PALEMBANG, SUARAPUBLIK.ID — Kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengepung pemukiman di Kota Palembang hingga Provinsi Jambi.
Berdasarkan arah pergerakan angin, asap yang melanda Kota Palembang didominasi oleh titik kebakaran di Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), khususnya kawasan Cengal, Pangkalan Lampam, dan Tulung Selapan.
Kepala Pelaksana BPBD Sumatera Selatan, Iqbal Alisyahbana, mengonfirmasi bahwa posisi geografis Palembang yang berada di dataran rendah membuat paparan asap dari OKI dengan mudah masuk dan mengendap di kawasan perkotaan.
Sementara itu, tutupan asap yang bergerak mengarah ke Jambi mayoritas berasal dari kebakaran di Musi Banyuasin (Muba) dan sebagian Banyuasin.
“Kalau berdasarkan arah angin, asap kita ini banyak dari OKI. Dari Cengal, Pangkalan Lampam, Selapan. Asap akibat kebakaran di sana terbawa angin ke Palembang,” ungkap Iqbal Alisyahbana.
Menanggapi eskalasi kebakaran yang meningkat lebih cepat dari perkiraan, pemerintah pusat menambah dukungan armada udara dan alat berat guna mempercepat pemadaman serta penguatan mitigasi di titik rawan.
Dukungan sarpras tambahan yang disiapkan meliputi:
Armada Udara: Tambahan 1 unit helikopter pemadam yang dijadwalkan tiba di Sumsel pada 28 Agustus 2026.
Alat Berat & Kanalisasi: 20 unit ekskavator untuk pembuatan sekat kanal serta pembuat embung air.
Peralatan Pemadaman: 500 unit pompa air, sumur bor, serta armada kendaraan operasional.
BPBD Sumsel telah berkoordinasi dengan TNI untuk mendistribusikan alat berat ekskavator ke wilayah bersiaga tinggi segera setelah bantuan mendarat.
“Bantuan peralatan dari pemerintah pusat dari awal sudah ada. Cuma jumlahnya memang tidak sesuai dengan eskalasi. Karena eskalasi meningkat, makanya ada percepatan untuk penanganan ini. Ekskavator ini ketika datang akan langsung didistribusikan ke daerah-daerah yang memiliki potensi rawan. Secepatnya,” ujar Iqbal, Rabu (26/8/2026).
Iqbal menerangkan bahwa penanganan karhutla di Sumsel sebenarnya terus membaik jika dibandingkan dengan rekam jejak historis sejak 2015.
Namun, dinamika iklim tahun ini menghadirkan tantangan berat akibat fenomena kekeringan yang bergeser lebih cepat dari biasanya.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya kenaikan suhu ekstrem baru melanda mendekati September, pada tahun ini lonjakan suhu dan kekeringan lahan sudah terasa sejak Juli.
“Kalau kita lihat dari tren histori dari 2015, penanganan ini sudah semakin bagus. Cuma memang El Nino kita ini yang biasanya siklus empat tahun, ini lebih cepat,” tandasnya.
Penulis : Tia
Editor : Jaks














