Nama : Alya Widian Sari
NIM : PO7131126040
PRODI : D3- Gizi
Aku dan Pancasila di Era Gen Z
Namaku Alya Widian Sari. Aku adalah bagian dari Gen Z yang hidup di zaman yang serba cepat dan serba digital. Hampir setiap hari aku menggunakan handphone, media sosial, dan internet untuk belajar maupun mencari hiburan. Menurut aku, menjadi Gen Z bukan hanya tentang mengikuti tren, tetapi juga tentang bagaimana kita tetap punya sikap dan nilai yang baik. Salah satunya dengan menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Dulu, aku menganggap Pancasila hanya sebagai lima sila yang harus dihafalkan. Tapi setelah semakin besar, aku mulai sadar bahwa Pancasila sebenarnya dekat banget dengan kehidupan aku. Banyak hal sederhana yang aku lakukan ternyata berhubungan dengan nilai Pancasila.
Sebagai mahasiswa, aku belajar untuk menghargai orang lain walaupun mempunyai perbedaan pendapat. Aku sadar bahwa tidak semua orang memiliki pemikiran yang sama dengan aku. Kadang ada perbedaan pendapat dalam tugas kelompok atau pertemanan. Daripada memperbesar masalah, aku belajar untuk mendengarkan dan menghargai pendapat orang lain.
Sebagai Gen Z, aku juga merasa Pancasila penting diterapkan di media sosial. Sekarang orang bisa dengan mudah berkomentar atau menyebarkan sesuatu tanpa memikirkan dampaknya. Aku belajar untuk lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial, tidak menyebarkan berita yang belum jelas, dan tidak menjatuhkan orang lain hanya karena berbeda pendapat.
Aku juga sadar bahwa aku masih sering melakukan kesalahan. Kadang aku malas, egois, atau terlalu memikirkan diri sendiri. Tapi aku percaya bahwa menjadi lebih baik tidak harus langsung melakukan sesuatu yang besar. Aku bisa memulainya dari hal sederhana, seperti jujur, menghargai orang lain, membantu teman, dan bertanggung jawab.
Sebagai bagian dari Gen Z, aku ingin tetap mengikuti perkembangan zaman tanpa melupakan Pancasila. Aku mungkin belum bisa melakukan sesuatu yang besar untuk bangsa Indonesia ini, tetapi aku percaya perubahan bisa dimulai dari diri sendiri. Bagi aku, mencintai Indonesia bukan hanya tentang kata-kata, tetapi juga tentang bagaimana aku bersikap dan memperlakukan orang lain setiap hari.







