Nama : Reva Cantika
NIM : PO7131126032
Prodi : D-III Gizi
Pancasila di Rumah Aku
Halo semuanya,
Dulu aku mengira Pancasila hanya sekadar hafalan untuk pelajaran PPKn. Tapi ternyata, tanpa aku sadari, nilai-nilainya sudah aku temui setiap hari di rumah.
Di rumah aku, hari dimulai dari suara azan jam 4 subuh. Mama selalu membangunkan, “Reva bangun, sholat dulu”. Dari sinilah aku merasakan Sila pertama yaitu, Ketuhanan Yang Maha Esa. Aku yang masih ngantuk kadang protes dalam hati, tapi setelah sholat rasanya lebih tenang. Begitu juga saat makan. Sebelum mengambil sendok, kami selalu berdoa dulu. Walaupun lauknya sederhana, kami tetap bersyukur karena masih bisa makan bersama.
Di rumahku ada 5 orang: Papa, Mama, Kakak pertama, Kakak kedua, dan aku. Jadi wajar kalau hampir setiap hari ada drama kecil. Rebutan kamar mandi di pagi hari, rebutan wifi, bahkan rebutan remote TV. Tapi anehnya, saat salah satu dari kami sakit, yang lain langsung sigap. Waktu aku demam, kakak yang biasanya suka usil justru membawakan air putih. Kakak yang satunya membuatkan bubur. Mama selalu mengingatkan, “Saling jaga ya”. Dari situ aku belajar Sila Kedua yaitu, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradap. Keluarga adalah tempat pertama kita belajar peduli dan menghargai orang lain.
Aku merasakan sila Ketiga yaitu, Persatuan Indonesia. Ketika ada acara keluarga besar. Sepupu aku ada yang tinggal di kota, ada juga yang di desa. Ada yang kerjanya di kantor, ada yang jualan. Kesibukan dan cara hidup kami berbeda-beda. Namun, saat berkumpul, semua perbedaan itu hilang. Yang besar menjaga yang kecil, yang kecil nurut sama yang besar. Kami makan bersama di teras, bercanda, dan foto bareng. Walaupun berbeda, kami tetap akur. Tidak ada yang mempermasalahkan perbedaan itu.
Contoh Sila Keempat. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyarawaratan Perwakilan.Saat menentukan menu masakan di rumah. Papa ingin sayur, Mama ingin ikan, aku ingin ayam, kakak ingin mie. Dulu pasti berdebat. Sekarang kami bermusyawarah. Akhirnya diputuskan untuk memasak dua menu agar semua kebagian. Memang sedikit repot, tapi hasilnya semua senang dan tidak ada yang merasa dipaksa.
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Paling aku rasakan saat akhir bulan. Uang jajan aku biasanya dikurangi. Awalnya aku mengeluh. Tapi setelah melihat Mama mengatur uang untuk listrik, air, dan belanja dapur, aku jadi mengerti. Kadang jika ada rezeki lebih, Mama juga membagikan makanan ke tetangga. Katanya, “biar berkah dan sama-sama merasakan”. Dari situ aku belajar bahwa adil itu dimulai dari hal kecil di rumah.
Ternyata Pancasila tidak sejauh itu. Ia ada di suara azan subuh, di rebutan remote, di meja makan, dan di cara kami saling mengalah. Jika dari rumah saja kita sudah bisa mengamalkan Pancasila, mungkin Indonesia juga akan menjadi lebih baik.









