapodik kembali dibuka. “Kami mengimbau agar masyarakat mendaftar lebih awal. Sistem sekarang sangat ketat, semuanya melalui pendataan pusat,” tegasnya.
Kepala PKBM Cahaya Choirun Nisa juga menyampaikan bahwa penurunan jumlah peserta bukan karena turunnya minat masyarakat. “Banyak calon peserta datang setelah Dapodik terkunci. Bahkan ada yang memohon untuk tetap didaftarkan, tapi kami tidak bisa apa-apa karena sistem pusat tidak membuka ruang tambahan,” ungkapnya.
Choirun menilai, meski aturan baru lebih ketat, sistem ini membawa dampak positif karena pendataan menjadi lebih rapi dan transparan. Namun, masyarakat perlu lebih cepat beradaptasi. “Biasanya warga baru ingin mendaftar saat mendekati ujian. Sekarang tidak bisa lagi seperti itu,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa PKBM telah melakukan sosialisasi melalui berbagai kanal, mulai dari grup WhatsApp, pertemuan warga, hingga bekerja sama dengan kelurahan. Meski demikian, masih banyak warga yang terlewat informasi.
“Tahun depan kami akan memperluas sosialisasi. Banyak warga sangat terbantu dengan Paket C, sayang sekali jika gagal ikut hanya karena terlambat mendaftar,” lanjutnya.
Choirun menambahkan bahwa kebutuhan terhadap ijazah kesetaraan justru terus meningkat, terutama di kalangan pekerja muda. “Ada yang ingin naik jabatan, pindah kerja, atau melanjutkan kuliah. Kebutuhannya tetap tinggi,” pungkasnya.

















