PALEMBANG, SUARAPUBLIK.ID — Lonjakan titik panas (hotspot) di Provinsi Sumatera Selatan meningkat tajam dari sebelumnya 449 titik menjadi 600 titik.
Kepala BPBD Sumsel, Muhammad Iqbal Alisyahbana menyampaikan jika peningkatkan hotspot secara signifikan ini dipicu oleh cuaca ekstrem seiring masuknya fenomena El Nino pada level sangat kuat di wilayah Sumsel.
“Analisisnya yang pertama karena pengaruh cuaca. Ini kan El Nino kita sudah masuk di fase level sangat kuat, jadi otomatis kekeringan,” ujar Iqbal Alisyahbana, Rabu (26/8/2026).
Iqbal menegaskan bahwa tingginya jumlah hotspot hasil pemantauan sistem tidak serta-merta menunjukkan jumlah titik api atau kebakaran aktif di lapangan.
* Hotspot: Indikasi suhu panas pada suatu kawasan yang mengalami kekeringan tinggi.
* Fire Spot: Lokasi yang sudah terkonfirmasi mengalami kebakaran hutan dan lahan secara riil.
“Hotspot itu akan terjadi ketika daerah itu yang pertama kering, lalu jadi panas. Namun, titik hotspot belum tentu fire spot,” jelasnya.
Guna memitigasi kekeringan yang kian parah, BPBD Sumsel kembali menggelar Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) selama lima hari terhitung sejak Sabtu.
Berbeda dari skema sebelumnya, penyemaian bahan semai awan kini diperluas hingga malam hari berkat kolaborasi bersama BNPB dan Lanud setempat.
Operasi pemadaman dan mitigasi karhutla di Sumsel saat ini didukung oleh kekuatan armada udara dan darat:
* Helikopter Water Bombing: 6 unit beroperasi aktif.
* Helikopter Patroli: 2 unit beroperasi aktif.
* Helikopter Tambahan: 1 unit dalam pengiriman dan diperkirakan tiba pada 27 Agustus 2026.
“Mulai hari ini kalau bisa siang, siang. Kalau bisa malam, malam, yang mana ada potensi awan akan dilakukan OMC,” tegasnya.
Selain penguatan tim satgas darat, udara, dan satgas penegakan hukum, BPBD Sumsel turut menggiatkan sosialisasi serta pendekatan spiritual melalui satgas doa dalam menghadapi musim kemarau panjang.
Masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta meningkatkan kewaspadaan ekstra terhadap penggunaan api di area rawan karhutla.
“Penanganan terus kita perkuat, baik itu darat, udara maupun satgas-satgas yang lain,” pungkasnya.
Penulis : Tia
Editor : Jaks














